WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Glitch Bibir yang Bikin Overthink 15+
...🌹🌹🌹...
Malam di Jakarta itu harusnya syahdu. Suara rintik hujan di luar jendela penthouse lantai 35 biasanya bikin orang pengen scrolling TikTok sambil makan seblak. Tapi bagi Zolla, malam ini adalah ujian nyali level maksimal.
Zolla masih memakai kaos hitam kebesaran milik Arkeas yang wanginya bikin dia merasa kayak lagi dipeluk cowok mahal. Sementara itu, Tuan Arkeas—sang CEO Perfume yang gengsinya lebih tinggi dari gedung Burj Khalifa—sedang sibuk di laboratorium pribadinya.
"Zol! Sini bentar!" teriak Arkeas dari dalam ruangan kaca itu.
Zolla yang lagi asyik menidurkan Alisya di bouncer langsung berdiri. "Iya, Tuan! Kenapa? Ada yang pecah lagi? Bukan saya ya pelakunya!"
Zolla melangkah masuk ke laboratorium. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu estetik warna warm white. Bau berbagai macam esens bunga dan kayu-kayuan menyeruak. Arkeas sedang duduk di kursi tinggi, berkutat dengan tabung reaksi dan pipet tetes. Kacamata bertengger di hidung bangirnya, membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih daddy-able.
"Pegangin botol ini. Jangan goyang. Saya mau masukin formula baru," perintah Arkeas tanpa menoleh.
Zolla mendekat. Ia memegang botol kaca kecil yang harganya mungkin setara dengan cicilan motornya setahun. Jarak mereka sangat dekat. Zolla bisa merasakan hawa panas dari tubuh Arkeas.
"Tuan, ini bau apa sih? Enak banget. Kayak bau... hutan tapi ada manis-manisnya?" tanya Zolla penasaran.
"Itu Oud dicampur Vanilla Madagascar. Jangan banyak tanya, fokus pegangin botolnya," sahut Arkeas ketus, meski sebenarnya dia juga mulai terganggu dengan kehadiran Zolla yang terlalu dekat.
Tiba-tiba... DUAR!
Suara petir yang menggelegar sangat keras mengejutkan seisi ruangan. Listrik di penthouse itu mendadak mati total. Gelap gulita.
"Aaaaa!" Zolla yang dasarnya penakut refleks berteriak. Karena gelap dan kaget, keseimbangan Zolla yang memang buruk itu pun hilang. Ia tersandung kakinya sendiri (lagi).
"Zolla, awas—!"
Arkeas mencoba menangkap Zolla agar gadis itu tidak menjatuhkan botol formula mahalnya. Namun, karena posisi Arkeas yang duduk di kursi tinggi dan Zolla yang jatuh ke arahnya, gravitasi bekerja dengan cara yang sangat nakal malam itu.
Bruk!
Zolla menubruk dada Arkeas. Kursi tinggi itu goyang. Arkeas refleks memeluk pinggang mungil Zolla agar mereka tidak jatuh ke lantai. Dan dalam kegelapan total itu, wajah mereka bertemu di titik koordinat yang sangat tidak terduga.
Bibir Zolla mendarat tepat di atas bibir Arkeas.
Hening.
Bukan cuma listrik yang mati, otak Zolla rasanya juga short-circuit. Bibir Arkeas terasa lembut, dingin karena baru minum air es, tapi sekaligus menghangatkan. Wangi musk dari napas Arkeas langsung mengunci kesadaran Zolla.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Cairan parfum yang tadi dipegang Zolla tumpah perlahan ke kemeja Arkeas dan kaos yang dipakai Zolla, tapi tak satu pun dari mereka yang peduli. Jantung Arkeas berdegup sangat kencang, menabrak dada Zolla yang juga berpacu liar.
Ctek!
Lampu darurat otomatis menyala. Cahaya remang kemerahan menerangi wajah mereka yang masih menempel. Mata tajam Arkeas menatap langsung ke mata Zolla yang membulat panik.
Zolla langsung menjauh dengan kecepatan cahaya. "MAAF! TUAN! Sumpah, itu tadi petirnya... kakinya... gravitasi... aduh!"
Arkeas terpaku. Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari. Ada sisa rasa manis stroberi dari lipbalm murah milik Zolla yang tertinggal di sana. Hatinya berteriak "lagi", tapi otaknya yang penuh gengsi langsung mengambil alih kendali.
"Zollana Rismalla Panto!" Arkeas berdiri, suaranya menggelegar lebih keras dari petir tadi. "Apa-apaan kamu?! Kamu sengaja, kan?! Kamu mau goda saya pakai cara murahan kayak gini?!"
Wajah Zolla memerah padam, antara malu dan sakit hati dituduh begitu. "Sengaja gimana sih, Tuan? Siapa juga yang mau jatuh pas gelap-gelapan?! Saya juga kaget!"
"Kamu itu cerobohnya sudah nggak masuk akal! Kamu tahu nggak bibir ini aset mahal?! Dan lihat... formula saya tumpah semua!" Arkeas menunjuk kemejanya yang basah kuyup oleh cairan parfum senilai jutaan rupiah.
Padahal dalam hati, Arkeas sedang merutuki dirinya sendiri karena menyukai sentuhan singkat itu. Dia marah karena dia takut. Takut kalau benteng pertahanannya yang dia bangun bertahun-tahun sejak dikhianati mantan istrinya, runtuh hanya karena seorang pembantu mungil yang bau sabun batangan.
"Tuan jahat banget sih nuduh saya gitu," suara Zolla mulai bergetar. "Saya emang miskin, saya emang ceroboh, tapi saya nggak murahan! Kalau Tuan ngerasa rugi, potong aja gaji saya sampai lunas! Pecat saya juga nggak apa-apa!"
Zolla berbalik dan lari keluar dari laboratorium, meninggalkan Arkeas yang berdiri mematung di tengah aroma parfum paling wangi yang pernah ia ciptakan, namun terasa hambar karena melihat air mata Zolla.
Arkeas meninju meja kerjanya pelan. "Sialan. Kenapa gue harus semarah itu?"
Ia menghirup aroma yang tertinggal di bajunya. Perpaduan antara formula parfum barunya dan wangi tubuh Zolla yang ketakutan. Arkeas memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang belum juga melambat.
"Arkeas, sadar. Dia cuma pembantu ceroboh. Jangan sampai lo falling cuma gara-gara insiden mati lampu," gumamnya pada diri sendiri.
Di kamar tamu, Zolla menenggelamkan wajahnya di bantal. "Bego, bego, bego! Kenapa juga bibir gue harus mendarat di situ?! Mana itu first kiss gue lagi! Masa hilang diambil duda galak yang nggak punya perasaan?!"
Malam itu, keduanya tidak bisa tidur. Arkeas sibuk dengan gengsinya, dan Zolla sibuk dengan rasa overthink yang membuatnya ingin menghilang dari bumi.
Besok pagi bakal jadi pagi paling awkward dalam sejarah hidup mereka.
...🌹🌹🌹...
(Bersambung ke Episode 4...)
Arkeas yang defensif adalah ciri khas cowok tsundere (galak tapi peduli).