Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Kenapa Tak Pernah Dibalas?”
Nayla hanya tersenyum. Ia mencoba mengambil hikmah baik dari kejadian itu.
Setelah menerima telepon dari kak Danu, ternyata hari itu juga, pria itu kembali pergi ke luar kota.
Dan tanpa disadari, napas Nayla terasa lebih ringan.
Rumah kembali tenang. Tidak ada lagi rasa waspada yang diam-diam ia rasakan sebelumnya.
Hari-hari berikutnya pun berjalan lebih damai. Nayla kembali pada rutinitasnya sebagai pengasuh, menjalani semuanya seperti biasa—tanpa gangguan yang berarti.
Waktu terus berjalan…
Hingga tanpa terasa, akhir pekan pun tiba.
**
“Arkan nanti jangan nakal ya,” ucap Nayla sambil menyisir rambut Arkan.
Yang diajak bicara masih saja cemberut dari tadi.
“Arkan sekarang sudah bisa pakai baju sendiri, Arkan ini sudah besar,” rayunya sambil mencium gemas.
Dua hari lalu, Nayla sudah memberi tahu Arkan kalau ia akan menginap di kampung selama satu hari. Tapi Arkan langsung merengek ingin ikut.
Kalau hari biasa, mungkin Nayla akan membawanya. Tapi untuk kali ini, tidak bisa.
Arkan masih saja cemberut. Matanya berkaca-kaca, sesekali menatap Nayla walau hanya sekilas.
Nayla menggaruk kepalanya pelan.
Apa dibawa saja ya… batinnya.
Takut juga kalau ditinggal, Arkan malah ngamuk dan membuat Oma serta Bibi Rani kerepotan.
Nayla dan Oma saling bertatapan, lalu menghela napas pelan hampir bersamaan.
Sudah hampir dua jam mereka membujuk Arkan, bahkan Bibi Rani juga ikut membantu. Tapi hasilnya tetap nihil.
Arkan melangkah ke pojokan, seolah ingin menunjukkan kalau ia sedang merajuk.
Nayla hanya bisa menatapnya, lalu menggeleng pelan.
Setelah merenung sejenak, akhirnya Nayla mengambil keputusan.
“Oma… kalau Arkan ikut ke kampung, enggak apa-apa?” tanyanya hati-hati.
“Sebetulnya enggak apa-apa,” jawab Oma santai. “Hanya ya itu… kamu tahu sendiri kan, Arkan itu nempel banget sama kamu. Takutnya nanti kamu malah sibuk ngurusin dia.”
Nayla terdiam sebentar.
“Emm… gini saja deh, Oma ikut,” lanjut Oma. “Jadi nanti pas acaranya sudah mulai, biar Oma yang jaga.”
“Tapi bukannya Oma ada kerjaan ya?” tanya Nayla pelan.
“Gampang itu mah. Daripada dia rewel, nanti Oma yang repot,” jawab Oma ringan.
Nayla hanya mengangguk pelan.
“Arkan, sini,” panggil Oma lembut.
“Hem,” rajuknya, masih membuang muka.
Nayla menahan tawa melihat tingkahnya.
“Mau ikut enggak? Kalau enggak mau ya sudah…” Oma pura-pura melangkah pergi.
Dan seketika—
“Ikutt… huhuhu…”
Tangis Arkan pecah. Ia langsung berlari ke arah Nayla dan memeluknya erat.
“Kakak ikut…” rengeknya sambil terisak.
Nayla sedikit terkejut, lalu terkekeh pelan sambil membalas pelukannya.
“Iya, iya… ikut,” gumamnya sambil mengusap punggung Arkan.
Tak lama kemudian, Nayla mulai menyiapkan barang-barang keperluan Arkan.
Sepertinya tidak menginap… setelah urusan selesai, langsung pulang, batinnya.
Tangannya sempat berhenti sejenak, lalu ia mencubit pipi Arkan gemas yang kini sudah kembali ceria.
**
Selama perjalanan, Arkan terus menempel pada Nayla. Kepalanya bersandar di bahu Nayla, tangannya melingkar erat, seolah takut terlepas.
Oma hanya terkekeh pelan melihatnya.
Perjalanan menuju kampung Nayla memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Sesampainya di sana, Nayla langsung disambut oleh keluarga besarnya. Suasana ramai, penuh suara sapaan dan senyum hangat.
Beberapa dari mereka melirik ke arah mobil yang mereka tumpangi—mobil yang tampak mewah dan mencolok di antara kendaraan lain.
“Nayla diantar siapa?” tanya salah satu dari mereka, penasaran.
Nayla tersenyum kecil.
“Itu… majikan. Anak asuhnya enggak mau berpisah,” jawabnya sederhana.
“Ohh…” Mereka mengangguk-angguk paham, meski masih sempat saling bertukar pandang.
Tak lama, perhatian mereka beralih.
Mereka pun menyambut Oma dengan ramah, penuh hormat.
“Silakan, Bu… masuk dulu,” ucap salah satu anggota keluarga dengan sopan.
Nayla hanya diam sejenak, mengamati sekelilingnya.
Sementara itu, Arkan masih enggan lepas darinya—seakan dunia barunya ini terlalu asing tanpa Nayla di dekatnya.
Pukul 11.30. Acara pertemuan itu baru akan dimulai pukul dua siang.
Sekarang, Arkan sudah mulai menyesuaikan diri. Melihat banyak anak seusianya, ia dengan cepat akrab dan ikut bermain bersama keponakan-keponakan Nayla.
Tawa kecilnya sesekali terdengar, membuat Nayla sedikit lega.
Oma pun tampak nyaman, berbincang hangat dengan keluarga besar Nayla, seolah sudah lama saling mengenal.
Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
Hingga akhirnya—
Tamu yang ditunggu-tunggu pun mulai berdatangan.
Nayla menarik napas pelan.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sebetulnya, ia cukup gugup.
Bagaimana tidak…
Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar memutuskan untuk membuka hati.
Padahal usianya baru 24 tahun.
Namun, keluarganya mulai mendesaknya untuk berkenalan dengan seseorang.
Bukan tanpa alasan.
Ada kekhawatiran yang diam-diam mereka simpan.
Mereka takut Nayla terlalu menutup diri.
Takut ia terlalu lama sendiri… hingga akhirnya tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapa pun.
Nayla memahami itu.
Meski begitu, tetap saja—
Sebetulnya, orang yang diperkenalkan kepada Nayla itu masih satu kampung dengannya.
Namun, Nayla termasuk pribadi yang sangat tertutup. Jika bukan dengan keluarga inti atau teman dekatnya, ia cenderung enggan berinteraksi.
Namanya Zain Kaizar.
Usianya terpaut empat tahun lebih tua dari Nayla.
Tinggi, berpenampilan bersih, dengan kesan cuek yang melekat—namun entah kenapa, tetap terasa hangat.
Hari ini, penampilannya terlihat sangat rapi. Kemeja cokelat dengan lengan yang digulung santai, dipadukan dengan celana jeans hitam dan kacamata yang menambah kesan dewasa.
Sebetulnya…
Dia sangat sesuai dengan tipe Nayla.
Namun entahlah—
Nayla terlalu takut untuk keluar dari zona nyamannya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi…
Justru Zain Kaizar-lah yang mengajukan perkenalan ini.
Nayla terheran-heran saat mendengar kabar ini dari kakaknya.
Bagaimana tidak?
Selama ini, setiap kali mereka berpapasan, pria itu selalu terlihat cuek… bahkan cenderung dingin.
Itulah yang membuat Nayla heran.
Apa mungkin… dia juga sedang didesak oleh keluarganya?
Namun rasanya tidak masuk akal.
Di luar sana, banyak perempuan yang jauh lebih cantik.
Lalu… kenapa harus aku?
Yang datang hanya tiga orang, Bibi Nela, suaminya dan kak zain. Memang ini hanya sebatas kenalan saja, bukan sesuatu yang langsung serius menuju pelaminan.
Bibi Nela orangnya ramah. Nayla dulu beberapa kali diajak ngobrol olehnya. Ia juga sangat dekat dengan mama Nayla—bahkan mereka berdua suka bergosip.
Setelah menyapa Bibi Nela dan suaminya, kini mereka berdua ditinggal di ruang tamu.
Setelah cukup lama saling diam—
“Kerja di mana sekarang?” tanya Zain akhirnya.
“Jadi babysitter,” jawab Nayla pelan.
Zain terdiam, lalu mengangguk singkat.
“Aku sudah dengar dari mamaku sih,” ucapnya sambil tersenyum simpul.
Nayla sedikit memutar bola matanya.
Ck… kalau sudah tahu, ngapain nanya, batinnya menggerutu.
Hening lagi.
Entah kenapa, diamnya pria itu justru membuat Nayla semakin gugup.
Seolah sedang diperhatikan… tanpa benar-benar ditatap.
Beberapa detik berlalu.
Zain kembali bersuara—
“Kenapa… gak pernah dibalas?”