Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Keesokan harinya, langit tampak mendung ketika Jaksa Wu tiba di kediaman keluarga Zhou. Rumah besar itu berdiri megah namun terasa dingin dan sepi.
Seorang pelayan membukakan pintu dan mengantarnya ke ruang tamu. Di sana sudah duduk Nico dan Catty. Tak lama kemudian, Jeff Zhou juga masuk dan mengambil tempat di sisi sofa.
Jaksa Wu berdiri tegak sebelum memperkenalkan diri.
“Saya adalah Jaksa Wu,” katanya dengan suara formal. “Kasus Jessica Zhou akan kami ambil alih. Berkasnya telah sampai ke meja Pengadilan Tinggi Provinsi dan akan ditangani oleh Hakim Li.”
Nico yang semula bersandar langsung duduk tegak. Catty menatap tajam.
Jeff sedikit mengernyit.
“Jaksa Wu… maksud Anda, kalian akan mulai menyelidiki ulang kasus ini?” tanyanya hati-hati.
“Benar,” jawab Jaksa Wu tenang. “Sebelum berkas disetujui, kami harus memastikan beberapa hal.”
Wajah Catty langsung memerah oleh emosi.
“Apa lagi yang harus dipastikan?” suaranya meninggi. “Anak durhaka itu sudah dimanjakan sejak kecil. Dia pasti menyimpan niat jahat pada orang tua sendiri!”
Nico mengangguk keras. “Bukti sudah lengkap. Polisi sudah menyelidiki. Hakim sudah memutuskan. Jalankan saja hukumannya.”
Ruangan itu terasa panas oleh kemarahan.
Jeff yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Nada suaranya lembut namun terdengar ragu.
“Nico, Catty… lebih baik kita bekerja sama dengan Jaksa Wu,” katanya pelan. “Mungkin saja… seperti yang pernah dikatakan Jessica… dia bukan pelakunya.”
Catty menoleh tajam.
“Paman masih membelanya?”
Nico menggeleng dengan wajah keras.
“Paman, kami tahu Anda sangat sayang dan percaya padanya. Tapi bukti sudah di depan mata. Kami tidak bisa pura-pura tidak percaya.”
Jaksa Wu mengamati semuanya dengan tenang—reaksi cepat, kemarahan yang meledak, dan sikap masing-masing.
“Kami hanya menjalankan prosedur,” ujarnya akhirnya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika memang tidak ada yang terlewat.”
“Kedatangan saya hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh Hakim Li,” ucap Jaksa Wu dengan suara tegas. “Masa kremasi jenazah ditunda sementara. Kita akan menunggu proses dari pihak pengadilan. Mohon kerja samanya.”
Ia membungkuk singkat, lalu berbalik meninggalkan rumah itu tanpa memberi ruang untuk perdebatan.
Pintu tertutup pelan.
Suasana ruang tamu seketika terasa lebih berat.
“Membuang waktu saja,” gerutu Catty kesal, tangannya menyilang di dada.
Nico berdiri dengan rahang mengeras. “Semua sudah jelas. Kenapa harus ditunda lagi?"
Jeff yang sejak tadi diam perlahan duduk kembali. Wajahnya tampak lelah.
“Nico, Catty…” suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. “Bagaimanapun juga, Jessica adalah adik kalian. Kalian tumbuh bersama sejak kecil. Apa tidak sebaiknya beri dia kesempatan untuk menjelaskan?”
Catty langsung menoleh tajam. “Menjelaskan apa lagi? Dia tertangkap di rumah itu! Senjata ada di dekatnya!”
“Dan orang tua kita sudah tidak ada,” tambah Nico dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Kami melihat akibatnya dengan mata kepala sendiri.”
Jeff menghela napas panjang, menatap lantai sesaat sebelum kembali berbicara.
“Kadang apa yang kita lihat belum tentu seluruh kebenaran,” katanya pelan.
“Paman masih percaya dia tidak bersalah?” tanya Catty, nadanya setengah tak percaya.
Jeff terdiam sepersekian detik sebelum menjawab. “Aku hanya… tidak ingin kalian menyesal suatu hari nanti.”
Nico akhirnya berkata pelan, “Kalau dia memang tidak bersalah… kenapa semua bukti mengarah padanya?”
***
Mobil Jaksa Wu melaju membelah jalan raya yang mulai lengang. Satu tangannya memegang kemudi, yang lain menekan tombol sambungan aman ke kantor pengadilan.
Di ruangan kerjanya yang tenang, Adrian Li menerima panggilan itu. Ia berdiri di dekat meja, menatap peta lokasi rumah keluarga Zhou yang terbentang di hadapannya.
“Tiga orang yang saya jumpa yang berharap Jessica segera dihukum mati adalah kedua kakaknya,” lapor Jaksa Wu dari balik kemudi. “Mereka langsung emosi saat aku menyampaikan penundaan kremasi.”
Suara mesin mobil terdengar samar di latar belakang.
“Apakah itu berarti mereka terlibat dalam perebutan warisan?” lanjut Jaksa Wu.
Di seberang sana, Adrian tidak langsung menjawab. Ia memutar pulpen di antara jarinya.
“Bagaimana reaksi Jeff Zhou?” tanyanya tenang.
“Dia justru meminta kedua kakaknya memberi kita kesempatan untuk memastikan ulang kasus ini,” jawab Jaksa Wu. “Di antara mereka bertiga, yang paling tenang justru dia. Yang paling keras menolak justru Nico dan Catty.”
Ia menatap kembali peta rumah Zhou.
“Aku akan ke lokasi kejadian,” katanya tegas. “Kita bertemu di sana malam ini.”
“Baiklah,” jawab Jaksa Wu mantap.
Panggilan terputus.
***
Ruang kantor Hakim Chen tampak sunyi dan tertata rapi. Tumpukan berkas tersusun di atas meja kayu besar, sementara lampu meja menyinari lembaran putusan yang sedang ia telaah.
Hakim Chen duduk tegak, wajahnya serius, fokus pada detail kalimat yang ia baca.
Tiba-tiba—
Pintu ruangannya didorong terbuka tanpa ketukan.
Suara langkah tergesa terdengar memasuki ruangan itu.
“Segera jalankan hukuman mati pada Jessica Zhou!” ucap seorang pria dengan nada mendesak.
Hakim Chen mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya tajam, tidak menyukai gangguan semacam itu.
“Ini ruang kerja pengadilan,” katanya dingin. “Anda masuk tanpa izin.”
Pria itu berdiri di depan mejanya. “Kasus itu sudah jelas. Semua bukti lengkap. Tidak ada alasan untuk menunda,” lanjutnya.
Hakim Chen menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Eksekusi bukan urusan tergesa-gesa,” ucapnya tegas. “Selama berkas telah diajukan ke Pengadilan Tinggi Provinsi, keputusan akhir bukan lagi di tangan saya.”
Wajah pria itu menegang.
“Penundaan hanya akan menimbulkan spekulasi,” katanya lebih rendah. “Keluarga korban sudah cukup menderita.”
Hakim Chen menutup berkas di depannya dengan pelan.
“Justru karena ini hukuman mati,” katanya tenang namun penuh tekanan, “maka setiap prosedur harus dilalui dengan benar.”
Ia menatap lurus ke arah pria itu. “Tuan Zhou, jika Anda memiliki keberatan, ajukan melalui jalur resmi. Bukan dengan mendobrak pintu kantor saya.”
"Hakim Chen, anak anda masih belajar di luar negeri, biaya yang anda butuhkan tidak sedikit. Dan ... aku yakin anda juga berharap anak anda selamat," ucap pria itu dengan ancaman.