Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 – KEMBALI KE RUMAH DAN JANJI YANG ABADI
Setelah menghabiskan dua minggu di sekitar Gunung Berkabut dan berhasil membangun hubungan kerja sama dengan Zephyr (sekarang dikenal sebagai penjaga resmi wilayah itu), Nam Ling dan Liya memutuskan untuk kembali ke markas. Energi di Gunung Berkabut sudah stabil, dan Roh Penjaga Candi telah memberikan mereka pengetahuan berharga tentang cara mengatur aliran energi di wilayah terpencil agar tidak mengganggu kehidupan lokal.
“Kita harus segera kembali,” kata Liara dengan nada yang sedikit cemberut – ekspresi 'salting' yang jarang muncul karena ia merindukan suasana hangat markas. “Markas pasti sudah merindukan kita, apalagi kalau ada acara khusus atau mungkin mereka sudah menyiapkan kejutan untuk kedatangan kita.”
Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat karena mereka sudah familiar dengan rute dan dukungan dari energi alam yang kini lebih terkontrol. Saat mereka memasuki wilayah sekte, udara hangat dan aroma bunga sakura langsung menyambut mereka.
“SELAMAT DATANG KEMBALI!” seru seluruh anggota sekte yang sudah berjejer di gerbang utama, dipimpin oleh Tetua Orion, Elara, dan Arjuna.
Nam Ling terkejut melihat Liya tiba-tiba berjalan lebih cepat, wajahnya memerah saat mendekatinya. “Aku sudah tidak sabar melihatmu lagi,” ucap Liya dengan suara pelan namun jelas terdengar di telinganya.
“Salam kenal kembali, pemimpin kita!” ucap Tetua Orion dengan senyum hangat. “Kita sudah menyiapkan sesuatu untuk merayakan keberhasilanmu.”
Di halaman utama aula, terdapat dekorasi bunga warna-warni dan meja panjang yang diisi hidangan spesial dari seluruh sekte – mulai dari hidangan laut dari Sekte Pantai hingga hidangan pedas dari Sekte Gunung. Namun yang paling membuat hati Nam Ling berdebar adalah ketika Liya secara tiba-tiba mengambil tangannya dan membawa dia ke sudut yang sepi di belakang pohon sakura.
“Nam Ling… selama kamu pergi, aku merenungkan banyak hal,” ucap Liya dengan wajah yang sedikit memerah, namun penuh keberanian. “Aku tidak bisa lagi bersembunyi dari perasaan ini. Aku mencintaimu, lebih dari sekadar guru dan murid. Kamu adalah bagian dari hidupku yang tidak bisa aku lepas.”
Sebelum Nam Ling bisa menanggapi, suara gemuruh datang dari arah belakang – Arjuna dengan cepat berlari mendekat. “Ada kabar penting! Dari wilayah selatan muncul energi yang sangat kuat, mungkin sama dengan yang kita temukan di Gunung Berkabut. Tapi kali ini berbeda – ia menunjukkan adanya kekuatan yang bisa menyatukan semua energi di dunia ini menjadi satu kesatuan!”
Semua orang langsung berkumpul kembali. Tetua Orion muncul dengan wajah serius. “Kekuatan yang muncul ini adalah Energi Primordial yang pernah kita dengar dalam legenda kuno – energi yang bisa menghubungkan semua alam semesta dalam satu kesatuan. Jika kita bisa mengendalikannya dengan benar, dunia akan memasuki era perdamaian yang abadi.”
Nam Ling menatap Liya dengan pandangan penuh cinta. “Kita harus menghadapinya bersama seperti yang kita lakukan di candi kuno. Kekuatan kita berpadu akan menjadi kunci utama.”
Liya mengangguk, tangannya mencari tangan Nam Ling dan menyatukannya erat. “Aku akan selalu bersama mu. Baik dalam suka maupun duka.”
Pada malam perayaan yang meriah, setelah semua anggota sekte berkumpul dan menikmati hidangan serta cerita perjalanan mereka, Nam Ling berdiri di tengah aula. Ia mengangkat gelasnya yang diisi jus buah segar.
“Kita telah melalui banyak hal bersama – dari ujian hidup mati hingga menemukan cinta yang abadi. Energi yang kita miliki bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk melindungi semua yang kita cintai. Tanpa kalian semua, tidak mungkin kita bisa mencapai segalanya ini.”
Liya berdiri dan menghampirinya, memberikan tatapan penuh kasih yang membuat semua orang terlihat kagum. “Kita akan selalu bersama dalam setiap langkah dan setiap perjalanan yang akan datang. Aku mencintaimu, Nam Ling. Selamanya.”
Semua orang bersorak meriah melihat momen romantis ini. Beberapa anggota muda seperti Elara bahkan berbisik sambil tertawa, “Akhirnya mereka terbuka secara penuh!”
Setelah perayaan usai, Nam Ling dan Liya pergi ke tepi sungai yang damai di belakang markas. Bulan penuh bersinar terang menyinari air yang mengalir tenang.
“Kau tahu tidak?” ucap Liya dengan suara lembut sambil mengelus dada Nam Ling. “Setiap kali kita menghadapi bahaya bersama, aku semakin merasa bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Seperti energi kita yang saling melengkapi.”
Nam Ling menariknya lebih dekat, bibirnya hampir menyentuh bibirnya. “Kita memang satu kesatuan, Liya. Selamanya.”
Hari berikutnya, setelah semua orang pulih dari perayaan dan istirahat yang cukup, mereka berkumpul di aula utama. Di sana, terdapat sebuah peta besar yang baru saja ditemukan oleh Roh Penjaga Candi – sebuah peta yang menunjukkan seluruh jaringan energi di dunia ini, termasuk wilayah yang belum pernah mereka jelajahi.
“Kita telah menemukan bahwa kekuatan yang kita miliki bukan hanya untuk melindungi satu wilayah,” jelas Tetua Orion. “Melainkan untuk menyatukan semua sekte di dunia ini menjadi satu keluarga besar. Misi kita selanjutnya adalah menjelajahi dan menjaga setiap titik energi yang ada di dunia ini, serta membangun jembatan persahabatan yang kuat antar semua sekte.”
Nam Ling berdiri bersama Liya di depan semua orang. “Kita akan menjalankan misi ini bersama. Tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi. Kita adalah keluarga yang saling mencintai dan melindungi satu sama lain.”
Liya mengangguk dengan wajah yang penuh cinta dan keyakinan. “Aku akan selalu ada di sisimu, Nam Ling. Seperti yang kita janjikan – bersama dalam suka maupun duka.”
Semua orang bersorak meriah mendengarnya. Momen ini menjadi bukti bahwa cinta dan kerja sama adalah kekuatan terbesar yang bisa menyatukan semua orang, bahkan melampaui batasan waktu dan ruang.
Di akhir bab ini, ketika matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga keemasan di langit, Nam Ling dan Liya berdiri bersama di atas bukit yang menghadap markas. Mereka melihat ke bawah pada markas yang penuh dengan kehidupan dan cinta yang mereka bangun bersama.
“Siapakah yang akan datang berikutnya?” bisik Liya dengan tatapan penuh kasih.
Nam Ling tersenyum penuh percaya diri. “Siapa pun itu, kita akan menghadapinya bersama. Selamanya.”