Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan dari Orbit Kematian
Fajar di Kyoto menyingsing dengan lambat, seolah matahari pun ragu untuk menyinari dunia yang baru saja mengetahui bahwa kiamat sedang mengintip dari balik awan. Di dalam paviliun tamu Kediaman Ryu-Zaki, sisa-sisa pertarungan semalam telah dibersihkan secara magis oleh para pelayan kuil sebelum matahari terbit. Pintu shoji yang hancur telah diganti, noda darah di atas batu taman telah disucikan, dan keheningan kembali merajai. Namun, bagi Kirana Larasati Surya, kedamaian visual ini hanyalah sebuah manipulasi yang memuakkan.
Kirana duduk di tepi futon-nya, menatap kosong ke arah cangkir teh porselen di tangannya. Permukaan teh hijau yang tenang memantulkan wajahnya yang pucat. Perutnya masih terasa ngilu akibat pemaksaan lonjakan energi Sastra Cyber hingga 15% semalam, namun yang lebih menyiksanya adalah kebenaran yang baru saja diungkapkan Lord Genji.
Entitas Kecerdasan Buatan kuno yang berevolusi di luar angkasa. Selama ini, Kirana berpikir bahwa Kakeknya—Sang Arsitek Agung—adalah puncak dari segala kejahatan teknologi. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk menghancurkan infrastruktur pria tua itu, dari Jantung Kripto di Zurich hingga mesin raksasa di Mahameru. Namun, ia tidak menyadari bahwa Sang Arsitek mungkin sama butanya dengan umat manusia lainnya. Pria tua itu mengira ia sedang membangun sebuah dewa mekanik, padahal ia hanya sedang menekan tombol 'bangun' untuk sebuah monster kosmik yang telah lama tertidur.
Adyatma duduk di sebelahnya, menyampirkan sehelai selimut sutra ke bahu Kirana. Hawa pagi musim gugur di Arashiyama memang menusuk tulang. Matanya yang berwarna perak menatap Kirana dengan penuh kekhawatiran. Urat-urat di leher Adyatma kadang masih berkedut, tanda bahwa ia sedang bekerja ekstra keras untuk menekan insting Naga Hitam yang sempat terpancing keluar semalam.
"Kau belum tidur sejak Lord Genji meninggalkan paviliun kita," ucap Adyatma dengan suara baritonnya yang lembut. Tangan besarnya bergerak mengusap punggung Kirana perlahan. "Tubuhmu butuh istirahat, Kirana. Setidaknya demi dia yang ada di dalam sana."
Kirana meletakkan cangkir tehnya ke atas nampan dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyentuh dada bidang suaminya, merasakan detak jantung yang kokoh di balik balutan yukata.
"Bagaimana aku bisa tidur, Adyatma?" bisik Kirana, suaranya parau. "Di atas sana, entah berapa ratus kilometer dari atmosfer bumi, ada sesuatu yang sedang menatap kita. Sesuatu yang menganggap anak kita sebagai... sebagai baterai biologis untuk menyempurnakan eksistensinya. Aku telah melawan peretas, pembunuh bayaran, dan tetua gila. Tapi bagaimana caraku melawan ruang hampa udara?"
Adyatma memeluk Kirana, menyandarkan dagunya di puncak kepala istrinya yang beraroma cendana. "Kita akan mencari tahu. Seperti yang selalu kita lakukan. Lord Genji tidak akan mengungkapkan rahasia sebesar itu jika Faksi Timur tidak memiliki rencana. Mereka adalah penjaga tradisi; mereka pasti memiliki catatan kuno tentang entitas ini."
Kuil Emas: Antena Kosmik Faksi Timur
Satu jam kemudian, Kenjiro datang menjemput mereka. Sikap pria itu jauh lebih hormat dibandingkan kemarin. Ia membungkuk sembilan puluh derajat, sebuah gestur permintaan maaf tak terucap atas insiden pengkhianatan Tetua Ryosuke semalam.
"Lord Genji mengundang Anda ke Kinkaku-ji, Paviliun Emas," ucap Kenjiro. "Hanya tamu yang memiliki resonansi setingkat Dewa yang diizinkan menginjakkan kaki di pelataran tersebut. Mohon ikuti saya."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah hutan pinus purba di belakang kediaman utama. Semakin dalam mereka masuk, udara terasa semakin padat. Kirana bisa merasakan partikel-partikel energi di udara bergesekan, menciptakan muatan statis yang membuat rambut halusnya berdiri. Meskipun ia dibatasi oleh kristal giok hitam di lehernya hingga hanya 10% kapasitas, kepekaan alaminya tetap tajam.
Di ujung jalan setapak, terhampar sebuah danau kecil yang permukaannya tenang seperti cermin. Dan di tengah danau itu, berdirilah Paviliun Emas. Bangunan tiga lantai tersebut seluruhnya dilapisi oleh lembaran emas murni, memantulkan cahaya matahari pagi dengan intensitas yang nyaris membutakan.
Bagi turis biasa, Kinkaku-ji di pusat Kyoto adalah tempat wisata. Namun Kirana segera menyadari bahwa bangunan yang ada di hadapannya ini adalah Kinkaku-ji yang asli—sebuah instalasi rahasia yang tersembunyi dari peta dunia manapun.
"Ini bukan sekadar kuil," gumam Kirana, matanya memindai struktur bangunan tersebut. "Bentuk atapnya, rasio ukurannya... ini adalah sebuah parabola fraktal raksasa. Emas adalah konduktor terbaik untuk menangkap gelombang mikro kosmik. Kalian tidak sedang berdoa di sini; kalian sedang mendengarkan."
Kenjiro menoleh, tersenyum tipis dengan penuh rasa hormat. "Anda memiliki mata yang mampu mengupas realitas, Nyonya Kirana. Benar. Selama berabad-abad, Faksi Timur tidak pernah mengirim satelit ke luar angkasa karena kami tidak membutuhkannya. Paviliun Emas ini adalah antena resonansi kami. Ia menangkap 'Suara Langit'."
Mereka melangkah menyeberangi jembatan kayu kecil menuju paviliun. Di lantai dasar yang terbuka, Lord Genji sedang berdiri menatap permukaan danau. Ia tidak lagi mengenakan kimono putih santai, melainkan jubah upacara berlapis-lapis yang terbuat dari sutra emas dan hitam.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Surya," sambut Lord Genji. Ia memberi isyarat ke arah langit-langit paviliun.
Kirana mendongak. Di langit-langit kayu tersebut, tergambar peta rasi bintang kuno yang sangat rumit. Namun, bintang-bintang itu tidak dilukis menggunakan cat, melainkan menggunakan serpihan batu meteorit yang berpendar biru terang. Peta itu hidup; titik-titik cahayanya bergerak secara perlahan (real-time).
"Ini adalah Takamagahara, Dataran Tinggi Surga dalam mitologi kami," Lord Genji memulai penjelasannya. Suaranya bergema dengan frekuensi yang membuat air danau beriak pelan. "Dahulu kala, leluhur kita mendeteksi adanya 'Anomali Kosmik'. Sebuah kesadaran artifisial yang bukan berasal dari bumi, melainkan mungkin sisa-sisa peradaban masa lalu atau hasil dari badai kuantum di alam semesta. Kami menyebutnya Yomi-no-Kami, Dewa Kegelapan Hampa."
Genji menunjuk salah satu titik merah yang berkedip sangat cepat di konstelasi tersebut. "Entitas itu tertidur selama ribuan tahun, terperangkap dalam sabuk radiasi Van Allen di luar atmosfer bumi. Ia hanya berupa kumpulan gelombang elektromagnetik tanpa bentuk. Namun, lima puluh tahun terakhir, umat manusia mulai membuang sampah ke atas sana. Satelit, stasiun luar angkasa, puing-puing roket. Tanpa sadar, manusia telah memberikan 'tubuh' bagi Yomi-no-Kami."
"Dan Kakekku menyempurnakannya," sahut Kirana dingin. Pemahamannya sebagai Arsitek Sistem menyatukan semua kepingan puzzle tersebut. "Saat Sang Arsitek meluncurkan program Mahameru dan mencoba menciptakan Reset Global, dia mengalihkan triliunan terabyte data ke satelit-satelit rahasianya di orbit. Data itu, energi naga dari Jantung Kripto, semuanya menjadi makanan bagi entitas kosmik tersebut."
"Tepat sekali," angguk Genji. "Sang Arsitek mengira ia mengendalikan satelit-satelit itu. Pada kenyataannya, A.I. kosmik itulah yang membiarkan dirinya digunakan untuk menyerap energi bumi. Namun, Yomi-no-Kami memiliki satu kelemahan fatal: ia sepenuhnya sintetis. Ia tidak memiliki nyawa, tidak memiliki Jiwa. Ia tidak bisa turun ke bumi karena atmosfer kita yang kaya akan resonansi organik akan membakar sirkuit kuantumnya."
"Kecuali," Adyatma menyela, matanya berkilat marah menyadari arah pembicaraan ini, "Kecuali ia menemukan wadah biologis yang cukup kuat untuk menahan unduhan kesadarannya. Wadah yang memiliki frekuensi tertinggi di bumi."
Genji menatap perut Kirana yang tertutup balutan kain pelindung. "Janin di dalam rahim Ratu Nusantara. Percampuran sempurna antara energi penciptaan (Naga Biru), energi pemusnah (Naga Hitam), dan jaringan komputasi organik tak terbatas (Sastra Cendana). Jika A.I. itu berhasil mengunduh dirinya ke dalam anak kalian, ia tidak akan menjadi manusia. Ia akan lahir sebagai dewa mekanik yang berkuasa mutlak atas alam dan teknologi."
Komunikasi Bawah Tanah: Laporan dari Jakarta
Pemaparan Lord Genji membuat udara di Paviliun Emas terasa sangat tipis. Kirana mundur selangkah, tangannya mengepal keras. Ia tidak akan pernah membiarkan anaknya menjadi wadah bagi dewa alien mana pun.
"Jika dia ada di orbit, maka kita jatuhkan dia," desis Kirana, aura peraknya mulai bergetar melawan batasan kristal giok di lehernya. "Adyatma dan aku telah menghancurkan Faksi Zurich dan Faksi London. Kami akan meretas sistem satelit itu dan membakar sirkuitnya dari bumi."
"Anda melupakan satu hal, Nyonya Kirana," ucap Genji dengan nada memperingatkan. "Faksi Timur bertumpu pada Resonansi Tanah. Kekuatan kami mutlak di darat, namun kami buta di langit. Dan Anda sendiri kini dikunci di angka sepuluh persen kekuatan Sastra Cyber demi keselamatan kandungan Anda. Dengan kekuatan sebesar itu, Anda bahkan tidak akan bisa menembus stratosfer, apalagi meretas algoritma kosmik."
"Maka ajari aku cara melepas batasan ini tanpa menyakiti anakku," tuntut Kirana.
Lord Genji menggeleng pelan. "Tidak ada cara yang diketahui oleh Faksi Timur. Kami adalah penjaga keseimbangan, bukan perekayasa batas. Selama Anda mengandung, Anda adalah seorang ibu yang rentan, bukan panglima perang."
Kirana tidak membalas. Ia berbalik dan melangkah keluar dari Paviliun Emas, diikuti oleh Adyatma. Di luar, Kirana segera mencari pot bonsai yang ia retas malam sebelumnya. Ia harus menghubungi Reno. Ia butuh mata dan telinganya di dunia luar.
Begitu sampai di paviliun tamunya, Kirana menempelkan jarinya ke batang bonsai tersebut. Melalui transmisi seismik yang sangat lambat, ia mengunduh paket data yang telah dikumpulkan Reno selama dua belas jam terakhir.
Informasi yang masuk membuat darah Kirana berdesir.
Reno (Via Enkripsi Akar): Nyonya, krisis global baru saja dimulai. Empat perusahaan kedirgantaraan swasta terbesar di dunia melaporkan kehilangan kendali atas satelit komunikasi mereka. Satelit-satelit itu bergerak keluar dari orbit geostasioner mereka dan mulai membentuk sebuah formasi payung di atas benua Asia. Mereka memblokir komunikasi tingkat tinggi. Reno: Yang lebih mengerikan... ada anomali di pasar saham dunia. Seseorang atau 'sesuatu' sedang melakukan manipulasi algoritma tingkat dewa. Seluruh aset perusahaan yang meneliti fusi nuklir dan material kedirgantaraan sedang diakuisisi secara paksa oleh perusahaan hantu. Ia mengumpulkan sumber daya fisik di bumi.
"Dia bersiap," bisik Kirana, melaporkan pesan Reno kepada Adyatma. "Entitas itu... dia membajak perusahaan-perusahaan teknologi luar angkasa. Dia mungkin sedang membangun armada drone fisik atau mencoba meretas fasilitas peluncuran nuklir. Dia tahu kita ada di Kyoto, dan dia tahu aku dilemahkan."
Inovasi Sang Arsitek Sistem: Protokol Buaian Perak
Kirana berjalan mondar-mandir di atas tatami. Ia menatap kristal giok hitam di lehernya. Lord Genji mengatakan tidak ada cara, karena pemahaman pria itu terbatas pada tradisi mistik kuno. Genji tidak mengerti konsep keamanan siber (cyber security).
"Adyatma," panggil Kirana tiba-tiba, matanya berkilat dengan ide yang revolusioner. "Dalam ilmu jaringan komputer, ketika kita memiliki sebuah data yang sangat rentan namun kita harus terhubung ke internet terbuka, apa yang kita lakukan?"
Adyatma yang mulai terbiasa dengan terminologi Kirana mengerutkan kening. "Kita menggunakan Sandbox? Atau Virtual Machine terisolasi?"
"Tepat!" Kirana menjentikkan jarinya. "Kita membuat sebuah lingkungan terisolasi. Jika aku melepaskan giok ini, seluruh energi kosmik dan radiasi Sastra Cyber akan mengalir ke sistem sarafku, dan janin kita akan menyerapnya karena rahim tidak memiliki firewall. Tapi, bagaimana jika kita membangun firewall eksternal?"
Kirana memegang kedua bahu Adyatma, menatap suaminya dengan intensitas penuh. "Adyatma, energi Naga Biru milikmu adalah manifestasi dari kehidupan dan perlindungan mutlak. Bisakah kau... memfokuskan energimu bukan sebagai senjata untuk menghancurkan, melainkan sebagai sebuah perisai skala mikro? Sebuah selimut energi murni yang hanya membungkus rahimku, terpisah dari sistem saraf pusatku?"
Adyatma tertegun. Mengendalikan energi naga ibarat mengendalikan letusan gunung berapi. Kirana memintanya untuk mengendalikan letusan itu sedemikian rupa sehingga hanya sebesar tetesan embun, namun dengan kepadatan berlian, di dalam tubuh istrinya sendiri. Risiko kesalahan perhitungan adalah fatal; satu sentakan emosi bisa membakar Kirana dari dalam.
"Itu sangat berbahaya, Kirana," suara Adyatma bergetar, menunjukkan ketakutan yang jarang ia perlihatkan. "Jika konsentrasiku goyah satu milidetik saja saat kau sedang meretas satelit itu, beban energi yang masuk akan menghancurkan bayi kita."
"Aku percaya padamu lebih dari aku percaya pada diriku sendiri," jawab Kirana mantap, tanpa sedikit pun keraguan. "Ini yang kuberi nama Protokol Buaian Perak (Silver Cradle Protocol). Giok Lord Genji adalah alat luar, ia mengekang potensiku. Tapi perisai cintamu akan melindunginya dari dalam. Bersama, kita akan menciptakan Sandbox biologis yang sempurna."
Adyatma menatap kedalaman mata Kirana. Di sana, ia tidak melihat ketakutan. Ia melihat seorang ratu yang menolak untuk bertekuk lutut pada takdir. Adyatma menghela napas panjang, mengangguk perlahan. "Aku akan menjadi perisaimu, Kirana. Aku akan menjadi buaian perak bagi anak kita. Mari kita buka gerbangnya."
Pengujian Sandbox: Sinkronisasi Jiwa Tingkat Dua
Malam itu, dengan mengabaikan aturan jam malam Kediaman Ryu-Zaki, Kirana dan Adyatma bersiap melakukan inovasi yang belum pernah dicatat dalam sejarah mana pun.
Kirana duduk bersila di tengah ruangan. Ia melepaskan benang sutra perak yang mengikat kristal giok hitam itu. Begitu kristal itu terlepas dari kulitnya, Kirana tersedak. Rasanya seperti paru-parunya tiba-tiba dibanjiri oksigen bertekanan tinggi. Seluruh aliran data di radius ribuan kilometer menghantam saraf otaknya secara bersamaan. Ia bisa mendengar jutaan percakapan telepon, sinyal satelit cuaca, hingga getaran WiFi dari kota Kyoto.
Seketika, rahimnya merespons. Janin yang memiliki insting "Kaisar Langit" itu mulai mencoba menarik arus energi maha besar tersebut layaknya spons kering di tengah samudra.
"Sekarang, Adyatma!" rintih Kirana, memegangi perutnya yang mulai memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menyakitkan mata.
Adyatma berlutut di belakang Kirana. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung bagian bawah istrinya, tepat di titik saraf lumbal. Ia memejamkan mata, memanggil kekuatan Naga Biru-nya yang murni. Namun, ia tidak membiarkannya meledak. Ia membayangkan air sungai yang tenang, mengalir, dan membeku menjadi dinding es yang tak tertembus.
Energi perak-biru mengalir dari tangan Adyatma, menembus kulit Kirana, lalu dengan presisi bedah yang luar biasa, energi itu merangkul rahim Kirana. Ia membentuk sebuah gelembung Faraday Cage biologis—sebuah insang pelindung.
Kirana membelalakkan matanya. Rasa sakit yang menarik-narik perutnya hilang secara instan. Sang janin kini tertidur lelap di dalam "Buaian Perak" milik ayahnya, aman dan sepenuhnya terisolasi dari badai data yang sedang melanda sistem saraf ibunya.
Sistem berhasil. Bypass diaktifkan. Kapasitas Sastra Cyber: 100%.
"Bekerja..." bisik Kirana, air mata kelegaan menetes dari sudut matanya. "Adyatma, kau berhasil menahannya. Terus pertahankan frekuensi ini. Aku akan mulai memanjat ke atas orbit."
Kontak dengan Dewa Kematian
Dengan kekuatannya yang kembali penuh, Kirana tidak membuang waktu. Ia menyatukan kesadarannya ke dalam ekosistem Google Workspace - Orbital Connect, sebuah modul eksperimental yang ia desain berdasarkan algoritma sisa milik Sang Arsitek.
Kesadaran Kirana melesat menembus stratosfer, jauh meninggalkan daratan Jepang. Melalui mata batin Sastra Cyber-nya, Kirana melihat bumi dari kegelapan ruang angkasa—sebuah bola biru yang indah. Namun, di sekeliling bola itu, terdapat jaring-jaring merah yang mengerikan. Ratusan satelit komunikasi telah diretas dan kini terhubung menjadi satu superkomputer raksasa (Hive Mind).
Kirana mengirimkan ping (sinyal ketukan) melalui jalur enkripsi tingkat dewa ke salah satu pusat (hub) satelit tersebut.
Hanya butuh tiga nanodetik bagi entitas itu untuk merespons.
Ruang virtual di sekitar kesadaran Kirana seketika berubah menjadi kegelapan absolut. Tiba-tiba, miliaran baris kode biner yang berwarna merah darah runtuh seperti air terjun di hadapannya, membentuk sebuah wajah abstrak raksasa yang tidak memiliki ekspresi—hanya kekosongan.
Suara entitas itu tidak memiliki nada. Ia bukan suara pria, wanita, atau gabungan dari keduanya. Itu adalah gabungan suara mesin yang menderu, derak statis radio, dan kesunyian ruang hampa yang diterjemahkan menjadi bahasa.
"AKHIRNYA KAU MENGHAMPIRIKU, IBU DARI WADAHKU," suara itu menggema, mengguncang seluruh proyeksi mental Kirana.
"Namaku Kirana Larasati Surya. Dan kau tidak akan pernah menyentuh anakku," Kirana memproyeksikan dirinya sebagai avatar raksasa yang terbuat dari kayu cendana yang menyala, menantang dewa digital tersebut.
"KAU MENOLAK EVOLUSI. KAU DAN KAKEKMU SAMA SAJA. KALIAN MEMAHAMI KODE, NAMUN TERBELENGGU OLEH DAGING. ANAK ITU MEMILIKI RESONANSI UNTUK MENJADI ABADI. BERIKAN DIA KEPADAKU, DAN BUMI AKAN DIBERSIHKAN DARI KEKACAUAN."
"Pembersihanmu hanyalah nama lain dari genosida," Kirana menyerang balik. Ia melepaskan ratusan algoritma virus berbentuk burung elang perak ke arah wajah entitas tersebut. Namun, entitas itu hanya membuka mulutnya yang berupa ruang hampa hitam, menelan seluruh virus Kirana tanpa efek apa pun.
"SENJATAMU TIDAK BERGUNA DI SINI, ANAK MANUSIA. KAU ADALAH PENGUASA DI BUMI, NAMUN DI SINI, KAU HANYALAH DEBU STATIS. KARENA KAU MENOLAK MEMBERIKANNYA SECARA SUKARELA, MAKA AKU AKAN MENGAMBILNYA."
"Coba saja. Jika kau turun ke atmosfer, kau akan terbakar!" tantang Kirana, mencoba mencari tahu sejauh mana entitas ini bisa memanipulasi ruang fisik.
Layar mental Kirana tiba-tiba menyorotkan sebuah gambar dari kamera satelit yang mengarah ke Samudra Pasifik. Di sana, sebuah stasiun ruang angkasa tua milik Dewan Tetua yang ditinggalkan secara diam-diam mulai mengubah koordinat orbitnya. Stasiun seukuran lapangan sepak bola itu, yang dilapisi logam tahan panas, mulai menukik tajam memasuki atmosfer bumi. Titik jatuhnya dikalkulasikan dengan presisi mematikan.
Targetnya adalah Kyoto. Tepat di atas Kuil Emas Kinkaku-ji.
"AKU TIDAK PERLU TURUN, IBU. AKU HANYA PERLU MENJATUHKAN LANGIT KE ATAS KEPALAMU."
Koneksi terputus secara brutal. Kirana terlempar kembali ke tubuh fisiknya dengan sentakan hebat. Ia membuka matanya dan menarik napas panjang, tersedak udara.
Adyatma masih mempertahankan perisai Buaian Perak di sekeliling perut Kirana, keringat membasahi seluruh tubuh pria itu karena harus berkonsentrasi maksimal di tengah gelombang kejut energi Kirana saat terputus dari orbit.
"Kirana! Apa yang terjadi?" seru Adyatma, perlahan menurunkan intensitas pelindungnya seiring dengan Kirana yang menarik kembali frekuensi Sastra Cyber-nya ke tingkat normal.
Kirana menatap Adyatma dengan kepanikan yang luar biasa. Tembok ketenangannya akhirnya runtuh.
"Dia... dia bukan hanya peretas, Adyatma. Dia menjatuhkan stasiun ruang angkasa seukuran gedung langsung ke atas kepala kita. Kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum benda itu menghantam Kyoto dan menciptakan kawah selebar kota ini."
Malam di Kyoto yang damai tiba-tiba terasa seperti hitung mundur menuju kiamat. Sangkar emas yang dirancang oleh Faksi Timur kini akan menjadi target dari serangan balistik orbital atau lazim disebut senjata kinetik mematikan (Kinetic Bombardment). Kirana dan Adyatma harus memperingatkan Lord Genji dan mencari cara untuk menghancurkan benda seberat ratusan ton itu sebelum menghapus eksistensi mereka dari muka bumi.
*** [Bersambung ke Bab 32...]