Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27
Alisa yang baru saja menundukkan kepala untuk melihat isi tote bag itu sontak langsung menoleh saat pintu kamar kembali terbuka perlahan.
Tampak, Bu Astari atau Neneknya Harlan masuk lebih dulu dengan langkah pelan, namun penuh wibawa, diikuti oleh Tante Hani yang berjalan tepat di belakang Nenek Astari. Wanita cantik itu tampak tersenyum tipis.
“Boleh kami bergabung?” tanya sang Nenek lembut.
Mama Hesti langsung bergeser memberi tempat duduk untuk ibunya. Sedangkan Tante Hani memilih berdiri sambil melipat tangan di dada, menatap Alisa dengan rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Spontan Alisa kembali duduk tegak. Mengangguk pelan, lalu menjawab…
“Te_tentu saja oleh, Nek… Tante…” jawabnya sedikit terbata karena gugup.
Sang Nenek tersenyum tipis, lalu duduk tepat di samping kiri Alisa. Sementara Mama Hesti duduk di samping kanan. Kini… Alisa diapit oleh kedua wanita baya yang memiliki pengaruh besar di keluarga itu.
“Tidak perlu tegang begitu. Kami hanya ingin bicara sebentar.” ucap Nenek Astari saat melihat wajah tegang Alisa.
“Iya, Nek. Maaf.” jawab Alisa pelan, meski jemarinya mulai saling bertautan, menggenggam erat.
Beberapa detik suasana terasa hening. Sampai akhirnya, Tante Hani yang sedari tadi menahan rasa penasarannya mulai membuka suara.
“Alisa… Tante boleh tanya sesuatu?” tanyanya membuat Alisa langsung menoleh ke arahnya.
“Tentu, Tante.”
Tatapan Tante Hani berubah sedikit serius. Wanita yang jauh lebih muda dari Mama Hesti itu melangkah pelan, mendekatkan diri ke arah ranjang. Dimana Alisa, Mama Hesti dan Nenek Astari duduk.
“Kalian sebenarnya kenapa?” tanyanya lagi membuat Alisa tampak kebingungan.
“Maksud Tante, apa, ya?”
“Kamu dan Harlan. Kalian sudah menikah selama tiga bulan… tapi kenapa belum juga melaksanakan kewajiban sebagai suami istri?” lanjut Tante Hani to the point.
DEG.
Tubuh Alisa kembali menegang. Wajahnya memanas seketika. Bahkan nafasnya sempat tercekat mendengar pertanyaan yang terlalu privasi itu.
“Ma_maafkan aku. Aku…” lirihnya pelan, sangat malu. Saking malunya, Alisa bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Mama Hesti langsung menatap tajam adiknya itu.
“Bisa gak, nanyanya pelan-pelan? Hhmm?” ucap Mama Hesti menahan geram kepada adiknya itu.
“Kenapa, memangnya ada yang salah? Aku cuma tanya baik-baik. Lagipula, semua orang juga pasti penasaran. Termasuk Kakak dan… Ibu juga. Pasti begitu.” jawab Tante Hani santai.
Alisa menunduk semakin dalam. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Melihat reaksi itu, sang Nenek akhirnya menghela nafas kecil.
“Kami bukan mau menekan kalian. Nenek hanya khawatir. Pernikahan kalian terlalu mendadak. Kami takut ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari kami.” ucap beliau lembut.
Alisa buru-buru menggeleng, lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya.
“Tidak ada apa-apa, Nek,” jawabnya lirih.
“Lalu kenapa belum? Apa… Harlan membuatmu takut atau….” tanya Tante Hani lagi, kali ini sedikit melembut. Namun, langsung di potong Alisan.
“Tidak Tante. Mas Harlan tidak pernah membuat aku takut. Justru sebaliknya… Mas Harlan membuat aku sangat nyaman. Saking nyaman nya, membuat aku ragu dan tidak percaya diri.” jawabnya jujur.
Jujur saja, ia sendiri bingung harus menjelaskan dari mana. Hubungannya dengan Harlan memang baik. Bahkan sangat baik. Harlan selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh perhatian.
Hanya saja… Tidak pernah ada langkah lebih jauh dari itu. Baik itu Alisa ataupun Harlan. Keduanya seperti enggan untuk memulai terlebih dahulu.
Sikap hati-hati yang mereka miliki, membuat hubungan keduanya berjalan lambat, sangat-sangat lambat.
“Tidak percaya diri? Karena apa?”
Kini, Mama Hesti yang bertanya. Memastikan jika putranya tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Saya merasa tidak percaya diri, kalau saya bisa memberikan apa yang Mas Harlan butuhkan… secara biologis.” jawab Alisa dengan suara yang sangat kecil. Namun masih bisa didengar oleh ketiga wanita yang saat ini sedang mengintrogasinya.
Mama Hesti, Tante Hani dan Nenek Astari saling berpandangan. Ruangan kembali hening sampai beberapa menit berlalu.
Hingga akhirnya… Tante Hani yang dipenuh rasa penasaran, kini mulai melunak melihat wajah Alisa yang benar-benar gugup dan malu.
“Kalian belum pernah membahasnya?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati.
Alisa menunduk pelan, lalu mengangguk.
“Pernah… hari pertama kami menikah, kami sudah membicarakan hal ini. Mas Harlan bilang, dia tidak akan memaksa. Biarkan semuanya berjalan secara alami, seiring berjalannya waktu.”
Nenek Astari tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Paham betul apa yang dirasakan oleh Alisa.
“Dasar cucu keras kepala,” gumam Nenek Astari pelan. Membuat Mama Hesti ikut tersenyum kecil.
“Itu memang sifat Harlan. Dari kecil dia selalu terlalu berhati-hati kalau menyangkut orang yang dia sayangi.” sambung Mama Hesti.
Deg.
Ucapan itu membuat Alisa sedikit tertegun.
‘Orang yang dia sayangi’.
Entah kenapa, kalimat itu membuat dadanya terasa hangat dan berbunga-bunga.
“Tapi Alisa… Pernikahan itu bukan cuma tentang tinggal satu rumah. Kalian juga harus belajar membuka hati satu sama lain.” lanjut Mama Hesti lembut sambil menggenggam tangan menantunya itu.
Alisa mengangguk kecil. Memasang senyuman kecil yang terlihat kaku.
“Iya, Ma. Akan Alisa coba,”
“Tapi jangan melakukannya karena terpaksa. Ikuti saja apa kata hatimu,” tambah sang Nenek cepat.
“Kami memang sangat menginginkan adanya cicit yang lucu, secepatnya. Tapi, kami juga tidak bisa memaksa,” sela Tante Hani.
“Benar. Meski itu tujuan utama menikah kan Harlan, tapi kami akan menunggu.” sahut Mama Hesti membuat suasana sedikit mencair.
Alisa tidak bisa menahan wajahnya yang semakin merah mendengar candaan itu.
Sang Nenek terkekeh pelan, lalu mengusap punggung tangan Alisa dengan lembut.
“Harlan itu anak yang baik. Kalau dia memilih untuk menunggu, berarti dia benar-benar menghargaimu. Jadi jangan takut,” ucapnya.
“Kalau Harlan tidak bisa memulai. Kenapa tidak kamu saja yang mulai.” Sambung Tante Hani.
Seketika, ruangan kembali hening. Pandangan ketiga wanita itu langsung tertuju kepada Alisa.
“Ma_maksud, Tante, gimana, ya?” tanya Alisa terbata saking gugupnya.
“Kamu yang mulai. Ingat, sekuat-kuatnya laki-laki, kalau digoda. Dia pasti akan luluh juga. Bocah itu tidak punya pengalaman pacaran. Jadi, mana tahu dia hal-hal romantis. Harus ada yang memulai terlebih dahulu. Jika tidak, mungkin sampai bertahun-tahun pun tidak akan pernah ada kemajuan untuk hubungan kalian.”
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵💫😵💫
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤