Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Badai di Samudra Utara dan Kunci Langit yang Tenggelam
Langit di atas Puncak,Langit Tertinggi masih berdenyut dengan warna ungu kehitaman, namun perhatian Wang Tian kini teralihkan ke arah cakrawala utara. Melalui jaringan informasi bayangan yang dipimpin oleh Mora, sebuah laporan mengerikan tiba: Samudra Utara, yang biasanya tenang, kini mendidih. Air laut berubah menjadi hitam pekat, dan monster-monster laut purba yang telah tidur selama ribuan tahun bangkit dalam keadaan gila, menyerang pelabuhan-pelabuhan besar.
"Gerbang Kesunyian Abadi bukan hanya pintu masuk fisik," ucap Lin Xia, berdiri di tepi balkon istana yang baru saja diperbaiki. "Ia adalah jangkar energi. Dan jangkar itu memiliki pasangan di dasar laut utara—Kunci Gerbang Primordial. Jika para Penelan Agung berhasil mengaktifkan kunci itu, Gerbang di langit tidak akan bisa ditutup lagi. Benua Tengah akan tersedot masuk ke dimensi Void dalam waktu kurang dari tujuh hari."
Wang Tian menatap telapak tangannya yang masih memancarkan sisa-sisa energi anti-materi. "Tujuh hari. Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk membangun pasukan yang sempurna."
Ia menoleh ke arah Long Wei yang sedang melatih barisan kavaleri naga di bawah. "Long Wei! Pimpin separuh pasukan Faksi Primordial untuk menjaga Puncak Langit. Jangan biarkan satu pun serangga Void itu menyentuh tanah suci ini!"
"Siap, Kakak! Tapi siapa yang akan menjagamu di laut?" tanya Long Wei, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Aku akan pergi bersama Xuelan, Sui Ren, dan Mora," jawab Wang Tian. "Keahlian Xuelan dalam elemen air dan kemampuan Sui Ren mengendalikan tekanan udara akan sangat krusial di kedalaman samudra."
Perjalanan Menuju Kota Pusaran
Menggunakan teknik perpindahan ruang massal yang kini jauh lebih stabil, Wang Tian membawa ketiga istrinya tiba di pesisir utara hanya dalam hitungan menit. Pemandangan di sana mengerikan. Mayat-mayat monster laut berukuran raksasa terdampar di pantai, tubuh mereka membusuk dengan cepat, mengeluarkan uap hitam yang beracun.
"Aroma ini... sama dengan makhluk yang kita lawan di gunung," bisik Lin Xuelan, menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Void telah menginfeksi sumber kehidupan di laut."
Di tengah laut, sebuah pusaran air raksasa berdiameter sepuluh mil berputar dengan kecepatan yang menakutkan. Di pusat pusaran itulah letak Kota Pusaran, reruntuhan peradaban air kuno yang konon menjaga Kunci Gerbang.
"Kita harus masuk ke sana," ucap Wang Tian. Ia melambaikan tangannya, menciptakan gelembung energi primordial yang menyelimuti mereka berempat. "Xuelan, gunakan kekuatanmu untuk menstabilkan tekanan air di dalam gelembung. Sui Ren, jaga agar pasokan udara kita tetap murni."
Mereka terjun ke dalam pusaran. Semakin dalam mereka masuk, cahaya matahari semakin menghilang, digantikan oleh cahaya biru redup dari ubur-ubur raksasa yang telah bermutasi menjadi predator ganas.
SHUT!
Sebuah tentakel berduri sepanjang seratus meter melesat dari kegelapan, mencoba menghancurkan gelembung mereka. Mora bergerak secepat kilat, keluar dari gelembung dengan teknik pernapasan khusus. Sabitnya, Nightfall, membelah tentakel itu menjadi potongan-potongan kecil sebelum makhluk pemiliknya sempat bereaksi.
"Jangan berhenti! Kita hampir sampai!" teriak Wang Tian.
Kota Pusaran: Penjara sang Penjaga
Di dasar samudra, Kota Pusaran berdiri tegak. Bangunannya terbuat dari karang kristal yang kini diselimuti oleh lumut hitam yang berdenyut. Di gerbang utama kota, berdiri sesosok makhluk yang seharusnya sudah punah: Jenderal Naga Laut. Tubuhnya setengah manusia, setengah naga air, namun matanya kosong, memancarkan cahaya ungu Void.
"Henti...kan... langkah...mu..." suara Jenderal itu bergema di dalam air, terdengar seperti gesekan batu tajam.
"Dia telah dikendalikan sepenuhnya," ucap Wang Tian, menghunus Dragon's Wrath. Pedangnya kini memancarkan cahaya emas redup di kegelapan laut. "Xuelan, Sui Ren, tahan pasukan bawah air yang mendekat. Aku akan menangani Jenderal ini."
Pertempuran di dasar laut dimulai. Jenderal Naga Laut menyerang dengan trisula yang terbuat dari tulang paus purba. Setiap ayunannya menciptakan gelombang kejut yang mampu menghancurkan gunung bawah laut. Wang Tian menangkis serangan itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melepaskan Hukum Gravitasi Hampa.
Di bawah air, gravitasi bekerja secara berbeda. Wang Tian menciptakan medan berat yang membuat Jenderal itu terhimpit ke dasar laut. Namun, energi Void di dalam tubuh Jenderal itu meledak, memberinya kekuatan tambahan untuk bangkit.
"Kunci... milik... Tuan... Void..."
"Kunci itu milik ibuku, dan sekarang milikku!" Wang Tian berteriak. Ia menggunakan teknik Tebasan Sembilan Segel: Arus Primordial.
Pedang Wang Tian membelah air laut, menciptakan jalur hampa udara yang menghantam dada Jenderal tersebut. Energi Void yang menyelimuti Jenderal itu terkoyak, memperlihatkan inti kristal hitam di dalam dadanya.
Wang Tian tidak membunuhnya dengan kasar. Ia justru mengalirkan energi Cahaya Primordial untuk memurnikan jiwa Jenderal yang tersiksa itu. Sesaat sebelum hancur, mata Jenderal Naga Laut kembali menjadi biru jernih.
"Terima... kasih... pewaris... Kunci itu... ada di Altar Abisal..."
Altar Abisal dan Pengkhianatan Tak Terduga
Mereka berempat melesat menuju pusat kota, di mana sebuah altar berbentuk bintang sembilan berdiri. Di tengahnya, sebuah kunci berbentuk keris kecil yang terbuat dari cahaya murni melayang-layang.
Saat Wang Tian hendak meraih kunci itu, sebuah serangan mendadak datang dari arah yang tidak terduga. Sebuah bilah angin hitam memotong pergelangan tangan Wang Tian sebelum ia sempat menyentuh kunci tersebut.
"Siapa?!" raung Wang Tian, mundur dengan cepat sambil meregenerasi lukanya.
Dari balik pilar kristal, muncul sesosok wanita yang sangat akrab bagi mereka. Dia mengenakan jubah putih yang kini ternoda oleh garis-garis ungu.
"Sui Ren?!" Lin Xuelan berteriak kaget.
Namun, di samping Wang Tian, Sui Ren yang asli masih berdiri dengan wajah pucat. Mereka menatap ke depan; ada Sui Ren kedua yang berdiri di depan altar, memegang kunci tersebut dengan senyum licik.
"Bukan Sui Ren," bisik Mora, matanya menyipit tajam. "Itu adalah Mimic Void—makhluk yang bisa meniru jiwa dan bentuk fisik siapa pun yang pernah kita temui."
Mimic itu tertawa, suaranya persis seperti Sui Ren namun dengan nada yang jauh lebih sinis. "Wang Tian, kau terlalu fokus pada musuh di depanmu hingga kau lupa bahwa Void ada di dalam setiap bayangan. Kunci ini sekarang akan menjadi pembuka bagi pasukan utama kami."
Mimic itu mulai memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang di altar. Jika kunci itu diputar ke arah yang salah, samudra ini akan meledak dan menelan seluruh benua utara.
Duel Identitas: Kehendak Sejati
"Berhenti!" Sui Ren yang asli melompat maju. Ia melepaskan badai angin puyuh yang luar biasa kuat, mencoba menghentikan tangan Mimic tersebut.
Terjadi pertarungan yang membingungkan. Dua Sui Ren bertarung di tengah altar bawah laut, menggunakan teknik yang hampir identik. Lin Xuelan mencoba membantu, namun ia ragu; satu kesalahan serangan bisa membunuh saudari seperjuangannya sendiri.
"Wang Tian! Bantu aku!" teriak kedua Sui Ren secara bersamaan.
Wang Tian memejamkan matanya. Ia tidak melihat dengan mata fisik, melainkan dengan Mata Jiwa Primordial. Ia merasakan aliran energi di dalam tubuh keduanya. Mimic Void meniru segalanya—Qi, bentuk fisik, bahkan ingatan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditiru: Keterikatan Takdir.
Wang Tian menghunus pedangnya dan melesat. Dengan kecepatan yang tak terbayangkan, ia menusukkan Dragon's Wrath tepat ke arah Sui Ren yang berada di sebelah kanan.
SLASH!
"Wang Tian, apa yang kau lakukan?!" Lin Xuelan menjerit ketakutan.
Namun, saat pedang itu menembus tubuh "Sui Ren" tersebut, tubuh itu tidak mengeluarkan darah merah, melainkan cairan ungu yang menjijikkan. Mimic Void itu menjerit kesakitan, bentuk fisiknya mulai mencair kembali menjadi gumpalan daging abu-abu yang mengerikan.
"Bagaimana... kau... tahu?!" rintih Mimic itu sebelum akhirnya hancur menjadi debu oleh energi primordial.
Wang Tian menarik pedangnya. "Sui Ren yang asli memiliki setitik energi dari darah ibuku saat aku menyembuhkannya di Ruang Waktu Naga. Kau bisa meniru ingatan, tapi kau tidak bisa meniru ikatan darah yang telah menyatu dengan jiwaku."
Sui Ren yang asli jatuh terduduk, napasnya memburu. "Terima kasih, Wang Tian. Aku hampir mengira kau akan membunuhku."
Mengamankan Kunci dan Pesan dari Dasar Laut
Wang Tian meraih Kunci Gerbang Primordial. Saat tangannya menyentuh kunci tersebut, sebuah pesan tersembunyi dari ibunya, Yue Er, muncul di benaknya.
"Tian-er, jika kau memegang kunci ini, berarti dunia sudah berada di ambang kehancuran. Kunci ini bukan hanya untuk menutup gerbang di langit, tapi juga untuk membuka Gudang Senjata Dewa yang tersembunyi di bawah Benua Tengah. Namun berhati-hatilah... penguasa Void bukan hanya mencari energi, mereka mencari dirimu. Kau adalah kunci kesebelas yang mereka butuhkan untuk menghancurkan seluruh alam semesta."
Visi itu menghilang, meninggalkan Wang Tian dalam keheningan yang mendalam. Ia kini sadar bahwa dirinya bukan hanya target karena kekuatannya, tapi karena eksistensinya adalah bagian dari rencana besar yang lebih tua dari benua itu sendiri.
"Kita harus kembali," ucap Wang Tian, menggenggam kunci itu erat-alih-alih memasukkannya ke altar. "Kunci ini tidak akan digunakan untuk menutup gerbang dari sini. Kita akan menggunakannya untuk menyerang langsung ke jantung mereka."
Kepulangan dan Serangan Kejutan di Markas
Saat mereka berteleportasi kembali ke Puncak Langit Tertinggi, pemandangan yang menyambut mereka sangat jauh dari harapan. Seluruh gunung tersebut kini dikepung oleh kabut ungu yang sangat tebal. Suara dentuman meriam dan raungan naga Long Wei terdengar dari balik kabut.
"Mereka menyerang lebih awal!" Mora bersiap dengan sabitnya.
Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul sesosok pria dengan jubah emas yang compang-camping. Dia adalah salah satu penatua klan yang sebelumnya bersujud pada Wang Tian.
"Tuanku... pengkhianatan... di dalam klan..." ucap penatua itu sebelum tubuhnya meledak dari dalam, mengeluarkan ribuan serangga Void kecil yang langsung menyerang Wang Tian.
Wang Tian menghancurkan serangga-serangga itu dengan satu gelombang panas primordial. "Long Wei! Di mana kau?!"
Dari puncak gunung, terdengar raungan naga yang penuh kesakitan. Wang Tian melihat Long Wei dalam bentuk naga sedang dirantai oleh rantai energi hitam yang dijatuhkan dari lubang dimensi di langit. Dan yang memegang rantai itu bukan makhluk Void, melainkan sekelompok kultivator misterius yang mengenakan topeng perak.
"Siapa kalian?!" raung Wang Tian, suaranya menggetarkan seluruh gunung.
Salah satu pria bertopeng maju ke depan. Ia melepas topengnya, memperlihatkan wajah yang sangat mirip dengan Wang Tian, namun dengan usia yang lebih tua.
"Aku adalah Wang Shu, pamanmu," ucap pria itu dengan senyum tenang. "Ayahmu, Wang Zen, hanyalah seorang amatir yang terobsesi dengan darah. Kami, Klan Bayangan Langit, telah bekerja sama dengan Void selama ribuan tahun untuk momen ini. Berikan kuncinya, atau saudara nagamu ini akan menjadi makanan pertama bagi peliharaan kami."
Wang Tian mengepalkan tangannya. Di tangan kirinya ada kunci yang bisa menyelamatkan dunia, dan di depan matanya ada saudara angkatnya yang sedang diambang kematian. Pengkhianatan keluarga yang ia kira sudah berakhir dengan kematian ayahnya, ternyata memiliki akar yang jauh lebih dalam dan gelap.
"Kalian semua..." Wang Tian mengangkat pedangnya, matanya kini memancarkan cahaya perak yang begitu pekat hingga air hujan yang turun dari langit mendadak membeku di udara. "Akan kuhancurkan hingga tidak ada debu yang tersisa."
Malam itu, di Puncak Langit Tertinggi, perang saudara yang sesungguhnya—perang antara cahaya primordial dan bayangan void yang telah lama bersembunyi—resmi pecah. Wang Tian tidak lagi hanya bertarung untuk dendam atau keselamatan; ia bertarung untuk mempertahankan sisa-sisa kemanusiaan yang ia miliki di tengah dunia yang terus mencoba mengkhianatinya.
Statistik Bab 26:
Karakter: Wang Tian, Long Wei (Ditangkap), Lin Xuelan, Sui Ren, Mora, Wang Shu (Musuh Baru - Klan Bayangan Langit), Mimic Void (Tewas).
Pencapaian: Mendapatkan Kunci Gerbang Primordial, Mengetahui rahasia "Kunci Kesebelas".
Lokasi: Samudra Utara -> Kota Pusaran -> Puncak Langit Tertinggi (Terkepung).
Konsekuensi: Munculnya musuh baru dari dalam manusia (Klan Bayangan Langit) yang beraliansi dengan Void.
Status Mental: Wang Tian mencapai titik kemarahan tertinggi; potensi ledakan energi
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah