No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Kehangatan di Lembah Tersembunyi
Angin sore berembus pelan, membawa aroma pinus dari hutan yang mengelilingi Desa Songjia. Desa ini adalah sebuah titik kecil di peta yang mungkin sudah dilupakan dunia. Hanya ada 130 kepala keluarga yang hidup tenang di sana, menggantungkan hidup pada hasil bumi dan kejernihan air sungai yang mengalir membelah desa. Bagi dunia luar, Desa Songjia hanyalah kumpulan petani. Namun bagi Song Yuan yang berusia sepuluh tahun, desa ini adalah seluruh dunianya.
Namun, sore itu dunia Song Yuan terasa seperti sedang disiksa—setidaknya menurut perasaannya.
"Tahan, Yuan-er! Kalau punggungmu membungkuk sedikit lagi, air itu akan tumpah!"
Suara berat itu memecah kesunyian di halaman belakang sebuah rumah kayu yang sederhana. Song Yuan, dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus, gemetaran hebat. Di atas kepalanya, sebuah baskom kayu berisi air penuh bergoyang-goyang mengikuti detak jantungnya yang tidak karuan. Dia sedang berada dalam posisi kuda-kuda rendah—kedua kaki terbuka lebar, lutut ditekuk sejajar dengan paha, dan punggung tegak lurus.
"Ayah... kakiku... sudah mati rasa..." rintih Song Yuan. Suaranya bergetar, hampir menangis. "Ini sudah lebih lama dari kemarin. Bukankah Ayah bilang hari ini kita mau ke sungai?"
Song Yan, pria dengan bahu lebar dan tangan penuh kapalan, sama sekali tidak bergeming. Ia duduk di atas bale-bale bambu sambil mengasah sebuah mata parang yang sudah tua. Setiap gesekan logam itu terdengar ritmis, seolah-olah sedang menghitung waktu penderitaan anaknya.
"Sungai tidak akan lari ke mana-mana, Yuan-er. Tapi kekuatan kakimu bisa lari jika tidak dilatih setiap hari," sahut Song Yan tenang. Ia melirik sekilas ke arah kaki Yuan yang mulai bergetar seperti daun tertiup angin. "Seorang pemanah yang hebat tidak memanah dengan tangannya, tapi dengan kakinya. Jika landasanmu goyah, anak panahmu hanya akan menjadi mainan angin."
Song Yuan menggigit bibir bawahnya. Ia benci kalau ayahnya sudah mulai mengeluarkan petuah-petuah bijak yang terdengar seperti bahasa dewa. Di matanya, ayahnya hanyalah seorang petani yang entah kenapa punya disiplin melebihi kepala desa.
"Dua puluh menit lagi," tambah Song Yan datar.
"DUA PULUH MENIT?!" Yuan hampir saja melompat kalau tidak ingat air di kepalanya bisa tumpah. "Ayah benar-benar mau membunuhku!"
Tepat saat Yuan merasa nyawanya hampir melayang, pintu kayu rumah mereka berderit terbuka. Wangi ubi cilembu yang dibakar dengan kayu manis tiba-tiba menyeruak, mengalahkan bau keringat Yuan yang asam.
"Sudahlah, Suamiku. Kau ini melatih anak atau sedang menghukum tawanan perang?"
Seorang wanita dengan langkah gemulai keluar dari dalam rumah. Ia mengenakan pakaian kain katun sederhana berwarna biru pucat, namun aura yang dipancarkannya begitu elegan. Dialah Bai Lanyue, ibu Song Yuan. Lanyue berjalan mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat halus—hampir seperti menari—ia mengambil baskom air dari kepala Yuan sebelum suaminya sempat memprotes.
"Ibu! Tolong!" Yuan merengek, matanya berkaca-kaca menatap ibunya seperti melihat dewa penyelamat.
Lanyue mengusap keringat di dahi Yuan dengan sapu tangan sutra kecil miliknya. "Dia memang laki-laki, tapi dia masih sepuluh tahun, Yan-ge," balas Lanyue lembut namun tegas. "Lagipula, ubi bakarnya sudah matang. Kalau dibiarkan dingin, rasanya tidak enak."
Mendengar kata 'ubi bakar', Song Yuan langsung ambruk ke tanah. Ia selonjoran tanpa peduli debu yang menempel di celananya. "Terima kasih, Ibu! Ibu benar-benar malaikat. Tidak seperti Ayah yang hobinya menyiksa anak sendiri."
Mereka bertiga kemudian duduk di bale-bale, menikmati ubi bakar yang masih mengepulkan asap. Di sore yang damai itu, mereka terlihat seperti keluarga petani biasa yang bahagia.
"Ayah," panggil Yuan di sela-sela kunyahan ubinya. "Kenapa kita tidak pernah pergi ke kota besar? Temanku, si Xiao Hu, bilang di kota ada bangunan yang tingginya sampai menyentuh awan dan orang-orang memakai baju emas."
Gerakan tangan Song Yan tiba-tiba terhenti. Ada kilatan aneh di matanya, sebuah kombinasi antara kesedihan dan kemarahan yang dipendam sangat dalam.
"Kota besar itu bising, Yuan-er. Di sana banyak orang yang memakai topeng meski tidak sedang menari. Di sini jauh lebih baik. Kau punya langit yang bersih dan perut yang kenyang. Apa lagi yang kau butuhkan?"
"Aku mau lihat baju emas itu!" jawab Yuan polos.
Lanyue tersenyum getir, ia mengelus pundak suaminya seolah memberikan kekuatan. "Suatu saat nanti, kalau kau sudah cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri, mungkin kau akan melihatnya."
Matahari mulai masuk ke peraduannya. Desa Songjia mulai diterangi oleh lampu-lampu minyak dari rumah penduduk. Suara jangkrik mulai bersahutan, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Song Yuan tertidur pulas malam itu dengan perut kenyang, memimpikan busur besar yang bisa memanah bintang. Di luar, Desa Songjia masih terlelap dalam damai yang semu. Song Yan berdiri di teras rumah, menatap kegelapan hutan dengan tangan yang diam-diam meraba busur hitam di balik pintu.
Keheningan malam di Desa Songjia sebenarnya tidak pernah benar-benar sunyi bagi seseorang seperti Song Yan. Di telinganya, setiap patahan ranting di kejauhan adalah sinyal, dan setiap embusan angin adalah pembawa pesan.
Ia kembali ke dalam rumah, memperhatikan wajah lelap putranya. Song Yan menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati istrinya yang sedang merapikan kain-kain tua.
"Lanyue," bisik Song Yan. "Jika esok matahari tidak terbit dengan warna yang sama, pastikan Yuan tahu ke mana ia harus berlari."
Lanyue terdiam, tangannya berhenti bergerak. Ia menatap suaminya dengan mata yang dipenuhi cinta dan ketakutan yang sama besarnya. "Kita sudah bertahan sepuluh tahun, Yan-ge. Apakah Kota Persik ini juga akan menjadi saksi kehancuran kita?"
"Kota ini tidak akan menghancurkan kita," jawab Song Yan sambil mengepalkan tangannya. "Tapi ia akan melahirkan sesuatu yang lebih besar dari kita semua."
Mereka berdua tidak tidur malam itu. Mereka menjaga fajar seolah-olah fajar adalah musuh yang paling menakutkan. Dan jauh di atas bukit, bayangan hitam mulai terlihat, menghitung mundur waktu bagi kedamaian terakhir Desa Songjia.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏