Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBETULAN YANG TERLALU SERING
Minggu sore itu alun-alun cukup ramai. Anak-anak kecil berlarian di lapangan, beberapa pedagang menjajakan jajanan, dan di pinggir jalan banyak orang duduk santai menikmati angin sore.
Di salah satu sudut alun-alun yang agak tersembunyi dari keramaian, ada sebuah bangunan joglo tua dengan halaman luas yang sudah direnovasi jadi perpustakaan yang juga cukup luas.
Tempatnya hangat, tenang, dan penuh rak buku.
Tempat yang cocok untuk orang yang ingin membaca tanpa gangguan.
Ana sebenarnya tidak punya rencana datang ke sana. Ia datang karena Nindya, teman SMA-nya, yang tiba-tiba mengajaknya lewat telepon.
“Temenin aku dong, An!." kata Nindya.
“Ada bedah buku di perpus deket alun-alun. Seru kayaknya.” Ana waktu itu sedang rebahan di kos.
“Bedah buku apaan?”
“Atomic Habits.”
Ana langsung teringat sesuatu. Buku yang sama yang beberapa hari lalu dibaca Adi di kafe saat mereka tidak sengaja bertemu.
“Yaudah deh,” kata Ana akhirnya.
“Sekalian jalan.”
- - -
Sekarang mereka sudah duduk di dalam perpustakaan itu.
Kursi-kursi plastik disusun menghadap ke depan. Sekitar tiga puluh orang duduk santai, sebagian membawa buku, sebagian lagi memegang kopi dari kafe kecil non permanen di samping ruangan. Ana baru duduk beberapa menit ketika seseorang berjalan ke depan ruangan. Begitu orang itu menghadap peserta—
Ana langsung membeku.
“Selamat sore semuanya.”
Ana menoleh pelan ke Nindya. “Nin…”
“Iya?”
“Itu kan dosenku.” Nindya melihat ke depan.
Di sana Adi berdiri dengan kaos santai warna biru muda dan celana chino gelap. Tidak ada kemeja, apalagi jas, tidak ada wajah tegang seperti di kelas. Ia memegang mikrofon kecil dan terlihat jauh lebih santai.
“Serius?” bisik Nindya. Ana mengangguk.
“Iya. Si dosen killer yang pernah aku ceritain itu.” Nindya malah terlihat santai.
“Oalah. Jadi dosen killer yang sering kamu ceritain itu maksudnya dia?”
Ana menoleh. “Oalah apaan?”
“Itu Mas Adi.”
Ana mengernyit. “Mas Adi?”
“Iya.”
“Kamu kenal?”
Nindya mengangguk santai. “Dia tetanggaku.”
Ana langsung menatapnya. “Lah kok baru bilang sekarang?!”
Nindya cuma nyengir. “Ya aku juga kan baru tahu kalo dia ngajar di kelas kamu.”
Ana cuma bisa menghela napas panjang. Dan membatin.
Dunia ini sempit banget sih. Dari semua tempat, kenapa pula dia harus di sini?.
Adi mulai membahas buku Atomic Habits. Cara bicaranya santai. Kadang diselingi contoh-contoh sederhana yang lucu bikin orang di ruangan itu tertawa. Tidak seperti saat di kelas yang penuh istilah akademik dan terkesan mengintimidasi.
Ana memperhatikan dengan ekspresi sedikit heran.
Pak Adi bisa santai juga ternyata.
Tidak lama kemudian sesi tanya jawab dibuka. Beberapa orang mulai mengangkat tangan. Ana sebenarnya tidak berniat bertanya. Tapi entah kenapa tangannya ikut terangkat. Intrusive thoughts.
Nindya langsung meliriknya dan berbisik, “Mau tanya apa kamu, An?”
Ana mengangkat bahu. “Penasaran aja.”
Beberapa saat berlalu, akhirnya mikrofon sampai di tangannya. Adi yang berdiri di depan ruangan langsung melihat siapa yang bertanya. Dan ekspresinya berubah sedikit. Lagi. Senyuman menyebalkan itu tersungging di bibirnya.
“Saya Ana,” katanya santai.
Beberapa orang langsung menoleh, dan memandang Ana. Lekat. Sebagian karena penasaran soal pertanyaan yang akan di sampaikan, sebagian lagi tentu saja karena ingin mengagumi wajah rupawan Ana.
Ana berdiri. “Mas, ijin bertanya.” katanya.
Adi sedikit mengangkat alis, tapi tetap santai. “Iya, silakan.”
Ana langsung to the point. “Di buku ini kan dibilang kebiasaan buruk bisa diubah pelan-pelan.”
Adi mengangguk. “Betul.”
Ana melanjutkan dengan wajah polos. “Kalau ada dosen yang punya kebiasaan meremehkan dan membantai mahasiswa di kelas… atau di sidang skripsi…”
Beberapa orang mulai menahan tawa. “…itu juga bisa diubah pelan-pelan nggak ya?”
Nindya bahkan hampir tersedak. Adi mengangguk kecil.
“Terima kasih.” Ana langsung duduk lagi dengan ekspresi puas.
Semua mata sekarang melihat Adi. Beberapa detik hening. Lalu Adi tersenyum. Senyum tipis yang Ana kenal sekali.
“Pertanyaan yang bagus,” katanya santai. Adi mengangguk. Ia berjalan sedikit mendekat ke arah peserta. “Di buku ini dijelaskan kalau perubahan dimulai dari kebiasaan kecil.”
Ia berhenti sebentar, lalu menatap Ana. “Jadi mungkin… dosen itu bisa mulai dari membantai mahasiswa sedikit lebih halus.”
Ruangan langsung pecah oleh tawa. Ana memutar mata. “Tuh kan,” gumamnya pelan.
Adi tertawa kecil. “Tapi dosen yang terlihat galak atau tegas belum tentu sedang meremehkan mahasiswa.” Ia menambahkan santai, “Kadang cuma karena mahasiswanya kurang siap… jadi ketegasan terasa seperti serangan.”
Beberapa orang kembali tertawa kecil. Ana cuma menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ya ampun, tetap saja nyindir.
Acara berlanjut dengan diskusi yang cukup seru. Setelah sekitar satu jam, acara selesai dan orang-orang mulai bubar. Ana sedang melihat-lihat rak buku ketika Nindya tiba-tiba menarik lengannya.
“Ayo sini.”
“Kemana?”
“Ketemu Mas Adi.”
Ana langsung berhenti. “Hah? Ngapain?”
“Ya nyapa lah.”
Nindya sudah berjalan ke arah Adi yang sedang membereskan buku di meja depan. “Mas Adi!” panggil Nindya.
Adi menoleh. Wajahnya langsung berubah lebih santai. “Nindya? Wah lama nggak ketemu.”
Mereka saling tersenyum. Ana berdiri sedikit di belakang dengan ekspresi agak canggung. Nindya langsung menarik Ana ke depan. “Oh ya Mas, ini temen SMA aku. Ana.”
Adi menatap Ana.
Sedetik.
Lalu tersenyum kecil.
“Oh.”
Ana langsung mendengus. “Kenapa ‘oh’?”
Nindya bingung. “Kalian kenal?”
Adi menjawab santai. “Lumayan.”
Ana langsung menimpali, “Kan tadi aku udah bilang, dia dosenku.”
Nindya langsung tertawa. “Oalah ya tau dia dosenmu tapi ku pikir kalian gak saling kenal. Pantes vibesnya tadi aneh. Jadi tadi pertanyaanmu itu curcol, An?”
Nindya menggoda Ana, dan Ana hanya melirik tajam pada Nindya. Adi yang berdiri di depan meja ikut tertawa kecil. Lalu ia menoleh ke Nindya. “Temen kamu emang dari dulu settingan defaultnya gitu ya, Nin?”
Nindya mengerutkan dahi. “Gitu gimana, Mas?”
Adi menjawab santai, “Jutek.”
Nindya langsung tertawa keras. “Mas Adi cepet banget nyimpulinnya.”
Ana memutar mata. Mulai merasa kesal karena dibicarakan tepat di depan hidungnya. “Halo... Saya masih di sini ya.”
Nindya masih tertawa. “Iya tahu, tapi emang cocok sih analisis mas Adi.”
Ana menatapnya tajam. “Kamu teman atau musuh sih sebenernya, Nin?”
“Teman yang jujur.”
Adi menambahkan sambil tersenyum kecil, “Btw, Di kelas juga sama kok.”
Ana langsung menoleh ke arahnya. “Maksud Bapak?”
Adi mengangkat bahu santai. “Kalau saya tanya di kelas, mahasiswa lain jawab lalu langsung duduk.”
Ia melirik Ana. “Kalo Ana... setelah jawab… lalu menatap saya seperti mau ngajak tawuran.”
Nindya langsung tertawa lagi. “Ya ampun Ana, kamu beneran gitu?”
Ana menghela napas panjang. “Karena mas tetanggamu ini hobi ngerjain mahasiswanya.”
Adi mengangguk pelan, seolah menerima tuduhan itu dengan tenang. “Sebagian benar.”
“Tuh kan,” kata Ana cepat.
“Tapi…” lanjut Adi santai, “…kalau nggak ada yang debat di kelas, diskusinya jadi membosankan.”
Nindya melirik Ana sambil menyeringai. “Jadi kamu ini penyelamat kelas dong, An?”
Ana langsung menatapnya. “Diam kamu ya, Nin.”
Nindya justru makin senang. “Mas Adi, dari dulu Ana emang gini kok.”
Adi mengangkat alis. “Oh ya?”
“Iya. Waktu SMA kalau ada guru ngomong sesuatu yang dia nggak setuju, dia langsung angkat tangan.”
Adi mengangguk. Ana menyela cepat. “Itu namanya diskusi.”
Nindya mengangguk. “Iya… tapi nadanya kayak lagi debat calon presiden.”
Adi tertawa kecil.
Ana tersipu agak sedikit merasa malu karena Nindya membeberkan soal fakta masa lalu kepada Adi, lalu menutup wajahnya sebentar dengan tangan. “Kenapa sih kalian kompak banget hari ini?.”
Adi masih tersenyum. Ia menatap Ana sebentar lalu berkata santai, “Sekarang saya jadi tahu kenapa kamu berani nanya begitu tadi.”
Ana menyipitkan mata. “Kenapa?”
Adi menjawab ringan, “Karena kamu memang orangnya blak-blakan.”
Nindya langsung mengangguk setuju. “Betul banget, mas.”
Ana mendengus. “Terima kasih atas analisis kepribadiannya.”
Adi tertawa kecil lagi. Dan entah kenapa, melihat Ana yang terlihat kesal tapi tetap berdiri di situ membuat suasana jadi terasa santai. Tidak seperti hubungan dosen dan mahasiswa di kampus. Lebih seperti… orang-orang yang kebetulan saling mengenal dan sedang bercanda.
Ana kemudian menoleh ke sekeliling ruangan. “Mas, serius ini perpustakaannya punya Mas sendiri?”
Oh, panggilan Ana kini berubah jadi Mas.
Adi mengangguk. “Iya.”
Rak bukunya banyak, tempatnya juga cukup luas. “Ini dibuka buat umum?,” Ana bertanya.
“Iya.”
“Gratis?”
“Gratis.”
Ana menatapnya beberapa detik. Lalu berkata jujur,
“Pak… saya jadi bingung.”
Adi mengangkat alis. Kenapa jadi balik lagi manggil pak? “Bingung kenapa?”
Ana menjawab datar, “Di kampus Bapak serem.”
Nindya langsung tertawa. “Tapi di sini Bapak keren juga, pas jadi relawan perpustakaan.”
Adi tertawa pelan. “Aku cuma galak kalau soal akademik.”
Lalu ia menambahkan santai, “Apalagi sama mahasiswa yang kurang persiapan. Di luar itu… aku juga manusia biasa.”
Ana menatapnya lagi. Dan untuk pertama kalinya— ia benar-benar melihat sisi lain dari dosen killer itu. Sisi yang tidak pernah terlihat di kelas.
*
- - -
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍