Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Senyap
(Tiga tahun yang lalu)
Sore itu, Pak Seno baru saja menyelesaikan penggantian cakram rem pada mobil milik seorang klien penting. Pak Seno adalah mekanik yang sangat teliti. Dia membersihkan setiap baut dan memastikan tekanan hidrolik sudah sempurna.
Namun, saat Pak Seno pergi sebentar untuk membersihkan tangan di toilet, temannya (Malik) dengan sengaja melonggarkan bleeder screw. Ia melonggarkan sedikit sekali sekrup pembuang udara pada rem. Ini tidak akan membuat rem blong seketika. Namun, setiap kali pedal rem diinjak, minyak rem akan bocor setetes demi setetes. Saat mobil melaju jauh dan sistem rem memanas, tekanan hidrolik akan hilang perlahan hingga rem menjadi 'kosong' tepat saat pengemudi membutuhkannya di turunan atau kecepatan tinggi.
Malamnya, berita besar meledak. Mobil tersebut mengalami kecelakaan hebat di jalan lintas luar kota. Remnya gagal berfungsi di sebuah tikungan tajam.
Saat tim investigasi dan kepolisian datang ke bengkel keesokan harinya, semua bukti mengarah pada 'kelalaian mekanik'.
"Pak Seno, Anda yang terakhir menangani sistem rem mobil ini?" tanya polisi dengan nada mengintimidasi.
"Benar, Pak. Tapi saya sudah memastikan semuanya sesuai prosedur," jawab Pak Seno dengan wajah pucat.
Malik melangkah maju dari kerumunan montir lain, wajahnya dipasang seolah-olah penuh keprihatinan, padahal di dalam hatinya ia sedang merayakan kehancuran temannya sendiri.
"Pak Polisi, biar saya bantu cek," ujar Malik dengan nada sok membantu. Ia mengambil kunci pas dari kotak perkakas, lalu dengan gerakan teatrikal yang licin, ia menyentuh bagian bleeder screw di depan mata para petugas.
"Aduh, Pak Seno... ini longgar," desah Malik sambil menggelengkan kepala. Suaranya cukup keras hingga terdengar oleh pemilik bengkel dan polisi.
"Mungkin semalam Pak Seno terburu-buru mau pulang, jadi lupa mengencangkan baut terakhir setelah membuang udara rem. Namanya juga faktor umur, Pak Polisi, fokusnya mungkin sudah berkurang."
Dunia seolah runtuh di bawah kaki Pak Seno. Ia menatap baut itu dengan nanar. Ia tahu pasti—sangat yakin—bahwa ia telah mengencangkan setiap inci baut di mobil itu. Namun, fakta fisik di depan matanya berkata lain. Kelalaian manusia adalah alasan yang paling mudah diterima daripada sabotase yang rapi.
Akibat kejadian itu, Pak Seno tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga martabatnya sebagai mekanik kepercayaan. Pihak klien mengubah kasusnya dari jalur pidana ke jalur perdata. Pak Seno harus membayar ganti rugi miliaran rupiah. Ia harus menjual rumah satu-satunya, bengkel kecil yang ia rintis dari nol, hingga seluruh tabungan untuk masa depan Bara. Mereka pindah ke rumah yang sangat sederhana.
Pak Seno yang dulu selalu bangga dengan seragam bengkelnya, kini terpaksa bekerja apa saja. Di usia yang tak lagi muda, ia menjadi kuli panggul di pasar saat subuh, memikul karung-karung beras yang beratnya jauh melampaui kapasitas tubuhnya yang mulai ringkih.
"Pa, istirahat dulu. Biar Bara saja yang cari kerja sampingan," pinta Bara suatu malam saat melihat Papanya terduduk di lantai semen sambil memijat dada.
"Jangan, Nak. Kamu harus tetap sekolah," jawab Pak Seno dengan suara parau, lalu meledak dalam batuk yang hebat.
Batuk itu kering dan dalam, seolah ada sesuatu yang mengoyak paru-parunya. Pak Seno menutup mulutnya dengan kain lusuh. Saat ia menjauhkan kain itu, Bara melihat noda merah kental yang segera disembunyikan Papanya di balik kepalan tangan.
Kondisi fisik Pak Seno menurun drastis. Tekanan mental karena dicap sebagai 'mekanik pembunuh' dan kelelahan fisik karena bekerja serabutan merusak sistem imunnya. Penyakit paru-paru kronis mulai menggerogoti nyawanya karena ia terus memaksakan diri bekerja di lingkungan lembap dan berdebu demi mengumpulkan rupiah untuk sisa hutang ganti rugi yang tak kunjung lunas.
Di hari terakhirnya, saat tubuhnya sudah tinggal tulang berbalut kulit di atas ranjang rumah sakit, Pak Seno memegang tangan Bara dengan sisa tenaga yang ada.
"Bara... ingat satu hal," bisik Pak Seno di sela nafasnya yang tersengal.
"Mesin bisa rusak karena baut yang longgar, tapi hidupmu jangan sampai rusak karena dendam. Jadilah orang jujur! meski dunia memfitnahmu."
Suara monitor jantung berubah menjadi satu nada panjang yang datar. Saat itulah, di mata Bara, keadilan berubah menjadi dongeng, dan Malik menjadi bayang-bayang setan yang tak akan pernah ia lupakan wajahnya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bara menatap pesan Laras.
[Bara]
Kok balasnya lama? Lagi sibuk banget?
(30 menit kemudian)
[Laras]
Tadi masih ada acara keluarga
[Bara]
Kalau sekarang lagi apa?
[Laras]
Lagi balas chat dari kamu
Bara terkekeh pelan membaca balasan singkat dari Laras. Jawaban yang terlalu jujur, pikirnya. Ia membayangkan wajah Laras yang mungkin sekarang sedang sedikit kesal tapi tetap menanggapi kegabutannya.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, melupakan sejenak sesak akibat mimpi buruk tadi. Jempolnya kembali menari di atas layar.
[Bara]
Wah, sebuah kehormatan besar ya buat gue. Sampai disempetin banget gitu?
Bara terdiam sejenak, menatap lebam di buku jarinya yang mulai membiru. Ia ingin mengalihkan pembicaraan agar tidak terasa terlalu formal.
[Bara]
Tadi acara keluarga apa? Makan-makan ya? Sisain nggak buat yang lagi 'dipingit' di rumah gini? Laper nih gue.
Beberapa menit berlalu, muncul status typing... di bagian atas layar.
[Laras]
Ada deh.. Mau tau aja sih. Kalau lapar, ya makan.
Bara tersenyum miring. Perhatian kecil dari Laras terasa lebih ampuh daripada kompres air hangat yang tadi sempat ia gunakan.
[Bara]
Galak banget sih, Tuan Putri. Tapi makasih lho perhatiannya. Jadi makin nggak sabar pengen cepet-cepet masuk sekolah lagi.
[Laras]
Pengen sekolah?
[Bara]
Iya, Pengen liat yang lagi balas chat gue sekarang ini, sih.
Bara menahan napasnya sebentar setelah mengirim pesan itu. Ia tahu itu kalimat yang sangat cheesy, tapi ia ingin tahu bagaimana reaksi Laras. Suasana hening itu mendadak terasa sedikit lebih hangat bagi Bara.
Di sisi lain, Laras di kamarnya terpaku menatap layar ponsel, pipinya mendadak terasa panas. Laras tertegun di depan meja belajarnya. Kalimat terakhir Bara terpampang jelas di layar, membuat konsentrasinya pada buku tugas buyar seketika. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum yang mendadak muncul tanpa izin.
"Dasar tukang gombal," gumam Laras pelan.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, berniat mengabaikannya sejenak agar jantungnya kembali normal. Namun, hanya dalam hitungan detik, rasa penasaran menang. Ia meraih kembali ponsel itu.
[Laras]
Tukang pukul ternyata bakat jadi tukang gombal juga ya? Baru tahu.
Bara membalas hampir seketika, seolah memang sedang menunggu di depan layar.
[Bara]
Gue nggak gombal, kok. Gue jujur. Efek samping jujur itu emang kadang bikin orang lain salting. Lo salting ya?
Laras memutar bola matanya, meski pipinya masih terasa hangat.
[Laras]
Pede banget! Udah ah, gue mau lanjut ngerjain tugas.
[Bara]
Hehehee.. Yaudah kalau gitu, selamat mengerjakan tugas. Bye.. bye..
Eits, sebelumnya makasih ya.
Pesan itu membuat Laras terdiam. Ia teringat tatapan lelah Bara di koridor kemarin di sekolah, tatapan yang sekarang ia sadari menyimpan banyak luka yang tidak terucap.
[Laras]
Makasih buat apa?
[Bara]
Makasih buat semuanya.
Laras hanya membaca pesan itu tanpa membalas lagi (read), namun ia menyimpan ponselnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sementara di kamarnya, Bara meletakkan ponsel dengan senyum yang belum luntur.
Ijin mampir🙏