Khusus Dewasa 📌
"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Siang itu, terik matahari seolah membakar aspal di area parkir pasar tradisional yang cukup ramai. Susi, dengan kacamata hitam besarnya dan tas tangan desainer yang mentereng, berjalan terburu-buru menuju mobil sedannya. Ia baru saja membeli beberapa bahan makanan impor yang tidak tersedia di supermarket langganannya, sebuah kebiasaan kecil yang tetap ia lakukan meskipun kini kondisi keuangannya sedang dipantau ketat oleh Calista. Susi merasa, meskipun kekuasaan keuangan ada di tangan menantunya, ia tetap harus mempertahankan gaya hidup kelas atasnya, bahkan di tengah hiruk-pikuk pasar sekalipun.
Tepat saat ia merogoh kunci mobil di dalam tasnya, sebuah motor matik dengan dua pria berhelm gelap meluncur cepat dari arah belakang.
SRETT!
"Aaahh! Jambret! Tolong!" teriak Susi histeris.
Sentakan kuat itu membuat Susi tersungkur ke aspal yang panas. Tas tangannya berpindah tangan dalam sekejap. Di dalamnya terdapat ponsel terbaru, perhiasan emas yang sengaja ia pakai untuk pamer, dan uang tunai yang baru saja ia tarik secara diam-diam melalui sisa limit kartu tambahannya. Total kerugiannya mencapai hampir sepuluh juta rupiah. Dengan lutut yang gemetar dan napas memburu, Susi hanya bisa meratapi kepergian para penjambret itu di tengah kerumunan orang yang terlambat menolong. Ia merasa terhina, bukan hanya karena kehilangan uang, tetapi karena ia harus pulang dalam keadaan kacau balau, menanggung malu di hadapan para pedagang pasar yang menatapnya iba sekaligus heran.
****
Susi tiba di rumah dengan penampilan yang sangat kontras dari biasanya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, dan wajahnya sembap karena tangis frustrasi yang bercampur debu jalanan. Di ruang tengah, ia mendapati Denis sedang duduk membaca laporan keuangan bersama Calista yang tampak elegan dengan gaun rumahnya, kontras sekali dengan kondisi Susi yang mengenaskan.
"Denis! Mama dijambret! Semua barang Mama hilang, uang sepuluh juta raib begitu saja!" adu Susi dengan nada meratap, berharap mendapatkan simpati atau setidaknya kemarahan dari putranya agar ia bisa segera mendapatkan dana pengganti.
Denis hanya menutup map laporannya perlahan. Ia menatap ibu tirinya datar, tanpa ada rona kekhawatiran sedikit pun di wajahnya. "Apakah Mama sudah melapor ke polisi?" tanya Denis singkat, suaranya tenang seolah sedang menanyakan menu makan malam.
"Sudah, tapi mereka bilang sulit melacaknya! Denis, kau harus memberi Mama uang tambahan. Mama sangat trauma dan butuh mengganti barang-barang yang hilang itu sekarang juga," tuntut Susi dengan suara yang gemetar.
Sebelum Denis sempat menjawab, Calista meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ia menatap Susi dengan pandangan yang penuh penghakiman, seolah sedang menguliti kebodohan ibu tirinya itu dengan tatapan dinginnya yang khas.
"Sepuluh juta? Di pasar tradisional?" tanya Calista dengan nada sinis yang sengaja ia tajamkan. "Maaf sebelumnya, Nyonya Susi, tapi menurut saya ini murni kesalahan Anda sendiri. Siapa yang pergi ke pasar dengan perhiasan mencolok dan membawa uang tunai sebanyak itu di dalam tas yang mudah disambar? Anda seperti memasang papan pengumuman agar dirampok oleh siapapun yang lewat."
Susi melotot, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. "Kau... kau berani menyalahkanku? Aku ini korban! Kau seharusnya prihatin, bukan malah menguliahi!"
"Korban dari kecerobohan sendiri, maksud Anda?" balas Calista tenang, namun setiap katanya menusuk tepat ke harga diri Susi. "Di rumah ini, kita sedang belajar tentang efisiensi dan keamanan. Membawa uang sebanyak itu tanpa pengawalan di tempat umum adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Anda seolah sengaja memancing kejahatan untuk datang, dan sekarang Anda meminta Mas Denis membayar untuk kesalahan yang Anda buat sendiri? Itu sungguh tidak masuk akal secara finansial."
Calista kemudian menoleh ke arah Denis, memberikan senyum misteriusnya yang seolah berkata bahwa ia sedang menjaga aset keluarga dari kebocoran yang konyol. "Benar kan, Mas? Uang sepuluh juta itu bukan jumlah yang sedikit. Jika terus-menerus begini, anggaran rumah tangga kita bisa bocor hanya untuk membayar 'kecerobohan' yang sama sekali tidak perlu terjadi jika orangnya tahu diri dan waspada."
Susi beralih menatap Denis, matanya berkaca-kaca menuntut pembelaan sebagai seorang ibu. "Denis, kau dengar apa yang dia katakan? Istrimu benar-benar tidak punya hati! Dia justru menghinaku di saat aku sedang tertimpa musibah yang mengerikan!"
Denis terdiam sejenak, memberikan jeda yang menyiksa bagi Susi. Ia melirik Calista yang tetap tenang, lalu beralih ke Susi dengan tatapan yang sama sekali tidak memihak. "Apa yang dikatakan Calista ada benarnya, Ma. Mama sudah dewasa, seharusnya tahu risiko membawa barang mewah ke tempat seperti itu. Aku tidak akan menambah jatah bulanan Mama bulan ini hanya untuk mengganti kerugian akibat kelalaian Mama sendiri. Kita harus konsisten dengan aturan keuangan yang ada agar semuanya tertib."
Dunia seolah runtuh bagi Susi. Denis, yang biasanya setidaknya akan memberikan uang untuk mendiamkan keluhannya demi menjaga kedamaian rumah, kini benar-benar menutup pintu rapat-rapat. Kehadiran Calista benar-benar telah mengubah Denis menjadi pria yang sangat perhitungan dan tidak bisa lagi dimanipulasi dengan air mata.
"Mas Denis benar," tambah Calista, sengaja memanaskan suasana agar Susi semakin merasa terjepit di sudut ruangan. "Mungkin ini pelajaran berharga bagi Mama agar lebih rendah hati saat keluar rumah. Lain kali, jika ingin belanja, cukup bawa uang seperlunya. Oh, dan jangan lupa, laporan kehilangan dari polisi tetap harus diserahkan kepadaku untuk audit bulanan. Kita harus memastikan uang sepuluh juta itu benar-benar dijambret, bukan 'hilang' secara sengaja untuk alasan lain yang mungkin lebih personal."
Kalimat terakhir Calista adalah serangan telak yang meragukan integritas Susi secara terbuka. Ia secara halus menuduh Susi mungkin saja mengarang cerita untuk mendapatkan uang tambahan secara ilegal. Susi merasa dadanya sesak karena amarah yang tidak bisa ia luapkan di depan Denis. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan lari menuju kamarnya dengan langkah yang dihentak-hentakkan, menyisakan tawa kecil yang hampir tak terdengar dari bibir Calista yang penuh kemenangan.
Denis kembali fokus pada laporannya seolah keributan tadi hanyalah interupsi kecil yang tidak penting sama sekali. Ia tahu Calista sedang bermain dengan emosi Susi, memberikan efek jera yang selama ini tidak bisa ia berikan sendiri. Bagi Denis, melihat Susi "dijinakkan" oleh tangan dingin Calista adalah hal yang sangat memuaskan batinnya. Susi kini menyadari bahwa di rumah ini, air matanya tidak lagi memiliki nilai tukar, dan otoritasnya telah lumat di tangan istri dari anak tirinya tersebut. Perang di istana Satrya semakin memanas, dan kali ini, Susi pulang dengan tangan hampa, lutut yang lecet, dan hati yang hancur berkeping-keping karena martabatnya telah diinjak oleh menantu yang ia remehkan. Keheningan yang menyusul setelah kepergian Susi terasa jauh lebih berat, menandai dominasi mutlak Calista atas dinamika internal keluarga Satrya.