NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

[29] Rencana Khitbah Albiru

Langit memperhatikan motor Alden yang menjauh, dia kemudian menatap bangunan kafe di sebrang jalan. Senyumnya melengkung, Langit kemudian lekas menyebrang.

Untungnya saat cowok itu mau traktir, Langit bisa buat mereka lama di sekolah hingga datang ke tempat les malah telat.

Sehabis les dia memang berencana datang ke Kafe nengok Bumi. Bukan apa-apa. Hari ini Bumi tidak banyak ajaknya ngobrol kecuali saat bilang Pak Ego mencarinya. Dia sampai heran, sejak kapan sejarahnya Bumi seperti ini.

Biasanya kan tiap hari selalu punya waktu buat dia sekedar kesal. Menyebalkan sekali.

Saat membuka pintu Kafe dan lonceng berbunyi, netra Langit langsung pada Bumi yang juga nengok padanya. Langit memberikan lambaian dan segera memesan.

"Kenapa ke sini? Gak pulang lo?"

Langit mengambil kertas menu. "Mau nyemangatin paksu kerja," Dia tersenyum lebar.

Dua alis Bumi naik.

"Gue Ice Milk Taro ya?"

"Papa jemput?"

Dia menggeleng lalu menyerahkan buku menu tersebut. Bumi langsung menerimanya. Langit melihat kafe yang untungnya tidak terlalu ramai. Sore ini sepi. Paling ramenya abis maghrib.

"Biar gue anter. Lo duduk sana."

"Iya." Iya sih iya. Tapi kala Bumi sudah sibuk mondar-mandir bersama karyawan lain, dia hanya memperhatikan cowok itu. Bumi yang dengan ceketan membuat pesanannya.

Seperti biasa ada topi yang menutup kepal Bumi. Serta kaus kerja. Bumi kalau di sekolah dan kerja begini beda. Kalau saat seperti ini cowok itu tampak benar-benar sudah dewasa.

"Gue suruh duduk Munah. Bukan

Bengong di sini.

Bumi membawakan pesanan Langit dengan nampan. Dia mencari tempat yang akan buat Langit nyaman. Langit lekas ngikut.

"Mau pulang jam berapa?" Bumi menaruh minuman istrinya sedang Langit sudah duduk dengan tangan dilipat.

"Kalau nungguin lo pulang boleh?"

aja." "Gue pulang jam 11. Gak ada. Lo pulang

Langit cemberut.

"Abisin minumnya. Mumpung masih sepi. Gue antar balik."

"Ih gue kan baru duduk. Masa langsung diusir. Jahat lo."

Bumi menunduk dengan kedua tangan berasa di sisi meja. Ia mencondongkan badannya dan menatap lekat Langit. "Udah mau maghrib. Gue takut gak bisa antar lo kalau abis maghrib. Lo mau pulang sendiri?"

"Ya gak apa. Gue kan bisa naik gojek."

"Lo yang gak apa, gue yang khawatir.

Gimana kalau lo dibawa kabur? Ini udah malam Munah."

Langit mengulum senyum. "Cie ada yang khawatir."

"Ck."

"Gue kan masih mau ngobrol sama lo."

Bumi mengernyit, ia melirik sekitar memastikan sepi lalu duduk sebentar. "Mau ngomong apa?"

Langit malah diam. Iya mau ngomong apa ya? Dia hanya merasa aneh sedikit interaksi hari ini dengan Bumi.

"Hei. Malah diem." Bumi menjetikkan jarinya di depan wajah Langit. Gadis itu mengerjap dan nyengir.

"Bingung."

Bumi menyandarkan punggungnya dan melipat tangan. Dia menyipit. "Lo mau ngajak ngobrol tapi bingung? Gak cuman sekedar cari alasan habisin waktu sama gue kan?"

"Dih enggaklah. Pd banget lo."

"Kalau kangen gue bilang." Bumi menaikan kedua alisnya dengan senyum tertahan.

"Kangen? Apa itu kangen?"

Bumi mencondongkan wajahnya.

Tangannya mengacak puncak kepala Langit. "Gak dosa kok kangen gue sayang," bisiknya buat jantung langit langsung berdegup kencang.

"Ih apa sih." Langit membuang pandang arah lain. Dia mendekatkan minuman rasa taronya. "Gue cuman mau minta ajarin belajar." Entah kenapa malah alasan itu yang muncul.

Bumi menarik tangannya. "Biasanya minta Alden?"

"Fans Alden banyak. Gue mendadak di awasin," cebiknya. Mengadu.

"Udah gue bilang kalau ada yang tanya bilang kita pacaran."

"Gak ada bedanya. Mereka aja kepo berat karena lo posting kemarin."

"Itu pilihan lo. Mau dianggap dekat sama Alden atau jadian sama gue?"

Langit terdiam sesaat. "Gue rasa gak keduanya. Gue malas berurusan sama penggemar kalian berdua. Waktu itu aja kita pergi bareng gue udah diberondongi pertanyaan."

"Lo mau?" Langit nawarin minumannya. Bumi menggeleng.

"Buat lo aja."

"Eh gue lupa bayar."

"Gue yang bayar."

"Jangan. Lo kerja, malah gue habisin duit. Papa kasih jajan kok."

"Gue juga lagi kasih jajan istri sendiri. Gak boleh?"

Langit mengangguk. Dia menatap Bumi seakan ingin mengatakan sesuatu. "Em Bum?"

"Hm?"

"Lo juga gak salah paham kan soal semalam?"

Netra mereka bersitatap.

"Maaf ya? Gue beneran gak ada maksud gak jaga perasaan lo. Tante Elna narik gue gitu aja. Lo tahu gue sama Alden cuman teman."

"Kenapa dijelasin ke gue?"

"Hari ini lo aneh. Gue pikir lo juga marah."

Bumi memiringkan kepalanya. Bibirnya melengkungkan senyuman. Langit yang menjelaskan begini membuat perasannya menghangat. Kepalanya mengangguk.

"Sekalipun Alden bakal jadi siangan gue. Gue gak akan biarin siapapun rebut apa yang udah jadi milik gue, Qanita Langit Zoe."

"Walaupun dia sahabat lo?"

"Walaupun dia sabahat gue. Kalau hubungan kita sekedar pacaran gue akan mundur. Tapi posisinya lo istri gue."

***

"Beneran gak sekalian sholat di sini dulu?"

"Gue gak bisa lama. Bentar lagi Kafe bakal rame."

"Ya udah."

"Gue duluan. Besok ada tugas. Kerjain malam ini. Jangan nunggu besok di sekolah," pesan Bumi. "Lo sini dekat dulu."

"Ngapain?" Langit bingung tapi mendekat.

Bumi lalu membuka pengait helm Langit.

Langit membeku. Hal kecil tapi sekarang membuatnya merasa aneh.

"Ini helm karyawan Kafe. Jangan dibawa pulang dong."

Langit memberikan cengirannya.

Setelahnya tali helm itu digantung Bumi ke lengannya. Cowok itu bersiap pergi kembali. Tapi dia menatap Langit yang terus menatapnya.

"Munah?"

"Kenapa?"

"Kalau gue lihat-lihat ..."

Dua alis Langit naik.

Bumi tersenyum. Tangannya naik mengusap kepala Langit. Langit meremas

Tangannya yang mendadak dingin. "Kenapa?"

"Lo jelek."

Plak!

Langit memukul kesal lengan Bumi. Cowok itu tertawa puas. "Bye jelek." Ia mengedipkan matanya lalu melajukan motornya pergi.

"Dasar Bumi nyebelin lo!" teriaknya pada motor yang kian jauh itu.

***

"Mas, Mas yakin gak bilang Biru aja?"

Langit yang hendak ambil minum ke dapur, menghentikan langkah saat melewati pintu kamar orang tuanya. Pertanyaan Orlin membuatnya kepo.

"Pernikahan Langit masih dirahasiakan. Sebaiknya Biru gak perlu tahu."

"Tapi Mas. Biru menunggu Langit sekolah selesai untuk khitbah. Biru harus di kasih tahu kalau dia gak akan bisa menikahi Langit."

Deg!

Biru... ingin mengkhitbahnya?

"Nanti begitu langit lulus. Mas langsung beri tahu Biru."

"Itu artinya dia akan tetap dalam sebuah harapan Mas."

"Ini demi kebaikan Langit sayang. Kita tidak boleh memberi tahu pernikahan Langit, termasuk pada Biru yang udah menyampaikan niat baiknya."

Kakinya terasa lemas. Langit mendorong pintu kamar orang tuanya. Baik Ezhar dan Orlin menoleh kaget.

"Langit?"

"Kak Biru mau khitbah Langit?"

Orlin menatap Ezhar panik. Sedang Ezhar tampak lebih tenang. "Kak Langit-"

"Kenapa gak bilang ke Langit?" Dia menatap keduanya kecewa.

"Langit duduk di sini dulu."

Langit masih bergeming.

"Mama papa tahu Langit suka kak Biru."

Orlin menghela nafas. "Keadaan udah berbeda sayang. Kami sengaja menutupnya. Lagi pula kami gak setuju kalau kemarin Albiru ingin mengkhitbah kamu di saat baru kelas 3 SMA. Kami memintanya menunggu hingga kamu lulus, tapi karena kejadian waktu itu, kamu harus menikah dengan Bumi."

Dadanya sesak.

"Langit, duduk ya ngobrolnya?" ajak Ezhar lagi. Langit akhirnya menurut dan duduk di antara mereka.

"Kak Langit kesal?" Ezhar mengusap lembut rambut panjangnya.

"Langit kecewa."

"Papa ngerti. Sekarang dengerin papa dulu hm?"

Dia menatap Ezhar dalam diam.

"Sore kamu pulang-pulang hujanan waktu itu, Biru meminta kamu pada kami. Tapi, papa belum bisa lepas kak Langit. Kak Langit harus selesaikan sekolah dulu. Seengaknya kalau nikah nya sambil kuliah baru gak masalah."

"Biru setuju nunggu. Tapi Kak Langit, Qadarullah kita gak tahu gimana masa depan," Ezhar bertutur lembut. "Biru ternyata bukan jodoh kak Langit. Tapi Bumi."

"Kalau Biru jodohnya Kak Langit. Allah gak akan buat kamu dan Bumi menikah. kak Langit paham itu kan?"

"Tapi Langit masih suka Kak Biru. Padahal Langit udah punya Bumi."

"Sayang." Orlin mengenggam lembut tangan putrinya. "Perasaan sama Biru akan kalah dengan perasaan yang akan hadir untuk Bumi. Ingat kalian udah sah. Kakak hanya perlu belajar mencintai Bumi dan melupakan Biru."

Langit menunduk.

"Kak Langit menyesali pernikahan sama Bumi?"

Dia bergeming akan pertanyaan itu. Menyesal? Langit tidak menyesali hal tersebut. Hanya saja dia kecewa baru tahu akan niat baik Biru.

Entah karena di hatinya masih tersemat

Nama Biru.

"Apapun takdir yang kamu jalani hari ini, itu adalah hadiah terbaik Allah sayang. Sekarang kamu memang masih suka Biru, tapi mama yakin kamu akan melupakannya sejak kehadiran Bumi."

"Kak Langit. Jaga pernikahan kalian. Mama gak ingin hubungan kamu sama Bumi berantakan hanya karena kamu tahu Biru ingin mengkhitbah kamu. Kak Langit bisa kan?"

Dia menatap tatapan Orlin dengan anggukan pelan.

Orlin tersenyum lega.

"Papa mama sama dulu nikahnya gimana?" Langit tidak pernah bertanya sebelumnya, tapi kini dia tertarik. Kali aja ada sesuatu yang bisa dua pelajari dari kisah mereka kan?

"Dulu nikahnya udah kenal enggak?"

"Mama akan ceritakan semuanya. Gimana kita ngobrol di ruang baca?"

"Papa?" Langit menoleh pada papanya yang menggaruk tengkuknya.

dia." "Papa bakal malu kalau mama cerita depan

Langit mengerjap. Dia semakin penasaran. Orlin mengajaknya keluar kamar meninggalkan papanya.

Di ruang baca mereka duduk di dua kursi yang mengarah ke taman. Langit malam berbintang terlihat dari sana.

Indah

Dibanding keindahan langit malam, Langit langsung menatap mamanya penasaran.

"Kak Langit percaya gak kalau mama bilang dulu mama aja gak tahu udah nikah sama papa?"

"Loh kok bisa gitu Ma?"

"Mama dulu masih mahasiswa akhir. Ketemu papa yang jadi dosen baru eh ternyata udah jadi suami."

Langit tampak tertarik. Kemudian Orlin

Menceritakan semuanya. Kala Ezhar ternyata sudah menjabat tangan Faiz- papa Orlin atau kakek Langit dari pihak ibu- di rumah tanpa dia tahu. Awal pertemuan mereka yang tidak menyenangkan. Gimana sikap galak Ezhar hingga mereka berkahir salah bucin.

Untuk membuat Langit bisa belajar, Orlin juga menceritakan sisi hidup suaminya. Gimana kakek dan nenek dulu. Langit sudah dewasa untuk itu. Lagipula dia sengaja cerita karena putrinya sudah berumah tangga.

Pengalaman orang tuanya bisa jadi pelajaran bagi Langit untuk tahu keputusan apa yang akan dia diambil di situasinya kali ini. Tidak hanya itu, mengenal Ezhar yang masih memiliki perasaan ke masa lalunya di saat mereka menikah juga Orlin ceritakan.

"Papa memilih melupakan masa lalunya dan fokus mencintai mama. Kamu tahu sayang? Papa memiliki trauma akan orang tuanya dahulu. Papa tahu pedihnya menjadi korban broken home. Karena itu papa kamu gak mau itu terjadi sama dia. Papa ingin mempertahankan rumah tangga hingga akhir dan menjadikan keluarga kita hangat. Lihat

Sekarang. Gimana keadaan keluarga kita kan?"

Rasanya Langit ditampar akan kisah papanya sendiri. Dari mereka dia juga belajar, jika papanya memilih melupakan masa lalu untuk mencintai istrinya. Kenapa dia tidak mencontoh papanya?

Melupakan Biru untuk mencintai Bumi.

Lagipula dia juga tahu, Bumi memiliki latar belakang keluarga yang berat juga. Sama seperti papanya. Malah dia rasa Bumi lebih berat. Cowok itu tentu juga tidak ingin mengalami hal yang sama.

"Sejak kapan papa sayang mama?"

"Mama gak tahu pasti. Tapi perasaan tumbuh tanpa kita sadari sayang."

Ma?" "Apa perasaan bisa dipaksa seperti itu

"Bukan dipaksa kak langit. Tapi kalau hati kita sudah memutuskan untuk mencintai dia, kita bisa. Lagipula pernikahan itu di atas ridha Allah. Sangat mudah untuk saling mencintai, dengan tanda kutip, tidak hanya salah satu yang berjuang tapi berdua. Kalian harus sama-

Sama menumbuhkan perasaan."

"Di saat papa mencoba melupakan masa lalunya, mama juga berjuang buat bikin paра cinta sampai lupa pernah suka sama orang lain. Langit, kalau sudah nikah, gak ada salahnya mengerahkan segala cara untuk membuat hubungan di antara kalian semakin erat. Gak ada salahnya melakukan cara agar cinta di antara kalian hadir."

"Kak Langit udah dewasa. Kakak Langit pasti tahu maksud mama kan?"

Dia memberi anggukan.

"Temukan cara, habiskan waktumu untuk fokus mencintai Bumi dengan syarat kamu mencintainya setelah Allah. Jangan sampai cinta kamu kepada makhluk melebihi cinta kamu kepada Tuhanmu. Karena kalau sudah begitu akan ada kecewa yang kamu terima.

Allah Maha pencemburu."

"Apa kelak hubungan langit semanis mama papa?" Hubungan orang tuanya manis.

Mereka masih seperti sepasang pengantin yang baru nikah hingga saat ini. Keluarga yang dia rasakan juga hangat. Dia bahkan

Tidak menduga awal kisah orang tuanya juga penuh drama. Sepertinya dengan Bumi.

"Bisa. Kamu yang menentukan dari sekarang. Pilihanmu hari ini akan menentukan apa yang kamu dapat kelak.

Kalau kak langit masih fokus ke Biru, jangan berharap rumah tangga kalian baik-baik saja. Selain akan memberikan jarak di antara kalian, setan akan mencari celah untuk melakukan misi besarnya. Perceraian. Itu merupakan kesuksesan besar setan."

"Lagipula orang ketiga adalah pemicu rusaknya rumah tangga. Maka pastikan sayang, di dalam hanya kalian berdua. Tidak orang lain termasuk masa lalu."

Langit terdiam. Banyak hal yang dia dapat dari cerita orang tuanya.

"Hal pertama yang kamu lakukan adalah menerima. Terima Biru bukan jodoh kamu, kak. Terima takdir kamu adalah Bumi. Setelah kamu bisa menerima, kamu akan mudah untuk lupa Biru dan mencintai Bumi."

Netranya beralih melihat Langit malam. Bumi berkata akan buat dia jatuh cinta. Apa

Sudah saatnya dia membuka hati dan juga menjatuhkan perasaan pada Bumi? Suaminya?

Dengan begitu dia akan melupakan perasaannya pada Biru. Bahkan hilang kan?

Dia juga berjanji pada ibu gak akan ninggalin Bumi.

Kalau begitu kak Biru, Langit tutup perasaan yang pernah hadir ini.

Makasih kak Biru untuk rasa ini. Kak Biru nyatanya hanya singgah untuk kasih Langit pelajaran, bahwa sudah semestinya tidak jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pasti jadi jodoh kita. Karena nyatanya mencintai tapi tidak berujung hanya memberikan sebuah luka.

1
Sitilestari Ikhsan
kpn up ni lama
Akira Kun: kalau sudah update, berarti besok GK akan update lagi tunggu besok selanjut baru update, karena kurang peminat ya,
total 1 replies
Akira Kun
kalau seru jangan lupa like, ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!