Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Halo, ini adalah versi naskah yang telah saya sunting secara profesional mengikuti standar PUEBI dan konvensi penulisan novel populer. Saya telah merapikan tanda baca, format dialog, serta struktur paragraf agar lebih nyaman dibaca tanpa mengubah inti cerita sedikit pun.
Langkah kaki Arga terasa berat saat ia menyusuri trotoar di sepanjang Kompleks Perumahan Graha Pelangi. Suara gesekan sol sepatunya dengan aspal yang kasar menjadi satu-satunya bunyi yang menemani kesunyian malam itu. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis setelah rahasia delapan tahun itu terbongkar dengan begitu tiba-tiba di ruang tamu Nala.
"Arga, tunggu!"
Suara cempreng yang sangat ia kenal itu memecah keheningan. Arga tidak berhenti, namun ia memperlambat langkahnya. Ia mendengar deru napas yang memburu di belakangnya, disusul oleh derap langkah kaki yang terburu-buru. Sebuah tangan mungil menarik lengan jaketnya dengan cukup kuat, memaksa remaja laki-laki itu untuk berputar.
Nala berdiri di sana dengan wajah yang memerah. Napasnya tersengal, dan sepasang matanya yang bulat tampak berkaca-kaca di bawah pendar lampu jalan yang temaram. Ia melepaskan pegangannya pada jaket Arga, namun tetap berdiri sangat dekat, menuntut sebuah penjelasan yang selama ini terkunci rapat.
"Kenapa?" tanya Nala dengan suara yang bergetar.
Arga hanya menatapnya datar. Ia menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku jaket, berusaha menyembunyikan jemarinya yang mulai gemetar. Ia tidak ingin Nala melihat betapa hancurnya pertahanan diri yang sudah ia bangun selama berbulan-bulan sejak pertama kali mereka bertemu kembali di SMA Nusantara.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu itu Aga? Kenapa kamu membiarkan aku bersikap seperti orang asing di depan kamu selama berbulan-bulan ini, Arga?" cecar Nala lagi. Setitik air mata mulai jatuh melewati pipinya.
Arga mengalihkan pandangannya ke arah deretan pohon mahoni di pinggir jalan. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan uap tipis keluar dari mulutnya karena udara malam yang dingin. Baginya, pertanyaan Nala terasa seperti sembilu yang mengiris luka lama yang belum sepenuhnya kering.
"Aku rasa itu tidak terlalu penting untuk dibahas," jawab Arga pendek. Suaranya terdengar sangat tenang, hampir tanpa emosi, sebuah topeng yang selalu ia gunakan untuk melindungi hatinya yang rapuh.
"Tidak penting?" Nala mengulang kalimat itu dengan nada tidak percaya. "Kamu menghilang begitu saja delapan tahun lalu tanpa pamit. Lalu sekarang kita bertemu lagi, dan kamu berpura-pura tidak mengenalku? Kamu melihatku setiap hari di kelas, Arga. Kamu melihatku mencoba mengingat-ingat siapa kamu, tapi kamu malah diam saja."
Arga kembali menatap Nala. Kali ini ada kilatan luka yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya di balik manik matanya yang gelap. Ia melangkah maju satu tindak, membuat Nala sedikit tersentak.
"Lalu aku harus bilang apa, Nala?" tanya Arga dengan nada yang sedikit meninggi. "Aku harus datang padamu dan bilang kalau aku adalah bocah laki-laki yang dulu selalu mengikutimu ke mana-mana? Aku harus mengingatkanmu tentang janji konyol delapan tahun lalu sementara kamu sendiri bahkan tidak ingat wajahku saat kita pertama kali berpapasan di gerbang sekolah?"
Nala terdiam. Ia menundukkan kepalanya, memandangi ujung sepatunya sendiri. Rasa bersalah yang besar menghantam dadanya. Ia memang sempat melupakan Arga, atau lebih tepatnya, kenangan tentang Aga telah tertimbun oleh hiruk-pikuk kehidupannya yang baru di luar kota.
"Dunia terus berjalan, Nala," lanjut Arga dengan suara yang kembali merendah. "Kita bukan anak usia sembilan tahun lagi yang suka bermain di bawah pohon mangga. Aku pikir masa lalu itu sudah usang. Tidak ada gunanya mengungkit sesuatu yang hanya diingat oleh satu orang saja. Bagiku, lebih mudah menjadi orang asing daripada menjadi teman lama yang kehadirannya bahkan tidak kamu sadari."
Nala mendongak, menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi bagiku itu penting, Arga. Kamu temanku. Kamu orang yang selalu ada buat aku dulu. Kenapa kamu menganggap semua itu tidak berharga?"
Arga tersenyum pahit. Ia teringat bagaimana Nala dengan antusias menjodohkannya dengan Tania beberapa minggu lalu. Ia teringat bagaimana Nala tertawa bersama Satria di kantin tanpa pernah sekali pun menoleh ke arah pojok kelas tempat ia duduk mengamati.
"Bukan aku yang menganggapnya tidak berharga, Nala. Kamu yang melakukannya sejak awal," ujar Arga pelan namun tajam.
Kalimat itu seolah menampar Nala dengan telak. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak bermaksud melupakan, namun lidahnya terasa kelu. Arga benar. Selama ini Arga selalu ada di dekatnya, mengawasinya dari kejauhan, sementara ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga tidak menyadari keberadaan sosok yang dulu paling berarti baginya.
"Aku pulang duluan. Teman-temanmu pasti sedang menunggumu di dalam," ucap Arga sambil membalikkan badan.
"Arga, tunggu dulu! Kita belum selesai bicara!" seru Nala.
Arga tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan menjauh, meninggalkan Nala yang berdiri terpaku di bawah lampu jalan yang berpendar kuning redup. Di dalam hati Arga, ada rasa lega sekaligus perih yang luar biasa karena rahasianya telah terungkap. Namun, ia tahu bahwa setelah malam ini, tidak akan ada yang kembali sama seperti sebelumnya. Hubungan mereka bukan lagi sekadar teman sekelas yang canggung, melainkan dua orang yang terikat oleh benang masa lalu yang kini terasa semakin menyesakkan.