" Kamu diam apa karna kamu sudah tau.???"
Smp Nusa Jaya menjadi sekolah pertama yang menghantar dito pada kehidupan supranatural nya, terkadang diam bukan selalu menjadi hal baik.
kejadian dan misteri sekolah perlahan lahan terungkap ketika sosok yang selama ini berdiam diri mulai menebarkan teror dan ganguan nya, hanya mereka yang terbiasa dengan kesunyian yang bisa tau siapa dirinya.
apakah yang terjadi di balik sekolah itu?? apa tujuan dan maksud dari teror mencekam itu??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan Devon
Hari Minggu ini tampak begitu cerah, Dito sedari tadi duduk dengan tenang menanti kedatangan seseorang. Kakak laki-laki nya itu sudah dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai, selama ini mereka hanya berkirim pesan melalui surat.
Dan Devon tau adik kecil nya itu tampak sangat kesepian tinggal di desa ini, jadi ia memutuskan untuk menemaninya selama libur sekolah. Ia sudah tidak punya adik lagi selain Dito adik satu-satunya.
Devon adalah remaja SMA yang berusia 16 tahun, ia tampan dan juga baik meski mereka jika di lihat tampak agak berbeda namun tidak menutupi rasa sayang antara kakak dan adik. Devon bersekolah dikota dan tinggal bersama kedua orangtuanya sementara adiknya sejak lulus SD di pindahkan orang tuanya di desa tanpa sepengetahuan mereka.
Devon sempat menentang kedua orangtuanya lataran meninggal sang adik sendiri bersama sang nenek di desa, namun kedua orangtuanya punya alasan yang kuat dan tidak bisa di ganggu apa yang sudah menjadi keputusan mutlak nya. Devon hanya bisa mengikhlaskan nya toh mereka juga pasti akan bertemu saat liburan tiba.
Buss tepat berhenti di halte yang tak jauh dari desa nya, Devon melewati bangunan yang sudah tua dan besar bangunan itu masih tampak sangat kokoh. Di depan gerbang nya tertulis SMP nusa jaya, ia tersenyum ini pasti lah sekolah baru sang adik.
Ia terus berjalan menyusuri jalan setapak yang dilalui hanya dengan berjalan kaki, desa sudah tak jauh lagi dari sini. ia tersenyum sembari menenteng sesuatu tentu saja itu hadiah yang ia siapkan untuk sang adik, rasa rindu sudah lama ia tahan. Mereka sudah tumbuh bersama sedari kecil diajarkan dengan penuh kasih sayang oleh orang tuanya sehingga saat mereka besar rasa sayang antar saudara begitu erat apalagi saat ini mereka di pisahkan.
Devon sudah sampai di depan rumah sang nenek, ia tersenyum bahagia kala melihat dua orang yang ia harapkan menantinya di depan rumah.
Ia berjalan sedikit berlari menuju dua orang yang ia cintai itu, " nenek!!" Devon mencium tangan sang nenek dengan lembut sembari mengusapnya.
" bagaimana perjalanan nya apakah menyenangkan.?" ucapan dari sang Adik membuat Devon menoleh
" tentu saja, dan aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian.!!"
" ayo masuk, hari sudah mulai terasa panas begini.!!" mereka bertiga pun masuk kedalam rumah
sedangkan di ujung tampak sepasang mata menatap mereka, ia tersenyum namun senyuman itu tidak bisa di artikan.
......................
" bagaimana selama kamu di desa ini.??" ucap Devon saat ia dan sang adik telah berada di kamar mereka
" lumayan, tapi aku hampir jarang bertemu tetangga atau orang desa disini mereka seperti menutup diri!!"
Devon tampak manggut-manggut tidak heran adik nya ini kesepian, selama ia jalan tadi desa tampak sepi hanya bertemu beberapa orang saja dan itu pun tidak membalas sapaan nya. Dan juga jarak rumah desa ini agak berjauhan jadi wajar saja terasa sepi.
" tapi aku punya teman yang menyenangkan di desa ini, dan dia satu-satunya teman ku saat Disini.!"
" benarkah? Dimana dia?"
" apa kamu mau keluar bermain bersama kami sekarang.?"
" tentu saja.!!"
Dito lalu menarik tangan sang kakak setengah berlari, nenek menatap kedua cucunya sembari menghela nafas. Sekarang rumah nya pasti rame tidak sepi lagi.
......................
" Tara ini basecamp kami.!"
Devon melongo menatap rumah pohon yang begitu indah di depan nya, bagaimana dua orang anak kecil bisa membangun rumah pohon sebagus ini. Dirinya mungkin saja tidak akan bisa melakukan nya.
" dimana teman mu.?"
" dia pasti ada di dalam, biasa nya dia selalu menunggu di sana. Fransss.!" panggilan Dito sedikit berteriak membuat seseorang yang di dalam nya menengok keluar.
" hallo.!!"
Franss melambai kan tangan nya dan tersenyum ke arah dua orang yang ada di bawah sana, Devon membalas lambaian tangan Frans dengan mengangguk.
Mereka kemudian menaiki rumah pohon itu, suasana didalam terasa sangat nyaman dan tenang, angin semilir sepoi-sepoi membuat segala rasa lelah bisa terobati.
" Frans perkenalkan ini kakak ku Devon, kamu bisa memanggil nya kak Devon."
" hallo kak aku franss."
Devon dan Frans saling bergandengan tangan, Devon merasa teman adiknya ini ramah dan tidak seperti orang desa apa dia juga anak pindahan dari kota, apalagi wajahnya yang terlihat blasteran dengan hidung mancung dan rahang keras yang sempurna untuk umur seorang anak laki-laki seumuran nya.
mereka menikmati pemandangan diatas rumah pohon ditemani agin semilir, walaupun hari terasa panas tidak membuat mereka gerah.
" apa kalian tidak merasa lapar.??" Devon menanyakan ini kepada kedua orang anak yang sedang asik dengan perbincangan mereka.
" aku juga merasa lapar.?" ucap dito sembari memegangi perut nya yang keroncongan.
" kita ambil makanan di hutan saja, aku tau ada pohon buah yang bisa di makan tak jauh dari sini.!" Frans mengajak kedua teman nya turun untuk memetik buah untuk mengganjal rasa lapar mereka.
Mereka berjalan menyusuri hutan lebat yang penuh dengan pepohonan rindang, Devon merasa senang karna bisa berpetualang di alam nyata. Sebelumnya ia hanya melihat di internet saja.
" nah itu dia."
Franss berseru saat mendapati buah rambutan yang sudah matang berbuah sangat lebat, mata mereka berbinar menyaksikan harta Karun didepan mata nya. Devon dengan semangat melepas sendalnya dan berlari untuk naik ke atas pohon.
Diikkuti kedua anak tersebut mereka memancat pohon rambutan yang sedang berbuah lebat, canda tawa mereka mengema di sepanjang hutan itu. Mereka saling melempari satu sama lain dengan biji buah itu.
Tawa bahagia mereka tidak berlangsung lama kala cuaca yang tadinya tampak cerah tiba-tiba saja menjadi gelap, mereka memutuskan untuk segera turun seperti nya hujan lebat akan segera turun.
Belum sempat mereka sampai di rumah pohon hujan mengguyur tubuh mereka, mereka bersenda gurau dengan ceria meski hujan lebat mereka tampak menikmati nya bermain hujan bersama adalah hal yang sangat menyenangkan.
Indra penciuman Devon mencium sesuatu yang semakin lama semakin pekat di hidung nya, bau tanah dan ilalang serta basah hujan, ia tau jika turun hujan Tentu saja akan tercium aroma khas saat hujan namun tidak sepekat ini. Diperhatikan nya dua anak yang masih asik melompat lompat kegirangan di bawah guyuran hujan.
Apa mereka tidak mencium sesuatu yang aneh apa hanya aku, tapi tampaknya bau aneh ini tidak biasa apa ada sesuatu yang lain Di sekitar sini. Tapi apa itu? Tampak nya ada yang aneh dengan desa ini, jika saja desa ini normal tidak akan seperti asing begini.