NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Hilang

"???"

Tidak hanya Alvaro, Zivanna juga tertegun mendengar kata-katanya sendiri. Dia sudah mulai kesulitan membedakan dunianya dan dunia Ayu, gadis dalam mimpinya.

"Makanannya sudah datang. Kita makan dulu, perutku sudah lapar." Alvaro mengalihkan pembicaraan. Perutnya sama sekali tidak lapar. Dia hanya ingin membuat di sampingnya ini mau makan.

"Tapi aku tidak ingin makan," ucap Zivanna melihat nasi uduk, ayam goreng juga sambal dan lalapan di hadapannya. Menu yang hampir tidak pernah dia jumpai di kota kecuali dia sengaja meminta ibunya memasakkannya.

"Coba saja dulu, nanti kalau tidak suka tidak usah dimakan."

Zivanna merasa tidak enak. Alvaro sudah terlanjur memesankannya, jadi Zivanna terpaksa memakannya. Awal suapan Zivanna merasa terpaksa. Suapan berikutnya dia mulai menikmatinya. Suapan-suapan berikutnya terasa semakin nikmat hingga Zivanna menghabiskan nasi uduknya sampai bersih tidak tersisa.

"Gimana? Enak?"

"Iya. Perutku sampai kekenyangan. Kamu sudah biasa makan di sini?"

"Aku tinggal di belakang kecamatan. Jadi warung makan di sekitar sini aku sudah coba semua."

Zivanna memandangi dokter tampan di sampingnya. Sama seperti yang lainnya di seluruh desa dan kecamatan ini, dokter tampan ini pun terasa familiar. Kemudian Zivanna ingat jika dokter ini juga pernah muncul di mimpinya.

"Dok... " panggil Zivanna.

"Jangan panggil aku "Dok", ini bukan di puskesmas. Panggil namaku saja!"

Sejenak Zivanna terlihat ragu. Dia tidak ingin dikatakan sok akrab tetapi ada sesuatu yang harus dia tanyakan. "Al... "

"Nah, itu terdengar lebih baik." Alvaro tersenyum tipis hampir tak terlihat. Dia senang mendengar Zivanna memanggilnya "Al", sama seperti keluarganya memanggilnya.

"Apa kamu kenal gadis penjual jajanan pasar di parkiran puskesmas? Yang sekarang sudah meninggal."

"Kenal. Kenapa?"

"Kamu tahu kenapa dia meninggal?"

"Awalnya dia sakit tipes. Sempat di rawat selama beberapa hari di puskesmas. Kemudian kondisinya memburuk lalu di rujuk ke rumah sakit pusat. Kenapa kamu menanyakan gadis itu?"

"Nggak apa-apa."

Alvaro sudah hafal dengan bahasa perempuan karena dia memiliki satu adik perempuan. Dia tahu jika seorang perempuan mengatakan "nggak apa-apa" itu artinya sebaliknya, alias "ada apa-apa" tetapi Alvaro tidak mau mengatakannya.

"Cerita aja, Zi. Jangan dipendam sendirian. Kalau nggak mau ketemu sama psikolog kamu bisa cerita sama aku."

Pelan-pelan Alvaro membujuk Zivanna. Sama seperti ibu gadis itu, Alvaro pun khawatir melihat kondisi Zivanna. Kalau tidak ditangani dengan tepat mungkin gadis keturunan blasteran ini akan benar-benar gila. Sayang kalau gadis secantik ini harus kehilangan kewarasannya.

"Lagi pula, kenapa sih nggak mau ketemu psikolog? Konsultasi ke psikolog itu bukan berarti gila."

"Aku tahu. Tapi aku tidak yakin tidak akan dianggap gila jika aku ceritakan masalahku." Zivanna menunduk, dengan sedikit malu dia lanjut berkata, "Selain itu, teman-temanku pasti akan menganggap aku depresi karena ditinggal tunangan jika mereka tahu aku menemui psikolog. Orang tuaku saja berpikir seperti itu apalagi orang lain. Aku pasti akan menjadi bahan gunjingan orang-orang. Padahal bukan itu alasannya."

"Kamu bisa cerita kepadaku. Aku tidak tahu latar belakangmu jadi mungkin aku akan bersikap netral menilai ceritamu. Bagaimana?"

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat akhirnya Zivanna menyetujuinya. Toh Alvaro ini seorang dokter yang terbiasa menyimpan rahasia pasiennya, jadi mungkin dia bisa mempercayainya.

Lalu Zivanna mulai menceritakan mimpi-mimpinya. Tidak terlalu detail, hanya garis besarnya saja. Zivanna juga menceritakan apa yang dia rasakan setelah dia bermimpi. Hanya saja Zivanna tidak mau menyebutkan siapa orang-orang di dalam mimpinya.

"Jadi semua mimpimu tentang gadis itu?"

Zivanna mengangguk. "Tidak masuk akal, kan? Apakah menurutmu tidak aneh jika ada seorang gadis yang tidak ada sangkut pautnya denganku, tetapi selalu muncul di mimpiku? Coba jelaskan padaku secara medis, bagaimana itu bisa terjadi?"

"Otak manusia cenderung memunculkan kembali wajah-wajah orang yang pernah dilihat selintas, seperti di jalan, foto, atau media sosial, meskipun tidak berinteraksi langsung. Dan wajah tersebut dapat dimunculkan kembali oleh pikiran bawah sadar saat tidur," terang Alvaro (#source: google)

"Kalau cuma sekali dua kali mungkin aku akan setuju dengan jawabanmu. Tapi bagaimana kalau hampir setiap hari memimpikan orang yang sama, yang bahkan belum pernah aku temui sebelumnya?"

"Bagaimana kamu yakin kalau kamu belum pernah melihat gadis itu? Bisa saja kamu melihatnya di media sosial atau tidak sengaja bertemu di jalan tetapi kamu tidak menyadarinya."

Zivanna tersenyum kecut. "Mana mungkin? Gadis di dalam mimpiku itu sudah meninggal. Dan sebelumnya aku buta. Lalu kami bertemu dimana?"

"Orangnya sudah meninggal?" Otak Alvaro berpikir dengan cepat. Dia langsung dapat menarik kesimpulan dari pertanyaan Zivanna sebelumnya. "Apakah maksudmu, gadis itu adalah penjual jajanan pasar di depan puskesmas?"

Zivanna enggan menjawab. Dia melihat jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Kemudian dia membuka handphonenya. Pantas sejak tadi tidak ada yang menanyakan keberadaanya. Ternyata tidak ada jaringan. "Aku harus pulang sekarang," katanya.

Seharusnya dia sudah pulang dari tadi. Tetapi entah kenapa dia enggan. Dia merasa nyaman dan betah berlama-lama dengan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Orang rumah pasti panik mencarinya sekarang.

"Sendirian?"

"Sama siapa lagi?"

"Aku antar. Ini sudah malam."

"Ini baru jam delapan." Zivanna ngeyel. Di kota, jam delapan mungkin masih di sebut sore. Tetapi di desa, jam delapan berarti semua orang sudah harus berada di dalam rumah, dan jam sembilan malam tanda-tanda kehidupan sudah hilang.

"Kamu lihat hari sudah gelap. Kabut juga sudah turun. Mau jalan sendirian sampai rumah?" Zivanna melihat sekeliling. Di sekitar sini masih ramai orang berlalu-lalang karena di sini adalah pusat hiburan dan keramaian di kecamatan Suka Jaya. Tetapi nanti ketika sudah mulai memasuki jalan semen, Zivanna tidak yakin akan bertemu seseorang. "Kita ke rumah dulu untuk mengambil kendaraan," putus Alvaro.

Zivanna terpaksa menurut. Dia mengikuti Alvaro berjalan ke rumah yang dia sewa selama mengabdi di puskesmas kecamatan Suka Jaya, yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka makan tadi.

Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai. Alvaro membuka pintu dan memasukkan barang belanjaannya ke dalam rumah. Lalu keluar sambil membawa sebuah jaket dan sebuah kunci. "Pakai ini!" Alvaro menyodorkan jaket yang dia bawa kepada Zivanna. "Sudah turun kabut. Udaranya bisa sangat dingin."

"Aku sudah pakai sweater." Zivanna bukan gadis penurut yang yang langsung bisa bilang "iya".

"Sweatermu terlalu tipis. Ini di desa, Zi. Udara di sini lebih dingin dari pada di kota. Dan kita akan naik motor. Aku nggak mau kamu masuk angin terus demam lagi."

Kata-kata dokter itu cukup logis. Mau tidak mau Zivanna menurut dan menerima jaket dari Alvaro.

Sementara Zivanna mengenakan jaket, Alvaro mengeluarkan sepeda motor dari garasi.

Sementara itu, rumah Minah terlihat ramai. Para pekerja yang seharusnya sudah pulang ditahan dan diminta untuk ikut mencari Zivanna yang "hilang" tanpa jejak.

"Ran, apa dia tadi tidak pamit mau kemana?" Minah terlihat panik.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!