NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Tawa dan Kebebasan

Tidak terasa mereka tiba di halaman sebuah rumah kayu cukup besar. Beberapa lelaki berjaga di depan dan sebelah samping. Ada sebuah kereta tanpa kuda di samping rumah yang diapit beberapa pohon besar. Di sebelah belakang ada kandang kuda dan kebun.

Melihat keramaian datang, lelaki yang berdiri di sisi pintu rumah segera masuk. Lelaki berkumis bernama Hijan itu menghampiri seorang lelaki gemuk yang sedang duduk memandikan sebilah keris berukir bagus.

“Ki Lurah!” sebut Hijan.

“Ada apa, Hijan?” tanya lelaki berusia 44 tahun itu tanpa berpaling atau berhenti dari pekerjaannya.

“Karang dan yang lain datang bersama orang asing dan anak-anak pengacau desa ini!” lapor Hijan.

“Sampaikan agar menunggu!”

“Baik, Ki.”

Ki Lurah yang memelihara cambang agak panjang itu mengenakan pakaian serba hitam berhias sulaman benang hijau muda. Namanya Ki Galojo. Ia menyeka kerisnya dengan kain. Dari dalam dapur muncul seorang gadis remaja cantik berwajah mungil, rambutnya yang ikal diikat sebagian. Gadis berusia 15 tahun itu mengenakan pakaian kuning berbahan tebal dan bagus berhias sulaman merah bermotif bunga. Namanya Curaina, putri tunggal Ki Galojo.

“Ayah, ada banyak tamu,” kata Curaina yang melihat keramaian di depan dari belakang rumah.

“Iya,” kata Ki Galojo sambil menyarungkan kerisnya. Kemudian keris itu diselipkan di belakang pinggangnya.

Ki Lurah bangun lalu melangkah keluar melalui ruang tamu. Curaina mengikuti. Setibanya di luar, Ki Lurah memandangi mereka yang berkumpul.

“Anak itu cantik sekali!” bisik  Tingkir sambil menyikut lambung Joko.

“Jika cantik, memangnya kenapa?” tanya Joko.

“Wah! Dasar kau  benar-benar bodoh, Joko!” rutuk Tingkir. “Jika cantik, sangat bagus dijadikan kekasih!”

“Gila kau! Keadaan ramai seperti ini masih bisa kau merencanakan rencana kotor seperti itu!” hardik Joko.

“Susah!” kesal Tingkir.

“Iya, kau memang susah!” timpal Joko santai.

Timpalan Joko itu membuat Parsuto dan kawan-kawan tertawa.

“Apa ini, Karang?” tanya Ki Lurah datar.

“Maaf, Ki Lurah. Kami dikalahkan oleh pendekar ini!” Karang menunjuk Joko yang tidak jauh di sampingnya.

“Tidak berguna,” ucap Ki Lurah pelan. “Lalu?”

“Mereka ingin bertemu Ki Lurah,” jawab Karang.

“Kau bawa anak buahmu pergi dari mataku!” perintah Ki Lurah.

“Baik, Ki.”

Karang dan semua anak buahnya pun berbalik pergi. Maka tinggallah Gujara dan anak-anak mudanya.

“Siapa kau, Kisanak?” tanya Ki Lurah.

“Aku Gujara, utusan dari beberapa tokoh persilatan dan ada urusan yang ingin aku sampaikan kepada penguasa desa ini. Aku murid Ki Sombajolo,” ujar Gujara.

“Ki Sombajolo?” ucap Ki Lurah agak terkejut, ia kenal dengan nama itu.

“Benar.”

“Jika benar kau murid tokoh sakti itu, mari masuk!” kata Ki Lurah sumringah senang dan berubah lebih santun.

“Kalian semua tunggu di sini!” pesan Gujara kepada Parsuto dan teman-temannya.

Gujara lalu melangkah naik ke rumah. Joko ikut.

“Mari, mari masuk,” Ki Lurah mempersilakan. “Curaina, suruh Dayem siapkan hidangan jamuan!”

“Iya, Ayah.”

Curaina segera masuk ke dapur. Ki Lurah, Gujara dan Joko duduk mengelilingi meja kayu pendek yang di tengah-tengahnya sudah ada sekeranjang buah. Sementara di halaman, Parsuto dan yang lainnya duduk menunggu. Limarsih memilih sibuk berbincang dengan adiknya. Tingkir melakukan pengakraban dengan Parsuto dan coba menggali informasi tentang Limarsih dan Kusuma Dewi.

“Tadi Karang mengatakan kau yang mengalahkan anak buahku?” tanya Ki Lurah kepada Joko.

“Itu Paman, Ki,” kata Joko cengengesan. “Aku hanya diperintah maju.”

“Kau juga murid Ki Sombajolo?” tanya Ki Lurah.

“Joko murid Ki Ageng Kunsa Pari,” jawab Gujara.

“Apa?” kejut Ki Lurah. “Setahuku tokoh sakti jajaran atas itu tidak mempunyai murid dan tidak mau menerima murid dari siapa pun.”

“Entahlah. Tapi nyatanya seperti itu. Apakah Ki Lurah termasuk orang persilatan?”

“Dulu, sebelum aku diikat dengan pernikahan. Aku berjuluk Setan Tangan Hitam, tapi kesaktianku tidaklah seseram julukanku. Aku dulu termasuk orang hitam. Berkat bimbingan istriku yang kini telah meninggal, sifat kejamku sudah sedikit berkurang. Jika tidak, mungkin dari dulu anak-anak itu sudah mati aku bunuhi,” tutur Ki Lurah.

Dari dalam muncul Curaina membawakan nampan berisi empat gelas minuman dan sebuah kendi tanah liat. Curaina kemudian berlutut di sisi meja tidak jauh dari posisi Joko. Joko seketika bergerak bergeser agak menjauhi Curaina dan merapat ke Gujara. Hal itu menjadi tanda tanya bagi Ki Lurah, Gujara dan Curaina. Curaina tampak merengut masam menatap Joko.

“Kenapa kau, Joko?” tanya Gujara berbisik kepada Joko.

“Tiiidak,” jawab Joko cengengesan sambil menyeka dahinya yang sedikit berkeringat.

“Tapi dudukmu geser ke sana!” kata Gujara.

Joko sejenak melihat Curaina yang tetap duduk di tempatnya seusai menata minuman. Joko lalu bangkit dan memilih duduk di antara Gujara dan Ki Lurah, berseberangan dengan posisi Curaina. Setelah duduk, Joko membuang napas kelegaan. Hal itu jelas membuat Curaina menduga buruk. Sikap sedikit aneh Joko cukup membuat penasaran kedua orang tua itu.

“Sebelum aku mengutarakan maksud utama kami ingin menemui Ki Lurah, terlebih dahulu aku ingin selesaikan masalah yang melibatkan sahabat-sahabat Joko di desa ini. Kami menginginkan, mereka dapat lepas dari perburuan anak buah Ki Lurah. Artinya perdamaian. Bagaimana menurut Ki lurah?”

“Hahaha!” Ki Lurah malah tertawa pendek. “Apa yang bisa kutolak jika yang meminta adalah murid Ki Sombajolo. Jikalau kutolak, bayangkan, semuda Joko saja bisa mengalahkan anak buahku. Apalah jadinya jika kau yang turun tangan? Aku rasa Joko pula yang nyaris membunuh anak buahku kemarin di daerah pasar. Benar?”

“Maaf, Ki. Sebab anak buah Ki Lurah menyalahi tugas. Mana ada aturannya orang asing belanja di sini harus bayar pajak? Makanya aku bela diri,” kilah Joko bela diri.

“Baiklah, kita sepakati, mulai saat ini, anak-anak yang selama ini jadi buruan anak buahku, bebas mencari penghasilan di desa. Mereka sekarang aman dari seluruh anak buahku. Mereka bebas!” kata Ki Lurah.

“Sebagai seorang pemimpin, tentu saja Ki Lurah pantang menjilat ludah yang sudah dibuang. Aku pegang janji Ki Lurah!” tandas Joko senang penuh semangat.

“Tentu saja!” tegas Ki Lurah. “Ayo, diminum!”

Dari dalam muncul seorang wanita separuh baya cukup gemuk membawa nampan cukup lebar berisi makanan yang cukup banyak. Ialah Dayem, pembantu di rumah itu dan pengasuh Curaina. Hal yang cukup menonjol adalah dua potong ayam bakar besar yang utuh. Joko yang senang tidak peduli dengan hidangan lezat yang datang, ia segera berlari ke luar.

“Hai, para sahabat!” seru Joko. “Ki Lurah sudah berjanji, mulai sekarang kalian semua bebas dari buruan anak buahnya dan bebas mencari penghasilan di desa ini!”

“Yeee!” sorak Parsuto dan teman-temannya girang gembira.

Limarsih langsung memeluk adiknya yang ikut tersenyum. Sambil memeluk kakaknya, ia memandangi Joko yang tertawa di teras rumah. Dudut berpelukan dengan Kumisan dan Gunjar berpelukan dengan Widarya. Mereka sangat gembira. Parsuto berlari ke teras dan merangkul pinggang Joko lalu mengangkatnya.

“Terima kasih, Joko! Terima kasih atas semua jasamu!” ucap Parsuto begitu gembira.

Setelah menurunkan Joko, tanpa sungkan, Parsuto pun memeluk Joko Tingkir.

“Ki Lurah telah membahagiakan mereka,” kata Gujara kepada Ki Lurah mendengar ramainya kegembiraan di luar.

Curaina yang menonton dari jendela ikut tertawa melihat kebahagian orang-orang itu. Meskipun Curaina tidak pernah mengenal mereka, tapi ia tahu cerita tentang gelandangan yang menurut cerita versi ayahnya adalah pengacau desa dan pencuri.

“Kita rayakan kebebasan kita dengan pesta di gua!” teriak Parsuto.

“Kita bakar jagung dan singkong dan bakar ayam!” teriak Gunjar pula.

“Tapi tidak mencuri!” seru Limarsih.

Parsuto dan yang lainnya jadi diam, sebab mereka tidak punya ayam, jagung atau pun singkong. Dan tidak punya uang untuk membeli.

“Aku semua yang bayar apa yang ingin kalian beli!” seru Joko yang segera paham apa yang mereka pikirkan.

“Yeee!” sorak mereka lagi.

“Memang kau banyak uang, Joko?” tanya Tingkir.

“Tenang, Sobat. Biar aku tinggal di gubuk reot, uangku banyak. Setiap bulan ada yang khusus mengirimi aku uang. Hahaha!”

“Kita pesta!” teriak Tingkir akhirnya.

“Joko, ajak anak Ki Lurah ke pesta kita!” kata Parsuto.

“Benar, semakin banyak yang cantik, semakin meriah!” dukung Tingkir.

“Kenapa aku?” tanya Joko protes.

“Lalu siapa jika bukan kau?” sentak Tingkir.

“Aku takut,” bisik Joko.

“Hahaha!” tertawalah Tingkir dan Parsuto.

“Aku hanya berani bicara dengan bapaknya,” kata Joko lagi.

“Ya sudah jika begitu, ajak gadis itu lewat bapaknya!” desak Tingkir.

“Ajak saja biar lebih ramai!” kata Parsuto juga.

“Sudah, sana!” Tingkir mendorong punggung Joko ke arah pintu.

Joko akhirnya masuk kembali ke dalam. Curaina sudah duduk kembali di tempatnya tadi.

“Kalian semua tunggu di gua!” perintah Parsuto.

“Kami tunggu di gua!” sahut Widarya lalu berbalik pergi.

Dudut, Kumisan, dan Gunjar juga segera berbalik pergi. Limarsih menarik tangan adiknya.

“Ayo kita tunggu di gua!” ajak Limarsih.

Kusuma Dewi menurut, meski pun hatinya ingin tetap di situ.

“Ada apa, Joko?” tanya Gujara.

“Anu, Paman....”

“Sejak kapan kau jadi penakut seperti itu?” tanya Gujara.

“Teman-temanku ingin mengajak anak Ki Lurah ikut berpesta di gua,” ujar Joko lancar.

“Tidak apa-apa, asalkan kau bertanggung jawab penuh atas keselamatan anakku semata wayang ini,” kata Ki Lurah. “Ajaklah!”

Joko hanya berdiri diam. Tidak beranjak.

“Kenapa lagi?” tanya Gujara.

“Aku takut mengajaknya, Paman.”

Tertawalah Gujara dan Ki Lurah tidak terlalu keras.  Curaina hanya menahan tawa. Baginya Joko itu sangat aneh. Dalam hati ia sangat penasaran dengan pemuda tampan itu.

“Tidak aku sangka kau takut dengan perempuan, Joko,” kata Gujara.

“Tidak apa-apa, itu bagus. Berarti anakku akan aman dari kejahilan tanganmu,” kata Ki Lurah. Lalu katanya kepada anak gadisnya, “Curaina, pergilah bersama Joko, agar kau tidak bosan di dalam rumah terus!”

“Iya, Ayah.” Curaina pun bangkit.

“Joko, ambillah beberapa buah!” kata Ki Lurah.

Joko melihat ke atas meja yang penuh hidangan.

“Buahnya aku bawa semua saja, Ki!” kata Joko sambil meraih keranjang buah yang terbuat dari anyaman bambu.

“Boleh!”

Namun, Joko agak terkejut ketika tangannya tidak bisa mengangkat keranjang buah itu. Ia pun memandang Ki Lurah yang hanya tersenyum. Gujara tahu apa yang terjadi. Ki Lurah telah mengirimkan tenaga dalam kepada keranjang buah itu sehingga menjadi berat sekali bagi Joko.

Pak!

Sadar sedang diuji, Joko menepuk papan meja agak keras, membuat makanan-makanan di atasnya sedikit terloncat di tempatnya, tapi tidak sampai berantakan. Seiring tepukan Joko itu, Ki Lurah merasakan hentakan tenaga menyerangnya, membuatnya nyaris terjengkang ke belakang.

“Ayah!” sebut Curaina terkejut.

“Tidak apa-apa, Curaina,” kata Ki Lurah cepat. “Hebat kau, Joko. Semuda ini tenaga dalammu sudah berlebih.”

“Maaf, Ki.”

“Pergilah, kalian!”

“Ayo!” ajak  Joko sambil duluan keluar.

Curaina segera menyusul dan berjalan di sebelah Joko.

“Waaa!” pekik Joko saat sadar bahwa Curaina sudah berjalan di sebelahnya.

Spontan Joko melompat bersalto tanpa menumpahkan buah di keranjang. Hal itu jelas membuat Curaina, Tingkir dan Parsuto tertawa.

“Jangan hanya menertawaiku, bawa!” rutuk Joko dan menyerahkan keranjang itu kepada Parsuto. Lalu katanya kepada Curaina, “Tolong, jangan dekat-dekat aku!”

“Bukankah kau yang mengajak?” kata Curaina sambil kembali menghampiri Joko.

“Kabuuur!” teriak Joko sambil  berlari pergi.

Curaina cepat mengejar sambil tertawa. Tingkir dan Parsuto pun segera berlari menyusul sambil tertawa. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!