NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:97.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Pagi itu suasana kantor masih cukup tenang.

Beberapa karyawan baru datang, sebagian masih sibuk menyalakan komputer dan menyiapkan pekerjaan mereka. Namun berbeda dengan biasanya langkah Harsa terlihat lebih cepat. Lebih dingin, wajahnya tegang sejak turun dari lift.

Beberapa staf yang berpapasan langsung menunduk sopan.

“Pagi, Pak.”

Harsa hanya mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya. Memikirkan tentang Rina tentang bagaimana wanita itu mencoba mendekatinya semalam.

Tentang bagaimana semuanya hampir menjadi lebih buruk. Harsa membuka pintu ruangannya cukup keras.

Suara itu membuat karyawan di luar sedikit terkejut. Harsa langsung melepas jasnya lalu berkata dingin, dan menatap karyawan yang datang ke hadapannya untuk mengantar berkas,

“Panggil Rina ke ruangan saya. Sekarang!"

“I-iya, Pak.”

Tak sampai lima menit kemudian pintu ruangan diketuk pelan.

Tok! Tok!

“Masuk.”

Rina membuka pintu perlahan.

Penampilannya masih rapi seperti biasa. Namun saat melihat wajah Harsa pagi itu, senyum kecil di bibirnya perlahan menghilang.

“Pak … Anda memanggil saya?”

Harsa tidak langsung menjawab, dia duduk di kursinya. Tatapannya dingin dan tajam hal itu membuat Rina mulai tidak nyaman.

“Duduk,” ucap Harsa singkat.

Rina perlahan duduk di depan meja kerja pria itu.

Sunyi beberapa detik, lalu Harsa akhirnya berbicara.

“Saya ingin bicara soal semalam.”

Jantung Rina langsung berdetak lebih cepat.

“Saya hanya khawatir dengan kondisi Bapak,” jawabnya hati-hati.

Harsa tersenyum tipis namun tidak ada kehangatan di sana.

“Khawatir?” ulangnya pelan.

Rina menelan ludah.

“Saya tidak punya niat buruk.”

“Kamu yakin?” Kalimat itu langsung membuat Rina diam.

Harsa menatapnya lurus. Sampai akhirnya pria itu berdiri dari kursinya.

“Kamu tahu apa yang paling saya benci?” tanyanya rendah.

Rina ikut berdiri perlahan. “Pak…”

“Saya benci orang yang tidak tahu batas.”

Nada suaranya tenang namun justru itu yang membuat suasana semakin menekan.

Rina mencoba tersenyum kecil. “Bapak salah paham…”

“Saya tidak mabuk sampai sebodoh itu, Rina.”

Kalimat itu membuat wajah Rina berubah. Harsa melangkah mendekat ke meja. Tatapannya tidak lepas dari wanita itu.

“Semalam kamu sengaja mencoba mendekati saya.”

“Tidak, Pak, saya hanya—”

“Cukup.” Satu kata itu langsung membungkam semuanya.

Harsa menarik napas panjang rahangnya mengeras.

“Saya sudah menikah,” ucapnya tegas. “Dan saya tidak akan mentolerir sikap seperti itu lagi.”

Rina menunduk perlahan namun Harsa belum selesai.

“Dengar saya baik-baik,” lanjutnya dingin. “Kalau sekali lagi kamu bersikap tidak sopan terhadap saya…”

"Saya tidak akan segan memecat kamu untuk selamanya.”

Rina mengangkat wajahnya perlahan matanya mulai berkaca-kaca.

“Bapak … mau memecat saya hanya karena hal kecil seperti itu?”

“Hanya karena?” ulang Harsa tajam.

Rina langsung terdiam, Harsa mengusap wajahnya kasar.

“Jangan pernah ulangi lagi,” ucapnya lebih rendah. “Saya masih menganggap kamu profesional sampai hari ini. Jangan rusak itu.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan. Karena jelas Harsa sedang menarik garis. Rina mengepalkan kedua tangannya pelan di bawah meja.

Namun, di depan Harsa, ia tetap mencoba menjaga ekspresinya.

“Baik, Pak,” jawabnya lirih.

Harsa mengangguk singkat.

“Sekarang kembali bekerja.”

Rina berdiri perlahan. Namun sebelum pergi, ia sempat menatap Harsa cukup lama.

Rina tersenyum tipis, lalu berkata pelan,

“Saya mengerti.”

Pintu ruangan tertutup.

Harsa langsung menghembuskan napas panjang. Ia duduk kembali di kursinya.

Sementara itu di rumah Pratama, suasana pagi terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa hari terakhir. Suara tawa kecil terdengar dari ruang keluarga.

Melodi yang baru selesai menyusu kini berada dalam gendongan Nyonya Ratih. Wanita paruh baya itu tampak begitu bahagia menatap cucunya yang mulai membuka mata kecilnya.

“Ya ampun … cucu Oma makin cantik,” ucapnya gemas sambil mengusap pipi Melodi pelan.

Tuan Hendra yang duduk di samping ikut tersenyum lebar.

“Hidungnya mirip Harsa waktu kecil.”

“Enggak,” bantah Nyonya Ratih cepat. “Ini jelas mirip Nadin.”

Kalimat itu membuat suasana sempat hening sepersekian detik. Arsyi yang sedang menuangkan teh langsung menundukkan wajahnya pelan. Namun, Nyonya Ratih segera tersadar dan tersenyum canggung.

“Eh … maksud Mama…”

“Tidak apa-apa, Ma.” potong Arsyi lembut sambil membawa nampan ke meja. “Memang Melodi mirip Kak Nadin." Ia berkata sambil tersenyum kecil.

Padahal di dalam hati nama itu masih terasa menusuk setiap kali terdengar.

“Duduk sini, Sayang,” ujar Nyonya Ratih lembut.

Arsyi mengangguk lalu duduk di sofa tunggal dekat mereka. Tuan Hendra memperhatikan Arsyi beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Kamu kelihatan kurusan.”

Arsyi tersenyum tipis. “Mungkin karena begadang jagain Melodi, Pa.”

“Melodi sering bangun malam?” tanya Nyonya Ratih langsung khawatir.

“Kadang-kadang,” jawab Arsyi pelan. “Tapi nggak terlalu rewel.”

Nyonya Ratih memandang menantunya itu cukup lama. Tatapannya perlahan melembut sejak awal, ia sadar Arsyi berusaha keras menjalani semua ini. Menjadi ibu untuk bayi yang bukan anak kandungnya. Menjadi istri di tengah pernikahan yang tidak lahir dari cinta.

“Terima kasih ya, Nak,” ucap Nyonya Ratih tiba-tiba.

Arsyi sedikit terkejut. “Untuk apa, Ma?”

“Karena sudah merawat Melodi sebaik ini.”

Suara wanita itu terdengar tulus. Arsyi langsung menunduk kecil.

“Melodi juga keponakan aku ma…”

“Tapi tidak semua orang bisa setulus kamu,” sahut Tuan Hendra pelan.

Arsyi tidak tahu harus menjawab apa. Karena sesungguhnya ia melakukan lebih dari sekadar tulus. Ia sudah mulai menyerahkan perasaannya terlalu jauh. Nyonya Ratih kemudian tersenyum kecil sambil menggoyangkan tubuh Melodi pelan.

“Ngomong-ngomong…” katanya santai, “gimana hubungan kamu sama Harsa sekarang?”

Pertanyaan itu membuat tangan Arsyi yang sedang memegang cangkir sedikit menegang.

“Baik-baik saja, Ma.”

“Serius?” Tuan Hendra mengangkat alis.

Arsyi mengangguk pelan.

“Iya.”

Padahal kalimat itu terasa seperti kebohongan paling besar yang pernah ia ucapkan.

Nyonya Ratih tampak lega mendengarnya.

“Syukurlah…” gumamnya. “Mama takut Harsa masih terlalu keras kepala.”

Arsyi tersenyum kecil.

“Kalau Harsa macam-macam bilang sama Mama ya,” lanjut Nyonya Ratih lagi setengah bercanda. “Biar Mama jewer dia.”

Arsyi tertawa kecil pelan.

Lalu Tuan Hendra berkata,

“Harsa itu sebenarnya anak yang baik. Cuma sejak Nadin pergi … dia banyak berubah.”

Arsyi menunduk perlahan.

“Iya, Pa.”

“Dia pernah sangat mencintai Nadin,” lanjut pria itu pelan. “Jadi mungkin dia masih butuh waktu.”

Kalimat itu membuat dada Arsyi terasa sesak tetapi ia tetap tersenyum kecil.

“Saya mengerti.”

Padahal sesungguhnya yang paling melelahkan bukan menunggu waktu itu datang. Tapi menunggu seseorang melihat dirinya bukan bayangan orang lain. Nyonya Ratih lalu menggenggam tangan Arsyi lembut.

“Mama percaya suatu saat Harsa akan sadar siapa yang benar-benar ada di samping dia.”

Kalimat itu terdengar hangat. Arsyi justru ingin menangis mendengarnya. Karena setelah malam tadi ia semakin takut. Takut kalau Harsa tidak akan pernah benar-benar melihatnya. Dan yang lebih menyakitkan ia mulai terbiasa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

1
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kau .... tamat sudah kamu Rina
Ass Yfa
dan rterjawab sudah...siapa yg menemui Nadin sebelum mnggl dia Rina..sengaja buat shock Nadin dan akhirnya jatuh dari tangga..karna pikirannya nggk fokus
Ass Yfa
lah dia yg buat Harsa sibuk..masih pura 2 nanya..bego
Angga Gati
good job arsy akhirnya kebusukan rina terbongkar
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
asekkkk kak..tetap semangat berkarya 👍👍👍💪💪💪🤩🤩🤩❤️❤️❤️😘😘😘
Ita rahmawati
kirain ngerekan terus dikasih tau kerina kok ya bodoh bgt eh ternyata malah nelf Harsa lgsg 👏👏👏
Ita rahmawati
ayo lawan Sy,,Harsa GK nyusulkah 🤔🤦
Dila Dilabeladila
wihhhhhhhh top dah👍👍👍👍
lanjut thorrrr
Teh Euis Tea
pinter arsy ternyata dia tlp harsa jd harsa denger langsung omongan si rina
Teh Euis Tea
tuh kan benar nadin meninggal ternyata ulah si rina yg terobsesi sm blatung nangka rina, semoga harsa datang cepat waktu dan dia denger apa yg rina bilang dm arsy
mama
weh weh wehh.. pinter juga otak km arsi,salut salut🤣. tumben gk jd wanita lemah🤭..Harsa sekarang km tau kn dalang dibalik kematian Nadine.buat rina membusuk di penjara
Mukeseh: dasar jalang gak laku 🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
mampoooos rina
dyah EkaPratiwi
nah kena batunya kamu rina
Mukeseh
apa arsy bukn snsue 😒😒 sedihnya jadi arsy thor
Mukeseh
kuras uangnya ar 🤣🤣🤣
Dhika Bundanya Dedeg Afnan
bagus lanjutkan
tinimawon
sesepi sepinya rumah sakit pasti ada orang apa lagi pagi pasti ada yg mengetahui sebelum rina bertindak mencelakai arsy
Eva Karmita
Arsy hati" kamu diikuti nenek lampir 🥺
Naufal Affiq
lanjut kak
Ass Yfa
ngapain ngarep kamu yg menolak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!