Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Suasana di dalam SUV hitam yang biasanya bising oleh ocehan Aurora, tiba-tiba berubah mencekam. Jika tadi pagi Aurora adalah matahari yang bersinar 1000 persen, sore ini ia tampak seperti awan mendung yang siap menumpahkan badai. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap jalanan Jakarta yang macet dengan pandangan kosong.
Mayang, yang duduk di sampingnya, merasa ada yang tidak beres. Ia melirik Aurora berkali-kali. Biasanya, jam-jam pulang seperti ini adalah waktu Aurora untuk mengulas setiap detik interaksinya dengan Langit. Tapi sekarang? Sunyi senyap.
"Ra?" panggil Mayang hati-hati.
Aurora hanya berdehem pendek tanpa menoleh. "Hmm."
"Ra, lo oke? Tadi pas closing foto terakhir lo bagus banget, tapi kok sekarang mukanya kayak habis nelan cuka?" Mayang mencoba mencairkan suasana. "Tadi klien puas banget lho. Harusnya lo seneng."
Aurora memejamkan matanya rapat-rapat. Guratan rasa sakit muncul di dahinya. "Kak. Diem. Pinggang aku sakit banget. Rasanya kayak lagi dipatahin pakai tang," desisnya dengan suara serak.
Mayang terdiam sejenak, lalu matanya membelalak menyadari sesuatu. Ia mendekat dan berbisik pelan. "Loh, kamu... dapet? Hari pertama?"
Aurora mengangguk lemah, tangannya meremas ujung dress-nya. "Iya. Tadi pas ganti baju terakhir baru kerasa. Aku nggak mood. Tolong jangan ajak aku ngomong dulu ya, Kak. Plis. Kepala aku juga mau pecah."
Mayang langsung mengunci mulutnya. Ia tahu benar, Aurora Widjaja saat sedang menstruasi adalah sosok yang paling berbahaya di rumah itu. Sifat cerianya bisa menguap dalam sekejap, digantikan oleh emosi yang meledak-ledak dan sensitivitas setajam silet.
Di kursi kemudi, Langit melirik melalui kaca spion tengah. Ia melihat Aurora yang biasanya tidak bisa diam kini meringkuk lemas. Ada rasa janggal yang menyusup di dada Langit melihat "badai tropis" itu mendadak padam. Namun, sesuai karakternya, ia tetap diam dan fokus mengemudi, mencoba melibas kemacetan secepat mungkin agar sang putri majikan bisa segera beristirahat.
Begitu mobil berhenti sempurna di halaman rumah, Langit baru saja hendak mematikan mesin dan turun untuk membukakan pintu penumpang. Namun, belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu mobil, pintu belakang sudah terbuka dengan kasar dari dalam.
BRAK!
Pintu mobil tertutup dengan dentuman keras. Aurora keluar dengan langkah yang dihentak-hentakkan, meski wajahnya pucat pasi.
Pak Bambang dan Bintang yang sedang berjaga di teras depan langsung berdiri tegak. Mereka terkejut melihat reaksi Aurora yang tidak seperti biasanya.
"Sore, Non Aurora. Gimana kerjanya hari ini? Lancar?" tanya Pak Bambang dengan senyum ramah seperti biasanya.
"Biasa aja," jawab Aurora singkat, tanpa menoleh, suaranya dingin menusuk tulang.
Bintang, yang masih baru dan ingin menunjukkan keramahannya, mencoba ikut menyapa. "Loh, Non Aurora kenapa? Mukanya kok pucat, capek ya Non? Perlu saya bantu bawakan tasnya?"
Langkah Aurora terhenti tepat di depan pintu utama. Ia berbalik dengan tatapan mata yang bisa membunuh orang di tempat. "Bintang, kan? Denger ya. Jangan ada yang ajak aku ngomong. Satu kata pun jangan."
Aurora membungkuk, melepas sepatu heels mahalnya dengan kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai marmer. Klap! Klap! Suara sepatu yang beradu dengan lantai bergema di lorong depan.
"Ini juga heels! Repot banget sih! Kenapa juga perempuan harus pake ginian kalau cuma buat bikin pinggang mau copot!" gerutu Aurora setengah berteriak.
Pak Bambang dan Bintang hanya bisa mematung, saling lirik dengan wajah bingung. Mereka belum pernah melihat Aurora semarah ini tanpa alasan yang jelas di depan mereka.
Langit muncul dari belakang, membawakan beberapa tas belanjaan milik Aurora yang tertinggal di mobil. Ia berdiri di dekat Pak Bambang, matanya menatap sepatu yang tergeletak berantakan di lantai.
"Ada apa dengan Non Aurora?" tanya Pak Bambang pada Langit dengan suara rendah.
"Sepertinya sedang tidak enak badan, Pak," jawab Langit singkat.
"Bukan nggak enak badan lagi, Pak Bam," sahut Mayang yang baru saja menyusul dengan napas terengah-engah. "Lagi 'tamu bulanan' hari pertama. Hormonnya lagi perang dunia ketiga. Mending jangan ada yang deket-deket kalau nggak mau kena semprot."
Mayang memungut sepatu Aurora yang berserakan. "Mas Langit, tolong bawain tas-tas itu ke kamar Aurora ya. Tapi taruh di depan pintu aja, jangan diketuk, jangan dipanggil. Taruh terus lari, kalau Mas nggak mau dijadikan sasaran tembak."
Langit terdiam melihat sepatu-sepatu itu. Ia mengangguk pelan. "Baik, Mbak."
Di lantai atas, Aurora sudah berganti pakaian dengan kaos kebesaran dan celana pendek. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur, meringkuk seperti bayi sambil memeluk bantal guling. Rasa nyeri di perut bawahnya benar-benar tidak tertahankan.
Tok tok tok.
Suara ketukan pelan di pintu kamarnya membuat Aurora mengerang. "KAN TADI AKU BILANG JANGAN ADA YANG GANGGU!" teriaknya dari dalam kamar, suaranya teredam bantal.
Tidak ada jawaban suara, tapi pintu kamarnya terbuka sedikit. Aurora sudah siap melempar bantalnya, namun ia tertegun saat melihat siapa yang masuk.
Bukan Mayang. Bukan Haura.
Tapi Langit.
Pria itu masuk dengan langkah sangat pelan, membawa nampan di tangannya. Di atas nampan itu ada segelas air hangat dan sebuah botol kompres air panas ( hot water bag ) yang dibalut kain lembut.
"Keluar, Mas Langit," ucap Aurora, suaranya melemah, amarahnya tiba-tiba surut melihat wajah kaku itu lagi. "Aku lagi nggak mau godain Mas. Aku lagi sakit banget."
Langit tidak bicara. Ia berjalan mendekat ke pinggir tempat tidur, lalu meletakkan nampan itu di meja nakas. Ia mengambil botol kompres hangat dan menyodorkannya pada Aurora.
"Pak Bambang bilang, ini bisa sedikit mengurangi nyeri pinggang," ucap Langit datar, namun nada suaranya tidak sedingin biasanya.
Aurora menatap botol itu, lalu menatap Langit. "Mas... Mas nyiapin ini buat aku?"
"Hanya menjalankan tugas, Non. Memastikan penghuni rumah sehat," jawab Langit, kembali ke jawaban andalannya. "Minum juga air hangatnya. Mbak Mayang sedang menyiapkan obat di bawah."
Aurora menerima botol hangat itu dan mendekapnya di perut. Rasa hangatnya mulai menjalar, memberikan sedikit kenyamanan. Ia menatap punggung Langit yang hendak berbalik pergi.
"Mas," panggil Aurora pelan.
Langit berhenti. "Iya, Non?"
"Maaf ya... tadi aku marah-marah di bawah. Aku cuma... rasanya mau mati aja saking sakitnya," gumam Aurora, matanya mulai berkaca-kaca—efek samping lain dari hormon yang berantakan.
Langit membalikkan tubuhnya sedikit. Ia menatap gadis yang biasanya penuh energi itu kini tampak sangat rapuh. Untuk pertama kalinya, Langit memberikan reaksi yang tidak pernah Aurora duga.
Pria itu berjalan mendekat satu langkah, lalu menaruh tangannya di ujung tempat tidur. "Istirahatlah, Non. Tidak ada yang marah. Kami tahu Non sedang lelah."
Aurora tersenyum tipis, senyum yang tulus meski bibirnya pucat. "Mas nggak takut kena semprot aku lagi?"
"Saya sudah terbiasa menghadapi tembakan di lapangan, Non. Teriakan Non tidak sebanding dengan itu," jawab Langit, dan jika Aurora tidak salah lihat, ada sedikit tarikan kecil di sudut bibir Langit—hampir menyerupai senyuman, meski sangat samar.
"Mas... tadi itu Mas senyum ya?"
Langit langsung kembali ke ekspresi kaku. "Tidak, Non. Mungkin karena cahaya lampu. Saya permisi dulu."
"Mas bohong! Mas senyum tadi!" Aurora mencoba bangkit duduk, meski pinggangnya langsung protes. "Mas Langit senyum karena kasihan ya sama aku?"
"Silakan tidur, Non Aurora," Langit berjalan cepat menuju pintu, seolah-olah ia baru saja melakukan kesalahan besar dengan menunjukkan sedikit empati.
"Mas! Besok tetep anterin aku ya!" teriak Aurora saat Langit sudah di ambang pintu.
Langit berhenti sejenak, tanpa menoleh. "Jika Bapak memberi izin. Selamat istirahat."
Setelah pintu tertutup, Aurora kembali merebahkan dirinya. Ia memeluk botol hangat dari Langit erat-erat. Rasa sakit di perutnya masih ada, tapi hatinya merasa jauh lebih baik. Si ajudan kaku itu ternyata punya sisi lembut di balik seragam hitamnya.
"Target terdeteksi punya hati," gumam Aurora sambil tersenyum kecil sebelum akhirnya matanya perlahan menutup, menyerah pada rasa kantuk dan efek air hangat.
Di luar pintu, Langit berdiri sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Ia tidak mengerti mengapa melihat Aurora kesakitan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Cegil," bisiknya pada diri sendiri, lalu melangkah pergi menuju paviliun dengan langkah yang jauh lebih cepat dari biasanya.