NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:99.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21: Kanker Rektum

Tiga hari setelah Amelia bisa duduk dan meminta bubur, RSUD Harapan Bangsa seperti berubah napas.

Orang-orang masih bekerja seperti biasa, tetapi setiap kali Rangga melewati koridor, percakapan akan melambat setengah detik.

Dokter Dewa.

Bisikan itu belum menjadi gelar resmi. Belum muncul di berita. Belum ditulis di papan nama mana pun.

Namun di mata para perawat, dokter jaga, petugas lab, bahkan satpam yang membuka pintu UGD, nama itu sudah menempel.

Rangga tidak menyukainya.

Ia lebih suka pasien menyebutnya dokter.

Karena dokter masih manusia. Manusia bisa lelah, bisa salah, dan karena itu harus tetap memeriksa ulang.

Pagi itu, di poli bedah RSUD Harapan Bangsa, seorang pria paruh baya duduk dengan wajah pucat sambil menekan perut bawah.

Namanya tidak penting bagi Rangga. Yang penting adalah cara pria itu duduk: menahan nyeri sambil berusaha terlihat kuat.

"Sudah berapa lama BAB berdarah, Pak?" tanya Rangga.

Pria itu menghindari tatapan.

"Beberapa bulan. Awalnya sedikit. Saya kira ambeien."

dr. Alya yang ikut membantu poli hari itu menatap hasil pemeriksaan awal. Wajahnya perlahan serius.

"Berat badan turun?"

"Turun. Tapi saya memang banyak kerja."

"Nafsu makan?"

"Tidak terlalu."

Rangga memeriksa lebih lanjut, membaca hasil darah, USG awal, dan catatan rujukan yang dibawa pasien. Pemeriksaan tambahan dipercepat. Hasilnya tidak memberi ruang untuk pura-pura.

Kanker rektum.

Sudah masuk fase yang menekan lumen usus, hampir menyumbat, dengan risiko perdarahan dan perforasi jika dibiarkan.

Ketika Rangga menjelaskan diagnosis dengan bahasa paling tenang yang bisa ia susun, pria itu tidak langsung panik.

Ia hanya memandang lantai.

"Dokter," katanya pelan, "jangan bilang istri saya kanker."

Rangga diam.

"Tulis saja radang usus. Atau tumor jinak. Anak saya baru masuk sekolah. Istri saya gampang pingsan kalau dengar penyakit berat. Saya tanda tangan sendiri. Saya tidak mau mereka tahu."

dr. Alya menarik napas tertahan.

Rangga meletakkan hasil pemeriksaan di atas meja.

"Pak, saya bisa menjelaskan dengan cara yang tidak menghancurkan mental keluarga Bapak. Tapi saya tidak bisa memalsukan diagnosis."

Pria itu menegang.

"Saya yang sakit, Dok."

"Benar. Karena itu keputusan utama tetap pada Bapak. Tetapi operasi besar, risiko stoma sementara, perdarahan, infeksi, dan perawatan setelahnya tidak bisa ditutup dengan kebohongan. Keluarga Bapak akan ikut merawat. Mereka berhak mendapat informasi yang benar, setidaknya sebagai penanggung jawab dan pendamping."

"Kalau mereka takut?"

"Tugas saya membantu mereka tetap berdiri dengan informasi yang jujur, meski mereka takut."

Pria itu menutup wajah dengan dua tangan.

Beberapa menit kemudian, istrinya dipanggil masuk.

Tangis memang pecah.

Tetapi tidak seperti yang ditakutkan pasien.

Istrinya tidak pingsan. Ia hanya menggenggam tangan suaminya dan berkata dengan suara gemetar, "Kenapa kamu simpan sendirian?"

Kalimat itu lebih tajam daripada pisau.

Pasien itu akhirnya menangis.

Pada saat itulah suara sistem muncul di benak Rangga.

[Terdeteksi pasien kanker rektum dengan risiko obstruksi dan perdarahan.]

[Pilih mode check-in:]

[A. Check-in Normal — bantuan real-time, level teknik: Kelas Internasional.]

[B. Check-in Mandiri — tanpa bantuan real-time, terhitung progres Jalur Kemandirian.]

Rangga menatap pasien dan istrinya.

Ia memang ingin maju di Jalan Kemandirian.

Pasien di depannya tidak boleh dijadikan tangga untuk mengejar karier.

Tumor berada rendah, dekat struktur saraf dan pembuluh penting. Satu kesalahan bisa merusak fungsi hidup pasien seumur hidup. Ini bukan waktu untuk membuktikan ego.

Ia memilih dalam hati.

Check-in Normal.

[Check-in Normal aktif.]

[Teknik Bedah Kanker Rektum Kelas Internasional diperoleh.]

Ilmu baru mengalir masuk. Anatomi panggul menjadi peta tiga dimensi di benaknya. Batas aman, bidang diseksi, jalur pembuluh, kemungkinan penyebaran kelenjar, semua tersusun rapi seperti garis merah di atas layar tak terlihat.

Sore itu juga, ruang operasi dipersiapkan.

Anehnya, yang membuat suasana tegang bukan hanya pasien.

Yang membuat ruang dokter ribut adalah daftar orang yang ingin masuk sebagai asisten.

Kepala bagian bedah umum mengirim pesan.

Kepala anestesi datang sendiri.

Dokter penyakit dalam menawarkan ikut memantau.

Bahkan dokter laboratorium bercanda serius, "Kalau boleh saya berdiri di pojok saja, Dok. Saya tidak menyentuh apa-apa."

Pak Bambang tertawa dingin saat melihat kerumunan itu.

"Kalian ini mau membantu operasi atau nonton konser?"

Tidak ada yang berani menjawab.

Rangga akhirnya memilih tim kecil: Pak Bambang sebagai pendamping senior, dr. Alya membantu koordinasi perioperatif, satu dokter bedah umum, satu anestesi, dan perawat instrumen terbaik.

"Operasi bukan panggung," katanya singkat. "Yang tidak punya fungsi, tunggu di luar."

Kalimat itu membuat semua orang mundur, tetapi mata mereka tetap menyala.

Operasi dimulai pukul empat sore.

Laparoskopi masuk melalui sayatan kecil. Layar menampilkan rongga perut yang tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada tumor keras yang mencengkeram rektum seperti kepalan gelap.

Rangga bergerak tanpa gerakan berlebihan.

Diseksi mengikuti bidang yang bersih. Pembuluh dikontrol. Kelenjar sekitar diambil sesuai batas onkologis. Bagian rektum yang terkena dipotong dengan margin aman, lalu sambungan dibuat rapi.

Satu jam.

Tumor keluar.

Satu jam dua puluh menit.

Perdarahan minimal.

Satu jam tiga puluh satu menit.

Instrumen terakhir ditarik.

Sayatan kecil ditutup.

Di ruang observasi, istri pasien menangis lagi ketika Pak Bambang menjelaskan bahwa operasi berjalan baik.

Kali ini tangisnya bukan karena takut.

Rangga baru keluar dari ruang operasi ketika sistem kembali berbunyi.

[Misi selesai.]

[Tingkat Penyelesaian: 90%.]

[Hadiah tunai: Rp 200.000.000.]

[Dana telah ditransfer melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]

Ponselnya bergetar.

Rangga melihat angka itu hanya satu detik, lalu memasukkan ponsel ke saku.

Sekarang ia punya uang lebih dari cukup.

Tetapi beberapa bulan lalu, ia masih menghitung uang makan di kos-kosan.

Perbedaan itu membuatnya semakin tidak berani sembrono.

Malamnya, Pak Hendra memanggilnya ke ruang direktur.

Di sana sudah ada tamu yang membuat suasana ruangan terasa naik satu tingkat.

Pak Prasetyo, direktur RS Persatuan Nusantara, berdiri begitu Rangga masuk. Di belakangnya ada dua orang staf medis, membawa map kerja sama yang tebal.

"Dokter Rangga," katanya, menjabat tangan Rangga dengan dua tangan. "Saya sudah membaca data Trombosin Plus, Serum RegenoStem, dan laporan operasi hari ini. Saya datang bukan untuk berbasa-basi."

Pak Hendra tersenyum, tetapi ujung matanya tegang.

Rangga tahu ketegangan itu.

Sejak telepon beberapa hari lalu, Pak Hendra seperti orang yang melihat anak kesayangan dilirik keluarga kaya.

Pak Prasetyo membuka map.

"RS Persatuan Nusantara mengundang Anda menjadi dokter tamu. Jadwal setiap Sabtu. Honorarium tetap Rp 60.000.000 per bulan, di luar insentif operasi. Semua fasilitas kami siapkan. Anda akan menangani kasus-kasus sulit yang tidak bisa diselesaikan di tempat lain."

Ruangan hening.

Pak Hendra menatap meja.

Ia tidak bisa menolak begitu saja. Itu rumah sakit nasional. Kesempatan seperti ini bisa membuat nama Rangga makin tinggi.

Tetapi kalau Rangga pergi terlalu jauh, RSUD Harapan Bangsa bisa kehilangan jantungnya.

Rangga menutup map pelan.

"Saya bersedia dengan satu syarat."

Pak Prasetyo mengangkat alis.

"Silakan."

"Tulis status saya sebagai dokter tamu dalam kerja sama RSUD Harapan Bangsa dan RS Persatuan Nusantara. Saya datang membawa nama rumah sakit asal saya. Kasus yang membutuhkan tindak lanjut daerah bisa dirujuk balik dengan jalur resmi. Ilmu dan pelatihan tim juga dibuka untuk RSUD Harapan Bangsa."

Pak Hendra mendongak.

Pak Prasetyo menatap Rangga beberapa detik.

Lalu ia tertawa pelan.

"Pak Hendra, saya akhirnya paham kenapa Anda begitu takut kehilangan dia."

Wajah Pak Hendra memerah sedikit.

"Saya tidak takut."

Pak Bambang yang entah sejak kapan berdiri di pintu langsung menyahut, "Takut sekali."

Ruangan yang tegang akhirnya pecah oleh tawa.

Pak Prasetyo mengulurkan tangan.

"Setuju. Setiap Sabtu, Dokter Rangga datang sebagai dokter tamu kerja sama. Bukan milik kami. Tapi izinkan kami belajar."

Rangga menjabat tangannya.

"Selama pasien mendapat manfaat, saya datang."

Malam sudah turun ketika Rangga keluar dari rumah sakit.

Ia baru berjalan menuju parkiran ketika suara rem menjerit dari jalan besar.

Brak!

Benturan keras membuat beberapa orang berteriak.

Rangga berlari.

Di tengah jalan, sebuah SUV hitam berhenti miring setelah melawan arah dan menghantam mobil putih di sisi penumpang. Kaca depan retak seperti sarang laba-laba. Bagian samping mobil putih ringsek.

Di kursi penumpang, seorang perempuan muda terjepit, darah mengalir dari pelipis, napasnya pendek-pendek.

"Jangan tarik dia!" teriak Rangga kepada warga yang panik membuka pintu. "Tunggu alat pemotong. Stabilkan lehernya!"

Ia menyelipkan tangan melalui celah pintu, menekan sumber perdarahan, sambil memeriksa napas dan nadi.

"Bu, dengar suara saya? Jangan tidur."

Sirene terdengar mendekat.

Rangga menoleh, mengira ambulans RSUD Harapan Bangsa datang.

Kendaraan yang berhenti di tepi jalan itu milik RS Mentari Global.

Di badan putihnya tertulis jelas sebuah logo asing.

RS Mentari Global.

1
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
Amiera Syaqilla
hello author🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!