NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Malam Tanpa Doa

Malam itu, desa sepi. Tidak ada suara hewan, tidak ada angin, hanya hujan yang turun deras seperti tirai hitam. Rina berdiri di tengah jalan, tubuhnya basah kuyup, notebook dan buku ritual menempel di dada. Ia tahu—malam ini bukan malam biasa.

Warga desa telah berkumpul di balai tua, menyalakan lilin dan membuat lingkaran simbol di halaman. Mereka bergerak bersamaan, membaca mantra yang terdengar lebih sebagai komando daripada doa. Namun, wajah mereka pucat, gerakan mereka kaku, seolah tidak benar-benar sadar akan apa yang mereka lakukan.

Rina melangkah mendekat, mencoba berbicara dengan mereka, tetapi suara hujannya sendiri menelan kata-kata. Saat ia melangkah, tanah di bawah kakinya bergerak—lumpur basah beriak, membentuk huruf samar:

“AKU DATANG…”

Dari tanah itu, muncul bayangan yang lebih gelap dan besar daripada arwah sebelumnya. Sosok itu tidak bisa dikategorikan—tidak anak-anak, tidak wanita, tidak pria muda. Tubuhnya tinggi, lengan panjang, matanya menyala merah samar, dan dari mulutnya keluar suara desahan yang merobek telinga.

Warga desa berhenti membaca mantra. Mereka menatap makhluk itu dengan takut, namun tidak bergerak. Rina tahu satu hal: ini adalah arwah yang tidak boleh ditulis—yang tidak pernah dikubur, yang menunggu sejak awal desa ini berdiri.

Makhluk itu maju perlahan, tanah basah di sekitarnya beriak, simbol di lingkaran lilin mulai bergetar, dan hujan seolah menekan desa dengan seluruh kekuatan langit.

Rina memegang notebook, tangannya gemetar. Ia sadar: jika ia salah menulis nama ini, arwah itu akan bebas sepenuhnya dan desa akan hancur.

Ia membuka buku ritual, mencoba memahami simbol yang muncul di halaman terakhir. Buku itu menulis sendiri, huruf-huruf bergeser, membentuk satu kalimat yang menakutkan:

“HANYA ORANG YANG BERANI MENGHADAPI TANAH BASAH DAPAT MENAHAN AKU.”

Rina menelan ludah. Hujan deras menekan telinganya, bayangan arwah itu semakin dekat, dan tanah di sekeliling lingkaran lilin mulai retak.

Ia mengambil napas panjang, menulis satu simbol di notebooknya. Simbol itu muncul di tanah basah, bercahaya samar merah. Arwah itu berhenti, menatap simbol itu dengan tatapan penuh kebencian dan penasaran.

“Ini… baru permulaan,” bisik Rina.

Ia tahu malam ini, desa harus menahan arwah dengan ritual massal, tapi ia juga tahu, satu kesalahan kecil berarti segala usaha akan sia-sia, dan arwah yang tak tertulis akan mengambil semua yang ada di desa ini—bahkan nyawanya sendiri.

Bayangan itu menunduk sedikit, seakan menantikan gerakan selanjutnya dari Rina.

Hujan terus turun, deras, dan tanah basah menunggu… menunggu nama berikutnya yang akan ditulis.

Oke… kita lanjut ke Bab 16 – Arwah yang Memilih, di mana ketegangan mencapai puncak: arwah mulai menentukan siapa yang hidup, siapa yang tersiksa, dan siapa yang akan menggantikannya.

 

Arwah yang Memilih

Hujan turun deras, tetapi malam terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Desa sepi, kecuali suara air yang menimpa tanah basah, langkah-langkah Rina yang tercekat, dan bisikan arwah yang semakin intens di kepalanya.

Rina berdiri di tengah halaman balai tua. Lilin-lilin yang dinyalakan warga bergetar, cahayanya menimbulkan bayangan menakutkan di dinding rumah. Di sekeliling lingkaran ritual, tanah beriak, bergerak sendiri, dan dari dalamnya muncul sosok yang lebih besar daripada semua arwah yang pernah ia temui.

Tubuhnya tinggi, berbentuk manusia, tapi terlalu kurus. Matanya merah menyala, menatap setiap orang di lingkaran, termasuk Rina. Tanpa suara, makhluk itu mengangkat satu tangan, menunjuk tepat ke arah Rina.

Warga desa mundur beberapa langkah, gemetar.

Rina tahu—ini adalah arwah pemilih, arwah yang menentukan nasib hidup dan mati.

Dalam kepalanya terdengar suara yang bukan berasal dari makhluk itu, tapi langsung dari pikirannya:

"Siapa yang akan menulis… siapa yang akan memilih… siapa yang akan tersisa?"

Rina menelan ludah. Ia sadar malam ini, semua nama yang ia tulis sebelumnya hanyalah permulaan. Sekarang arwah menentukan siapa yang layak bertahan.

Tiba-tiba tanah di lingkaran retak, dan dari celah itu muncul bayangan anak-anak, wanita berambut panjang, dan pria muda—semua arwah yang telah ia tulis. Mereka menatap Rina dengan pandangan kosong, lalu secara bersamaan, suara mereka bercampur menjadi satu:

"Tuliskan… atau pilih… atau kau sendiri yang menjadi kami…"

Rina merinding. Ia mengambil notebook dan pena. Tangannya gemetar, napasnya tak beraturan. Hujan yang turun deras menekan pikirannya, tapi ia tahu satu hal: ia harus menulis, tapi bukan sekadar menulis nama—ia harus memilih dengan benar.

Ia menatap arwah pemilih. Sosok itu mulai bergerak, melintasi lingkaran, setiap langkah menimbulkan retakan di tanah basah. Dari retakan itu, suara anak-anak terdengar:

"Aku ingin pergi…"

"Aku belum selesai…"

"Kami lapar…"

Rina tahu mereka meminta pengakuan, permintaan terakhir sebelum mereka bisa tenang. Ia mulai menulis nama satu per satu, simbol demi simbol, dengan hati-hati mengikuti instruksi yang muncul di pikirannya.

Tapi ketika ia menulis nama terakhir, arwah pemilih menunduk, matanya menyala lebih terang. Suara bergemuruh terdengar di kepala Rina:

"Kau layak… tapi kau tidak bebas. Pilihanmu telah ditandai. Hujan ini akan menulis takdirmu sendiri."

Tiba-tiba, bayangan itu menghilang ke tanah, meninggalkan Rina sendiri di lingkaran ritual. Tanah beriak, simbol yang ia tulis memudar, dan lilin-lilin bergetar hebat. Hujan semakin deras, dan di kejauhan terdengar jeritan panjang arwah yang belum dipilih.

Rina terjatuh, napas tersengal. Ia tahu malam ini baru permulaan. Arwah telah memilihnya sebagai penulis terakhir—penghubung antara dunia hidup dan mati—dan setiap langkahnya ke depan akan menentukan siapa yang akan terselamatkan, dan siapa yang menjadi pengganti selanjutnya.

Dengan tubuh basah, gemetar, dan hati penuh ketakutan, ia menatap tanah basah di depannya. Malam itu, Rina benar-benar memahami: kutukan ini tidak akan pernah selesai… kecuali ia menemukan cara menulis akhir bagi semua arwah, termasuk yang pertama kali memulai semuanya.

Hujan turun deras, tetapi malam itu berbeda. Suara tetesan air terdengar seperti gong raksasa yang menghantam desa. Tanah basah di halaman rumah Rina beriak sendiri, membentuk pola yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lingkaran ritual dari malam sebelumnya tampak memudar, tapi bayangan arwah muncul lebih pekat, menatapnya dengan intens.

💚💚💚

Hai, para pembaca! Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini hingga akhir. Kalian keren karena tetap setia, bahkan ketika aku membuat tokoh-tokoh kadang bikin pusing.

Setiap komentar, pesan, atau sekadar senyum karena membaca ceritaku, membuat penulis ini makin semangat menulis. Tanpa kalian, cerita ini tidak akan terasa hidup.

Semoga kalian menikmati setiap halaman, tertawa, sedih, atau terharu, sama seperti aku saat menulisnya. Jangan berhenti membaca, karena kalian adalah alasan aku terus berkarya!

S

E

M

A

N

G

A

T membaca halaman selanjutnya penuh dengan ketenangan.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!