Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ternyata...
Sampai di rumah, Kania langsung masuk ke kamarnya. Mamanya melihat tingkah anaknya yang kesal itu pun berteriak padanya.
"Kania, kamu belum makan!"
"Males, udah kenyang," jawab Kania.
"Kenyang dari mana? Kan tadi belum makan di hotel mulia," pak Suryadi menanggapi.
"Makan angin kali pa."
"Masuk angin dong nanti, udah sana mama suruh Kania makan dulu. Makan mi rebus kek ngga apa-apa, dari pada ngga makan," ucap pak Suryadi.
Sedikit dongkol istrinya karena masih kesal pada anaknya yang menyukai laki-laki matang itu.
"Udah sana ma, tarik bila perlu suruh makan," kata pak Suryadi lagi.
"Males ah pa, mama masih kesal dengan tadi di mobil. Papa aja sana yang suruh Kania makan."
Sambil melengos meninggalkan istrinya, ibu Laras pun pergi menuju kamarnya. Pak Suryadi hanya menggeleng kepala saja, tapi kemudian laki-laki itu pun segera menaiki tangga pergi menemui anaknya yang sedang ngambek.
Langkah demi langkah kaki laki-laki hampir paruh baya itu di anak tangga sangat cepat dan tegas. Suaranya terdengar dari kamar Kania yang kebetulan hanya terbuka sedikit.
Pak Suryadi mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar anaknya, meski terbuka sedikit dia menghargai privasi Kania yang tidak langsung masuk kamar meski terbuka pintunya.
Tok tok tok
"Sayang, papa masuk ya," kata pak Suryadi.
"Mau apa sih pa? Aku males ngomong sama papa dan mama," jawab Kania.
"Sebentar aja sayang, papa mau bicara sebentar" ucap pak Suryadi.
Kania terdiam, lalu kemudian dia bangkit dari ranjangnya dan melangkah menuju pintu kamarnya. Tampak wajahnya sangat masam, papanya tersenyum kecil.
"Papa masuk ya?" tanya pak Suryadi.
Kania mengangguk, dia berbalik dan melangkah menuju ranjangnya di ikuti papanya duduk di sisi ranjang.
"Lapar ngga?" tanya pak Suryadi.
"Ngga." singkat jawab Kania.
"Kalau lapar, ayo makan di tenda warung makan. Makan pecel lele, mau?" tanya pak Suryadi lagi.
Kania masih diam, dia sungkan menjawab pertanyaan papanya meski memang perutnya sangat lapar.
"Mau ngga? Kita berdua aja, mama ngga ikut." ucap pak Suryadi seakan tahu kalau anaknya lagi malas pada mamanya.
Kania langsung mengangguk, dia bangkit dari duduknya. Pak Suryadi pun tersenyum kemudian merangkul pundak anaknya itu, laki-laki itu tidak mau anaknya tidur dalam keadaan perut kosong.
_
Kania berjalan sendirian di lorong kampus, suasana sekitar kampus sangat sepi. Dia tidak melihat seorang pun di kampus itu, merasa takut karena suasana kampus ternyata sepi sekali. Apa lagi Bella, kemana anak itu?
"Ish, kenapa gue sendirian di kampus? Pada kemana sih?" ucapnya.
Setelah berkeliling pandangannya dia pun berjalan cepat untuk segera pergi dari kampus tersebut.
Saat sedang berjalan cepat, dia kaget dengan sosok yang tiba-tiba datang dan berdiri di depannya. Matanya membelalakan dan berucap keras.
"Om Axel?" teriak Kania.
Sosok laki-laki tak lain Axel itu pun tersenyum kecil, dia mendekati Kania dan menarik tangannya. Kania kaget, tapi kemudian tersenyum senang. Mereka pun berjalan pelan, Kania menikmati suasana itu. Apa lagi tangannya di gandeng Axel meski pun suasana kampus sepi. Namun gadis itu tetap senang bisa bersama Axel.
"Om Axel jemput siapa? Bella? Dia udah pulang," tanya Kania membuka percakapan.
"Aku jemput kamu, Kania," jawab Axel menoleh pada Kania dan tersenyum lagi.
"Menjemputmu? Yang benar om?" tanya Kania lagi, dia benar-benar tidak menyangka kalau Axel akan menjemputnya pulang dari kampus.
"Ya, aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan," jawab Axel lagi.
"Oh ya? Waah, aku mau," ucapnya dengan sangat senang.
Kembali Axel tersenyum, Kania benar-benar sangat senang. Dia seakan bermimpi di jemput Axel lalu di ajak jalan-jalan, tapi kemana Bella?
"Om, ngga ketahuan Bella kan om Axel jemput aku?" tanya Kania, dia merasa khawatir kalau Bella tahu Axel menjemputnya pasti Bella marah-marah.
"Kamu tenang saja, ini waktunya kita pergi jalan-jalan berdua saja," jawab Axel lagi.
Kania sangat senang dengan jawaban Axel itu, diam-diam dia mencubit lengan tangannya sendiri untuk mengetahui kalau saat ini dia tidak sedang bermimpi.
Mereka pun sampai di halaman parkiran, di sana juga tidak ada siapa pun apa lagi kendaraan lain kecuali milik Axel. Kania menoleh ke kanan dan ke kiri, tetap tidak ada siapa pun di halaman kampus itu.
"Om, kok ngga ada orang ya?" tanya Kania.
"Kan sudah waktunya pulang kuliah, jadi sepi," jawab Axel.
Ia membuka pintu mobil dan menyuruh Kania masuk, sejenak gadis itu lagi-lagi diam dan terkejut dengan perlakuan Axel padanya. Terasa manis, dia berharap memang bukan mimpi.
"Masuklah," ucap Axel.
"Terima kasih om Axel," kata Kania, dia masuk ke dalam mobil Axel lalu duduk di depan.
Axel pun menutup pintu pelan, kemudian berlari kecil memutar dan membuka pintu di sebelahnya. Dia masuk dan duduk, menoleh pada Kania dengan tersenyum kecil.
Kania jadi salah tingkah di tatap Axel seperti itu, pipinya berwarna merah. Tangannya memegang pipi, hangat.
"Kamu mau pergi jalan-jalan kemana?" tanya Axel.
Kania menoleh, diam menatap Axel sejenak. Pikirannya bermacam-macam hal, masalah kenapa Axel sangat manis padanya dan apakah hal manis itu adalah sebuah hubungan cinta?
"Om Axel," ucap Kania.
"Ya Kania?"
"Emm, ini beneran mau jalan-jalan?"
"Ya, apa kamu tidak mau?"
"Sangat mau om, tapi kenapa tiba-tiba om Axel jemput aku dan ngajak aku jalan-jalan?" tanya Kania.
Axel diam, laki-laki itu masih menatap dalam pada Kania. Perlahan wajahnya mendekat, Kania kaget namun dia tetap diam dengan tubuh kaku. Wajah Axel terus mendekat sampai di depan Kania dan gadis itu pun memejamkan matanya. Dia menggigit bibirnya, pikirannya membayangkan kalau Axel di depan wajahnya akan menciumnya.
"Kania."
Kania diam tanpa menjawab, masih dengan pikirannya kalau Axel akan menciumnya.
"Kania!"
Kania masih diam dan matanya tetap terpejam.
"Om Axel."
Bug!
"Kania! Bangun!"
_
_
******