Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 8
waktu terus bergulir, persiapan pernikahan yang begitu singkat sudah siap.
Nampak beberapa mobil mulai memasuki gerbang pondok.Mulai dari mobil biasa, hingga mobil mewah terlihat mengantri masuk ke dalam pondok pesantren.
Gus Ilham,Gus Malik, Ustadz Yusuf, Arkana, Naufal dan Gus Akbar suami dari Ning Zulva sudah berjejer rapi menyambut para tamu.
Mulai dari para Kyai,Guru dan Ustadz hingga keluarga besar dari pihak Al dan Altheza sudah datang.
"Assalamu'alaikum Gus Yai.." Salam salah satu Kyai sahabat Gus Ilham
"Wa'alaikumsalam Kyai Nur.Terimakasih sudah menyempatkan hadir, mohon maaf undangan dadakan."
Kyai Nur tersenyum hangat, ia mengerti maksud Gus Ilham namun dirinya tak ingin banyak bertanya tentang apa yang terjadi.
"Semendadak apapun, kalau saya sedang sehat wal afiat InsyaAllah kalau undangan dari Gus Kyai pasti saya akan usahakan hadir." Ucapnya dengan tawa kecil.
Terlihat juga beberapa orang menyapa Gus Ilham dan yang lainnya.Hingga tiba saat seorang pria paruh baya datang menghampiri Gus Ilham yang di ikuti beberapa orang di belakangnya yang membawa bebeapa hantaran.
"Assalamu'alaikum Kyai.. " Ucap salamnya.
"Wa'alaikumsalam,Tuan Akhtar selamat datang di pondok kami." Jawab Gus Ilham
Tuan Akhtar mengangguk dengan senyum hangat, namun di dalam bola matanya terdapat rasa segan dan rasa bersalah.
"Kyai,atas nama anak saya.Saya memohon beribu-ribu maaf pada Kyai dan keluarga, terutama pada gadis yang sudah Arka sakiti."
Gus Ilham mengangguk singkat. "Sudah lah Tuan Akhtar, semua ini adalah Takdir dari Allah SWT. Kita serahkan semua pada sang Pemilik Nyawa, semoga ada Hikmah dari ini semua."
Di kamar, Alyana sedang bersiap di bantu para sepupu dan juga aunty nya.Tak ada gaun mewah, hanya pakaian akad berwarna putih sederhana sesuai permintaan Alyana.
"Aunty Va.." Panggilnya pada Zulva.
"Iya mbak? Mbak aya mau sesuatu?Minum?"
Alyana menggeleng pelan, matanya melihat wajah sang aunty dari pantulan kaca di depannya.
"Boleh Alya pakai niqab untuk acara ini?" Bisiknya nyaris tak terdengar.
Zulva tertegun,ada rasa haru dan sedih yang bercampur jadi satu. "Boleh sekali mbak,mbak Aya yakin mau pakai niqab acara akad nanti? "
Alyana tak bersuara, namun dari sorot matanya Zulva bisa melihat kesungguhan dari sang keponakan.
Zulva seolah mengerti kegundahan Alyana, ia kemudian mengambil sebuah Niqab putih yang ternyata sudah tersedia di atas meja.
"Mbak Aya yakin, sayang?" Tanya Zupva memastikan kembali
"Bismillah, yakin Aunty."
Zulva mengangguk, perlahan tangannya meletak kan kain niqab di wajah Alyana.Terlihat sederhana dan semakin menambah kecantikan Alyana.
"MasyaAllah mbak Aya.." Ucap Zahira, sepupu Alyana.
"Umi, mbak Aya cantik sekali." Lanjut Ammar anak bungsu Zulva
"Iya, Umi..Mbak Aya kalau pakai cadar cantiknya semakin bertambah." Ucap Arsyad, anak sulung Zulva ikut menimpali.
"Hilih, kamu biasanya diem-dien bae gak pernah ikut nimbrung. Eh kalau liat yang cantik aja, langsung nimbrung." Ledek Zahira.
"Iya,mas Arsyad biasanya gak pernah ikut ngomong.Sekarang malah bilang Mbak Aya cantik. Istighfar mas, Mbak Aya udah mau punya suami." Ucap Ammar ikut menggoda sang kaka.
Namun Arsyad malah terlihat cuek.Entah kenapa saat melihat sang kaka sekarang yang terlihat begitu cantik, rasanya ia ingin ikut berkomentar. Padahal biasanya dirinya akan terlihat cuek.
"Ingat Mas... mas baru kelas satu SMP, belum cocok kenal yang cantik-cantik." Goda Zahira kembali.
"Sudah..sudah.. kalian ini kalau lagi kumpul pasti saja ribut." Lerai Zulva. " Udah ah, Mas Arsyad sama dek Ammar mending ikut abi saja di luar, sana."
"Mbak Aya nya mau siap-siap dulu, gak boleh di ganggu!" Lanjut Zulva meminta kedua anak laki-laki nya itu untuk keluar.
Ammar dan Arsyad berdiri, kemudian bersiap keluar kamar. Namun langkahnya terhenti, Ammar menoleh sebentar pada kakaknya. "Mbak Aya.." Lirihnya.Matanya mendadak berkaca-kaca menatap Alyana.
"Nanti kalau sudah nikah, jangan lupa sama Ammar ya. Ammar masih mau main dan belajar sama Mbak Aya." Lanjut Ammar dengan suara bergetar
Suasana berubah hening,Alyana membeku, ada rasa sesak di dadanya.Nafasnya tercekat, lidahnya terasa kelu.Suaranya seolah hanyut terbawa angin membuat Alyana hanya bisa mengangguk pelan.
Rasanya begitu berat untuk berjanji, karena ia takut tak bisa menepatinya.Jangankan untuk mengajak main atau mengajarkan Ammar belajar, untuk dirinya sendiri pun ia tak tau akan seperti apa.
Apakah mimpinya akan berhenti sampai disini?
.
.
Jika suasana kamar pengantin perempuan begitu hening, lain hal dengan keadaan di ruang keluarga.Suasana nampak begitu ramai di hiasi gelak tawa keluarga besar Arka.
Ada para Uncle dan Aunty yang sejak tadi menggodanya.
"Ka,Uncle kasian banget deh sama calon istrimu."
"Memangnya kasian kenapa? " Tanya Arka
"Ya kasian harus nikah sama kamu, cowo yang katanya buaya jadi-jadian." Ucap Uncle Fathir.
Arka melotot mendengarnya."Buaya paan.Uncle tuh ya kalau ngomong suka seenaknya. Mana ada aku Buaya, aku tuh laki-laki setia tau."
Fathir tersenyum mengejek. "Yakin setia? Ko rasanya Uncle kurang percaya ya."
Arka mendelik tak suka."Terserah Uncle,yang penting Uncle bahagia aja."
"Ciee... calon nganten marah nih ye." Ledek Fathir dan Fani membuat semuanya ikut tertawa.
Tuan Akhtar yang sejak tadi diam kemudian memanggil Altheza, Arka dan Fara untuk mendekat.
"Arka, apa kamu sudah siap?" Tanya Tuan Arka.
Arka terdiam,di antara semua keluarganya. Hanya kakek nya lah yang paling ia takuti. "Ee.. "
Tuan Arka menghela napasnya pelan. "Arka,kakek tau ini semua karena ketidak sengajaan.Tapi tetap saja perbuatanmu tidak di benarkan, dan kamu siap tidak siap harus tetap bertanggung jawab" Ucapnya tegas.
Arka menunduk. "Iya Kek, Arka siap."
"Arka, pesan Kakek cuma satu. Jangan kecewakan kami,yang kamu nikahi gadis dari keluarga terpandang. Dia seorang Ning, dan kamu pasti tau apa artinya. Jadi kakek mohon nanti setiap kamu melakukan perbuatan, ingatlah segala konsekuensinya yang akan kamu dan istrimu terima nanti."
Arka mengangguk, saat ini dirinya hanya bisa pasrah dengan semuanya.
"Althez,sudah di siapkan untuk maharnya? Buya tidak ingin kamu menyepelekan mahar untuk cucu Kyai. Jangan buat Buya malu, Buya mengenal dengan baik Kyai Ilham,istrinya dan juga Alfath. Mereka keluarga terpandang."
"Iya Buya, Fara dan Mas Altheza sudah menyiapkannya. InsyaAllah tidak akan menyepelekan,"
"Baiklah Buya percaya."
Tak lama adzan magrib berkumandang.Para laki-laki sudah bersiap untuk sholat berjamaah di mesjid dalam pondok pesantren tersebut.
"Mas..." Alisya mengusap pelan pundak Al yang sejak sore hanya berdiam di kamar. Pandangannya menatap kosong ke area luar, pikirannya sungguh kacau.
"Mas, sudah magrib. Mas tidak ke mesjid? " Tanya Fara lembut.
Al hanya mengangguk,wajahnya menoleh ke arah sang istri.Dan Alisya yang faham langsung memeluk sang suami dan mengusap punggungnya lembut.
"Aku udah gagal bun," Lirih Al "aku gagal jaga anak kita" Lanjutnya dengan suara serak.
"Ayah gak gagal ko, justru Ayah udah berhasil mendidik Alya untuk jadi gadis yang kuat."
"Tapi ayah belum siap bun, ayah belum siap kehilangan Alya."
Alisya bisa merasakan tubuh Al bergetar,suaranya teredam tangis yang mulai pecah.
"Bukan kehilangan Yah, Alya tidak kemana-mana. Alya masih akan tetap menjadi Alya kita, hanya kewajibannya saja yang bertambah tapi beberapa hal akan tetap sama. Alyana tetap putri kita."
"Ayah sakit bun,sakit..liat Alya nangis kaya tadi. Aku ngerasa sudah menjadi Ayah yang paling buruk."
Alisya semakin mengeratkan pelukannya. "Berhenti menyalahkan diri mas,Sya udah liat mbak Alya sudah mulai bisa menerima jadi Sya mohon jangan membuat Alya kembali sedih dengan melihat mas seperti ini." Ucap Alisya. "justru di antara semua, kita lah yang harus paling kuat agar Alya juga bisa kuat dan lebih ikhlas menerima semuanya."
Al terdiam, tangisnya sudah sedikit mereda.Dadanya sedikit lega setelah menangis barusan.
"Alisya percaya Allah punya rencana yang begitu indah untuk anak kita.Jadi Sya minta,jadilah Ayah yang kuat untuk Alya. Tunjukan pada Alya bahwa ini bukanlah akhir dari semuanya, buat Alya yakin jika ini adalah awal menuju dunia yang lebih indah." Lanjut Alisya membuat Al sadar, benar apa yang di katakan sang istri. Diantara semua, harusnya..dirinya lah yang paling kuat dan memberi semangat pada sang anak.
Karena bagi seorang anak perempuan, kekuatan terbesar dalam hidupnya yaitu dari seorang Ayah.
...🌻🌻🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.