NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA UNTUK SEORANG BAYI

BAB 11 — NAMA UNTUK SEORANG BAYI

Musim dingin di Kanada terasa semakin tajam dan menusuk tulang.

Salju turun hampir setiap pagi, menyelimuti halaman rumah Bibi Rina dengan lapisan putih tebal yang indah namun dingin membekukan. Dari balik kaca jendela kamar yang berembun, Keisha memandangi dunia luar yang perlahan berubah menjadi negeri dongeng berwarna putih.

Namun perubahan terbesar justru terjadi di dalam dirinya sendiri.

Perutnya kini sudah jelas membesar dan membulat sempurna.

Tidak bisa lagi disembunyikan di balik sweater longgar atau jaket tebal sekalipun.

Setiap kali berdiri di depan cermin, Keisha masih sering terdiam lama.

Ia masih tak percaya bahwa di dalam tubuhnya yang kecil ini, ada seorang manusia kecil yang tumbuh semakin kuat dan aktif setiap harinya.

Kadang rasa takut itu masih datang menyelinap.

Kadang ia masih menangis sendirian di keheningan malam.

Namun semakin hari berlalu, rasa takut itu perlahan bergeser dan bercampur dengan perasaan baru yang hangat dan menenangkan.

Perasaan kasih sayang yang tumbuh begitu saja tanpa diminta.

 

“Dia menendang lagi ya?”

Suara Bibi Rina memecah lamunan saat wanita itu meletakkan semangkuk sup ayam hangat di atas meja makan.

Keisha tersenyum kecil, tangannya otomatis mengusap perutnya lembut.

“Iya, Bi. Tadi pagi aktif banget.”

“Wah, berarti anaknya sehat dan kuat.”

“Kadang kalau malam malah gerak terus sampai aku susah tidur,” keluhnya tapi dengan nada manja dan bahagia.

“Berarti dia ingin diajak ngobrol terus,” canda Bibi Rina.

Keisha duduk perlahan lalu mulai menyantap makanannya. Selera makannya sudah jauh membaik beberapa minggu terakhir, walau kadang masih merasa mual jika mencium bau-bauan tertentu yang menyengat.

Bibi Rina memperhatikannya makan dengan senyum puas.

“Kamu kelihatan lebih tenang dan cantik sekarang, Sha.”

Keisha menunduk sedikit tersipu.

“Mungkin karena aku mulai terbiasa dengan keadaan.”

“Atau mungkin... karena kamu mulai menerima semua ini sebagai takdir yang indah,” sahut Bibi Rina lembut.

Ucapan itu membuat Keisha terdiam.

Mungkin benar.

Dulu, saat pertama kali tahu, ia melihat bayi ini sebagai masalah besar yang datang menghancurkan masa depannya.

Tapi sekarang...

Ia mulai melihat bayi ini sebagai alasan terbesarnya untuk tetap bertahan, tetap kuat, dan tetap hidup.

 

Siang harinya, mereka pergi ke klinik untuk jadwal kontrol rutin.

Dokter wanita yang sudah kenal baik dengan mereka memeriksa kandungan Keisha dengan teliti, lalu tersenyum lebar melihat hasil pantauan di layar.

“Semuanya bagus sekali. Bayinya tumbuh sehat dan aktif.”

Keisha menghela napas panjang, rasa lega menyelimuti hatinya.

“Nah, Bibi mau tahu jenis kelaminnya nggak?” tanya dokter itu dengan nada menggoda.

Keisha dan Bibi Rina saling berpandangan, jantung keduanya berdebar kencang penuh antusiasme.

“Boleh tahu, Dok?” tanya Bibi Rina mewakili.

Beberapa menit kemudian, dokter menggeser alat periksa pelan-pelan lalu mengangguk-angguk.

“Oke... sepertinya ini calon pesepakbola atau insinyur tampan. Ini bayi laki-laki, Nak.”

Tubuh Keisha membeku sesaat.

Laki-laki.

Air mata langsung memenuhi kelopak matanya tanpa alasan yang jelas, campuran antara kaget, haru, dan bahagia yang meluap-luap.

Bibi Rina langsung menggenggam tangannya erat-erat, matanya juga ikut berkaca-kaca.

“Anak laki-laki, Sha... kamu dapat anak laki-laki.”

Keisha menatap layar hitam putih itu sambil tersenyum gemetar.

Entah kenapa, bayangan wajah Arsen tiba-tiba muncul begitu saja di benaknya.

Rahangnya yang tegas dan kokoh.

Tatapan matanya yang tajam dan dingin.

Sifatnya yang keras kepala dan dominan.

Tiba-tiba ia bertanya-tanya dalam hati...

Bagaimana kalau anak ini tumbuh dewasa dan wajahnya persis seperti ayahnya?

 

Malam harinya, Keisha duduk bersila di atas ranjang sambil membuka buku tebal berisi daftar nama bayi.

Ia sudah melingkari banyak nama dengan pulpen, tapi tak satu pun yang terasa pas dan cocok di hati.

“Masih cari nama?” tanya Bibi Rina saat masuk kamar membawa segelas susu hangat.

“Iya, Bi. Bingung mau pilih yang mana.”

“Pakai nama Indonesia atau nama internasional?”

“Belum tahu. Yang penting bagus dan ada artinya.”

Bibi Rina duduk di sampingnya, ikut melihat-lihat halaman demi halaman.

“Kalau laki-laki biasanya butuh nama yang terdengar kuat dan gagah.”

Keisha menunduk menatap perutnya yang besar.

“Aku mau nama yang artinya keberanian, Bi.”

“Kenapa pilih arti itu?”

“Karena dia datang ke dunia ini saat aku sedang dalam keadaan paling takut dan lemah. Dia yang bikin aku jadi berani sampai sekarang,” jawab Keisha pelan namun tegas.

Bibi Rina tersenyum lembut mendengarnya, lalu mengusap kepala keponakannya itu sayang.

“Itu arti yang sangat indah dan dalam.”

Keisha kembali membalik halaman buku itu.

Matanya tiba-tiba berhenti pada satu baris tulisan.

Leo.

Sederhana.

Pendek.

Mudah diingat.

Dan artinya adalah Singa. Simbol kekuatan, keberanian, dan kepemimpinan.

Jari telunjuknya menyentuh tulisan itu perlahan.

“Leo...” bisiknya mencoba mengucapkan nama itu.

Aneh rasanya.

Begitu nama itu terucap dari bibirnya, dadanya terasa hangat dan nyaman, seolah memang itu nama yang sudah ditakdirkan sejak lama.

“Aku suka nama itu, Sha. Cocok sekali,” komentar Bibi Rina setuju.

Keisha tersenyum lebar, lalu menempelkan telapak tangannya ke perut.

“Hai, Leo...” panggilnya lembut.

Seolah mengerti, bayi di dalam sana bergerak kecil seakan menjawab panggilan itu.

Keisha tertawa bahagia.

“Baiklah. Mulai sekarang namamu Leo ya.”

 

Sementara itu di Jakarta, malam berjalan dengan suasana yang jauh berbeda.

Arsen sedang menghadiri makan malam keluarga besar di rumah utama keluarga Wijaya.

Rumah megah yang diterangi lampu kristal mewah, dengan meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mahal. Namun suasana di sekitar meja itu terasa begitu dingin dan kaku, layaknya sebuah pertemuan formal bukan makan malam keluarga.

Ibunya menatapnya tajam dari seberang meja.

“Kapan kau akan berhenti bermain-main dan mulai berpikir serius soal masa depan?”

Arsen terus memotong steak di piringnya tanpa ekspresi, wajahnya datar.

“Aku selalu serius dalam segala hal, Bu.”

“Bukan soal bisnis. Soal pernikahan dan keturunan.”

Arsen berhenti mengunyah, diam tak menjawab.

Wanita elegan itu melanjutkan dengan nada menekan.

“Amanda akan datang minggu depan dari Singapura. Keluarganya sudah menunggu jawaban pasti dari kita.”

Arsen meletakkan pisau dan garpunya dengan suara keras di atas piring.

“Aku tidak pernah meminta atau menyetujui perjodohan itu.”

“Itu bukan permintaan, Arsen. Itu tanggung jawabmu sebagai pewaris keluarga!” bentak ibunya pelan namun tegas.

Tatapan Arsen seketika berubah dingin dan tajam menusuk.

“Aku tidak berutang hidupku pada siapa pun. Termasuk pada keluarga ini.”

Suasana di meja makan langsung mencekam dan tegang.

Ayahnya hanya diam membaca koran, seperti biasa memilih untuk tak mau ikut campur urusan anak dan istrinya.

Ibunya menahan amarah hingga wajahnya memerah.

“Kau semakin sulit diatur dan tidak tahu diri sejak beberapa bulan terakhir ini!”

Arsen berdiri tegak dari kursinya dengan gerakan kasar.

“Mungkin karena aku sudah bukan anak kecil lagi yang bisa diatur sesuka hati.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, ia berbalik badan dan meninggalkan ruangan makan itu begitu saja tanpa pamit.

Di dalam kamar kerjanya yang luas dan gelap, Arsen menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal hingga hampir meluap.

Ia berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta.

Ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini segalanya terasa begitu menjengkelkan dan membosankan baginya.

Aturan keluarga.

Tekanan bisnis.

Wanita-wanita cantik yang terus diperkenalkan padanya.

Tak satu pun yang menarik minatnya.

Tak satu pun yang bisa membuatnya merasa hidup.

Dan di tengah semua kekacauan pikiran itu, sesekali bayangan wajah seorang gadis polos dengan mata bingung muncul menghampirinya.

Keisha.

Arsen memijat pelipisnya yang terasa berat, lalu menutup matanya rapat-rapat.

“Apa sebenarnya yang kau lakukan padaku... hingga aku jadi begini?” gumamnya lirih pada angin malam.

 

Di belahan dunia lain, di bawah selimut tebal yang hangat, Keisha tertidur pulas malam itu sambil memeluk perut besarnya erat-erat.

Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia berbisik pelan dalam hati,

“Selamat malam, Leo... selamat tidur, sayang.”

Ia tak pernah tahu...

Bahwa di saat yang sama, ribuan kilometer jauhnya, ayah dari anak itu sedang berdiri sendirian di tengah kegelapan, tanpa sadar sedang memikirkan mereka berdua.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!