NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kebangkitan Darah Suci

Tetesan darah merah segar dari telapak tangan Kirana jatuh menghantam lantai semen yang dingin dengan bunyi yang nyaris tak terdengar, namun dampaknya layaknya ledakan bom sonik di dimensi spiritual. Aroma cendana yang awalnya hanya berupa embusan tipis, kini meledak menjadi badai wangi yang sangat pekat, murni, dan sakral. Gelombang kejut berwarna emas pucat terpancar dari tubuh Kirana, menyapu asap melati beracun dan memadamkan api lilin dalam satu kedipan mata.

Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan, hanya disinari oleh cahaya biru safir yang berpendar dari tubuh Adyatma dan cahaya keemasan yang mulai menyelimuti Kirana.

"Apa ini?!" Mbok Sum memekik, suaranya yang lembut kini berubah menjadi lengkingan parau penuh ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, menutupi matanya dari radiasi spiritual yang memancar dari Kirana. "Darah Cendana murni... Bagaimana mungkin?! Ibumu sudah menyegel kekuatan itu!"

Kirana tidak menjawab. Matanya yang biasanya berwarna hitam obsidian kini berpendar dengan warna madu keemasan.

Ia merasakan aliran panas yang luar biasa mengalir dari jantungnya menuju telapak tangannya. Memori dari kehidupan sebelumnya—saat ia mati dalam kehinaan—berkelebat cepat, namun kali ini rasa sakit itu tidak melemahkannya. Rasa sakit itu menjadi bahan bakar bagi kekuatan yang selama ini tertidur di dalam genetiknya.

"Adyatma, dengarkan suaraku!" Kirana berteriak, suaranya bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia memeluk kepala Adyatma, menempelkan telapak tangannya yang berdarah tepat di atas jantung pria itu. "Jangan biarkan Naga itu memangsamu! Gunakan aromaku sebagai jangkarmu!"

Adyatma mengerang brutal. Otot-otot di sekujur tubuhnya menegang hingga titik maksimal, urat-urat birunya berdenyut liar seolah ingin meledak menembus kulit.

Racun "Darah Kalajengking" dari Mbok Sum mencoba memancing sisi buas Sang Naga untuk membunuh Kirana, namun darah Kirana bertindak sebagai perisai suci.

Uap hitam mulai keluar dari pori-pori kulit

Adyatma saat racun itu dinetralkan secara paksa. Adyatma membuka matanya, menatap Kirana. Untuk sesaat, kewarasan manusia dan insting predator bertarung di dalam pupilnya.

"K-Kirana... lari..." geram Adyatma, giginya gemeretak menahan sakit yang tak terbayangkan.

"Tidak akan!" Kirana justru mempererat pelukannya, membiarkan darahnya membasahi kemeja Adyatma. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi kegelapan ini sendirian lagi. Kita adalah satu kontrak, Adyatma! Jiwamu adalah jiwaku!"

Melihat pemandangan itu, Mbok Sum mendesis marah. Ia memberi isyarat kepada barisan pelayan bertopeng putih yang sedari tadi mematung. "Bunuh mereka! Ambil gadis itu hidup-hidup, tapi habisi Sang Naga sekarang juga!"

Para pelayan itu bergerak serentak. Mereka bukan manusia biasa; gerakan mereka terlalu cepat, hampir seperti bayangan yang meluncur di atas lantai. Mereka mencabut pedang pendek yang dilapisi racun ungu yang sama.

Namun, sebelum pedang pertama menyentuh Kirana, Adyatma melepaskan raungan yang mengguncang fondasi gudang tua tersebut.

Energi biru safir meledak keluar dari tubuh

Adyatma, membentuk siluet naga raksasa yang transparan namun nyata. Naga itu mengibaskan ekor cahayanya, menghempaskan para penyerang hingga menabrak dinding beton dengan kekuatan yang meremukkan tulang.

Adyatma bangkit berdiri. Auranya kini tidak lagi kacau; berkat darah Kirana, energi naga itu telah menyatu sempurna dengan kesadarannya. Ia adalah perwujudan Dewa Perang yang baru bangkit dari tidurnya.

"Kau..." Adyatma menatap Mbok Sum dengan tatapan yang bisa membunuh seketika. "Kau telah menyentuh permaisuriku dengan niat membunuh. Di dunia ini, tidak ada lubang persembunyian yang cukup dalam untuk menyelamatkanmu dari amukanku."

Mbok Sum gemetar hebat. Ia merogoh sesuatu dari balik kebayanya—sebuah peluit perak kecil—dan meniupnya. Suara melengking tinggi yang hanya bisa didengar oleh makhluk spiritual bergema.

"Dewan Tetua tidak akan membiarkan ini!" teriak Mbok Sum sebelum ia melemparkan bom asap hitam ke lantai.

"Reno! Jangan biarkan dia lepas!" teriak Kirana.

Reno dan tim elit Surya Corp yang sedari tadi bertarung di luar gudang merangsek masuk, memecahkan jendela dan pintu baja. Suara tembakan dan benturan senjata tajam memenuhi ruangan. Namun, asap hitam itu terlalu pekat dan beraroma sihir.

Saat asap menipis, Mbok Sum dan beberapa pengikutnya telah menghilang, menyisakan beberapa pelayan bertopeng yang sudah tewas di lantai.

Suasana di dalam gudang perlahan mulai tenang, meski udara masih terasa panas akibat sisa energi Adyatma. Adyatma terduduk di sebuah peti kayu, napasnya masih memburu. Cahaya biru di tubuhnya meredup, namun matanya tetap tertuju pada tangan Kirana yang masih meneteskan darah.

Tanpa berkata apa-apa, Adyatma menarik tangan Kirana. Ia merobek bagian bawah kemejanya sendiri dan dengan sangat lembut membalut luka di telapak tangan Kirana. Gerakannya sangat kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan beberapa menit lalu.

"Kenapa kau melakukannya?" tanya Adyatma, suaranya rendah dan serak. "Darahmu adalah nyawamu, Kirana. Menggunakan kekuatan itu secara paksa bisa merusak jiwamu."

Kirana menatap Adyatma, seutas senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya. "Karena kau adalah suamiku. Dan karena aku sudah lelah melihat orang-orang yang kucintai mati melindungiku sementara aku hanya bisa menonton. Kali ini, akulah yang akan melindungimu."

Adyatma terdiam. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher istrinya, menghirup aroma cendana yang kini menjadi candunya yang paling murni. "Kau adalah wanita paling gila yang pernah kutemui, Kirana Larasati. Dan aku bersumpah, siapa pun yang membuatmu meneteskan darah hari ini, mereka akan membayar dengan seluruh garis keturunan mereka."

Reno mendekat dengan wajah menyesal. "Maafkan saya, Tuan. Mbok Sum menggunakan gerbang pelarian spiritual yang sudah disiapkan klan Scorpio. Kami kehilangan jejaknya di koordinat pinggiran kota."

"Lacak setiap transaksi yang pernah dilakukan Mbok Sum selama sepuluh tahun terakhir," perintah Kirana, suaranya kembali tajam dan kalkulatif. "Dia bukan sekadar mata-mata. Dia tahu terlalu banyak tentang Ibuku. Aku ingin tahu di mana Dewan Tetua Langit menyembunyikan 'Kuil Cendana' yang ia sebutkan tadi."

Kembali di Menara Nusantara, suasana tidak lagi sama. Pengkhianatan Mbok Sum menjadi pukulan berat bagi Kirana, namun juga menjadi katalisator bagi kebangkitan kekuatannya yang sebenarnya.

Kirana menghabiskan sisa malam itu di ruang arsip digital. Ia menggunakan Google Lens untuk memindai setiap inci dari kalung giok dan jurnal ibunya yang berhasil ia selamatkan. Berdasarkan proyeksi literasi masa depan, ia menyadari bahwa ibunya meninggalkan pesan-pesan yang tersembunyi dalam bentuk "Sastra Cyber"—kode-kode digital yang hanya bisa dibaca jika dikombinasikan dengan frekuensi spiritual tertentu.

"Adyatma, lihat ini," Kirana memanggil suaminya yang sedang meninjau laporan keamanan.

Di layar monitor, Kirana menampilkan sebuah peta topografi 3D dari wilayah pegunungan di Jawa Tengah. Melalui integrasi Google Earth dengan data sensor spiritual Surya Corp, muncul sebuah anomali energi di lembah yang tersembunyi di balik awan abadi.

"Koordinat ini... ini adalah tempat kelahiran klanku," ucap Adyatma, matanya menyipit. "Tapi tempat itu seharusnya sudah musnah saat perang besar seratus tahun lalu."

"Ibuku membangun sesuatu di sana," Kirana menjelaskan sambil menunjuk titik pusat anomali tersebut. "Sebuah ekosistem digital dan spiritual yang ia sebut 'Benteng Cendana'. Itulah alasan kenapa Dewan Tetua sangat menginginkan 'kunci' dalam nadiku. Benteng itu adalah satu-satunya tempat yang bisa memutuskan kutukan darahmu secara permanen tanpa perlu mengorbankan nyawa siapapun."

Adyatma menatap Kirana dengan pandangan tak percaya. Selama ini, ia mengira ia akan mati dalam kegilaan naga atau harus membunuh istrinya sendiri untuk bertahan hidup. Harapan yang baru saja Kirana berikan terasa terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

"Jika itu benar," bisik Adyatma, "maka Dewan Tetua akan melakukan segala cara untuk sampai di sana sebelum kita."

"Maka kita harus berangkat sekarang," Kirana bangkit, mengenakan mantel hitamnya. "Reno, siapkan armada udara. Kita akan melakukan perjalanan ke jantung Nusantara. Dan beri tahu tim PR kita, rilis berita bahwa aku dan Tuan Surya sedang melakukan perjalanan bulan madu ke luar negeri. Kita butuh pengalihan agar klan Scorpio tidak mengikuti kita."

"Bulan madu?" Adyatma menyeringai, sebuah ekspresi predator yang kini terlihat menawan. Ia merangkul pinggang Kirana dengan posesif. "Aku suka idemu, Istriku. Perjalanan menuju jantung naga... terdengar seperti bulan madu yang sangat romantis."

Satu jam sebelum fajar, sebuah helikopter siluman lepas landas dari atap Menara Nusantara. Di dalam kabin yang kedap suara, Kirana menyandarkan kepalanya di bahu Adyatma. Tangannya yang dibalut perban digenggam erat oleh tangan Adyatma.

Pembalasan dendamnya pada Bagas dan Herman mungkin telah usai, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar Kirana Larasati yang ingin merebut kembali hartanya. Ia adalah Sang Penjaga Cendana yang akan bertarung demi stabilitas magis dan masa depan sebuah bangsa.

Di bawah sana, kota Jakarta perlahan mengecil. Kirana menatap keluar jendela, melihat kilatan lampu kota yang seolah membentuk rasi bintang kalajengking yang sedang diincar oleh naga biru.

"Mbok Sum, Dewan Tetua... bersiaplah," bisik Kirana dalam hati. "Kalian mungkin memiliki kekuatan kuno, tapi aku memiliki teknologi masa depan dan cinta dari Sang Naga. Dan aku tidak akan berhenti sampai kalian semua bersujud di bawah kakiku."

Helikopter itu melesat menembus kabut pagi, menuju pegunungan yang menyimpan rahasia penciptaan mereka. Di kejauhan, langit mulai memerah, menandakan lahirnya fajar yang akan menentukan siapa penguasa Nusantara yang sebenarnya.

Perjalanan menuju Bab 11 akan menjadi awal dari petualangan fantasi yang lebih dalam, di mana Kirana akan menemukan bahwa ibunya tidak hanya meninggalkan harta, tetapi juga pasukan rahasia yang telah menunggu kedatangannya selama satu dekade.

*** [Bersambung ke Bab 11...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!