NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kediaman Willy

"Di mana heels-mu?" suara Sukma memecah keheningan, matanya tertuju pada kaki telanjang Myra yang kotor akibat debu jalanan.

Myra tak menyahut. Tangan kanannya menjinjing sebelah sepatu yang tersisa dengan lesu. Ia melangkah melewati Sukma di halaman rumah, mengabaikan kehadiran wanita itu seolah ia hanya bayangan.

"Hah... dia selalu begini jika suasana hatinya memburuk," gumam Sukma sembari menghela napas panjang. Ia meletakkan selang air yang digenggamnya, lalu bergegas menyusul Myra ke dalam.

"Kamu dikejar seseorang?" selidik Sukma lagi.

"Tidak," sahut Myra tanpa menoleh.

"Lalu, ke mana sepatumu yang sebelah lagi?"

"Tadi ada anjing liar yang mengejarku. Terpaksa aku gunakan heels itu untuk menghantam kepalanya," jawab Myra ketus sebelum membanting pintu kayu kamarnya.

Myra mengunci pintu rapat-rapat. Ia tidak ingin berbagi momen memuakkan hari ini dengan siapa pun. Hawa sejuk ruangan perlahan menenangkan syarafnya yang tegang. Dilemparnya tas kecilnya ke sembarang arah, lalu ia merebahkan tubuh ke atas ranjang.

Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Bayangan pria itu kembali muncul. "Seharusnya aku tidak menyebutkan namaku," bisiknya penuh sesal. "Lain kali aku harus selalu membawa senjata. Bisa-bisanya dia hanya diam saat kugigit hingga berdarah..."

"Hacim!"

Myra mengusap hidungnya yang gatal, merutuki nasibnya yang terasa kian malang.

"Komisaris Rafan!" teriak seorang pria berseragam yang berlari terengah-engah.

Andre berhenti tepat di depan Rafan, matanya membelalak menatap pemandangan aneh di depannya. Atasannya berdiri tegak sembari menggenggam sebelah sepatu hak tinggi wanita dengan erat. Namun, yang lebih mengejutkan adalah luka memar dan goresan di pipi kanan Rafan.

"Bapak kenapa? Siapa yang berani melukai Bapak?" tanya Andre panik, matanya liar menyapu sekeliling, mengira Rafan baru saja dikeroyok massa.

"Lupakan soal ini. Kita harus segera ke TKP," potong Rafan dingin. Ia melangkah menuju jalan raya. "Kenapa diam saja? Ayo, pimpin jalannya!"

Andre tersentak. "B-baik, Pak!"

Mereka menaiki mobil dinas yang terparkir lima menit dari sana. Di dalam mobil, rasa penasaran Andre tak terbendung. "Bapak dapat dari mana sepatu itu?"

"Seekor kucing memberikannya padaku."

"Hah? Kucing? Sejak kapan kucing suka mencuri sepatu?"

"Jangan banyak tanya," omel Rafan datar, membuat Andre seketika membungkam mulutnya. "Di mana Devan? Kenapa dia tidak ikut?"

"Oh, Devan sedang menyelesaikan dokumen untuk menutup kasus bulan lalu, Pak."

Kediaman Willy

"Selamat pagi, Komisaris!" sapa para petugas begitu Rafan menginjakkan kaki di pelataran rumah mewah milik almarhum Willy.

Rafan hanya mengangguk singkat, matanya langsung tertuju pada kertas laporan yang disodorkan padanya. Ia membaca dengan teliti: Jasad pria paruh baya, luka tusukan beruntun, sayatan dalam di telapak tangan. Waktu kematian diperkirakan beberapa jam yang lalu.

"Jasad baru saja dibawa untuk autopsi," lapor Beni, salah satu petugas di lokasi. "Masalahnya, kami belum menemukan senjata tajam apa pun di sekitar rumah."

"Di mana para pelayan?" tanya Rafan.

"Di ruang tengah, Pak. Mereka sudah kami kumpulkan."

Rafan melangkah masuk. Meski mengenakan pakaian kasual yang sedikit kotor, aura otoritas dan tatapan dinginnya mampu membuat lima pelayan yang sedang berkumpul di sana bergidik ngeri.

"Pak... kami benar-benar tidak tahu apa-apa!" Yoga, satpam rumah itu, memulai dengan suara gemetar.

"Jangan bicara sebelum saya suruh," potong Rafan tajam. "Di mana kalian semalam?"

"Semalam, tiba-tiba sa---"

"Jawab saja pertanyaanku, simpan penjelasanmu untuk nanti," desis Rafan sinis.

"Saya di pos satpam sampai pagi," jawab Yoga.

"Saya kembali ke kamar setelah tugas selesai," tambah seorang pelayan wanita tua, diikuti anggukan pelayan lainnya.

"Ada tamu kemarin?"

"Tidak ada," jawab Yoga pasti.

"Jam berapa tugas kalian selesai?"

"Sekitar jam delapan malam. Setelah itu... kami tidak mengingat apa-apa," jawab salah satu dari mereka.

Rafan menyipitkan mata. "Tidak mengingat apa-apa? Perjelas maksudmu." Ia menatap tajam pelayan wanita di samping Yoga.

"Saya tidak tahu, Pak. Setelah membereskan dapur, saya merasa sangat lelah secara tiba-tiba. Tahu-tahu, pagi hari saya sudah bangun di tempat tidur," jelas Surti ketakutan.

"Saya juga tertidur di pos," tambah Yoga.

Rafan terdiam sejenak. Bius? Gas tidur? Instingnya mulai bekerja. "Siapa yang menemukan jasad pertama kali?"

"S-saya, Pak," celetuk seorang pemuda kurus bernama Parjo. Ia menunduk dalam, jari-jarinya sibuk memilin ujung kaosnya karena gugup.

"Kenapa kamu berkeringat?" tanya Rafan mengintimidasi.

"Hah? T-tidak, Pak," Parjo mendongak sekilas, lalu kembali menunduk.

"Jam berapa kamu menemukannya?"

"Jam... sekitar jam tujuh!"

Rafan mengetuk-ngetuk dagunya. "Kamu menemukannya jam tujuh, tapi pihak kepolisian baru dihubungi satu jam kemudian? Kenapa?"

"Kami langsung menelepon setelah Parjo memanggil kami!" sahut pelayan wanita tua mencoba membela.

"Tidak! M-maksud saya... sepertinya saya salah ingat. Saya menemukannya jam delapan!" timpal Parjo panik, matanya melirik liar ke arah jam dinding.

Rafan mengukir senyum tipis yang terasa dingin. "Ternyata sudah jam sepuluh. Itu artinya, kalian baru melapor setelah satu jam jasad ditemukan. Atau mungkin... ada yang sedang kalian sembunyikan?"

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Rafan memberikan tatapan menyelidik terakhir pada Parjo sebelum berbalik menemui Andre.

"Andre, aku ingin setiap sudut rumah ini diperiksa tanpa celah. Halaman depan, pos satpam, hingga saluran pembuangan. Jangan lewatkan apa pun."

"Baik, Pak!"

"Dan satu lagi," Rafan menatap barisan pelayan itu dengan sorot predator. "Bawa mereka semua ke kantor. Interogasi secara terpisah. Jangan biarkan mereka pulang sebelum kita menemukan benda yang hilang dari rumah ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!