“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15.Keluar dari istana.
Pintu besi besar itu tertutup rapat, memisahkan dunia Lae ria dari sosok mengerikan namun mempesona yang ada di dalamnya. Langkah kaki Lae ria terasa sangat berat, seolah ada rantai tak kasat mata yang menariknya ke belakang. Air mata terus mengalir membasahi pipinya, tidak hanya karena rasa sakit fisik di kaki dan lehernya, tetapi karena rasa perih yang menusuk tepat di jantungnya.
Dunianya runtuh. Cinta buta dan ambisinya untuk menjadi Permaisuri Avalon hancur lebur dalam waktu kurang dari satu jam. Ia datang dengan penuh harap, berpikir bahwa kehadirannya akan membuat Pangeran Ka el tersentuh. Namun yang ia dapatkan hanyalah cengkeraman mematikan, tatapan kecewa, dan penolakan yang begitu kejam.
"Kau tidak lebih baik daripada kaca yang indah tapi sangat mudah pecah."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya, bergema seperti kutukan abadi. Lae ria kini menyadari satu hal yang sangat menyakitkan. Selama ini ia memuja Ka el, mengaguminya dari jauh, membayangkan pria itu sebagai pahlawan yang dingin namun romantis. Namun hari ini, ia menyadari kebenaran yang mengerikan. Rumor yang beredar di seluruh kerajaan itu benar. Pangeran Ka el drago mir bukanlah manusia biasa. Dia adalah monster berwajah manusia. Dia adalah kematian yang berjalan. Dan dia sama sekali tidak memiliki hati.
"Kenapa... kenapa dia bisa sekejam itu?" isak Lae ria pelan saat ia dibantu naik kembali ke dalam kereta kencananya. Tangannya gemetar hebat, tubuhnya terasa dingin meski hari masih pagi.
"Nona, kita pulang sekarang ya..." bisik kusir pribadinya.
"Iya kita pulang. " Jawabnya pelan.
Setelah naik ke dalam kereta, tatapan Lae ria tidak pernah lepas dari istana tempat Ka el berada.
Lalu kereta kuda mulai bergerak meninggalkan halaman istana yang megah namun angker itu. Suasana di dalam kereta sangat mencekam. Tidak ada percakapan. Hanya suara derap kaki kuda yang terdengar ritmis, namun bagi telinga Lae ria, suara itu terdengar seperti irama pengantar kematian.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa ia mencintai pria yang bahkan tidak segan mencekiknya hanya untuk melihat ketakutan dalam matanya? Bagaimana bisa ia iri pada Luna ria, yang sekarang justru akan dikirim ke dalam mulut harimau itu? Namun anehnya, di tengah rasa sakit itu, ada secercah rasa lega. Ia selamat. Ia tidak jadi menikah dengan iblis itu. Ia masih bisa hidup, menggunakan sihirnya, dan menjadi kebanggaan keluarga.
Tapi... apakah benar ia akan selamat?
Tiba-tiba, tanpa peringatan apa pun, suasana di luar berubah drastis. Langit yang tadinya cerah perlahan berubah menjadi gelap mendung. Angin kencang mulai bertiup, menerbangkan daun-daun dan debu jalanan dengan kencang. Suasana menjadi gelap gulita seolah hari sudah malam.
"Kyaaa!" teriak Lae ria kaget saat kereta tiba-tiba berguncang hebat.
"Nona! Pegangan erat-erat!" teriak kusir dari luar. Suaranya panik.
"Ada apa?!" teriak Lae ria membalas.
"Kudanya... kuda-kudanya aneh! Mereka ketakutan!" jawab kusir dengan napas terengah-engah.
Lae ria mengintip dari celah jendela kecil kereta. Ia melihat kedua kuda penarik kereta itu bertingkah aneh. Mata mereka memerah, keringat bercucuran deras, dan mereka meringkik keras ketakutan seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan di depan mata mereka. Kusir sudah menarik tali kekang sekuat tenaga, berusaha mengendalikan mereka, berusaha memperlambat laju, namun sia-sia.
Kuda-kuda itu justru berlari semakin kencang. Sangat kencang. Mereka lepas kendali sepenuhnya.
"Tidak mungkin! Aku harus membantu!" batin Lae ria. Sebagai penyihir, ia seharusnya bisa menggunakan sihirnya untuk menenangkan hewan, atau setidaknya memperlambat laju kereta dengan mantra gravitasi.
Lae ria segera mengangkat tangannya, jari-jarinya siap merapal mantra. Ia memfokuskan pikirannya, mencoba memanggil energi sihir Bumi yang selama ini menjadi kekuatannya.
"Bangunlah... keluarlah... kekuatanku!" serunya dalam hati.
Namun apa yang terjadi?
Hampa.
Energi di dalam tubuhnya terasa seperti menguap begitu saja. Rasanya kosong. Seolah ada dinding tak terlihat yang menutup rapat saluran energinya. Tangannya terasa lemas, tidak ada satu pun percikan sihir atau cahaya yang muncul. Ia mencoba lagi, berkali-kali, namun hasilnya nol besar.
Sama seperti saat kecelakaan kemarin. Sama seperti saat kakinya patah. Kekuatannya tersegel. Kutukan itu bekerja.
"Tidak... tidak mungkin...!" Lae ria gemetar ketakutan. "Ini belum selesai... Bahkan setelah aku mundur, bahaya ini masih mengikutiku?!"
Derap kaki kuda terdengar seperti guntur. Kereta melaju dengan kecepatan yang tidak wajar, meluncur liar di sepanjang jalan raya yang menurun dan berkelok di dekat area perbatasan istana. Di depan sana, jalanan terputus oleh sebuah jembatan kecil yang melintasi sungai yang cukup dalam dan deras.
"Berhenti! Berhenti!!" teriak kusir putus asa. Ia mencoba memotong tali kekang dengan pisau kecil, tapi kuda-kuda itu sudah terlalu liar.
Mata Lae ria terbelalak saat melihat mereka semakin mendekati tebing sungai.
"AWASSS!!"
Dengan kecepatan penuh, kereta kuda itu melompat keluar dari jalan, melayang sesaat di udara sebelum akhirnya menghantam air sungai dengan suara benturan yang sangat dahsyat. BU...MM!! Air menyembur tinggi ke mana-mana.
Namun, sepersekian detik sebelum kereta jatuh, kusir yang sudah pasrah itu melakukan hal nekat. Ia melompat turun sambil menarik tubuh Lae ria yang berada di pintu kereta keluar dengan sekuat tenaga.
"Lompat Nona! Cepat!!"
Mereka berdua terlempar ke sisi jalan berbatu dan berpasir. Tubuh Lae ria terguling-guling keras karena momentum kecepatan tadi. Kepalanya terbentur sebuah batu besar yang keras.
BRUK!
Dunia Lae ria berputar kencang. Pandangannya gelap. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari kepalanya ke seluruh tubuh. Ia mencoba membuka matanya sekali lagi, melihat sekilas kereta mereka hancur lebur di dalam sungai, dan melihat bayangan hitam yang seakan tertawa melihat penderitaannya.
Dan kemudian, segalanya menjadi hitam pekat. Lae ria pingsan.
Beberapa jam kemudian...
Kesadaran Lae ria kembali perlahan-lahan. Namun yang pertama kali ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan rasa nyeri yang luar biasa di bagian kepala dan seluruh tubuhnya. Rasanya seperti habis dipukuli oleh ratusan orang.
"Nnnggh..." Lae ria mengerang pelan, matanya berkedip-kedip berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan yang terang.
Ia mendapati dirinya berbaring di atas kasur yang empuk namun keras. Dinding di sekelilingnya berwarna putih bersih. Bau obat-obatan dan cairan antiseptik yang menyengat langsung memenuhi indra penciumannya.
"Di... di mana aku?" gumamnya lemah.
"Nona Lae ria! Nona sudah sadar!" terdengar suara teriakan gembira namun cemas dari sampingnya.
Seorang perawat berbaju putih segera berlari keluar memanggil dokter, sementara kusir pribadinya yang juga terluka dan diperban di beberapa bagian tubuhnya langsung mendekat dengan wajah lega bercampur sedih.
"Syukurlah... Nona akhirnya sadar juga. Kita selamat, Nona. Kita selamat..." ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Lae ria menoleh pelan. Tangannya terasa berat saat diangkat untuk menyentuh kepalanya. Ternyata kepalanya sudah dibalut rapat dengan perban yang cukup tebal.
"Kepalaku..." bisik Lae ria.
"Nona terbentur batu saat kita terlempar tadi. Nona pendarahan sedikit di kepala dan mengalami gegar otak. Dokter bilang Nona sangat beruntung masih bisa selamat dari jatuh setinggi itu," jelas kusir itu.
Jadi mereka tidak mati. Mereka selamat. Tapi kondisi Lae ria sangat mengenaskan.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang terburu-buru dan tangisan terdengar dari koridor. Pintu ruangan terbuka lebar, dan Lord Valde mar serta Lady Seraphina masuk dengan wajah pucat dan panik luar biasa.
"Lae ria!! Anakku!!"
Lady Seraphina langsung menerjang ke arah tempat tidur dan memeluk putrinya dengan hati-hati sambil menangis tersedu-sedu. Lord Valde mar berdiri di samping tempat tidur, tangannya mengepal kuat, wajahnya penuh dengan rasa bersalah dan ketakutan yang nyata.
"Ya Tuhan... lihat dirimu, sayangku..." isak ibunya. "Maafkan Ibu... Maafkan Ayah... Ini semua salah kami. Kami seharusnya tidak membiarkanmu terlibat dengan monster itu!"
Lae ria menatap orang tuanya dengan mata kosong. Air mata kembali mengalir. Rasa sakit, rasa takut, dan rasa malu bercampur menjadi satu.
"Ayah... Ibu..." suaranya serak. "Dia... Pangeran Ka el... dia tahu. Dia tahu kalau kalian ingin mengirim Luna ria menggantikanku."
Wajah Lord Valde mar dan Lady Seraphina berubah pucat pasi.
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
"Aku yang memberitahunya," aku Lae ria lemah. "Aku pergi ke istana sendirian. Aku ingin meyakinkan dia bahwa akulah yang pantas untuknya. Tapi... tapi dia menolakku, Ayah. Dia mencekikku... dia bilang aku hanya seperti kaca yang mudah pecah. Dia... dia malah setuju ditukar denganku. Dia mau menerima Luna ria."
Suasana di ruangan itu menjadi hening total. Kabar ini seperti petir yang menyambar di siang bolong. Pangeran Ka el setuju? Dia mau menerima gadis yang tidak punya sihir? Itu tidak masuk akal!
"Jadi... rencananya sudah ketahuan?" Lord Valde mar memijat pelipisnya yang sakit. "Dan dia bahkan tidak marah? Dia justru setuju?"
"Dia tertarik pada Luna ria," lanjut Lae ria dengan nada penuh iri dan kepahitan. "Matanya berbinar saat mendengar nama Luna ria. Seolah-olah gadis cacat itu jauh lebih berharga dariku."
Lae ria memukul kasur dengan tangannya yang lemah. "Kenapa?! Kenapa semua orang lebih memilih gadis tidak berguna itu?! Apa salahku?! Apa kurangnya ku?!"
"Bukan begitu, sayang..." Lady Seraphina membelai rambut putrinya. "Kau sempurna, Lae ria. Kau permata kami. Tapi Pangeran Ka el itu... dia bukan manusia normal. Ada sesuatu yang salah dengan dia. Dan sekarang, setelah kejadian kereta ini...apa kamu belum menyadari naungan bintang gelap sedang mengincarmu. .."
Lord Valde mar menunduk dalam. "Ini adalah peringatan keras, Lae ria. Kutukan itu nyata. Bahkan saat kau sudah mundur, bahaya itu masih mengincarmu. Jika kau tetap memaksakan diri untuk bersamanya, bukan hanya kakimu yang patah, tapi nyawamu yang akan melayang."
Lae ria terdiam. Ia memejamkan matanya. Bayangan wajah Ka el kembali muncul di benaknya. Tatapan mata merahnya yang tajam, senyum sinisnya, dan cengkeraman tangannya di leher. Rasa takut itu begitu nyata.
"Iya... dia menakutkan, Ayah," bisik Lae ria dengan tubuh gemetar. "Aku takut. Aku benar-benar takut padanya. Aku tidak mau mati. Aku tidak mau seperti istri-istrinya yang dulu."
"Kalau begitu biarkan Luna ria yang pergi," kata Lord Valde mar dengan suara berat dan dingin. "Sudah takdirnya dia yang harus menggantikan posisi itu. Dia yang akan menghadapi neraka itu, bukan kau. Kau adalah harapan keluarga kita. Kau harus hidup."
Meskipun rasanya tidak adil, meskipun Lae ria tahu bahwa mereka mengirim saudara kandungnya sendiri ke kematian, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Lae ria tidak menolak. Ia terlalu takut untuk kembali ke tempat itu. Ia terlalu lelah berjuang untuk cinta yang berakhir dengan kematian.
Biarkan Luna ria yang merasakannya. Biarkan gadis itu yang tahu rasanya dicengkeram oleh kematian. Biarkan dia yang tahu betapa hancurnya perasaan saat ditolak oleh Pangeran Es itu.
"Kapan... kapan kalian akan menjemputnya?" tanya Lae ria pelan.
"Segera," jawab Ayahnya tegas. "Mulai hari ini, hidupmu adalah milikmu kembali. Kau akan sembuh, kau akan menjadi penyihir terhebat, dan kau akan melupakan segalanya tentang Pangeran Ka el. Biarkan adikmu yang mengambil alih pernikahanmu."
Lae ria menatap langit-langit rumah sakit yang putih. Di kepalanya terasa berat dan pusing, namun di hatinya ada perasaan campur aduk antara lega, iri, dan rasa penasaran yang aneh.
Bagaimana nasib Luna ria nanti? Apakah gadis itu akan menangis? Apakah dia akan lari ketakutan? Atau... apakah dia benar-benar bisa bertahan di sisi monster itu seperti yang dikira keluarga mereka?
"Selamat bertemu dengan takdirmu, Luna ria..." bisik Lae ria dalam hati. "Semoga kau lebih beruntung dariku... atau mungkin tidak."
Dan di tempat yang jauh, di dalam menara tinggi istana, Ka el drago mir berdiri di depan jendela kaca besarnya. Ia memejamkan mata, merasakan getaran energi kematian yang ia kirimkan perlahan kembali ke dalam tubuhnya.
Hampir mati... tapi masih bertahan, batin Ka el tersenyum miring. Bagus. Jadi gadis Star born itu memang tidak ditakdirkan untuk mati sekarang.