Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASAP DAN RAHASIA DI DAPUR TUA
Desa Sukamaju menyambut kedatangan Kelompok 14 dengan suasana yang begitu khas, dipenuhi udara dingin menusuk tulang yang seolah membawa pesan dari alam, serta aroma pekat tanah basah yang menguar setelah hujan menyelimuti siang sebelumnya. Posko mereka, yang menjadi pusat aktivitas kelompok selama beberapa waktu ke depan, adalah sebuah rumah kayu tua milik Pak Kades. Rumah itu sudah lama terbengkalai, namun masih kokoh berdiri di pinggir hamparan sawah yang luas. Dengan teras lebar yang langsung menghadap ke arah gunung, tempat ini seperti menawarkan kedamaian sekaligus tantangan bagi para penghuni barunya.
Malam pertama di posko berlangsung dalam nuansa khas kekalutan yang tidak sepenuhnya kacau, tetapi jelas dirasakan oleh semuanya. Ada sejenis keteraturan dalam kehebohan ketika setiap anggota mencoba menemukan ruangnya masing-masing. Bram, sang ketua kelompok, terlihat sibuk mengatur segala sesuatu seraya membagikan jadwal tugas harian. Sementara itu, yang lainnya tak kalah riuh memperebutkan kasur lipat untuk digunakan di ruang tengah yang cukup luas namun penuh dengan dinamika belasan anak muda.
Di antara hiruk-pikuk obrolan dan gelak tawa kecil, suara Bram tiba-tiba menggema keras. Dengan mengetuk meja kayu di depannya, ia berhasil mencuri perhatian semua orang. "Baik, perhatiannya, teman-teman! Jadwal piket masak dan kebersihan sudah saya tempel di pintu dapur," katanya tegas namun tetap bersahaja. "Untuk besok pagi, giliran pertama yang bertugas adalah Alana dan Raka."
Alana tertegun mendengar namanya disebut. Perasaannya seketika bercampur aduk antara kaget, gugup, dan... entah apa lagi. Jantungnya seperti menerjunkan diri ke jurang tanpa aba-aba. Pandangannya berpindah dari pintu dapur yang disebut Bram ke arah Raka, yang kini terlihat sibuk dengan dunia kecilnya sendiri mengeluarkan penggaris besi dan gulungan kertas kalkir dari tasnya, tampaknya sudah tenggelam dalam rencana atau desain yang ada di pikirannya. Raka tidak banyak bereaksi mendengar tugas itu disebutkan. Ia hanya mengangguk sekilas tanpa mengalihkan fokus dari apa pun yang sedang digenggamnya, menunjukkan kesan santai seolah tugas ini hanyalah hal sepele.
Berbeda sekali dengan Raka, Alana merasa seperti baru saja menerima semacam vonis tak terduga bukan vonis berat yang menyesakkan dada, tapi lebih seperti hukuman manis yang menciptakan rasa gugup yang sulit dijelaskan. Di tengah kebisingan malam itu, ia bertahan dengan pikirannya sendiri, mencoba mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang akan terjadi bersama Raka esok pagi. Terbesit pula sekelumit tanya: bagaimana caranya ia melewati hari pertama ini dengan baik tanpa membuat kesalahan? Alam desa Sukamaju mungkin menyembunyikan jawabannya di balik kabut tipis pegunungan sebelum fajar menjelang.
Alana terbangun saat ayam jantan pertama berkokok. Suasana posko masih gelap, hanya diterangi lampu minyak di selasar. Ia menyelinap keluar dari balik selimut, melangkah berjinjit menuju dapur darurat di bagian belakang rumah.
Kejutannya muncul saat ia melihat siluet seseorang sudah berada di sana. Raka, dengan sarung yang dikalungkan di leher dan kaos oblong putih, sedang berusaha menyalakan tungku kayu bakar. Wajahnya terkena pantulan cahaya api yang masih lemah, membuatnya tampak seperti lukisan klasik yang belum selesai.
"Pagi, Alana. Kamu bangun kepagian," sapa Raka. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur—rendah dan dalam, membuat bulu kuduk Alana meremang.
"Pagi, Raka. Kan memang jadwal kita masak," jawab Alana pelan. Ia mendekat, melihat Raka yang tampak kesulitan meniup bara api agar menyala. "Mau dibantu?"
Raka menyeka peluhnya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan abu hitam di pipinya. "Ternyata menyalakan tungku lebih susah daripada menghitung beban struktur jembatan."
Alana terkekeh kecil. Ia mengambil beberapa bilah bambu kering dan menyusunnya dengan celah udara yang pas sebuah teknik yang ia pelajari dari neneknya di desa dulu. Dalam hitungan menit, api mulai menjilat kayu-kayu itu, menciptakan kehangatan yang instan di dapur yang lembap.
"Hebat," puji Raka tulus. Ia duduk di kursi kayu kecil, memperhatikan Alana yang mulai mencuci beras. "Kamu kelihatannya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini."
"Aku hanya suka memperhatikan hal-hal kecil, Raka. Itu saja," jawab Alana tanpa menoleh.
Percakapan di Sela Uap Nasi
Sambil menunggu air mendidih, mereka duduk berdampingan di bangku panjang dapur. Di luar, kabut masih menyelimuti sawah, menciptakan isolasi yang sempurna. Hanya ada suara kayu yang berderak terbakar dan desis air yang mulai panas.
"Alana," panggil Raka tiba-tiba.
"Ya?"
"Kenapa kamu selalu duduk di belakangku saat di perpustakaan?"
Pertanyaan itu menghantam Alana seperti petir di siang bolong. Tangannya yang sedang memegang pisau untuk mengupas bawang mendadak kaku. Ia tidak pernah menyangka Raka menyadari kehadirannya selama bertahun-tahun ini.
"E-eh... itu... karena mejanya strategis saja. Dekat rak buku Sastra," Alana berusaha mencari alasan yang paling masuk akal, meski ia tahu suaranya terdengar sedikit bergetar.
Raka menoleh, menatap Alana dengan saksama. "Strategis ya? Tapi kamu sering kali membalik buku yang sama selama dua jam tanpa membacanya satu halaman pun. Aku sering memperhatikannya lewat pantulan kaca jendela di depanku."
Alana merasa wajahnya memanas hingga ke telinga. Rahasia yang ia simpan di meja nomor 15 ternyata tidak sesempurna yang ia kira. Raka, sang arsitek yang detail, ternyata telah membangun sebuah peta tentang keberadaannya tanpa ia ketahui.
"Aku... aku hanya sedang melamun," bisik Alana.
Raka tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Aku juga suka melamun. Kadang, garis-garis bangunan yang kugambar terasa sangat membosankan. Aku justru lebih suka melihat bagaimana cahaya sore jatuh di meja nomor 15. Itu jauh lebih menarik daripada sketsaku."
Alana tertegun. Apakah Raka baru saja mengatakan bahwa ia memperhatikannya? Ataukah Raka hanya sedang membicarakan komposisi cahaya sebagai seorang seniman?
Asap yang Menyesakkan
Asap dari tungku tiba-tiba berhembus ke arah mereka karena angin yang berubah arah. Alana terbatuk, matanya mulai berair karena perih.
"Sini," Raka bangkit dan menarik bahu Alana menjauh dari arah asap. Tangannya tetap berada di bahu Alana selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Alana menatap Raka. Jarak mereka sangat dekat, di antara kepulan asap dapur dan remang fajar. Di sudut pipi Raka, noda abu tadi masih menempel. Tanpa pikir panjang, didorong oleh keberanian yang entah datang dari mana, Alana mengangkat tangannya.
Jemarinya menyentuh pipi Raka, menyeka noda hitam itu dengan sangat lembut.
Raka mematung. Napasnya tertahan. Sentuhan Alana terasa seperti sengatan listrik yang halus namun menjalar ke seluruh sarafnya. Alana segera menarik tangannya kembali saat ia sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"S-sori, ada noda di pipimu," kata Alana cepat-cepat, ia berbalik membelakangi Raka dan pura-pura sibuk dengan sayurannya.
Raka tidak menjawab. Ia hanya menyentuh pipinya sendiri yang baru saja disentuh Alana, lalu kembali duduk dalam diam. Suasana dapur mendadak berubah. Bukan lagi canggung yang menyiksa, melainkan sebuah ketegangan yang penuh dengan pertanyaan yang tak berani dijawab.
Setelah sarapan selesai dan teman-teman yang lain mulai bangun, Alana menyelinap ke teras belakang. Ia membuka buku catatan kesayangannya. Jemarinya menari di atas kertas, menuliskan fragmen yang baru saja terjadi:
> "Pagi ini, aku menemukan bahwa api tungku tidak lebih panas daripada sentuhan yang tak disengaja. Kau melihatku, Raka. Kau melihatku di meja nomor 15 lewat pantulan kaca. Maafkan aku yang mengira kau terlalu buta untuk menyadari kehadiranku. Ternyata, dalam diammu, kau juga seorang pengamat."
> Alana menutup bukunya saat melihat Raka keluar ke teras, membawa maket bangunan yang mulai ia kerjakan. Raka tidak menyapanya, namun ia memilih duduk di ujung teras yang searah dengan posisi Alana.
Di Desa Sukamaju, di bawah bayang-bayang gunung yang kokoh, Alana mulai menyadari satu hal: mengagumi dalam diam mungkin sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Karena sekarang, sang objek kekaguman telah berbalik menatapnya.
jadi nostalgia😍
cerita yang bagus