NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Langkah Agus terasa semakin berat saat ia memasuki ruang makan yang luasnya mungkin hampir menyamai seluruh luas rumahnya di desa. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati solid dengan permukaan kaca yang begitu bersih hingga memantulkan cahaya lampu gantung di atasnya. Di atas meja itu, berbagai macam hidangan sudah tertata rapi. Aroma rendang yang kaya rempah, sup ayam yang mengepulkan uap gurih, dan sambal goreng hati yang berwarna merah menggoda seketika menusuk indra penciuman Agus.

Perut Agus sebenarnya terasa perih. Ia belum makan nasi sejak kemarin siang karena uangnya habis untuk bensin dan biaya klinik ayahnya. Namun, melihat hidangan semewah itu, rasa lapar Agus justru berganti menjadi rasa sesak yang menyesakkan dada. Ia membayangkan bapaknya yang mungkin saat ini hanya sedang menyuap bubur hambar, atau ibunya yang hanya makan nasi dengan garam agar beras di rumah mereka cukup untuk esok hari.

Di ujung meja, seorang wanita paruh baya berdiri menyambut mereka. Ia mengenakan gamis sutra berwarna hijau zamrud dengan jilbab yang senada, diikat rapi dengan bros kecil yang berkilau terkena cahaya. Wajahnya cantik dan terawat, namun matanya memiliki ketajaman yang berbeda dengan Pak Hadi. Itulah Ibu Farida, ibu dari Nor Rahma.

"Ini Agus, Bu," Pak Hadi memperkenalkan singkat sambil menarik kursi di kepala meja.

Agus menunduk hormat, tangannya sedikit gemetar saat ia menakupkan kedua telapak tangan di depan dada. "Malam, Bu. Saya Agus. Maaf sudah merepotkan Ibu malam-malam begini."

Ibu Farida menatap Agus dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang tampak sangat kusam di atas lantai marmer. Senyumnya tipis, sopan namun terasa ada jarak yang sangat jauh. "Malam, Agus. Silakan duduk. Jangan sungkan, Rahma bilang kamu baru pulang kerja, pasti lapar."

Agus duduk di kursi yang ditarikkan oleh Rahma, tepat di samping wanita itu. Kursi itu empuk, dengan sandaran yang kokoh, namun Agus merasa seperti duduk di atas tumpukan paku. Ia merasa tidak pantas meletakkan tubuhnya yang penuh peluh dan debu di atas furnitur mahal ini.

Di depan Agus, terdapat piring porselen putih bersih dengan pinggiran emas, lengkap dengan sendok dan garpu perak yang beratnya terasa mantap di tangan. Agus melirik ke arah Rahma, mencoba mencari petunjuk bagaimana ia harus bersikap. Di rumahnya, ia terbiasa makan menggunakan tangan, duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah robek-robek. Di sini, setiap denting sendok yang beradu dengan piring seolah menjadi alarm yang memperingatkan bahwa ia adalah orang asing.

"Ayo, Gus. Diambil nasinya. Ini rendangnya buatan Ibu sendiri, dagingnya empuk," ajak Pak Hadi dengan suara yang lebih santai.

Agus menyendok nasi ke piringnya dengan sangat hati-hati, tangannya berusaha agar tidak bergetar. Ia mengambil sepotong kecil daging rendang dan sedikit sayur. Ia tidak berani mengambil banyak, meskipun perutnya berteriak minta diisi. Ia merasa setiap butir nasi yang ia telan adalah sebuah beban moral yang sangat berat.

"Agus, Rahma bilang kamu tinggal di desa Sejahtera? Itu bukannya daerah yang sering kena banjir kalau hujan ya?" Ibu Farida membuka percakapan sambil menyendok supnya dengan gerakan yang sangat anggun.

Agus menelan suapan pertamanya dengan susah payah. "Benar, Bu. Kalau hujannya deras lebih dari tiga jam, air biasanya masuk sampai ke teras rumah. Tapi alhamdulillah, tahun ini belum ada banjir besar."

"Lalu, orang tuamu di sana kerjanya apa?" tanya Ibu Farida lagi. Matanya menatap Agus tanpa berkedip, seolah sedang melakukan interogasi yang sangat halus.

Agus meletakkan sendoknya sejenak. Ia tahu saat ini kejujurannya sedang diuji kembali. "Bapak saya dulu buruh tani, Bu. Tapi sekarang sudah tidak bisa bekerja lagi karena sakit paru-paru. Ibu saya hanya mengurus rumah tangga, sesekali membantu tetangga mencuci pakaian kalau ada panggilan."

Suasana di meja makan itu mendadak menjadi sunyi. Rahma yang sedang mengunyah nasinya tampak tertegun, ia menatap ibunya dengan tatapan memohon agar tidak bertanya lebih jauh. Namun, Ibu Farida justru mengangguk-angguk kecil, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun yang bisa dibaca.

"Sakit paru-paru itu butuh biaya besar ya untuk obatnya? Kamu menanggung semuanya sendiri?" Pak Hadi menyela, mencoba mencairkan ketegangan.

"Iya, Pak. Selagi saya masih sehat, saya usahakan semampu saya. Meskipun kadang memang harus banyak bersabar kalau ada kebutuhan mendadak," jawab Agus jujur. Ia merasakan uang empat ribu rupiah di sakunya seolah berdenyut, mengingatkannya pada betapa tipisnya batas antara ia dan kehancuran finansial.

Ibu Farida menyesap air putihnya dari gelas kristal yang bening. "Agus, saya ini ibu yang sangat sayang pada Rahma. Dia anak perempuan kami satu-satunya. Kami membesarkannya dengan sangat baik, menyekolahkannya sampai tinggi, agar dia punya masa depan yang terjamin."

Agus terdiam. Ia tahu arah pembicaraan ini.

"Kami tidak menuntut calon suami Rahma harus kaya raya sekarang juga," lanjut Ibu Farida dengan nada yang semakin serius. "Tapi, kami butuh kepastian. Rahma sudah biasa hidup teratur, hidup berkecukupan. Jika kamu ingin serius dengan dia, bagaimana rencanamu untuk menjamin hidupnya nanti? Dengan beban keluarga yang kamu pikul, apakah kamu yakin Rahma tidak akan ikut menderita?"

"Ibu..." Rahma memotong pelan, suaranya terdengar sangat sedih. "Mas Agus orangnya pekerja keras, Bu. Dia tidak pernah mengeluh."

"Ibu tahu, Rahma. Tapi hidup bukan cuma soal tidak mengeluh. Hidup itu soal angka-angka, soal biaya rumah sakit, soal masa depan anak-anakmu nanti," tegas Ibu Farida.

Agus menatap piringnya yang masih berisi setengah porsi nasi. Ia merasa kehilangan selera makan sepenuhnya. Ia merasakan pergelangan kakinya yang bengkak kembali berdenyut sangat hebat, seolah-olah rasa sakit fisik itu mencoba menyamai rasa sakit di hatinya. Ia merasa sangat kecil di depan meja makan ini. Ia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang diadili karena kemiskinannya.

Ia mendongak, menatap mata Ibu Farida dengan penuh ketegasan yang lahir dari rasa sakit. "Saya mengerti kekhawatiran Ibu. Dan jika saya jadi Ibu, saya mungkin akan menanyakan hal yang sama pada laki-laki seperti saya."

Ibu Farida sedikit terkejut dengan keberanian Agus untuk membalas tatapannya.

"Saya memang tidak punya tabungan jutaan rupiah sekarang, Bu. Saya juga tidak bisa menjanjikan Rahma akan tinggal di rumah sebesar ini dalam satu atau dua tahun ke depan. Tapi satu hal yang bisa saya pastikan... saya tidak akan pernah membiarkan Rahma lapar. Selama tangan dan kaki saya masih bisa digerakkan, saya akan memikul apa saja, mengerjakan apa saja, demi memastikan dia mendapatkan apa yang dia butuhkan. Saya sudah terbiasa dengan hidup yang keras, dan itu membuat saya tahu caranya bertahan hidup di saat yang paling sulit sekalipun."

Pak Hadi tampak terkesan dengan jawaban Agus. Beliau meletakkan sendoknya dan menatap Agus dengan tatapan yang lebih hangat. "Karakter itu memang penting, Agus. Tapi Ibu benar, kamu butuh rencana yang lebih konkret daripada sekadar tenaga fisik. Tenaga manusia itu ada batasnya."

"Saya tahu, Pak. Itulah sebabnya saya sedang mencoba mencari cara agar bisa membuka usaha sendiri, meskipun pelan," jawab Agus.

Makan malam itu berlanjut dengan suasana yang sangat berat. Agus berusaha menyelesaikan makanannya agar tidak terlihat tidak sopan, meskipun setiap kunyahan terasa sangat pahit. Ia berkali-kali melirik ke arah Rahma, wanita itu hanya menunduk, sesekali menyeka sudut matanya yang tampak berkaca-kaca. Rahma pasti merasa terjepit di antara cintanya pada Agus dan bakti pada ibunya.

Setelah makan malam usai, mereka kembali ke ruang tamu untuk meminum teh. Agus merasa waktunya sudah habis. Ia harus segera pulang sebelum ia semakin merasa tidak berdaya di rumah ini.

"Pak, Bu... terima kasih banyak atas jamuan makan malamnya. Saya merasa sangat terhormat bisa diundang ke sini," ucap Agus sambil berdiri, lagi-lagi menahan nyeri di kakinya.

"Sama-sama, Agus. Hati-hati di jalan ya. Motornya jangan terlalu dipaksa kalau memang sudah lama," pesan Pak Hadi sambil menjabat tangan Agus. Kali ini genggaman Pak Hadi terasa lebih mantap.

Ibu Farida hanya mengangguk tipis dari sofa. "Pikirkan baik-baik apa yang saya katakan tadi, Agus. Ini demi kebaikan kamu dan Rahma juga."

Rahma mengantar Agus sampai ke depan pagar. Malam semakin dingin, dan lampu-lampu perumahan Cempaka Indah bersinar dengan megah.

"Mas... maafkan Ibuku ya. Beliau memang orangnya sangat blak-blakan kalau soal masa depanku," bisik Rahma saat mereka sampai di samping motor tua Agus.

Agus memakai helmnya, menutupi wajahnya yang lelah. "Tidak ada yang salah, Rahma. Ibumu benar. Saya memang harus berkaca diri. Terima kasih sudah mengundang saya malam ini."

"Mas Agus marah?" tanya Rahma cemas, ia memegang ujung lengan kemeja biru Agus.

Agus menggeleng. Ia menyalakan mesin motornya yang mengeluarkan suara batuk-batuk kecil sebelum akhirnya menderu kasar. "Saya tidak marah. Saya hanya sedang diingatkan oleh kenyataan. Selamat malam, Rahma. Masuklah ke dalam, udara diluar dingin."

Agus melaju perlahan meninggalkan rumah nomor 12 itu. Saat ia melewati gerbang perumahan, ia sempat melihat petugas keamanan yang tadi menyapanya menatapnya dengan pandangan yang aneh. Agus tidak peduli.

Sepanjang perjalanan pulang, di bawah langit malam yang gelap, Agus memacu motornya dengan kecepatan rendah. Ia merasakan uang empat ribu rupiah di sakunya, sisa dari segala perjuangannya minggu ini. Di kepalanya, suara Ibu Farida terus bergema: "Apakah kamu yakin Rahma tidak akan ikut menderita?"

Agus berhenti di pinggir jalan yang gelap, jauh dari lampu-lampu kota. Ia mematikan mesin motornya dan melepas helmnya. Di tengah kesunyian itu, Agus menangis. Ia menangis bukan karena dihina, tapi karena ia menyadari betapa besarnya gunung yang harus ia daki untuk sekadar bisa memegang tangan Nor Rahma secara sah.

Ia menyadari bahwa kejujuran saja tidak cukup. Di dunia yang ia masuki tadi, kejujuran hanyalah pembuka jalan, tapi angka di buku tabunganlah yang menentukan apakah ia boleh terus berjalan di jalan itu atau tidak. Agus mengepalkan tangannya ke setang motor, menahan amarah pada keadaan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!