Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlian yang terbuang
“Kakak!”
Nathan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah sang adik.
“Ada apa, Nau?”
“Kakak menjadikan Xavero asisten aku?” ucap Naura dengan nada tidak percaya.
Nathan mengangguk santai. “Iya, Nau.”
“Kak, kenapa harus dia?”
“Nau, Kakak sudah mempertimbangkan semuanya. Dia cocok untuk jadi asisten kamu,” ucap Nathan dengan nada tegas.
“Tapi, Kak…”
Nathan mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Naura. “Nau, Xavero sudah Kakak tes sendiri. Hasilnya sangat memuaskan. Kamu tahu bagaimana penilaian Kakak, kan?”
Naura terdiam. Ia sangat paham, kakaknya tidak pernah salah dalam menilai seseorang. Namun, tetap saja… kenapa harus Xavero?
“Kak… Kakak tahu, kan, sifat aku bagaimana?”
Nathan mengangguk. “Nau, Kakak sudah kenal kamu sejak kamu bayi. Mana mungkin Kakak lupa dengan sifat kamu,” jawabnya tenang. “Tidak ada bantahan, Naura. Kakak sudah mengambil keputusan. Xavero akan jadi asisten kamu, menggantikan Lisa.”
Naura menarik napas panjang, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi ia pendam.
“Tapi, Kak…” suaranya melemah, kali ini bukan sekadar membantah, lebih seperti ragu.
Nathan menatapnya lurus.
“Apa ada masalah dengan dia?” tanyanya tenang, tapi jelas menuntut jawaban.
Naura terdiam.
Matanya sedikit menghindar.
“Bukan, bukan begitu,” jawabnya akhirnya, pelan. “Cuma, rasanya aneh saja.”
Nathan menyipitkan mata tipis.
“Aneh?” ulangnya.
Naura menggigit bibirnya pelan, lalu mengangguk.
“Iya. Aku bahkan gak benar-benar kenal dia, Kak. Tiba-tiba langsung jadi asisten aku…”
Nathan menghela napas kecil.
“Justru itu,” ucapnya. “Kamu butuh orang yang tidak punya kepentingan apa-apa denganmu.”
Naura menatap kakaknya lagi.
Nathan melanjutkan, nadanya tetap tenang tapi penuh makna. “Dia tidak datang karena statusmu. Tidak karena nama keluarga kita. Dia datang, karena kemampuannya.”
Kalimat itu membuat Naura sedikit terdiam lebih lama.
“Tapi dia orang asing, Kak…” ucapnya lagi, lebih pelan.
Nathan melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya di bahu Naura.
“Nau,” ucapnya lembut, tapi tetap tegas. “Tidak semua orang asing itu buruk.”
Tatapan mereka bertemu.
“Dan tidak semua orang yang terlihat ‘biasa’… benar-benar biasa.”
Naura terdiam.
Ia tahu, nada seperti itu berarti Nathan benar-benar sudah memutuskan.
Nathan menepuk pelan bahu adiknya.
“Coba dulu,” lanjutnya. “Kalau dia tidak sesuai dengan ekspektasimu, kakak yang akan menggantinya.”
Naura mengangkat pandangannya.
“Janji?” tanyanya pelan.
Nathan tersenyum tipis.
“Janji.”
Naura akhirnya mengangguk pelan, meski masih ada keraguan yang tersisa di wajahnya.
“Baiklah,” gumamnya. “Aku akan coba.”
Nathan mengangguk puas.
“Itu baru adik kakak.”
Naura tersenyum tipis, tapi pikirannya masih belum benar-benar tenang.
“Ini data tentang Xavero, supaya kamu tidak kaget nanti.” Nathan menyerahkan sebuah map kepada adiknya.
Naura menerimanya, lalu langsung membuka dan membacanya dengan saksama. Sorot matanya berubah seiring setiap halaman yang ia lihat.
“Ini serius, Kak?” tanyanya dengan nada tidak percaya.
Nathan mengangguk pelan.
“Kasihan sekali dia," ucap Naura lirih.
“Keluarga Mahendra tidak tahu, bahwa mereka telah membuang sebuah berlian,” ucap Nathan tenang.
Naura terdiam cukup lama.
Matanya masih terpaku pada lembaran-lembaran di tangannya. Setiap kalimat yang ia baca… perlahan mengubah cara pandangnya.
“Dia…” gumamnya pelan. “Mengalami semua ini... sendirian?”
Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan ekspresi adiknya yang mulai berubah.
“Ditinggalkan… diremehkan… bahkan diperlakukan seperti itu…” lanjutnya lirih.
Tangannya sedikit menggenggam map itu lebih erat.
Nathan akhirnya bersuara, tenang seperti biasa.
“Dan dia tetap berdiri.”
Naura mengangkat pandangannya.
Tatapan Nathan lurus, dalam, seolah menegaskan sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar.
“Itulah alasan kenapa kakak memilih dia,” lanjut Nathan. “Bukan karena kasihan.”
Hening.
“Orang seperti itu,” tambahnya pelan, “kalau diberi kesempatan, bisa jadi sangat berbahaya.”
Naura mengernyit tipis.
“Berbahaya?”
Nathan mengangguk.
“Dalam arti yang baik,” ucapnya. “Dia tidak mudah patah. Dan orang yang tidak mudah patah, biasanya tidak bisa dihentikan.”
Naura kembali menatap map di tangannya.
Kini bukan hanya rasa ragu, tapi juga rasa penasaran yang perlahan tumbuh.
“Dan kakak yakin…” ucap Naura pelan, “dia bisa bekerja sama denganku?”
Nathan tersenyum tipis.
“Itu yang ingin kakak lihat.”
Naura terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menutup map itu perlahan.
“Baiklah…” ucapnya, kali ini lebih mantap. “Aku akan lihat sendiri seperti apa dia.”
Nathan mengangguk puas.
“Itu yang kakak harapkan.”
°°
“Mau ke mana lo?”
Radit menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Xavero yang baru keluar dari toilet.
“Ke bawah, ada sesuatu yang harus gue ambil,” balas Radit santai. “Lo mau nitip?”
Xavero menggeleng pelan.
“Ya udah, gue turun dulu.”
Xavero mengangguk.
Radit keluar dari apartemen, lalu masuk ke dalam lift. Wajahnya terlihat sedikit serius, berbeda dari biasanya.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Radit mempercepat langkahnya menuju basement.
Di sana, seseorang melambaikan tangan ke arahnya.
Radit membalas dengan anggukan, lalu menghampiri pria itu.
“Bagaimana?” tanya Radit tanpa basa-basi.
“Aman, Bos. Sesuai yang lo minta,” jawab pria itu, lalu menyerahkan sesuatu yang dibungkus plastik tebal kepada Radit.
Radit tersenyum puas. “Thanks, Bro. Gue udah transfer.”
Pria itu ikut tersenyum. “Senang bekerja sama, Pak Bos.”
Radit mengangguk singkat, lalu berbalik dan meninggalkan pria tersebut, kembali menuju apartemennya.
Krek!
Pintu apartemen terbuka.
Di dalam, terlihat Xavero sudah duduk, fokus membaca berkas yang ia terima. Radit tersenyum tipis melihatnya.
“Cepat banget datangnya, Dit,” ucap Xavero, menoleh sekilas sebelum kembali fokus.
“Ambil paket doang,” balas Radit santai, lalu duduk di sampingnya.
“Selamat ya, Bro. Sekarang lo kerja di Pramudya Corp, langsung jadi asistennya Naura.”
“Iya, Dit… gue juga makasih sama lo yang sudah mau nampung gue. Nanti kalau gue sudah dapat gaji, gue bakal pindah.”
Radit mendengus pelan. “Alah, santai aja, Bro. Gue kan sudah anggap lo saudara.”
Ia menepuk bahu Xavero, tatapannya berubah lebih serius.
“Vero, ini saatnya lo buktiin ke keluarga sialan itu... Lo bisa berdiri, bahkan lebih tinggi dari mereka.”
Hening.
Suasana di dalam apartemen mendadak terasa lebih berat.
Xavero masih diam, rahangnya mengeras. Ingatan tentang hinaan, tatapan merendahkan, dan perlakuan dingin itu, kembali terputar jelas di kepalanya.
Tangannya mengepal semakin erat.
Radit meliriknya sekilas, lalu menyandarkan punggungnya santai, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya.
“Jangan cuma diam,” ucap Radit pelan. “Lo udah dikasih kesempatan, Ver.”
Xavero menarik napas dalam.
“Gue gak akan nyia-nyiain ini,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah, tapi penuh tekad.
Radit tersenyum tipis.
“Nah, itu baru Xavero yang gue kenal.”
Radit mulai bangkit dari duduknya. “Gue masuk dulu.”
Xavero membalas dengan anggukan singkat.
Di dalam kamar, Radit menutup pintu perlahan. Suasana langsung berubah lebih sunyi. Ia kemudian mengeluarkan benda kecil yang tadi ia dapatkan dari seseorang di basement apartemen—sebuah flashdisk.
Tanpa membuang waktu, Radit menyambungkannya ke laptopnya. Layar menyala, dan beberapa file langsung muncul di hadapannya.
Ia mengklik salah satu file.
Rekaman pun mulai terputar.
Sorot mata Radit berubah tajam seiring detik demi detik berjalan. Ia memperhatikan dengan saksama setiap adegan yang ditampilkan.
Hingga beberapa saat kemudian, Radit menghentikan video itu.
“Menjijikkan…” gumamnya pelan.
Namun perlahan, senyum miring terbit di sudut bibirnya.
“Ini bakal jadi bukti kalau keluarga yang dipuja-puja di dunia bisnis ternyata sangat menjijikkan.”
Tatapannya semakin dingin, penuh perhitungan.
“Xavero… gue bakal bantu lo balas semuanya.”