Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Apa sih Bos? Kalau habis bertengkar sama Nadine jangan suka dibawa pulang apa! Kebiasaan!" Kartini bangun dengan cepat karena kaget mendengar teriakan Arga yang memanggil nama salah satu binatang.
"Siapa yang bertengkar? Mana pernah gue marah sama cewek yang sudah jelas cantik, langsing, baik, dan selalu mengerti gue."
Arga rupanya sudah tertutup matanya, padahal Kartini tahu jika Nadine mudah sekali ngambek dan sama sekali tidak dewasa.
"Iya-iya Bos... puji terus wanita pujaanmu, terus kenapa Bos marah-marah," Kartini tidak habis pikir kenapa Arga berteriak seperti itu.
"Jelas gara-gara loe, bukan Nadine," Arga mendengus. Tetapi ia lega karena Kartini tidak sadar jika ia mencarinya.
Kartini memejamkan mata tidak tertarik mendengarkan Arga yang selalu memuji Nadine. Mungkin Arga sudah terlalu cinta hingga tidak menyadari keburukan Nadine. Padahal ia yakin seberapa lama Arga berhubungan dengan Nadine keluarga Chandresh tidak akan pernah menyetujui. Mungkin beliau sudah tahu siapa Nadine.
Kartini memang tidak disukai Arga, tapi bangga dengan diri sendiri. Walaupun ia tidak cantik seperti Nadine, dan tidak ada kelebihan selain berat badan, tapi kedua orang tua Arga sayang kepadanya, terlebih kakek.
"Jangan berisik ya, gue mau tidur," ketus Arga.
"Kan, kan! Mancing-mancing terus. Siapa yang berisik coba?!" Kartini yang sudah mulai tidur pun bangun cepat, ia merasa Arga cari gara-gara. Tidak lama kemudian sunyi, keduanya sama-sama memejamkan mata.
"Gue ingatkan sekali lagi kalau tidur jangan ngorok!" Arga masih juga cari perkara padahal Kartini sudah malas meladeni. Kartini tidak tahu jika Arga marah-marah karena lelah mencarinya dan tidak mau mengatakan dengan jujur.
"Mana bisa begitu, kalau saya nggak boleh ngorok ya sudah. Tidurnya pisah kamar," jawab Kartini santai lalu menarik selimut, tidur miring membelakangi Arga.
Arga melepas jaket dengan kasar lalu melempar ke sembarang tempat, tapi justru jatuh tepat di tubuh Kartini. Arga sempat kaget, tapi sebelum Kartini bangun ia segera berlari ke balkon.
Di lantai balkon, ia menginjak bantal kecil dan ikat rambut Kartini numpang di atasnya. Arga ambil benda berwarna hitam tersebut. "Jadi dia yang gue kira pergi bersembunyi di sini. Awas kamu!" Arga kembali ke kamar hendak membuat perhitungan tapi Kartini benar-benar sudah mendengkur.
Arga pun akhirnya ikut tidur.
Deerttt... Deerttt... deerttt...
Telepon Arga di sebelahnya bergetar, dengan malas tangannya meraba handphone tersebut. Rencananya pagi ini ia tidak akan ke kantor karena hendak membayar tidur malam tadi, tapi ada saja pengganggu. Tiba-tiba ponsel membangunkan tidurnya yang baru saja terlelap. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, ia segera mengangkat telepon itu, meski suaranya terdengar lemas dan tidak fokus.
"Halo, Kek..."
"Arga! Di mana kamu?"
"Masih tidur Kek, ada apa masih subuh gini Kakek telepon?"
"Subuh gundulmu itu, sekarang sudah jam tujuh, cepat turun, setelah sarapan ada yang ingin Kakek bicarakan."
"Baik Kek."
"Kakek tunggu!"
Tut!
"Jam tujuh," Arga menyipitkan mata melihat jam di dinding, padahal ia baru saja tidur.
"Tumben amat Kakek telepon hanya suruh sarapan. Memang kemana si gembul? Jangan-jangan ada masalah dengan wanita itu," Arga bertanya dalam hati karena biasanya semarah apapun, setiap mau makan Kartini tetap memanggilnya ke kamar.
"Huuuhhh... kenapa si gendut itu sering kali membuat gue pusing sih?! Ada saja ulahnya!" Arga menggigit giginya kuat-kuat seolah melumat tubuh Kartini. Tapi mau, tak mau, ia harus menemui kakek. Sebelum ke lantai dua ia ke kamar mandi terlebih dahulu.
Dengan langkah berat kerena masih mengantuk, Arga hendak ke lantai bawah. Namun, ketika tiba di anak tangga paling atas mendengar pembicaraan kakek dengan Kartini di meja makan.
Arga menarik kakinya mundur mendengarkan perbincangan itu.
"Kek, aku belum siap kalau Kakek mengumumkan status pernikahan kami ke publik," terdengar penolakan Kartini memelas.
Deg.
Arga kaget rupanya ini yang akan kakeknya bicarakan.
"Tidak bisa Kartini, Kakek sudah merencanakan ini dengan matang."
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭