NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Pembunuh Rahasia, Siapa Mereka?

Wang Yan melangkah masuk ke Paviliun Mahkota Xiong untuk kedua kalinya dalam waktu singkat. Namun, suasana kali ini terasa sangat berbeda. Jika kemarin ia disambut sebagai Sarjana Wang yang cerdas, hari ini pandangan para penjaga di pintu masuk dipenuhi oleh kewaspadaan yang kaku.

Rumor tentang tewasnya pengawal Keluarga Hong di tangan ahli misterius di rumah Wang Yan telah sampai ke sini lebih cepat daripada langkah kakinya sendiri.

Xiao Li segera muncul dari balik konter. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata, namun sebagai pelayan profesional, ia dengan cepat menekan rasa ingin tahunya. Bertanya secara pribadi tentang keributan di rumah pelanggan adalah pelanggaran etika berat di paviliun ini.

“Selamat siang, Sarjana Wang,” sapa Xiao Li, membungkuk sedikit lebih dalam seperti biasanya.

“Kota sangat ramai membicarakan Anda... dan paman Anda ya...”

Wang Yan hanya mengangguk singkat, tidak berniat menunjukan sebuah jawaban yang bisa menjadi informasi berharga bagi paviliun ini.

“Xiao Li. Aku ingin melihat koleksi teknik seni beladiri.”

Xiao Li berkedip, lalu tersenyum ramah. Dalam wajah ramahnya itu dia menyembunyikan rasa penasaran yang mendalam.

‘Aku tidak menyangka Sarjana Wang bisa menyembunyikan diri selama belasan tahun dari intelejen kami. Jika Nona muda berada di kota ini, dia pasti akan terkejut dan turun tangan sendiri. Sarjana yang ia kira jenius biasa, ternyata jenius yang menyembunyikan kemampuannya.’

“Tentu. Kebetulan sekali anda sedang mencari teknik seni beladiri, enam hari lagi kami akan mengadakan lelang besar. Ada ruang VIP yang tersedia jika Anda berminat... Ekhem... Dan berita besarnya, akan ada tiga harta tingkat 2 yang sangat langka yang akan dilelang.”

Wang Yan terdiam sebentar, 3 harta tingkat 2 adalah harta tingkat tinggi. Pastinya harta itu akan ditawar sangat mahal dan waktu 6 hari adalah waktu yang cukup lama. Seseorang dari Keluarga Hong yang menginginkan kalung bulan sabit miliknya sudah pasti tidak bisa menahan diri menahan penghinaan ini dan berusaha menghunuskan pedang kepada keluarganya.

“Terimakasih Xiao Li. Antarkan saja aku ke ruang teknik seni beladiri sekarang.”

Xiao Li sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baik, silakan lewat sini.” jawabnya, tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Wang Yan.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, area yang khusus menyimpan berbagai gulungan teknik seni beladiri.

Setelah menghabiskan waktu hampir 20 menit, Wang Yan mengerutkan kening. Koleksi di sini rata-rata hanya berupa salinan tulisan tangan baru, bukan sumber resmi dari suatu faksi.

‘Yah, aku tidak terlalu berharap kalau teknik yang dijual bebas akan bagus.’

Isinya terlalu standar, hanya gerakan fisik yang didorong energi spiritual tanpa filosofi yang dalam. Jika dia sebelumnya yang berada di ranah Lautan Spiritual lapisan keempat, ia pasti tidak akan meremehkan gulungan-gulungan teknik ini. Namun, setelah memahami bahwa teknik penebas udara yang hanya tingkat biasa dapat ia gunakan semaksimal mungkin. Setidaknya kali ini dengan lapisan kedelapannya, ia harus memiliki teknik tingkat 1 yang lebih bagus dari rata-rata di tempat ini.

Wang Yan sempat melewati sebuah gulungan berjudul Teknik Penebas Langit. Namanya terdengar sangat perkasa, namun setelah membaca sekilas isinya, Wang Yan mendengus kecil. Itu hanyalah teknik pedang kasar yang mengandalkan tenaga brutal, jika ia modifikasi sedikit tetap saja tidak ada perubahan signifikan, karena pada dasarnya teknik ini menggunakan energi spiritual yang sangat banyak. Sangat tidak bagus untuk pertarungan jangka panjang.

Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah gulungan kusam yang tergeletak di pojok rak bawah, seolah-olah sengaja disingkirkan karena tidak laku. Judulnya nyaris pudar: Seni Penebas Jiwa.

“Kenapa gulungan kusam ini ditaruh di sini?” tanya Wang Yan sambil mengambilnya.

Xiao Li mendekat dan melihat barang yang dipegang Wang Yan. “Ah, itu... sebenarnya itu adalah barang yang cukup bermasalah bagi kami. Ahli penaksir kami mengatakan teknik ini sangat potensial, bahkan strukturnya menunjukkan ini bisa mencapai tingkat 1 atau lebih tinggi jika lengkap. Masalahnya, gulungan itu hanya berisi bagian awal yang hanya setingkat teknik tingkat biasa. Jika lebih dari tingkat 1 ini juga tidak cocok untuk ahli lautan qi yang tidak memiliki Pohon Spiritual pada elemen roh ataupun jiwa.”

Xiao Li menghela napas pendek. “Kami sudah mencoba melelangnya bulan lalu dengan harga pembukaan 1 koin emas...”

“Pufff...” Wang Yang tersedak. Sebuah teknik tingkat biasa dihargai setinggi itu. Orang yang memberikan harga teknik itu benar-benar tidak waras.

“Ada apa Sarjana Wang?”

“Ah, tidak apa... Kau bisa lanjutkan Xiao Li.”

“Ohh, baiklah... Tapi tidak ada satu pun yang mau membelinya. Mereka menganggap membeli teknik yang tidak lengkap dan tidak cocok dengan gaya bertarung adalah pemborosan.”

‘Yah... Pemborosan, siapa yang mau membeli teknik tidak lengkap dengan harga setinggi itu...’

“Berapa harganya sekarang?” tanya Wang Yan. Walau terlihat kusam dan mahal, ia penasaran dengan teknik ini, apakah ini mungkin untuk digabungkan dengan kemampuan Bara Pelebur Jiwanya. Walaupun ia tau jika menggabungkan kemampuannya akan sangat menyedot staminanya.

“Kepala Cabang kami sudah menurunkan harganya menjadi 50 koin perak agar segera terjual dari inventaris kami,” jawab Xiao Li. Ia penasaran, apakah Wang Yan tertarik dengan teknik ini karena untuk diberikan kepada ahli misterius di rumahnya.

Tanpa banyak bicara, Wang Yan merogoh jubahnya dan mengeluarkan 1 koin emas hasil rampasannya tadi pagi.

“Aku ambil ini,” ujar Wang Yan.

Setelah itu Wang Yan membeli satu teknik seni beladiri: Seni Badai Angin, teknik seni beladiri tingkat 1 yang akan ia gunakan sebagai pengganti teknik penebas udara. Ia juga membeli beberapa pil penyembuhan, kertas segel formasi, pil pengembali stamina, dan beberapa lainnya serta sebuah senjata tingkat 1: Pedang Baja Hitam dengan corak Rembulan dibilahnya.

Angin musim dingin yang kering mulai menusuk kulit saat Wang Yan melangkah keluar dari Paviliun Mahkota Xiong. Pedang Baja Hitam Rembulan yang baru ia beli tersampir di pinggangnya, terbungkus kain kasar agar tidak menarik terlalu banyak perhatian. Namun, perhatian adalah sesuatu yang tidak bisa ia hindari hari ini.

Beberapa langkah setelah meninggalkan jalan utama, indra Wang Yan yang kini berada di Lautan Spiritual lapisan kedelapan menangkap sesuatu yang ganjil. Ada dua detak jantung yang mengikuti irama langkahnya, menjaga jarak sekitar dua puluh meter di belakang.

Wang Yan tidak mempercepat langkah. Sebaliknya, ia berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding bata tua yang lembap. Tempat ini buntu, sunyi, dan jauh dari pengawasan penduduk.

Ia berhenti tepat di tengah gang, memunggungi jalan masuk.

“Keluar sekarang, atau kalian akan mencicipi rasa sakit yang membuat kematian terasa seperti berkah,” ucap Wang Yan datar. Suaranya rendah, namun bergema di antara dinding sempit tersebut.

Dua sosok berjubah hitam melesat dari balik atap rumah warga, mendarat dengan suara tap yang hampir tidak terdengar. Mereka tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Kedua pria itu segera menghunus belati panjang yang berpendar hijau, tanda bahwa senjata mereka telah diolesi racun yang mematikan.

“Merasakan keberadaan kami? Tidak buruk untuk seorang bocah ingusan,” desis salah satu dari mereka.

Tanpa peringatan, keduanya menerjang bersamaan dari dua arah berbeda. Gerakan mereka sinkron dan sangat terlatih, jauh lebih berbahaya daripada gaya bertarung Hong Jigong yang serampangan.

Wang Yan merasakan tekanan udara yang tajam. Lapisan kedelapan lautan spiritual melawan dua orang yang kemungkinan berada di tingkatan yang sama atau mungkin lebih bukanlah urusan sepele. Ia segera menarik Pedang Baja Hitam Rembulan.

Sring!

Logam hitam itu berdenting saat menahan hantaman dua belati sekaligus. Wang Yan merasakan getaran hebat di lengannya, namun otot-ototnya yang telah ditempa dari latihan fisik dan kenaikan kultivasi menahan beban tersebut tanpa bergeser sedikit pun.

Ia segera memutar tubuhnya, menggunakan momentum berat pedangnya untuk memaksa lawan mundur. Salah satu pria jubah hitam itu mencoba melakukan serangan rendah ke arah tendon kaki Wang Yan.

Wush!

Wang Yan melompat tipis ke samping, gerakannya secepat kilat. Sambil masih berada di udara, ia menyalurkan energi spiritual yang padat ke bilah pedangnya.

“Teknik Penebas Udara!”

Bukan hanya satu tebasan, tapi sebuah ledakan energi yang terkonsentrasi. Bilah pedangnya membelah udara secara horizontal dengan suara siulan yang tajam. Salah satu pria itu terlambat menarik tangannya.

Srak!

Tangan kanan pria itu putus dari pangkal lengan. Belati beracunnya jatuh berdenting di atas tanah, diikuti oleh semburan darah merah pekat. Pria itu menggeram menahan sakit, namun matanya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.

“Sial! Dia bukan lapisan keempat!” teriak rekannya yang masih utuh.

Keduanya menjadi jauh lebih serius. Pria yang terluka mundur satu langkah untuk menyumbat aliran darahnya dengan energi spiritual dan meminum sebuah pil penyembuh, sementara rekannya menyerang dengan membabi buta, mencoba memenggal kepala Wang Yan dengan rentetan serangan belati yang cepat.

Wang Yan tetap tenang. Di matanya, setiap celah dari gerakan lawan terlihat sangat jelas. Ia tidak merasa panik, justru ada semacam ketenangan dingin yang mengalir di benaknya, sebuah naluri pembunuh yang seolah sudah lama bersemayam di sana.

Saat belati lawan hanya berjarak beberapa inci dari lehernya, Wang Yan merunduk sangat rendah hingga dadanya hampir menyentuh tanah.

Ia memaksimalkan aliran energinya, bukan lagi untuk sekadar menebas, tapi untuk menghancurkan.

“Selesai...”

Wang Yan berputar di tempat, menyapu pedangnya dalam satu lingkaran horizontal yang sempurna. Energi spiritualnya meledak, bukan manifestasi, tapi seolah keluar dari bilah pedang hitam itu dalam bentuk sabit transparan yang sangat tajam.

Crashh!

Tebasan itu membelah tubuh kedua pria tersebut tepat di bagian pinggang. Gerakan Wang Yan begitu bersih dan efisien, seolah ia sedang memotong kertas, bukan daging dan tulang manusia.

Kedua tubuh itu jatuh terbagi dua di atas salju tipis yang mulai turun. Darah panas mereka menguap di udara dingin.

Wang Yan berdiri tegak, perlahan menyarungkan pedangnya kembali. Tidak ada gemetar di tangannya, tidak ada mual di perutnya, dan tidak ada keraguan di matanya. Ia menatap mayat-mayat itu dengan pandangan hampa, seolah membunuh dua manusia kali ini dengan pertarungan langsung bukanlah pembunuhan manusia pertamanya.

Ia mendekat, memastikan keduanya benar-benar mati, lalu mulai menggeledah saku jubah mereka tanpa ekspresi.

Setelah mengambil kantong kecil milik mereka, ia menyembunyikan keduanya dalam karpet bekas yang ada disana. Namun ketika ia melihat sebuah plakat yang tergantung di antara saku celana mereka. Wang Yan seketika terkejut.

“She!... Bukankah ini! Mereka bukan kiriman Keluarga Hong!”

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!