Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
"Selamat datang," ucap Nadia kepada dua orang yang baru saja masuk ke dalam minimarket tempatnya bekerja.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadia begitu kedua orang tadi berdiri di hadapannya. Ia menatap aneh ke arah mereka, dengan pakaian mereka yang serba hitam membuat mereka nampak berbeda dengan pembeli yang lain.
Nadia semakin merasa aneh ketika salah satu diantara mereka mengeluarkan sebuah foto dari kantong yang ada di pakaiannya, kemudian orang itu melepas kacamata dan menatapnya dengan tajam. Setelahnya dia seperti memberi kode pada temannya, keduanya saling pandang sebelum mengangguk satu sama lain. Suasana seketika berubah, Nadia merasa keduanya memiliki memiliki niat tertentu terhadapnya.
"Anda Nadia Witama?" Tanya salah satu pria yang tadi memegang sebuah foto padanya.
Nadia mengangguk kecil. " Ya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nadia dengan tenang, ia menatap lawan bicaranya dengan pandangan waspada. Ia takut dia pria itu memiliki niat jahat terhadapnya, apalagi dengan pakaian mereka yang tidak biasa.
Nadia menghela napasnya begitu rekan kerjanya baru saja kembali dari ruangan karyawan. " Maaf, ada yang bisa kami bantu?" ujarnya berusaha ramah. Dia tidak mau ada orang yang membuat keributan di tempatnya bekerja. Apalagi melihat wajah Nadia yang terlihat seperti membutuhkan bantuan untuk menghadapi dua orang yang aneh ini. Gelagat mereka begitu mencurigakan, bisa saja tujuan mereka menganggu Nadia.
"Bukan urusan anda."
" Tentu saja urusan saya, area ini tempat saya bekerja. Jika tidak ada urusan apapun tolong segera keluar." Ujar rekannya dengan tegas.
"Kami minta maaf, saya ada urusan dengan teman anda." Ujar salah satu pria, kemudian pria itu menatap ke arahnya. " Nona, ada yang ingin kami bicarakan dengan anda. Bisa ikut kami sebentar?"
Nadia terdiam sejenak, siapa mereka berdua? Ada urusan apa mereka dengannya sehingga mereka mengajaknya berbicara?
“Nona Nadia?” suara pria itu memecah kesunyian di tempat itu. “Ah, iya... maaf, saya sedang bekerja. Jika memang ada yang ingin kalian bicarakan, bicaralah di sini saja,” jawab Nadia dengan nada dingin, matanya tetap tertuju pada layar komputer, berusaha menyembunyikan gejolak di dalam dada.
Pria itu menarik napas dalam, seolah sedang berperang melawan rasa ragu. Waktunya kian menipis jika terlalu lama, tuannya pasti murka. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan sebuah foto dan menatapkannya pada Nadia.
“Apakah Anda mengenal Tuan Hermawan Wiguna?” tanyanya dengan suara bergetar. Nadia menatap foto itu, dan seketika dunia seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang, dan udara seolah tersumbat di kerongkongannya.
Pria di foto itu orang yang pernah ia anggap sebagai panutan dan sumber harapan ternyata adalah sumber luka terdalam dalam hidupnya. Sosok yang telah membuang keluarganya demi wanita lain, yang mengoyak ikatan kasih sayang Nadia dan ibunya hingga hancur berkeping-keping. Dia merasakan amarah membara dan kebencian yang menggunung, membakar setiap sudut hatinya.
Nama itu, Hermawan Wiguna, bukan lagi sekadar nama melainkan kutukan yang ingin ia hilangkan dari belakang namanya sendiri. “Saya tidak tau," suara yang biasa dingin berubah menjadi lirih, bahkan nyaris tak terdengar. “Pria yang pernah menjadi segalanya, namun meninggalkan kehancuran di belakangnya.” Gumannya lagi dengan suara yang masih pelan.
Hening menyelimuti ruangan, hanya napas Nadia yang terdengar berat, membisikkan kisah luka yang belum pernah ia ungkapkan sebelumnya.
Setelah dia beberapa detik, ia kembali menatap kedua pria itu, meraba arah pembicaraan mereka. " Maaf, sepertinya anda salah orang. Saya tidak memiliki urusan lagi dengan orang yang ada di foto ini."
Pria itu kembali mengangguk pada temannya. Entah apa maksudnya, Nadia tidak mau memikirkannya. Sesekali dia memperhatikan suasana tempatnya bekerja yang mulai ramai.
"Bukankah ada mengenalnya?" Ulang pria itu lagi, seolah ingin menggali informasi lain dari mulut Nadia." Sekarang pria yang ada di foto ini membutuhkan bantuan anda."
Nadia kembali terdiam, apa yang terjadi dengan ayahnya? Sebenci apapun dia, tetap saja dia ayah kandungnya, dia tidak bisa benar-benar mengabaikan pria itu.
"Apa terjadi sesuatu dengan pria itu?" tanya Nadia. Ia akhirnya bersuara meski ia tidak langsung menyebut jika pria itu adalah ayah kandungnya. Karena nyatanya hubungan mereka sudah lama putus, meskipun tetap rasa khawatir masih ia rasakan ketika mendengar kabar ayahnya.
"Jika ingin dengar kabar pria ini, silahkan ikut dengan kami."
Nadia menggeleng tegas. " Tolong katakan pada saya, ada masalah apa?!"
Nadia menatap sekeliling, saat ini dia sudah menjadi pusat perhatian di sini. Beberapa pengunjung minimarket mulai melihat ke arahnya.
Setelah di pikir matang-matang akhirnya ia mengalah dan memutuskan untuk mengesampingkan pekerjanya sementara. Ia berbicara dengan rekannya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia keluar bersama dua pria asing tadi. Keduanya berjalan menuju gang sempit yang tidak banyak di lalui orang supaya leluasa saya berbicara.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian mencari saya?" tanya Nadia masih berusaha bersikap dengan tenang, ia tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan sebelum ia benar-benar tau apa yang di perbuat oleh ayahnya.
"Apakah anda tau mengenai masalah keuangan yang berkaitan dengan tuan Hermawan?" Pria itu kembali bertanya seraya mengamati ekpresi Nadia.
Nadia menarik nafas dalam-dalam, ia tidak tau dan tidak mau tau mengenai kehidupan ayahnya. Setidaknya hidupnya lebih damai tanpa kehadiran ayahnya.
"Saya tidak tau apapun mengenai kehidupan beliau, termasuk mengenai masalah keuangan ini. Saya juga sudah beberapa bulan ini tidak berjumpa dengan beliau, bahkan berkabar melalui pesan. Mungkin beliau sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Kalian bertanya pada orang yang salah."
Pria itu mengangguk pada rekannya membuat Nadia memicingkan mata curiga.
"Silahkan ikut dengan kami sebentar, ada masalah di perusahaan yang berkaitan dengan beliau dan anda harus menyelesaikannya."
Nadia mengerutkan keningnya, kenapa harus dirinya?
"Maaf, tapi kenapa harus saya?" ujarnya tidak terima." Masih ada anak dan istrinya yang lain. Selama ini mereka yang hidup bersama beliau, bukan saya!" Nadia menjauhkan badannya dari kedua orang itu. Kecurigaannya semakin bertambah.
"Nona, kamu hanya menyampaikan apa yang di perintahkan tuan kami untuk membawa anda ke sana."
"Maaf, tapi saya sedang bekerja dan tidak bisa ikut ke sana."
Tak lama Nadia melihat kedatangan pria lain dengan pakaian yang sama, serba hitam. Mereka datang arah lain. Raisa mulai ancang-ancang untuk segera pergi dari sini, lebih tepatnya menyelamatkan diri dari orang-orang asing ini.
"Tolong, jangan buang waktu anda!" Pria itu melangkah mendekati Nadia. Wajah tegas dan menyeramkan itu semakin jelas terlihat membuat degup jantung Nadia semakin kencang.
“Benar-benar tidak beres!” Nadia bergumam, jantungnya berdegup kencang seolah hendak meledak dari dadanya. Dalam hitungan detik, ia berbalik dan mulai berlari secepat mungkin, menjauh dari sosok-sosok asing yang mulai mengepungnya. Napasnya terengah, setiap langkahnya terasa berat, tapi ketakutan menggerakkan tubuhnya tanpa henti.
“Berhenti di sana!” teriak salah satu pria dengan suara serak dan penuh amarah. Namun Nadia tak peduli, bahkan suara itu justru menjadi bahan bakar agar kakinya melangkah lebih cepat.
“Tangkap wanita itu! Jangan biarkan dia lolos! Kalau tuan tahu dia kabur, tuan pasti akan murka!” perintah itu menghujam telinga Nadia, membuat dadanya makin sesak dan pikirannya berpacu mencari celah untuk bertahan hidup. Tak ada pilihan lain. Hanya satu kabur atau hal buruk akan terjadi. Ketika bayangan pria-pria itu terus membuntutinya, Nadia tahu, detik-detik menentukan nyawanya telah dimulai.