"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."
Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.
Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.
Ia hamil.
Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Luka yang terbuka kembali.
Langit yang semula biru cerah perlahan berubah kelabu, membawa angin kencang yang menyapu panas siang hari sebelum akhirnya tumpah menjadi hujan lebat.
Dibalik kaca jendela yang buram oleh uap air, Evelyn tampak duduk termenung menatap dunia yang mendadak gelap. Hujan di siang hari itu seperti tamu yang tidak diundang, membawa kembali semua kenangan yang seharusnya sudah dikubur dalam-dalam.
Flashback on.
CRACK!
Suara cambukan terdengar menggema di sepanjang lorong yang sunyi. Teriakan kesakitan yang lolos dari mulut Evelyn remaja, memenuhi setiap sudut rumah besar itu, ibarat alunan musik yang terdengar menyayat hati.
Di balik pintu kayu yang tebal, Almira—pengasuhnya yang setia, hanya bisa menunduk, meremas ujung roknya dengan tangan gemetar. Ia tahu, Tuan Besar tidak akan berhenti sebelum suaranya hilang.
Rumah megah itu kini tak lebih dari penjara dingin bagi Evelyn, saksi bisu kekejaman ayahnya yang disembunyikan di balik kemewahan aristokrat.
Kreeek!
Bibi Almira tersentak ketika mendengar suara pintu yang terbuka tiba-tiba, menampilkan sosok Tuan besar dengan tali gesper yang berada di dalam genggaman tangannya yang besar.
Dengan rahang yang mengeras, dan raut wajah yang datar, ia berdiri diambang pintu kamar, menatap Almira yang gemetar ketakutan.
"Urus gadis kecil itu! Pastikan tidak ada luka yang membekas di tubuhnya. Dan... Buat dia berhenti menangis, tangisannya membuat kepalaku mau pecah."
Hendry Ariesandy, pria itu, melewatinya tanpa menoleh. Ia tak perduli dengan tubuh putrinya yang penuh memar kemerahan akibat cambukan darinya.
Dengan langkah gemetar, Almira mendekati tubuh Evelyn yang terbaring dilantai kamarnya yang dingin.
Air mata yang sedari ia tahan, perlahan turun tanpa seizinnya. Hatinya terasa remuk, hancur berkeping-keping melihat tubuh kurus Evelyn yang terbaring lemah.
Ia mengangkat tubuh itu perlahan, menopang kepalanya dengan lengannya, bergerak dengan penuh kehati-hatian agar tidak menambah rasa sakit gadis muda itu.
"Sakit, Bi! Punggungku sakit sekali!" rintihnya terdengar memilukan.
"Bibi akan panggilkan dokter. Apa Nona masih bisa berjalan?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Evelyn menganggukkan kepalanya pelan. Almira lalu membantunya berdiri dan memapahnya hingga ke atas ranjang. Pelan-pelan membaringkan tubuhnya.
Hanya karena satu kesalahan sepele, dunia meremukkan Evelyn tanpa ampun. Baginya, pelukan hangat yang dirindukan justru berubah menjadi belenggu dingin, yang angkuh berkedok "pendidikan" untuk menjadikannya wanita mandiri—meninggalkan sendirian di tengah badai.
Evelyn muda terpaksa menelan duri bernama "kedewasaan ", dimana cinta seharusnya tumbuh, justru hanya menyisakan bekas luka yang dipahat demi membentuknya menjadi wanita kuat—namun rapuh di dalam.
Ini bukan pertama kalinya ia harus merelakan tubuh kurusnya menjadi pelampiasan kemarahan ayahnya, orang pertama yang seharusnya mengajarkan cinta kepadanya.
Bahkan ibunya, yang seharusnya memberikan pelukan hangat, satu-satunya tempatnya berpulang yang seharusnya menjadi tempat teraman, hanya bergeming menatapnya dipukuli oleh pria yang dicintainya. Seakan-akan itu adalah sebuah kewajaran dalam mendisiplinkan seorang anak yang sedang melakukan kesalahan.
Seperti yang dilakukannya saat ini, ketika memasuki kamar Evelyn dengan dagu yang terangkat dan wajah yang terlihat datar. Seakan hal tersebut sudah menjadi sebuah kebiasaan yang biasa ia lihat.
"Jangan merengek, Evelyn!" Itu adalah kata-kata pertama yang terlontar dari bibirnya yang merah, ketika melihat putrinya meringis kesakitan di atas ranjang.
"Bukankah ibu sudah sering menasehatimu agar benar-benar fokus pada pelajaran. Dengarkan setiap arahan dan instruksi yang diberikan oleh gurumu. Kau tak perlu mengalami hal ini jika kau bersikap patuh. Tetapi kau malah bermain-main dan tidak perduli dengan pelajaranmu. Maka inilah yang harus kau dapatkan sebagai hukumannya." jelas wanita itu datar, dan santai.
Tidak ada kesedihan, atau air mata yang menghiasi wajahnya. Respon alami yang biasanya ditunjukkan oleh seorang ibu yang mencemaskan putrinya. Bahkan hanya untuk hal sepele seperti terjatuh saat ia sedang berlari ataupun merengek karena mainan kesayangannya hilang. Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Yasmin, nama wanita yang kini menatap Evelyn dengan begitu dingin.
"Renungkan kesalahan mu, Evelyn. Lain kali berpikirlah dulu sebelum kau memutuskan untuk bersikap." ucap wanita itu sebelum pergi, meninggalkan putrinya yang sedang berjuang mengatasi rasa sakitnya sendirian.
"Tidak apa-apa, Nona! Anda akan baik-baik saja."
Tangis Evelyn pecah di pelukan pengasuhnya itu. Hanya bibi Almira, satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan dirinya.
Flashback off
Hujan perlahan mereda, namun belum sepenuhnya berhenti. Evelyn yang duduk di window seat menatap tetesan hujan yang mengalir perlahan di kaca. Lalu menghempaskan nafasnya hingga membentuk sebuah embun kecil di sana. Ia lalu menggerakkan jari telunjuknya pada kaca dan menggambar bentuk love di sana.
Ia menatap gambar itu sambil memeluk lututnya. Evelyn seketika merasa hampa, seiring dengan sisa-sisa rintik yang kini hanya berupa gerimis tipis.
Gambar love dikaca perlahan luntur, tersapu oleh aliran air hujan dari luar, seolah menegaskan harapan yang ia simpan pun perlahan terkikis.
Dengan helaan nafas panjang yang terdengar berat, ia menurunkan kakinya, lalu bangkit berdiri meninggalkan window seat. Di kaca gambar love itu kini benar-benar hilang, menyisakan jejak air yang perlahan kering, sama seperti kenangan yang berusaha ia lupakan.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Dentuman suara bass yang berat menggetarkan dada, menenggelamkan setiap percakapan ke dalam riuhnya musik EDM yang memekakkan telinga.
Lampu laser berwarna neon membelah kegelapan, menyapu lantai dansa yang dipenuhi kerumunan orang yang bergerak mengikuti irama.
Di sudut ruangan, beberapa orang asyik mengobrol sambil memegang gelas koktail.
"Apa Evelyn jadi datang malam ini?" tanya seorang wanita.
"Iya. Katanya dia sedang dalam perjalanan." jawab Bella, ketika membaca pesan singkat dari Evelyn beberapa detik yang lalu.
"Baguslah!" ucap wanita itu terlihat senang.
Sesekali tubuh para wanita itu terlihat bergerak mengikuti alunan musik yang keras. Suasana klub malam terlihat meriah malam itu.
"Hello girls!" sapa seorang wanita cantik yang terlihat sangat mempesona seperti biasanya.
Dibawah kilatan lampu laser yang membelah kegelapan, ia melangkah masuk bak predator yang tenang. Dengan gaun merah menyala memahat tubuh rampingnya dengan presisi yang mematikan, seolah kain itu diciptakan hanya untuk kulitnya.
Di balik helai rambut panjang yang terurai bebas, anting emas berlogo double C , berkilau setiap kali ia menoleh, memantulkan kemewahan yang dingin ditengah dentuman bas yang menggetarkan lantai.
Ia tak sekedar ada di sana, ia tampak menguasai ruangan tanpa perlu mengucapkan sepatah katapun.
Wanita itu adalah Evelyn. Wajahnya tidak lagi terlihat pucat seperti sebelumnya, kini wajahnya terlihat jauh lebih segar dengan polesan make-up yang sedikit dibuat mencolok.
Evelyn menyapa teman-temannya dengan ciuman pipi singkat. Lalu ikut duduk bersama mereka.
"Kau sudah sehat?" tanya Bella, teman baiknya.
"Iya. Berada di rumah hanya membuatku bertambah sakit. Jadi aku keluar untuk mencari udara segar. Aku butuh hiburan malam ini." jelasnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sepertinya suamimu kurang pandai untuk menghibur istrinya." sindir yang lainnya dengan nada bercanda.
"Haa ... Dia hanya tahu cara berbisnis dan menghasilkan uang." ucap Evelyn.
"Dan kau hanya tahu cara menghabiskan uang suamimu yang tidak berseri itu, kan?" kata seorang wanita sambil tertawa kecil.
"Tentu saja." sahut Evelyn membenarkan perkataannya.
Seorang pelayan terlihat meletakkan beberapa botol minuman di atas meja. Bella terlihat membuka sebuah botol minuman dan menuangkannya ke dalam gelas yang sebelumnya sudah berisi bongkahan kecil es batu.
Ia menyerahkan gelas tersebut kepada Evelyn. "Minumlah!" ucapnya.
Evelyn meraih gelas itu dengan segera. Itu adalah minuman kesukaannya. Segelas wine dingin yang mampu menyegarkan pikirannya yang sedang kalut.
Namun Evelyn tampak membeku ketika bibirnya menyentuh gelas bening tersebut. Tiba-tiba saja ngatan tentang hasil tes kehamilannya pagi tadi kembali terlintas dipikirannya. Membuat wanita itu menjadi ragu.
Bukankah minuman beralkohol tidak baik untuk janin. Itu artinya aku tidak bisa meminumnya, kan? batinnya ragu, lalu meletakkan kembali gelas itu di atas meja.
"Ada apa? Kenapa tidak jadi minum?" tanya Bella bingung karena tidak biasanya Evelyn menolak untuk minum.
"Oh, aku hanya sedang tidak berselera." ia tampak salah tingkah.
"Hah! Tidak biasanya kau seperti ini? Apa ada masalah?" Bella terlihat penasaran.
"Tidak. Aku hanya sedang tidak ingin minum." ia berbicara dengan suara rendah.
Bella seketika merasa aneh dengan sikap Evelyn, namun ia tidak bertanya lebih lanjut padanya karena suasana ruangan yang terlalu ramai. Mungkin nanti ketika mereka sedang bertemu secara pribadi.
"Kalian minum saja. Sebagai gantinya, aku akan membayar semua minumannya. Aku mau ke toilet sebentar." ucapnya lalu berjalan menuju toilet.
Namun kerumunan orang yang sedang menari di lantai dansa, membuatnya kesulitan untuk mencari celah untuk berjalan. Bau alkohol bercampur menjadi satu dengan aroma parfum yang berbeda-beda, membuat penciuman Evelyn yang sedang sensitif menjadi terganggu.
Rasa mual yang perlahan mulai mereda, kini kembali datang dan menyiksa tenggorokannya hingga membuatnya kembali ingin memuntahkan isi perutnya.
Ia menahan mulutnya dan terus berusaha untuk menembus kerumunan orang-orang yang menghalanginya.
Namun ia tersentak ketika melihat seseorang menarik tangannya dan membawanya keluar dari area itu dengan gerakan yang lincah.
Dalam sekejap, mereka berhasil keluar dan berhenti di sebuah lorong yang mengarah ke toilet. Bunyi musik diluar masih terdengar, namun tidak terlalu keras karena sedikit diredam oleh dinding tebal di sekitar lorong.
Evelyn seketika bisa melihat jelas punggung orang tersebut yang ternyata adalah seorang pria. Ia merasa familiar dan mengenal si pemilik punggung tersebut. Apalagi kini wajahnya terlihat jelas setelah pria itu membalik tubuhnya.
Kemeja hitam yang membalut tubuh kekarnya itu, membuat Evelyn merasa terhipnotis hingga tak sadar membuat Evelyn terpaku ditempatnya.
"Alex!"
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Hallo!
Jangan lupa mampir dan dukung karyaku ini ya. Tinggalkan like dan juga komentar kamu.
Jangan lupa juga untuk subscribe ❤️ biar nggak ketinggalan update terbarunya.
Terima kasih semuanya.