NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Santi menatap Bilal beberapa detik tanpa berkedip. Suasana dapur yang tadi sempat terasa hangat kini berubah begitu sunyi sampai suara detik jam dinding terdengar jelas diruang tamu.

“Dan kamu yakin,” ujar Santi akhirnya pelan, “perasaan tidak akan pernah mempengaruhi keputusan seseorang?” ucapnya lagi.

Bilal terdiam sejenak. Ia memahami arah pertanyaan itu. “Pasti mempengaruhi,” jawabnya jujur. “Saya juga manusia, Bunda.”

Feryal langsung menoleh kecil ke arah suaminya. Mungkin ia mengira Bilal akan menyangkal atau mencoba terdengar sempurna.

Akan tetapi pria itu justru memilih menjawab dengan apa adanya. Bilal melanjutkan pelan, “Makanya saya nggak pernah mau memaksa Feryal memilih cepat bunda.”

Tatapan Santi sedikit berubah. Tidak lagi setajam sebelumnya, tapi masih penuh penilaian. “Karena kalau itu terjadi,” lanjut Bilal.

“Nanti dia hidup dengan keraguan. Dan saya nggak mau jadi alasan seseorang kehilangan dirinya sendiri.” ucap Bilal.

Deg. Kalimat itu membuat Feryal diam begitu juga Santi. Dan untuk sesaat wanita itu tidak bicara apa apa.

Tatapannya turun pelan ke meja makan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh di dalam kepalanya sendiri. “Aneh ya…” gumamnya lirih.

Feryal mengernyit kecil. “Ma?” Santi tersenyum tipis, namun kali ini terlihat lelah.

“Dulu mama takut kehilangan kamu karena perbedaan,” katanya pelan. “Tapi sekarang mama justru takut, kamu makin menjauh kalau mama terlalu keras.” Kalimat itu langsung membuat dada Feryal terasa sesak.

“Ma, aku nggak pernah mau ninggalin Bunda” kata Feryal “Tapi hidup kadang bikin orang berubah tanpa sadar.” Suasananya hening lagi.

Dan kali ini, Feryal benar benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena sebagian dari ucapan bundanya memang benar.

Ia berubah dan cara berpikirnya berubah, cara memandang hidup berubah.

Bahkan cara ia memandang dirinya sendiri pun perlahan berubah sejak menikah dengan Bilal. Namun apakah itu salah?, Atau justru bagian dari proses bertumbuh?

Feryal memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku masih Feryal yang bunda kenal.” ucap sang bunda.

Santi menatap putrinya lama, “Mungkin,” jawabnya lirih. “Tapi sekarang kamu juga milik kehidupanmu sendiri.”

Deg. Kalimat itu terdengar sederhana, namun entah kenapa membuat mata Feryal langsung memanas.

Bilal yang sejak tadi diam perlahan mendekat setengah langkah. Tidak memotong pembicaraan mereka, hanya berdiri cukup dekat seolah memberi tahu bahwa Feryal tidak sendiri menghadapi ini.

Dan hal kecil itu tidak luput dari perhatian Santi. Wanita itu menghela napas panjang.

“Mama capek kalau harus marah terus,” katanya tiba tiba sambil memijat pelipisnya pelan. “Kamu sudah besar, Fey.” Feryal menunduk.

“Tapi mama juga belum siap kehilangan cara mama melihat kamu selama ini.” Suara itu akhirnya retak sedikit.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Feryal benar benar melihat ketakutan dibalik ketegasan ibunya.

Bukan sekadar soal keyakinan, akan tetapi ketakutan seorang ibu… yang takut anaknya pergi terlalu jauh.

Tanpa sadar mata Feryal mulai berkaca kaca. “Ma…” Namun sebelum ia sempat mendekat, ponselnya kembali berbunyi, notifikasi baru dari Kaizan.

"Anak Bali jangan nangis mulu ya. Insting gue bilang lo lagi tegang sekarang, dibikin santai aja.” ucap Kaizan dalam pesan singkatnya.

Deg. Feryal langsung membeku, Bilal melirik samar ke arah layar ponselnya.

Sementara Santi memperhatikan perubahan ekspresi putrinya dengan tajam. Dan entah kenapa perasaan tidak tenang mulai muncul perlahan di dalam hati masing masing.

Feryal buru buru mematikan layar ponselnya sebelum siapapun sempat membaca isi pesannya lebih jelas. Namun reaksi refleks itu justru membuat suasana terasa semakin canggung.

Santi mengangkat alis tipis, “Temanmu?” tanyanya tenang.

“Iya,” jawab Feryal cepat, terlalu cepat malah. Bilal menangkap perubahan kecil itu, namun ia memilih tidak berkomentar. Pria itu justru mundur selangkah, memberi ruang agar Feryal tidak merasa semakin terpojok.

“Kaizan?” tanya Santi lagi, kali ini lebih pelan.

Deg. Feryal langsung menatap Bunda. “Bunda tahu?”

Santi terkekeh kecil tanpa humor. “Bunda masih ibumu, Fey. Bunda tahu nama orang orang yang dekat sama anak mama.”

Kalimat itu tidak terdengar mengancam, tapi cukup membuat Feryal salah tingkah.

“Itu cuma teman,” jelasnya cepat.

“Hmm.” Santi mengangguk kecil, entah percaya atau tidak.

Bilal akhirnya bergerak pelan mengambil gelas kosong di meja makan lalu membawanya ke wastafel. Ia sengaja mengalihkan diri, seolah tidak ingin membuat Feryal merasa diawasi dari dua arah sekaligus.

Namun justru sikap itu membuat Santi diam memperhatikan menantunya beberapa detik lebih lama.

“Dia selalu seperti itu?” tanyanya tiba tiba. Feryal mengernyit. “Siapa?”

“Bilal," Feryal menoleh ke arah suaminya yang sedang mencuci gelas dengan tenang.

“Maksud Bunda?”

“Dia menahan diri terus.” jawab Santi lugas. “Bunda bisa lihat.”

Deg. Feryal terdiam karena… iya. Bilal memang terus menahan diri sejak mereka datang ke Bali. Menahan pendapatnya, emosinya, bahkan mungkin ketakutannya sendiri.

Semua demi menjaga keadaan tetap tenang. Dan anehnya, justru itu yang membuat hati Feryal perlahan semakin goyah.

Santi bersandar pelan di kursi. “Mama pernah benci sama dia dulu.” Feryal langsung menegang. “Bun…”

“Tapi sekarang Bunda mulai ngerti sesuatu.” ucap sang bunda bijak.

“Apa?” tatapan Santi kembali jatuh ke arah Bilal. “Dia nggak datang buat menang," Hening sejenak, kalimat itu membuat Feryal perlahan menunduk.

Bilal yang mendengar samar pembicaraan mereka hanya diam. Jemarinya berhenti sesaat di bawah aliran air sebelum akhirnya kembali bergerak pelan.

“Bunda masih belum bisa langsung menerima semuanya,” lanjut Santi jujur. “Dan bunda nggak mau bohong soal itu.”

Feryal mengangguk kecil. Dadanya terasa sesak sekaligus lega dalam waktu bersamaan.

“Tapi…” suara Santi melembut, “bunda juga nggak bisa pura pura nggak lihat cara dia jagain kamu.”

Deg. Feryal langsung menoleh cepat ke arah bundanya. Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, tidak ada ketegangan tajam di mata Santi. Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih rumit.

Kekhawatiran maupun ketakutan, dan semua itu perlahan mulai ada penerimaan yang belum sepenuhnya utuh.

Tiba tiba Bilal mematikan keran wastafel lalu berbalik pelan. “Bunda,” panggilnya sopan, Santi menatapnya.

“Saya tahu Bunda belum percaya sepenuhnya sama saya.” ujar Bilal tenang. “Tapi saya janji, saya nggak akan bikin Feryal jauh dari keluarganya.”

Rumah itu kembali sunyi dan entah kenapa kalimat sederhana itu terasa jauh lebih besar dibanding janji apapun. Santi memandang Bilal lama sekali, lalu akhirnya wanita itu menghela napas pelan.

“Kalian capek habis perjalanan,” katanya pelan sambil berdiri. “Istirahat dulu aja.” Namun sebelum pergi, langkahnya berhenti sebentar.

Tanpa menoleh, ia berkata lirih “besok pagi… temani mama ke suatu tempat ya, Fey.”

Deg. Feryal langsung mengangkat wajah. “Ke mana, Bun?” Santi diam beberapa detik, lalu menjawab singkat.

“Kamu nanti juga tahu," dan setelah itu wanita itu benar benar pergi meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang tiba tiba terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!