transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ubah endingnya
Satu kalimat Silvi membuat semua orang ragu.
_"Kalau dia beneran mandul... kalian cerai hari ini juga. Tapi kalau dia enggak... berarti kalian udah fitnah istri sama cucu kalian sendiri selama 2 tahun."_
Kalimat itu kayak air es disiram ke muka. Bikin melek. Bikin mikir. Bikin malu.
Semuanya mulai jadi masuk akal. Vivian gak sepenuhnya salah. Mungkin. Mungkin dia berubah. Mungkin dia korban. Mungkin...
Pikiran mereka sendiri yang terlalu berlebihan selama ini. Terlalu percaya gosip. Terlalu makan hinaan. Terlalu nikmat melabeli Vivian "jalang" tanpa pernah cek fakta.
Hening. Lama. Cuma suara bip monitor yang bunyi.
Setelah ditantang, akhirnya semuanya setuju. Wajahnya beda-beda. Bu Ratna lemas tapi ngangguk, ada setitik harapan di matanya. Chindy masih sinis, tapi diem. Bibirnya ditekuk, tapi gak ngebantah. Cika nelen ludah, natap Eric.
Eric... Eric gak ngomong. Dari tadi. Dia cuma natap Silvi sekilas. Dingin. Dalem. Kayak mau ngupas isi kepala Silvi. pandangan beralih ke arah Vivian. Satu detik. Cuma satu detik. Tapi di satu detik itu ada sejuta perang.
Akhirnya dia ngangguk. Pelan. Kaku. "Ke lab." ucapnya.
Eric ditemani ibu dan 2 adiknya pergi ke lab untuk periksa. Langkah mereka berat. Gengsi mereka lebih berat lagi. Bu Ratna jalan dipapah Cika, Chindy jalan paling belakang, masih dongkol. Eric di depan, punggungnya tegak, tapi tangannya ngepal di dalem saku jas.
Mereka akan betulan pastikan apakah Vivian bohong... atau merekalah yang salah paham selama 2 tahun ini.
Pintu ketutup. Ceklek.
Di ruangan tinggal menyisakan Silvi dan Vivian.
Hening lagi. Tapi beda. Kalau tadi hening tegang, sekarang hening canggung. Hening antara dua orang yang baru aja bongkar rahasia semesta.
Masih saling tatap gak percaya. Mata ketemu mata. Nafas sama-sama pendek. Jantung keduanya berdegup tak karuan, kayak abis lari dari kejaran debt collector.
Keberanian yang tadi muncul, yang bikin Silvi nyetel rekaman Doni, yang bikin dia nantang keluarga Wijaya... tiba-tiba hilang. Lenyap. Ngumpul di ubun-ubun, terus nguap.
Sekarang tinggal dua cewek. Capek. Takut. Beneran takut.
Vivian duluan yang mecah suara. Suaranya serak, kecil. "Silvi... kamu bukan dari sini? Sama seperti aku?"
Pertanyaannya ngegantung di udara. Berat.
Vivian natap Silvi lekat-lekat. Semua-nya jadi terasa berkaitan. Dari mulai 3 perempuan simpanan Doni yang bahkan gak disebutin di buku. Sampai barusan, Silvi tentang semua orang dengan bukti, dengan logika, dengan ketenangan yang gak manusiawi. Jauh berbeda dari novel yang ia baca. Di novel, gak ada adegan Silvi-nya di bagian rumah sakit ini. Gak ada. Silvi di novel cuma muncul pas pemakaman Vivian, terus mati kecelakaan.
"Aku penulis novel ini," sahut Silvi datar.
Suaranya tenang. Tapi efeknya kayak petir.
Vivian kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Matanya membesar. Mulutnya mangap. Selang infusnya sampe goyang. "Hah?"
Otaknya nge-lag. Penulis? Penulis novel "suami mandul sang dokter"? Penulis yang dia hujat 300 kali di kolom komentar?
"Gimana... gimana kamu bisa masuk ke sini?" tanya Silvi lagi. Sekarang gantian dia yang nanya. Matanya nyelidik, tapi ada penasaran di situ.
"Aku gak ingat jelas," Vivian jawab, masih syok. Dia nyoba ngumpulin kepingan memori. "Tapi setelah aku kirim komen 'Vivian bego'... aku langsung bangun di tempat ini, di ruang tengah rumah Wijaya."
Dia jelasin. Suaranya pelan.
Silvi membolakan matanya. Kaget sekaligus gemas. Ekspresinya campur aduk. "Jadi... jadi kamu si 'manis' yang komen 'Vivian bego' sampai 300 kali? Yang bikin notifikasiku bunyi semaleman? Yang spam 'tinggalin Doni woi', 'mandul kok dipertahanin'?"
Tanyanya mengintrogasi. Nada-nya naik satu oktaf. Tapi ada geli di ujung suaranya.
Vivian ngangguk dikit, malu. Tangannya refleks nggaruk tengkuknya yang gak gatal. "Iya... hehe..."
"Sukurin!" sahut Silvi sambil ketawa puas, Keras banget sampe gema di ruangan. "Kamu selalu rutuk karakter Vivian, akhirnya kamu jadi Vivian beneran! Karma is real, Bestie! Makanya jangan asal ngehujat karakter fiksi!"
Vivian cemberut. "Ya habisnya gemes sih. Dongo banget asli di novel."
"Tapi lu lebih dongo," Silvi nyengir. "Masuk sendiri ke neraka yang lu ciptain."
Mereka diem sebentar. Ketawa tadi ngelepas tegang. Tapi realita balik lagi, tampar pipi mereka bebarengan.
"Terus kamu ngapain di sini?" Vivian balik bertanya. Serius lagi. "Penulis ngapain masuk ke novel sendiri?"
Silvi diem. Senyumnya ilang. Dia narik kursi, duduk di samping ranjang Vivian. Natap lurus ke depan, ke arah dinding putih. Kayak ngumpulin kata-kata.
"Sebetulnya," katanya pelan, " Silvi bukan cuman tokoh figuran di novel ini. Vivian dan silvi, mereka punya jalan hidup masing-masing, dan kedua novel ini berhubungan."
Vivian nelen ludah.
"Silvi meninggal bukan karena kecelakaan," lanjut Silvi. Suaranya makin pelan, tapi jelas. "Dia dibunuh."
Vivian kaget. "Dibunuh? Sama siapa?"
"Belum tau. kalo di naskah silvi mati ketabrak truk pas mau ke pemakaman, Tapi di sini... beda, Ada yang ngubah alurnya, silvi dia dibunuh sengaja."
"Jadi maksudmu kita sama-sama tokoh figuran dari 2 novel berbeda yang meninggal tragis?" Vivian panik. Jantungnya mau copot. Tangannya refleks nyengkeram, guncang-guncang bahu Silvi. "Kita bakal mati? Aku bakal mati lagi?!"
"Iya," Silvi jawab Jujur. Gak ada yang dibungkus. "Di ending asli, Vivian mati kelelahan setelah ditinggalin Doni. Silvi meninggal setelahnya. Tamat. Sad ending, begitu juga novel silvi, endingnya bakal tetap begitu."
Vivian lemes. Bersandar ke bantal. "Terus... terus kenapa kamu di sini?"
"Tapi kamu bikin alur novel ini berubah," sahutnya. Silvi natap Vivian, dalem. "Vivian tiba-tiba mau berubah? Pukul balik Doni? Masak ayam lada hitam? Itu gak ada di skrip. Itu... kamu yang ubah. Pembaca yang masuk novel."
"Terus?"
"Terus bikin alur Silvi di novelnya gak bisa sama lagi. Butterfly effect. Satu berubah, semua geser. Itu yang bikin aku ketarik masuk ke dunia ini juga. Sistem-nya error."
Masih teringat jelas di pikirannya. Malam itu seperti malam biasa. Silvi duduk di depan komputer, di apartemennya di Jakarta. Jam 2 pagi. ngejar deadline, Dia lagi ngetik bab pemakaman Vivian. Nangis-nangis, soalnya dia sayang sama karakter Vivian meskipun nulisnya nyebelin.
Terus tiba-tiba... komputernya nyala sendiri. Ngetik sendiri.
_Vivian: Gue gak mau mati. Gue mau lawan._
Teks itu muncul di layar, padahal dia gak ngetik. Terus ruangan berputar. Layar komputer nyedot kayak lubang hitam. Lubang dimensi kebuka. Dan dia ditarik masuk. Bangun-bangun, udah jadi Silvi. Sahabat Vivian. Dengan semua memori Silvi asli + memori penulis.
"Lalu gimana caranya bisa kembali ke dunia nyata?" tanya Vivian lagi. Napasnya cepet. Panik. "Ada portal? Ada mantra?"
"Kita harus ubah akhir cerita Silvi dan Vivian," jawab Silvi. "Mereka gak boleh mati tragis di novel. Kalau ending mereka selamat, bahagia, lubang dimensi bakal kebuka lagi. Kita bisa pulang."
Vivian diem. Mikir. "Tapi... gimana caranya?"
silvi narik nafas panjang, "aku cuman bisa lindungin kamu sampai sini," lanjutnya. Silvi menatap mata Vivian. Dalem. Tulus. Seolah bicara semangat, ngasih transfer kekuatan. "Kasus Doni udah beres. Reputasi mu udah aku bersihin. endingnya gak bakal bikin kamu mati, Keluarga Wijaya udah mulai goyah. Sisanya... kamu selesain masalahmu sendiri. Sama Eric. Sama Chindy. Sama trauma itu."
Vivian mau nangis. "Kamu mau kemana?"
Silvi senyum. Sedih. "Aku harus kembali ke 'novel'ku. Ke alur Silvi. Aku harus rubah nasib Silvi tragis yang meninggal karena dibunuh. Aku harus cari tau siapa pembunuhnya sebelum dia bunuh aku."
Dia berdiri. Ngusap kepala Vivian pelan. "yang kuat, Vi. kamu udah buktiin kamu bisa ngubah jalan cerita. Sekarang tinggal ending kamu sama Eric. Bikin hadi happy ending. Biar kita bisa pulang bareng."
mereka terlanjur ada di dunia ini, menyerah untuk ending tragis seperti aslinya?, atau semangat untuk ngubah semuanya.