Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Mas Raka Menjaga Toko
Seminggu kemudian, ruang makan Taman Cendana berubah menjadi tempat kerja sementara.
Kain yang belum dipotong disimpan di lemari tertutup. Pesanan yang sudah selesai digantung menurut tanggal pengambilan. Di dinding, Raka memasang papan dengan tiga kolom: uang masuk, biaya bahan, dan sisa pembayaran.
Ia baru pulang kerja ketika Salma menyodorkan setumpuk nota.
“Kalau Mas Raka terlambat lima menit lagi, aku pulang dan semua angka ini menjadi masalah besok.”
Raka melepas jam tangan. “Ada yang tidak cocok?”
“Uang tunai cocok. Tulisan Nara yang tidak cocok dengan mata manusia.”
Nara yang sedang memasang kancing tidak menoleh. “Tulisan itu bisa kubaca.”
“Hanya karena kamu yang membuatnya.”
Salma menyerahkan buku kepada Raka, lalu membereskan gunting dan pola miliknya. Ia sudah bekerja sejak siang dan harus kembali ke rumah sebelum terlalu malam.
Setelah Salma pergi, Raka mencocokkan setiap nota dengan amplop. Nara melanjutkan jahitan, sesekali memberi jawaban tentang pelanggan yang mengganti ukuran atau memilih bahan lebih murah.
Bima dan Bayu duduk di lantai dengan buku sekolah. Keduanya mengaku sedang mengerjakan tugas, tetapi mata mereka lebih sering mengikuti tumpukan pakaian.
“Aku bisa melipat,” kata Bima.
“Aku bisa memasukkan ke plastik,” tambah Bayu.
Raka melihat jam dinding. “Kalian bisa menyikat gigi dan tidur.”
“Besok hari libur.”
“Tubuh kalian tidak tahu kalender kalau sudah mengantuk.”
Bayu berdiri dan mencoba mengambil setrika. Raka lebih cepat memindahkannya ke tempat tinggi.
“Itu panas.”
“Aku tidak akan menyentuh bagian bawah.”
“Tidak.”
Nada Raka tidak keras, tetapi mengakhiri perdebatan. Ia mengantar si kembar ke kamar, memeriksa jendela, lalu kembali setelah lampu dipadamkan.
Nara sedang berusaha mengangkat keranjang pakaian.
Raka mengambilnya dari tangan Nara. “Kamu juga tidak perlu membuktikan apa pun malam ini.”
“Aku hanya memindahkan.”
“Bekas operasi tidak peduli kamu menyebutnya memindahkan atau bekerja.”
Ia menaruh keranjang di meja setrika, lalu mengisi air. Gerakannya kaku ketika membentangkan pakaian anak pertama. Uap mengepul dan membuatnya mundur setengah langkah.
Nara tertawa. “Pegang bagian bahunya.”
“Aku tahu.”
“Kamu baru saja menyetrika lengannya menjadi dua garis.”
“Itu model baru.”
Ia mencoba lagi. Kali ini Nara berdiri di sampingnya dan menunjukkan arah serat kain. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan keduanya bersentuhan. Raka menoleh, tetapi Nara segera kembali melihat pakaian.
Beberapa minggu sebelumnya, kedekatan itu selalu terpotong oleh ketakutan, rumah sakit, atau nama Siska. Malam ini hanya ada bunyi mesin jahit, desis setrika, dan napas dua orang yang terlalu sadar akan jarak di antara mereka.
Raka menyelesaikan satu pakaian, lalu mengangkatnya. “Lulus?”
Nara memeriksa bagian depan dan belakang. “Cukup.”
“Hanya cukup?”
“Bagus.”
“Itu baru penilaian yang adil.”
Mereka bekerja bergantian. Nara menjahit, Raka menyetrika dan mencatat. Setiap empat puluh menit, Raka memaksa Nara berdiri, minum, atau meregangkan punggung. Ketika jarinya mulai kaku, ia menghentikan mesin tanpa berdebat.
“Dua pesanan terakhir besok,” katanya.
“Tenggatnya lusa.”
“Karena itu masih ada besok.”
Raka menutup buku rekening. Dari semua uang muka yang masuk, sebagian besar sudah berubah menjadi kain dan benang. Keuntungan mereka belum besar, tetapi tidak ada angka yang hilang.
Ia menunjukkan satu halaman yang diberi garis merah. Ada pesanan yang selesai tetapi belum diambil, dan ada bahan yang dibeli lebih murah daripada perkiraan.
“Selisih bahan ini kita kembalikan atau masuk keuntungan?” tanyanya.
“Masuk keuntungan kalau jenis kainnya sama dan pelanggan sudah menyetujui harga pekerjaan.”
“Tulis di syarat berikutnya supaya tidak ada yang merasa ditipu.”
Nara menambahkan satu kalimat pada formulir. Mereka juga memisahkan uang rumah dari uang usaha ke dalam dua kotak berbeda. Bima sempat keluar untuk meminta air dan melihat kotak-kotak itu.
“Yang hijau buat beli es?”
“Tidak,” jawab Raka. “Yang hijau untuk kain. Uang jajan tetap sesuai jadwal.”
Bayu muncul di belakang saudaranya. “Kalau kami membantu, dapat upah?”
Nara menahan senyum. “Kalian tidak bekerja malam hari. Besok kalian boleh memilih warna pita untuk pesanan contoh, tapi itu bukan pekerjaan berbayar.”
Raka mengantar mereka kembali. Ia tidak ingin kegembiraan usaha baru membuat kedua anak merasa harus ikut menopang penghasilan rumah.
Ketika ia kembali, Nara sudah menuliskan jam tutup di papan pesanan. Mereka sepakat tidak menerima pelanggan setelah anak-anak tidur dan tidak memakai ruang belajar si kembar sebagai gudang. Jika pekerjaan bertambah, usaha itu harus menyewa tempat atau mengurangi pesanan, bukan mengambil seluruh rumah.
“Kita sedang membangun pekerjaan,” kata Nara, “bukan membuat anak-anak kehilangan rumah.”
Raka menambahkan aturan tersebut di bawah catatan keuangan. Batas itu tidak menghasilkan uang, tetapi menjaga alasan mereka bekerja sejak awal.
“Kalau terus begini, kita perlu meja potong yang benar,” katanya.
“Dan satu orang tambahan.”
“Salma?”
“Dia bisa membantu pola, tapi bukan setiap hari.”
“Kita bayar per pekerjaan, bukan meminta karena teman.”
Nara menatapnya. “Kamu belajar cepat.”
“Aku tinggal dengan Bu Bos.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Nara tersenyum tanpa beban. Ia meraih satu kemeja kecil, tetapi benangnya tersangkut. Raka berdiri di belakangnya dan membantu mengangkat gulungan dari rak. Dadanya hampir menyentuh punggung Nara.
Nara membeku sesaat.
Raka segera mundur. “Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Kesunyian kembali turun, kali ini hangat dan canggung.
Nara menunduk pada kain. “Terima kasih, Mas Raka.”
Tangannya berhenti di atas meja.
Sudah lama Nara tidak memanggilnya seperti itu. Bukan sejak hari-hari menjelang persalinan, ketika setiap percakapan terasa seperti tugas yang harus diselesaikan.
“Panggil lagi,” katanya pelan.
Nara mengangkat wajah. “Jangan mencari kesempatan.”
“Aku hanya memastikan pendengaranku.”
“Pendengaranmu baik, Mas Raka.”
Raka tersenyum dan tidak meminta lebih. Ia hanya menarik kursi untuk Nara, menaruh air minum di dekat tangannya, lalu melanjutkan melipat pakaian.
Menjelang tengah malam, pekerjaan berhenti. Pesanan selesai ditempatkan di lemari dan uang tunai dikunci. Raka memeriksa pintu, sedangkan Nara mengumpulkan sisa kain ke dalam sebuah tas lama.
Tas itu pernah dipakai Bu Sari membawa pakaian Nara dari rumah sakit. Setelah mereka pulang, tas tersebut masuk ke bawah mesin jahit bersama kain yang belum dipilah.
“Buang yang terlalu kecil,” kata Nara. “Sisanya bisa untuk latihan.”
Raka menuangkan potongan kain ke meja. Salah satu lapisan dasar tas tampak menggelembung. Ia memasukkan jari ke celah jahitan, mengira ada kancing yang terselip.
Yang disentuhnya bukan kancing.
Ia menarik sepotong plastik tipis yang terlipat di balik lapisan kain. Di dalamnya terdapat gelang bayi dengan tulisan tinta yang mulai pudar.
Raka menatap gelang Kirana yang selama ini disimpan Nara di kotak dokumen.
Tas lama itu ternyata menyembunyikan gelang bayi kedua.