"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Labirin Kematian
Andra mendarat dengan dentuman pelan di lantai logam yang dingin setelah melompat ke dalam lubang vertikal sedalam lima ratus meter. Jubah hitamnya berkibar, menepis debu-debu sisa ledakan di atas sana. Di sekelilingnya, koridor panjang dengan pencahayaan neon ungu yang redup membentang luas, menyerupai labirin futuristik yang dibangun dengan presisi militer. Tidak ada suara burung atau angin hutan lagi; yang ada hanyalah dengungan statis dari mesin-mesin raksasa yang bekerja di balik dinding-dinding baja.
[Ding! Inang telah memasuki Fasilitas Sektor 0: Laboratorium 'Elysium'.] [Peringatan: Atmosfer mengandung gas saraf dosis rendah. Mengaktifkan penyaring udara internal jubah.] [Status: Sistem mendeteksi anomali ruang. Jarak koordinat di sini tidak sesuai dengan hukum fisika permukaan.]
Andra menyentuh dinding logam di sampingnya. Dingin dan bergetar. "Tempat ini tidak dibangun dengan uang biasa," gumamnya. Melalui penglihatan sistem, ia bisa melihat bahwa fasilitas ini ditenagai oleh reaktor nuklir skala kecil yang disembunyikan jauh di bawah tanah.
"Tuan! Anda di mana?" Suara Sang Jagal terdengar melalui transmisi pendek yang penuh gangguan statis.
"Aku di sektor utama. Tetap pada posisi kalian dan amankan jalur keluar. Jangan biarkan satu pun pintu tertutup di belakang kalian," perintah Andra. Ia melangkah maju, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor yang sunyi.
Tiba-tiba, layar-layar monitor yang tertanam di sepanjang dinding menyala serentak. Wajah pria bertopeng perak itu kembali muncul, namun kali ini ia tampak sedang duduk di sebuah kursi kontrol yang megah, dengan latar belakang tabung-tabung kaca besar berisi cairan ungu. Di dalam salah satu tabung itu, tubuh Erwin yang hancur sedang diperbaiki oleh lengan-lengan robotik dengan kecepatan regenerasi yang mengerikan.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Andra," suara digital pria itu bergema di seluruh koridor. "Kamu pasti bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada tempat seperti ini yang tidak bisa dibeli oleh uangmu yang melimpah."
Andra berhenti melangkah. Ia menatap layar terdekat dengan tatapan tajam. "Siapa kamu? Dan apa hubungannya kamu dengan sistem di otakku?"
Pria bertopeng itu terkekeh—suara mesin yang terdengar sangat meremehkan. "Nama tidak penting di sini. Sebut saja aku 'Kurator'. Mengenai sistem di otakmu... anggap saja kamu adalah subjek uji coba yang paling berhasil. Kami menanamkan 'Benih Kekayaan' itu padamu untuk melihat sejauh mana keserakahan manusia bisa mengubah tatanan dunia. Dan hasilnya? Kamu sangat mengesankan, Andra. Kamu menghancurkan bank, menjatuhkan negara, dan membuat musuh-musuhmu merangkak di debu. Kamu adalah predator yang sempurna."
"Jadi, semua ini hanya eksperimen?" Andra mengepalkan tangannya. Energi biru mulai berpijar di sekitar kepalannya.
"Eksperimen yang akan segera berakhir," jawab sang Kurator. "Sistem itu butuh inang baru untuk berevolusi ke tahap berikutnya. Dan Erwin... meskipun dia lemah secara mental, kebenciannya menjadikannya wadah yang sempurna untuk 'Sistem Pemangsa'. Saat ini, dia sedang diintegrasikan dengan protokol yang akan memakan seluruh saldomu dan mengubahnya menjadi energi fisik yang bisa membelah gunung."
Layar itu mendadak mati. Di ujung koridor, sebuah pintu hidrolik besar terbuka, mengeluarkan puluhan Unit Pemangsa tingkat rendah—manusia-manusia malang yang telah diubah menjadi zombie mekanis dengan senjata terpasang di lengan mereka.
[Ding! Deteksi Gelombang Musuh: 50 Unit Predator Tipe-B.] [Saran Sistem: Jangan membuang saldo untuk serangan 'Divine'. Gunakan efisiensi tempur jarak dekat.]
"Efisiensi? Tidak," jawab Andra dingin. "Aku ingin menghancurkan tempat ini secepat mungkin."
Andra melesat maju. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan kilatan cahaya. Dengan kecepatan Blink Drive, ia muncul di tengah-tengah kerumunan musuh. Tanpa menggunakan senjata api, ia menghantamkan telapak tangannya ke lantai.
BOOM!
Gelombang kejut kinetik menghancurkan kaki-kaki para Unit Pemangsa tersebut. Andra bergerak di antara mereka seperti malaikat maut. Setiap pukulannya meledakkan sirkuit di dalam tubuh monster-monster itu. Namun, labirin ini seolah hidup. Dinding-dinding bergeser, mengubah jalur koridor dan memisahkan Andra dari tujuannya.
[Peringatan! Labirin Sedang Berkonfigurasi Ulang. Inang terjebak dalam ruang isolasi!]
Dinding baja setebal satu meter menutup di depan dan belakang Andra. Ruangan itu mendadak dipenuhi gas berwarna ungu pekat. Melalui penglihatan sistem, Andra melihat bahwa gas ini bukan sekadar racun, melainkan partikel nano yang mencoba meretas koneksi otaknya dengan Sistem.
Argh! Andra memegang kepalanya. Ia merasakan serangan digital yang luar biasa kuat mencoba masuk ke dalam sarafnya.
[Ding! Serangan Malware Terdeteksi!] [Mencoba Membangun Firewall... Gagal!] [Peringatan: Saldo Inang sedang dikuras secara ilegal! Minus Rp 500 Miliar per detik!]
"Andra... kamu pikir uangmu tidak terbatas?" Suara Kurator terdengar dari speaker plafon. "Uangmu adalah data. Dan di laboratorium ini, aku adalah penguasa data. Aku sedang memindahkan kekayaanmu untuk memberi makan Erwin. Lihatlah!"
Di layar kecil di sudut ruangan, Andra melihat Erwin di dalam tabung kaca mulai berteriak. Tubuhnya yang tadi kurus kini meledak dengan otot-otot yang diselimuti baju zirah organik berwarna hitam metalik. Angka saldo Andra yang biasanya terus bertambah, kini justru merosot tajam dengan kecepatan yang mengerikan.
Andra berlutut, menahan rasa sakit di kepalanya. "Sistem... matikan... koneksi luar..."
[Tidak bisa, Inang. Protokol 'Elysium' telah mengunci akses. Satu-satunya cara adalah menghancurkan inti server secara fisik!]
"Di mana... inti servernya?" tanya Andra dengan gigi gemertak.
[Tepat di bawah tabung Erwin. 200 meter dari posisi Anda sekarang.]
Andra mendongak. Matanya yang semula emas kini bercampur dengan kilatan merah tanda bahaya. Ia tidak lagi peduli dengan efisiensi. Ia memanggil seluruh kekuatan yang tersisa dari Sistem, mengabaikan peringatan kerusakan saraf.
"Jika kamu ingin uangku, ambil semuanya! Tapi kamu akan menerima ledakannya juga!" raung Andra.
Andra mengonsumsi Rp 50 Triliun saldonya dalam satu detik—sebuah jumlah yang sanggup membeli satu benua—hanya untuk menciptakan satu serangan tunggal. Energi itu tidak dilepaskan sebagai ledakan, melainkan dikompresi ke dalam ujung jari telunjuknya. Sebuah titik cahaya putih yang lebih panas dari inti matahari terbentuk di sana.
"Protokol: Zero Balance Strike!"
Andra menyentuhkan jarinya ke dinding baja isolasi.
ZAP!
Tidak ada suara ledakan keras. Yang ada hanyalah suara dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Dinding baja setebal satu meter itu mendadak menguap, berubah menjadi atom-atom yang berhamburan. Cahaya itu terus melaju, melubangi setiap dinding, setiap mesin, dan setiap musuh yang menghalangi jalannya, menciptakan lubang lurus sempurna menuju ruang inti tempat Erwin berada.
Andra melangkah melewati lubang yang masih membara itu dengan tenang. Napasnya tersengal, dan darah segar mengalir dari hidungnya akibat tekanan sistem yang berlebihan. Namun, tatapannya tidak goyah.
Ia sampai di ruang inti. Di sana, Kurator berdiri di depan meja kontrol, tampak terkejut melihat dinding-dinding pertahanannya yang "tak tertembus" kini memiliki lubang besar di tengahnya. Di sampingnya, tabung Erwin telah pecah.
Erwin melangkah keluar dari asap cair ungu. Ia kini benar-benar bukan manusia lagi. Wajahnya tertutup topeng organik yang menyatu dengan kulit, dan dari punggungnya keluar tentakel-tentakel mekanis yang dialiri listrik.
"Satu miliar dolar per detik..." Erwin bersuara, kali ini suaranya berat dan bergema. "Itu rasa kekuatanmu, Andra. Aku merasakannya mengalir di nadiku. Uangmu... sekarang adalah kekuatanku."
Andra berdiri di depan mantan sahabatnya, terpisah hanya oleh jarak sepuluh meter. Di atas mereka, server raksasa yang mengatur seluruh finansial dunia melalui Elysium terus berkedip merah.
"Kamu ingin tahu apa yang tidak bisa dibeli uang, Erwin?" tanya Andra sambil menyeka darah di hidungnya. "Uang tidak bisa membeli kemenangan bagi seseorang yang sudah kehilangan jiwanya."
Andra bersiap untuk bentrokan terakhir di dalam labirin itu. Ia tahu, jika ia gagal di sini, maka seluruh dunia akan jatuh ke tangan Kurator, dan sistem keuangan global akan berubah menjadi alat perbudakan abadi. Dan yang lebih penting, ia belum menemukan Siska—yang menurut sistem, berada di suatu tempat di dalam ruangan ini sebagai "komponen" kunci.