Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Pesta selesai tepat pukul dua belas malam. Benedict langsung membawanya untuk pulang. Setibanya di mansion, Benedict hanya memberi isyarat pendek pada Anna untuk mengantar Zara ke kamar.
Pagi harinya, Zara merasa sekujur badannya remuk setelah seharian berdiri mengenakan gaunnya yang berat.
Anna mengetuk pintu kamarnya, memintanya menemui Benedict di ruang kerjanya.
Zara melangkah ragu masuk ke dalam ruangan bernuansa hitam itu. Di atas meja kerja, Benedict telah menyiapkan sebuah map. Tanpa basa-basi, ia mendorong map itu ke hadapan Zara.
“Baca dan tanda tangani,” ucap Benedict datar.
Zara membuka map tersebut, di dalamnya terdapat dokumen berjudul perjanjian kerahasiaan pernikahan.
Matanya membelalak begitu membaca poin demi poin. Perjanjian itu mengharuskan Zara menyembunyikan fakta pernikahan mereka yang bukan atas dasar cinta, Zara dilarang keluar tanpa pengawalan, dan dilarang menjalin komunikasi dengan pihak manapun dari masa lalunya.
“Kau ingin aku berbohong tentang pernikahan ini?,” tanya Zara.
Benendict bergeming, tidak berniat menjawab pertanyaan Zara.
“Kenapa, Tuan? Jika hanya untuk melunasi hutang ayahku, kau bisa menjadikanku pelayan di rumahmu. Kenapa harus pernikahan? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?.”
Benedict bangkit dari kursinya, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, melangkah ke jendela.
“Ada hal-hal yang tidak perlu kau pahami sekarang,” Benendict menoleh kepada Zara.
Zara menarik napasnya pelan. “Akan aku tanda tangani, tapi jangan tutup toko rotiku. Izinkan aku tetap bekerja di sana, Tuan” pinta Zara.
“Lupakan toko roti itu. Sekarang kau adalah seorang Franklin, dan uangku jauh lebih dari cukup untuk membeli seluruh toko roti di negara ini” ucap Benedict.
“Ini bukan soal seberapa banyak yang yang kau punya, Tuan. Toko roti itu adalah satu-satunya hal yang kumiliki” jawab Zara memohon.
Benendict melangkah maju, memperpendek jarak hingga Zara terdesak ke meja. “Sekarang kau adalah seorang Franklin, bersikaplah seperti seharusnya” desisnya mutlak.
Zara memberanikan diri menyentuh lengan Benedict, “Aku mohon, Tuan…..” suara Zara bergetar, nyaris pecah menjadi tangisan.
“Ambil apa pun dariku, tapi tolong jangan toko itu” lanjut Zara.
Melihat air mata Zara yang menggenang dan jemari yang mencengkeram jasnya, rahang Benedict yang semula mengeras perlahan mengendur.
Benendict terdiam cukup lama, sementara napas Zara terdengar pendek dan penuh harap. Benendict melepas tangan Zara dari lengannya, ia berbalik, kembali menuju jendela.
“Kau begitu keras kepala” ucap Benedict tanpa menoleh.
Pria itu menghela napas panjang, lalu kembali berbalik menghadap Zara.
“Baiklah. Toko itu tetap berdiri.”
Zara tertegun, “Kau…..kau mengizinkannya?”
“Dengan syarat,” potong Benedict cepat. “Toko itu hanya akan beroperasi di bawah pengawasan ketat orang-orangku. Jika sampai ada satu saja informasi tentang pernikahan ini bocor, aku sendiri yang akan meratakan toko mu dengan tanah.”
Benedict menyodorkan pulpennya kembali pada Zara. ”Tanda tangani perjanjian ini sekarang, dan kau bisa menyimpan mainan kecilmu itu. Ini adalah negosiasi terakhir dariku, jangan meminta lebih.”
Zara segera meraih pulpen itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar, lalu membubuhkan tanda tangannya.
“Terima kasih, Tuan” ucap Zara.
Pintu kembali terbuka. Luca melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk, sebuah gestur langka bagi pria yang biasanya dikenal sebagai algojo paling tidak berperasaan di Veto.
Setelah menerima dokumen yang telah ditanda tangani, Benendict memberi kode kepada Zara agar segera keluar dari ruangannya.
“Katakan,” titah Benedict setelah Zara keluar.
Luca berdiri telah di depan meja. “Tuan, saya datang untuk melaporkan keteledoran pengamanan di pesta semalam.”
Benendict perlahan mengangkat kepalanya, matanya menatap tajam pada Luca.
“Lanjutkan.” ucap Benedict.
“Julian Alfonso. Dia berhasil menyusup dan melakukan kontak dengan Nona Zara,” ucap Luca dengan nada penuh penyesalan.
“Sistem identifikasi biometrik di pintu masuk mengalami gangguan selama lima menit, dan bajingan itu memanfaatkan celah tersebut untuk masuk” lanjut Luca.
Mendengar nama Julian, rahang Benedict kembali mengeras. Ia letakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang bergema di seluruh ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai perjanjian, Benedict mengizinkannya kembali ke toko roti, meski setiap geraknya terbatas karena diikuti pria berjas hitam.
Benendict sendiri seolah menjadi hantu di mansion nya sendiri. Pria itu jarang menampakkan dirinya.
Malam itu jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Zara terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Ia keluar kamar, menyusuri lorong mansion hingga sampai di balkon lantai dua yang menghadap ruang tengah.
Langkahnya berhenti saat melihat seberkas cahaya redup di bawah sana. Benedict ada disana. Pria itu duduk di sofa, ia tampak tangah berusaha membersihkan luka di lengan kirinya dengan gerakan yang kasar.
“Biar aku bantu, Tuan” ucap Zara menghampiri Benedict setelah mengambil semangkuk air hangat dan kain bersih di dapur.
Benedict tersentak, ia langsung berdiri dan mencengkeram pergelangan tangan Zara, matanya berkilat waspada di bawah keremangan lampu.
“Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar?” geram Benedict, suaranya parau.
“Tidak ada. Aku hanya ingin membantumu, lukamu tidak akan sembuh jika kau membersihkannya dengan kasar seperti tadi,” sahut Zara, mencoba tetap tenang meski pergelangan tangannya mulai terasa nyeri.
Benedict menatap Zara sejenak, lalu beralih pada pergelangan tangan mungil yang ia cengkeram. Perlahan, ia mengendurkan pegangannya.
Zara langsung meletakkan baskom, lalu mengambil kain bersih dan membasahinya dengan air hangat.
Ia mulai mengusap darah di lengan Benedict dengan gerakan yang sangat hati-hati. Zara sedikit meringis setiap kali melihat darah kembali merembes.
Sementara Benedict hanya diam, tidak mengerang, seolah rasa sakit adalah hal yang biasa.
“Kenapa kau yang terlihat kesakitan?,” tanya Benendict memecah kesunyian.
“Lukamu sangat dalam. Luka apa sebenarnya ini?.” Tanya Zara.
Benedict menatap luka itu sejenak. “Itu adalah luka akibat kawat baja. Seseorang mencoba menarikku ke neraka lebih cepat dari jadwal.”
Zara tersentak, tangannya sedikit gemetar saat menyadari betapa dekatnya pria itu dengan maut setiap harinya.
“Dan kau masih bisa duduk disini sendirian setelah seseorang mencoba membunuhmu?,”
Benedict tersenyum miring. “Kenapa aku harus takut pada sesuatu yang sudah menungguku sejak aku lahir?.”
“Kau bicara seolah nyawamu tidak ada harganya,” ucap Zara.
Benedict meraih tangan Zara, menggenggamnya dengan jari-jarinya yang masih ternoda darah, lalu menekannya tepat diatas detak jantungnya sendiri.
“Rasakan itu. Masih berdetak, bukan?” Benendict tertawa rendah. “Neraka belum siap menerimaku” lanjutnya.
Tangan Benedict yang semula menekan pelan tangan Zara di dada, kini beralih melingkar di pinggang ramping gadis itu, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan.
Zara berusaha tetap tenang. Ia menatap mata Benedict dengan sedikit keberaniannya.
“Aku ingin tahu apakah ada bagian dari dirimu yang masih bisa merasakan sentuhan tanpa harus ada rasa sakit dibaliknya?” ucap Zara.