NovelToon NovelToon
Pendekar API Dan ES

Pendekar API Dan ES

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.

Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.

Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.

Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tatapan mengintai

Malam di hutan pinggiran Linyi mencapai puncaknya. Suara jangkrik yang tadinya riuh perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian yang menekan.

Di bawah pohon pinus yang rimbun, Mo Ran sudah mendengkur halus, tidur dengan posisi aneh di atas tumpukan daun kering—seolah-olah kejaran penagih hutang dan masa depan yang suram sama sekali bukan beban baginya.

​Yan Bingchen duduk bersila beberapa meter darinya. Tubuhnya tegak, sepasang matanya terpejam rapat.

Di sekelilingnya, udara tampak berputar halus, menciptakan pusaran angin kecil yang menarik partikel cahaya biru dan merah dari alam sekitar.

​Saat ini, Yan Bingchen berada di puncak Ranah Pengumpulan Qi.

Baginya, tahap ini terasa seperti penjara. Energi di dalam Dantian-nya sudah meluap, namun masih berbentuk gas yang liar dan tidak stabil.

Untuk mencapai Tahap Pembentukan Fondasi, ia harus melakukan sesuatu yang dianggap mustahil oleh banyak Pendekar: memadatkan kabut energi api dan es yang saling tolak-menolak menjadi satu inti cair yang padat.

​‘Sesuatu di tengah-tengah ...’ Kalimat Mo Ran tadi sore terus terngiang di kepalanya.

​Yan Bingchen mulai menarik napas dalam-dalam. Ia tidak lagi mencoba memisahkan api ke sisi kanan dan es ke sisi kiri. Sebaliknya, ia membiarkan keduanya bertabrakan di tengah Dantian-nya.

​Deg!

​Rasa sakit yang menghujam jantung membuat wajah Yan Bingchen pucat seketika. Keringat dingin mengucur deras.

Di dalam tubuhnya, energi merah dan biru itu saling mencambuk, mencoba menghancurkan satu sama lain.

Jika ia gagal dalam proses pemadatan ini, Dantian-nya akan meledak, mengubahnya menjadi abu dan serpihan es dalam sekejap.

​‘Jangan menyerah ... Fokus!’ batin Yan Bingchen dengan gigi tergeretak.

​Ia mulai membayangkan sebuah titik kosong di pusat energinya. Sebuah titik netral yang tidak memiliki suhu.

Perlahan, ia memaksa uap api yang panas dan uap es yang dingin untuk memutar di sekeliling titik itu, membentuk spiral yang semakin mengecil.

Tekanan yang ia berikan sangat besar. Ia butuh suplai energi alam yang konstan untuk mempertahankan tekanan tersebut.

​Udara di sekitar Yan Bingchen mulai berderak. Rumput di bawahnya hangus, namun embun di dedaunan di atasnya membeku menjadi kristal tajam. Ia merasa seperti sedang mencoba meremas dua badai menjadi satu tetes air.

​Namun, pembentukan fondasi bukanlah perkara satu malam. Yan Bingchen menyadari bahwa kapasitas energinya saat ini masih butuh sedikit pematangan lagi sebelum benar-benar bisa mencair.

Ia perlahan merelaksasi tekanannya, membiarkan energi itu kembali ke bentuk gas, namun kali ini dengan putaran yang lebih teratur.

​Ia membuka matanya perlahan. Napasnya masih memburu, namun sorot matanya tampak lebih tajam dari sebelumnya.

Ia melirik ke arah Mo Ran yang masih terlelap, tidak menyadari bahwa beberapa saat lalu temannya hampir saja meledak dan meratakan tempat itu.

​"Tidur yang nyenyak, Mo Ran," gumam Yan Bingchen pelan. "Setidaknya kau punya nyali untuk tidur di samping monster sepertiku."

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

​Insting Yan Bingchen tiba-tiba berteriak. Hawa dingin yang ia rasakan kali ini bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan hawa membunuh yang pekat. Ia terdiam, tubuhnya menegang tanpa mengubah posisi duduknya.

​Di balik rimbunnya semak belukar yang gelap, sekitar dua puluh meter di depan mereka, sepasang mata berwarna merah menyala muncul dari kegelapan.

Mata itu tajam, penuh rasa lapar, dan tidak berkedip. Makhluk itu bergerak tanpa suara, mengintai mangsanya dengan penuh kesabaran.

​Yan Bingchen meletakkan tangannya di gagang pedang tumpulnya. Ia tidak ingin membangunkan Mo Ran dengan teriakan, karena gerakan sekecil apa pun bisa memancing makhluk itu untuk menerjang.

​Sepasang mata merah itu semakin mendekat, menembus bayang-bayang pohon. Udara di hutan itu mendadak menjadi sangat dingin—bukan dingin yang bersih seperti milik Yan Bingchen, melainkan dingin yang berbau busuk dan kematian.

1
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
Ibad Moulay
Lanjutkan. 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Ibad Moulay
Uraa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Abil Amar
iy in kyk dicerita dlegenda pendekar sabit yan bingchen bntu shan luo wktu mau dbnuh ayahny mau rebut kristal leluhurny yg dbnuh yan bingchen ayahnya shan feng
Abil Amar
emmmmmm kyk pernah dengar y klu g slah ceritanya ad dbgian menolong shan luo dlegenda pendekar sabit
Arken: satu Dunia
total 1 replies
Ibad Moulay
Merah
Ibad Moulay
Langit
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Surianto Tiwoel
bantai abis,, mantap Ferguso
Marsahhayati
justru yg tidak waras adalah orang yg apa adanya.,👍
Ibad Moulay
Pedang Darah
Ibad Moulay
Sekte
Ibad Moulay
Uraaa 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Uraaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!