“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33.Api cemburu dan perlindungan mutlak.
Suasana di kediaman utama keluarga Star born malam itu terasa lebih gelap dan lebih suram daripada biasanya. Tidak ada lampu yang dinyalakan terang benderang, tidak ada tawa pelayan, hanya ada suasana tegang dan penuh amarah yang mengental di udara.
Di ruang tamu utama yang megah namun kini terasa pengap, Lord Valde mar dan Lady Seraphina duduk dengan wajah pucat dan lesu. Pakaian mewah mereka kusut, rambut mereka berantakan, dan wajah mereka terlihat sepuluh tahun lebih tua hanya dalam satu malam.
Mereka baru saja pulang dari istana. Pulang dengan rasa malu yang luar biasa, pulang dengan rasa takut yang menghantui, dan pulang dengan hati yang penuh dendam.
"Benar-benar malapetaka... benar-benar bencana..." gumam Valde mar sambil memijat keningnya yang berdenyut nyeri. "Siapa sangka gadis itu berani menampar Pangeran Mahkota di depan umum? Dia sudah gila! Dia benar-benar gila!"
Lady Seraphina menangis tersedu-sedu di bahu suaminya. "Apa yang harus kita lakukan, Suamiku? Keluarga kita hancur! Pangeran Ka el pasti sangat membenci kita! Dia bisa saja menghukum kita semua besok pagi!"
Tepat saat itu, langkah kaki tertatih-tatih terdengar mendekat.
Lae ria muncul di ambang pintu. Kakinya masih diperban tebal, ia berjalan tertatih menggunakan tongkat kayu yang kokoh. Wajahnya pucat, namun matanya tampak berbinar aneh, campuran antara rasa penasaran dan keinginan tahu yang besar.
"Ayah... Ibu..." panggil Lae ria pelan. "Ada apa? Kenapa kalian pulang secepat ini? Dan kenapa wajah kalian begitu sedih? Apa yang terjadi di pesta itu?"
Melihat putri kesayangan mereka, Valde mar dan Seraphina seolah menemukan tempat untuk meluapkan kekesalan mereka. Mereka menceritakan semuanya.
Mulai dari bagaimana Luna ria yang berpakaian aneh dan wajah menyeramkan muncul, bagaimana Ka el justru tergila-gila padanya, bagaimana ciuman memalukan itu terjadi, hingga klimaksnya saat Luna ria berani menampar Pangeran Mahkota sekeras-kerasnya!
Lae ria mendengarkan dengan seksama. Tangannya yang memegang tongkat semakin memutih karena mencengkeram terlalu kuat.
Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut, melainkan karena rasa iri dan cemburu yang mulai membakar uluh hatinya.
Dia menamparnya? Dan Pangeran Ka el tidak marah? Bahkan justru membela dia dan melempar Ayah?
Itu tidak masuk akal! Saat dia yang menjadi calon istri, Pangeran itu dingin, jauh, dan bahkan tidak pernah menatapnya dengan mata berbinar seperti itu! Tapi pada gadis cacat itu... pria itu terlihat begitu tergila-gila!
"Jahat... sungguh tidak adil..." bisik Lae ria dalam hati.
Namun di luar, Lae ria memasang wajah sedih dan marah. Ia mendekat, memegang tangan orang tuanya.
"Astaga... jadi begitu ceritanya..." ucap Lae ria dengan suara gemetar, tapi matanya memancarkan api kebencian. "Sungguh keterlaluan! Kakak... maksudku Luna ria... dia benar-benar tidak tahu diri! Dia sudah diperlakukan baik dengan diajak ke pesta, tapi malah membawa aib!"
Valde mar menghela napas kasar. "Dia memang sampah! Dari awal aku tahu dia tidak akan berguna! Hanya membawa masalah! Kalau dia ada di sini sekarang, akan kupatahkan tangan dia yang berani menampar Pangeran!"
"Tentu saja harus dihukum, Ayah!" Lae ria segera menyundut api amarah itu. "Dia sudah keterlaluan! Dia pikir siapa dia? Hanya karena dia saudara kembarku, bukan berarti dia bisa seenaknya menghancurkan nama baik keluarga Star born! Kalau dia tidak dihukum berat malam ini juga, keluarga kita akan semakin dipandang rendah oleh kerajaan!"
"Benar kata Putriku!" Seraphina ikut terbawa emosi. "Kita harus menghukumnya! Kita akan gunakan Hukuman Sihir Keluarga! Kita akan siksanya sampai dia sadar dan memohon ampun pada Pangeran besok pagi!"
Lae ria tersenyum tipis di balik wajah sedihnya. Bagus... hancurkan dia... biarkan dia menderita... biarkan Pangeran Ka el tahu kalau gadis itu pantas dibuang...
"Tapi... apa dia sudah pulang?" tanya Lae ria pura-pura tidak tahu.
"Belum. Tapi dia pasti akan pulang malam ini. Kita tunggu saja dia datang!" jawab Valde mar dengan mata menyala.
Di sudut koridor yang gelap, Ivy—pelayan setia Luna ria—bersembunyi di balik tiang besar. Tubuhnya gemetar hebat menahan tangis dan ketakutan.
Ia mendengar semuanya!
Nyonya muda yang baik hati akan dihukum? Mereka akan menggunakan sihir untuk menyakiti Nona Luna ria?
"Tidak... tidak boleh!" batin Ivy panik. "Aku harus memberitahu Nona! Aku harus menyelamatkan Nona!"
Ivy tidak peduli lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju gerbang depan rumah, tempat kereta Luna ria biasanya berhenti.
Di gerbang utama.
Suara derap kuda dan roda kereta terdengar mendekat. Kereta kencana mewah dengan lambang naga emas berhenti tepat di halaman rumah Star born.
Pintu kereta terbuka. Luna ria turun dengan langkah santai, tangannya dilipat kedepan dengan anggun, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Nona! NONA Luna ria!!"
Ivy berlari menghampiri dengan air mata berlinang. Gadis kecil itu langsung memeluk kaki Luna ria.
"Nona! Pergi! Nona harus lari sekarang juga!" isak Ivy. "Di dalam sana Tuan dan Nyonya sangat marah! Nona Lae ria juga ikut memanas-manasi! Mereka bilang mau menghukum Nona dengan sihir keluarga! Mereka mau menyakiti Nona! Cepat pergi dari sini Nona, bahaya!"
Luna ria menepuk kepala pelayan kecil itu pelan. Wajahnya tetap tenang, bahkan sedikit tersenyum sinis.
"Sudah sudah, jangan nangis begitu. Lihat dong, wajahmu jadi sembab kayak kucing kehujanan," ucap Luna ria santai. "Tenang saja, mereka tidak bisa apa-apa sama aku. Lagipula... aku tidak sendirian."
"Hah?" Ivy bingung.
Belum sempat Ivy bertanya lagi, pintu utama rumah terbuka lebar.
Lord Valde mar, Lady Seraphina, dan Lae ria berjalan keluar dengan wajah garang. Di belakang mereka, beberapa pelayan dan penjaga rumah juga ikut keluar, siap menjalankan perintah.
"Lihatlah siapa yang datang! Si pembawa sial!" teriak Valde mar dengan suara menggelegar. "Kau pikir kau bisa lepas begitu saja setelah apa yang kau lakukan di istana?!"
Mereka berjalan mendekat, aura marah mereka sangat kuat.
"Dasar gadis tidak tahu aturan!" seru Lady Seraphina. "Cepat masuk ke dalam! Kami akan memberimu pelajaran agar kau tidak pernah lagi berani mempermalukan keluarga ini!"
Lae ria berjalan di samping orang tuanya, bersandar pada tongkatnya, tapi tatapannya tajam menusuk ke arah Luna ria. Hancurkan dia... biarkan dia menangis...
"Tangkap dia! Ikat tangannya!" perintah Valde mar.
Para penjaga maju, tapi tiba-tiba Lae ria mengangkat tangannya. "Tidak perlu. Biar aku dan Ayah Ibu yang menghukumnya langsung. Sihir Pengikat Bayangan!"
Lae ria dan orang tuanya serentak menggerakkan tangan, melontarkan sihir pengikat dan penyiksa khas keluarga Star born. Bayangan-bayangan hitam berbentuk cambuk melesat cepat dari tanah, bertujuan untuk melilit tubuh Luna ria dan menariknya keras-keras!
Itu adalah sihir tingkat menengah yang cukup menyakitkan dan biasanya sangat efektif melawan orang biasa.
Namun...
SYING!!!
Saat sihir itu hendak menyentuh tubuh Luna ria, tiba-tiba sebuah aura putih keperakan yang samar muncul melindungi tubuh gadis itu.
Cambuk bayangan itu terpental! Seolah-olah menabrak dinding baja yang tak terlihat! Sihir itu hancur berkeping-keping bahkan sebelum menyentuh kulit Luna ria sedikitpun!
Semua orang terbelalak!
"A-Apa?!" Valde mar terkejut. "Kenapa bisa?! Kenapa sihir kita tidak mempan?!"
"Bahkan tidak menyentuhnya sama sekali?!" Seraphina panik. "Apa dia sudah mendapatkan kekuatan sihir gelap dari iblis?!"
Luna ria hanya mendengus malas. Ia tahu, itu pasti karena perlindungan takdir atau mungkin sisa kekuatan jiwanya yang membuat tubuhnya kebal terhadap sihir rendah. Atau mungkin... karena ada seseorang yang sangat kuat yang sedang bersamanya.
"Kalian sudah selesai?" tanya Luna ria dingin. "Mainan anak-anak begitu saja tidak mempan. Jangan buang waktu."
"Kau...!" Lae ria gemetar karena marah dan malu. Sihirnya ditolak mentah-mentah! Di depan orang banyak!
Tiba-tiba...
"Kalian berani menyentuhnya?"
Suara berat, dingin, dan penuh intimidasi terdengar lirih namun jelas terdengar oleh semua orang. Suara itu datang dari dalam kereta kencana yang belum sepenuhnya ditutup.
Semua kepala menoleh serentak.
Perlahan, sepasang sepatu bot hitam menginjak tanah. Sosok tinggi besar muncul dari dalam kereta, menutupi bulan di langit dengan kehadirannya yang megah dan menakutkan.
Pangeran Ka el drago mir!
Ia berdiri di sana, wajahnya datar namun matanya merah menyala menatap keluarga Star born dengan tatapan mematikan.
"P-Pangeran...?!" Valde mar dan Seraphina langsung berlutut gemetar. "Ya-Yang Mulia! Maafkan kami! Kami tidak tahu kalau Anda ikut serta!"
Ka el tidak menoleh pada mereka. Matanya langsung mencari sosok Luna ria, dan saat melihat gadis itu aman, ia baru melangkah maju, berdiri tepat di samping Luna ria, melindunginya di balik tubuh bidangnya.
Ia menatap Valde mar dengan tatapan dingin.
"Aku tidak peduli apa masalah kalian," ucap Ka el datar. "Tapi mulai detik ini, dia tidak tinggal di sini lagi."
Ka el menunjuk ke arah dalam kereta.
"Malam ini juga, dia akan pindah ke istanaku. Dia akan tinggal di kamarku, di bawah perlindunganku. Kalian tidak berhak menghukumnya, kalian tidak berhak menyakitinya, dan kalian tidak berhak mengatur hidupnya lagi."
Deg!
Jantung Lae ria seakan berhenti berdetak.
Ia menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak. Rasa sakit yang luar biasa menyergap dadanya.
Dia... dia akan tinggal di kamar Pangeran? Malam ini juga?
Kenapa? Kenapa saat dia yang menjadi calon istri, Pangeran Ka el bahkan tidak pernah mau menemuinya, selalu dingin dan menjaga jarak. Tapi pada Luna ria... pria itu rela datang sampai ke rumah, melindunginya, bahkan mau membawanya tinggal di istana?!
Itu tidak adil! Sangat tidak adil! Lae ria mencintai Pangeran Ka el! Lae ria mengaguminya! Tapi kenapa pria itu justru memilih gadis yang menolaknya?!
Air mata kecewa dan cemburu mulai menggenang di mata Lae ria. Ia merasa dikhianati, ia merasa diremehkan.
Luna ria yang berdiri di samping Ka el, menyadari betul perubahan wajah Lae ria. Ia bisa melihat rasa sakit, iri, dan marah yang terpancar jelas dari mata saudara kembarnya itu.
Senyum miring terbentuk di bibir Luna ria.
Oh? Sakit ya? Merasa tidak adil?
Lae ria mau menghukum ku,mimpi saja sana!,batin Luna.
Nah, sekarang giliranmu rasakan.
Luna ria tidak mau kalah. Ia ingin membalas perbuatan Lae ria yang tadi sudah menyuruh orang tuanya menghukumnya.
Dengan gerakan cepat dan alami, Luna ria melangkah maju sedikit, lalu dengan beraninya... ia memeluk lengan Ka el erat-erat!
Ia menempelkan tubuhnya ke sisi tubuh pria itu, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Ka el, dan menatap lurus ke arah Lae ria dengan tatapan menang dan penuh kemenangan.
"Sayang... ayo kita masuk ke kereta dong, dingin lho..." ucap Luna ria dengan suara manja yang dibuat-buat, tapi terdengar sangat mesra di telinga orang lain.
Ia bahkan menggosok-gosokkan pipinya ke lengan Ka el!
Ka el sendiri sempat kaget, tubuhnya menegang sejenak. Ia menoleh ke bawah, melihat wajah Luna ria yang sedang melotot diam-diam ke arah Lae ria sambil tersenyum manis ke arahnya.
Oh... jadi dia mau pamer ya?,dasar bocah nakal! Pikir Ka el yang langsung paham situasi.
Alih-alih menolak, sudut bibir Ka el justru terangkat membentuk senyum puas. Ia sangat suka sikap gadis ini!
Dengan santainya, Ka el mengangkat tangannya yang bebas, lalu mengelus kepala Luna ria dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Baiklah, Sayang. Maaf ya bikin kamu kedinginan," jawab Ka el dengan suara lembut yang kontras banget dengan aura garangnya tadi. "Ayo masuk. Jangan pedulikan orang lain."
Dan sebagai puncaknya, Ka el menunduk sedikit, mencium kening Luna ria dengan lembut tepat di depan mata Lae ria yang memandang tak berkedip!
BUK!
Seperti ada palu besar yang menghantam dada Lae ria.
Wajah Lae ria pucat pasi, tangannya gemetar hebat memegang tongkatnya hingga kayu itu hampir pecah. Matanya berkaca-kaca, campuran antara marah, sedih, dan cemburu yang membakar jiwa.
Ia melihat Luna ria tersenyum padanya. Senyum yang sangat manis, tapi sangat menyakitkan. Senyum yang berkata: Lihat? Sekarang dia milikku. Dan kau tidak bisa apa-apa.
"Ayo masuk, putri mahkota ku," ajak Ka el lagi, memimpin Luna ria menaiki tangga kereta.
"Iya, Sayang..." balas Luna ria, melambaikan tangan santai ke arah keluarganya yang masih berlutut dan Lae ria yang terpaku kaku. "Dadah Ayah, Ibu, Lae ria. Aku pergi dulu ya. Jangan kangen ya~"
Luna ria tidak lupa mengajak Ivy bersamanya, dan memerintahkan Ivy untuk mengemasi barang mereka.
Tak beberapa kemudian, Ivy membawa barang bawaan miliknya dan Luna ria dari villa mereka.
Setelah semuanya siap, Ka el segera memerintahkan kusirnya berangkat.
Pintu kereta ditutup.
Kereta kencana itu pun bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Star born, meninggalkan keluarga yang hancur karena rasa malu, dan meninggalkan Lae ria yang berdiri terpaku di bawah sinar bulan, merasa menjadi orang paling kalah dan paling menyedihkan di dunia malam itu.
Di dalam kereta, suasana sepi.
Baru saja kereta melaju, Luna ria langsung melepaskan pelukannya dan mendorong lengan Ka el menjauh, wajahnya kembali datar dan masam.
"Ehem... sudah cukup ya sandiwaranya," ucap Luna ria ketus. "Jangan salah paham, aku cuma mau bikin dia cemburu dan sakit hati. Bukan berarti aku suka sama kamu."
Ka el tertawa kecil, menatap gadis di depannya dengan mata berbinar penuh suka cita.
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu," jawab Ka el santai. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Luna ria dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Tapi kau lihat kan reaksinya? Dia hancur lebur. Dan kau... kau terlihat sangat cantik saat bersikap posesif seperti tadi."
"Siapa yang posesif! Aku cuma membalas dendam!" bantah Luna ria kesal, tapi pipinya tak bisa berbohong, memerah padam.
"Ya sudah, terserah kau mau bilang apa," Ka el mengangkat kedua tangannya menyerah, tapi senyumnya tidak pernah hilang. "Yang penting sekarang kau ada di sini, bersamaku. Dan kau tidak akan pernah kembali ke tempat menyedihkan itu lagi."
Ka el menatap Luna ria serius.
"Mulai sekarang, duniamu adalah istanaku. Dan aku... adalah duniamu."
Luna ria memutar bola matanya, tapi entah kenapa, kali ini ia tidak merasa kesal. Ia justru merasa lega. Akhirnya ia bisa keluar dari keluarga yang membuangnya dan sekarang dirinya mempunyai tempat singgah yang baru yaitu istana Ka el.
jangan yang banyak masa lalunya kasihan dia sudah dikhianati di kehidupannya dulu.
Carikan yang setia