Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Milik Saya
Adnan berhenti tepat di belakang kursi mereka. Pria dengan kamera itu bergerak maju, lensa kameranya terarah tajam.
"Buktikan," tantang Adnan. "Kalian bilang akan menikah. Kalian tinggal satu atap. Tapi sejak tadi, bahasa tubuh kalian kaku seperti rekan kerja yang sedang rapat. Kalau kalian benar-benar saling mencintai... cium dia. Disini, sekarang."
"Adnan cukup!" tegur Bu Ratna tajam. "Ini meja makan."
"Kenapa Tante? Mereka akan menikah, kan? Ciuman kecil di pipi atau bibir seharusnya hal yang wajar. Kecuali.... ini semua hanya sandiwara bisnis untuk menghindari perjodohan dengan Clarissa?" Adnan menekan tombol, menyurutkan mereka ke dinding.
"Jika Ryan menolak, keraguan akan muncul. Jika mereka melakukannya dengan kaku, sandiwara terbongkar.
Ryan menatap Adnan dengan tatapan mematikan. "Kau mabuk, Adnan."
"Aku gak mabuk. Aku hanya ingin bukti. Cium calon istrimu, Ryan. Atau akui saja kalau kau menyewa dia."
Aulia membeku. Ciuman tidak ada dalam kontrak. Kontak fisik dibatasi. Ia menatap Ryan dengan panik.
Namun, Ryan tidak melihat ke arah Adnan lagi. Dia memutar tubuhnya menghadap Aulia. Tatapannya berubah. Tidak ada lagi dinginnya es, yang ada hanya intensitas yang dalam dan gelap.
"Aulia," panggil Ryan lembut, suaranya serak.
Sebelum Aulia sempat menjawab, tangan Ryan yang besar dan hangat menangkap pipi Aulia. Ibu jarinya mengusap lembut ujung bibir gadis itu sebuah sentuhan yang begitu intim hingga membuat napas Aulia tercekat.
"Abaikan dia," bisik Ryan, matanya terkunci pada bibir Aulia. "Lihat aku."
Detik berikutnya, Ryan menunduk dan mempertemukan bibir mereka.
Aulia membelalakan matanya sesaat, karena terkejut. Ia mengira itu hanya akan menjadi kecupan singkat dan formal. Tapi ia salah.
Ryan menciumnya dengan dominasi dan tuntutan yang nyata. Bibirnya bergerak dengan ahli, lembut namun mendesak, seolah-olah dia benar-benar menginginkan Aulia - atau mungkin seolah ia sedang melampiaskan semua frustrasi dan amarahnya pada dunia.melalui ciuman itu.
Aulia yang awalnya kaku, perlahan luluh. Aroma maskulin Ryan, kehangatan tubuhnya, dan sensasi asing yang menjalari saraf-sarafnya membuat Aulia tanpa sadar memejamkan mata. Tangannya yang tadi meremas serbet, kini bergerak naik, mencengkeram kemeja batik Ryan.
Ruang makan itu senyap. Tidak ada suara dentingan garpu, tidak ada tawa sinis. Hanya suara napas mereka berdua.
Pria dengan kamera itu menurunkan kameranya, lupa memotret saking terkejutnya melihat dewa arsitektur yang terkenal anti romansa itu mencium seseorang dengan begitu bergairah.
Ryan melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun keningnya masih menempel di kening Aulia. Napas mereka beradu.
"Cukup?" tanya Ryan rendah, suaranya ditujukan pada Adnan, tapi matanya tidak lepas dari mata Aulia yang sayu dan berkabut.
Adnan terdiam, wajahnya pucat. Ia kalah telak. Tidak ada akting yang bisa memalsukan Chemistry sekuat itu.
Kakek Surya bertepuk tangan pelan, memecah ketegangan. "Hahaha, Baiklah. Darah Muda! Sudah lama rumah tua ini tidak melihat gairah seperti itu. Adnan Duduklah. Kamu mempermalukan dirimu sendiri."
Adnan kembali ke kursinya dengan kasar, melempar serbetnya.
Ryan kembali duduk tegak, merapikan kerah kemenangan dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di bawah meja, tangannya mencari tangan Aulia dan menggenggamnya erat-erat, sangat erat. Sehingga Aulia bisa merasakan denyut nadi Ryan yang berpacu sama kencangnya dengan miliknya.
Sisa makan malam itu berlalu seperti kabut bagi Aulia. Ia menjawab pertanyaan seadanya, makan tanpa merasakan rasa, pikirannya masih tertinggal pada sensasi bibir Ryan.
Setelah acara makan malamnya selesai, Ryan dan Aulia pun pamit pulang.
Saat mereka pamit pulang, Bu Ratna mengantar sampai ke pintu depan.
"Ryan" panggil ibunya.
Ryan berhenti, "Ya, Bu?"
Bu Ratna menatap Aulia sekilas, lalu kembali ke putranya. "Pernikahan harus dilakukan secepatnya. Bulan depan. Aku gak mau ada gosip hamil di luar nikah hanya karena kalian gak bisa menahan diri."
Wajah Aulia merah padam, Ryan hanya mengangguk singkat. "Iya, baik Bu."
"Kalo gitu, kami pamit, Bu." kata Ryan. Aulia cuma berdiri diam di samping Ryan.
Tanpa menunggu balasan, Ryan langsung membukakan pintu mobi untuk Aulia. Aulia mengangguk hormat pada Bu Ratna, lalu memasuki mobil mewah Ryan.
Ryan juga masuk ke dalam mobil, Sopirnya menyalakan lalu membunyikan klakson sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah tua itu.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam Jakarta, keheningan terasa jauh lebih berat dari yang sebelumnya. Sopir pribadi Ryan telah memasang sekat kaca pemisah, memberi mereka privasi total di kursi belakang.
Aulia duduk menempel ke pintu, menatap keluar jendela, berusaha menenangkan jantungnya. Ciuman itu... itu pelanggaran kontrak. Tapi itu juga menyelamatkan mereka.
"Maaf," suara Ryan terdengar datar, memecah keheningan.
Aulia menoleh, Ryan sedang memijat pelipisnya, tampak lelah.
"Maaf untuk apa?" tanya Aulia pelan.
"Itu tadi... di luar skenario. Saya melanggar batas fisik yang saya tetapkan sendiri," kata Ryan tanpa menatapnya. "Saya harus melakukannya untuk membungkam Adnan. Saya harap kamu gak menganggapnya sebagai pelecehan."
"Saya mengerti, Pak... Ryan. Itu situasi darurat. "Kita harus meyakinkan mereka."
"Bagus kalo kamu ngerti secara profesional." Ryan menurunkan tangannya, lalu menatap Aulia. Di bawah lampu jalan yang temaram yang menerobos masuk mobil, tatapan Ryan terlihat rumit.
"Tapi aktingmu tadi saat membela saya tentang tagihan rumah sakit," Ryan melanjutkan, nadanya sedikit lebih lembut. "Terima kasih. Tidak pernah ada orang yang membela saya di depan keluarga besar seperti itu. Biasanya mereka hanya diam atau ikut menyudutkan."
Aulia tersenyum tipis. "Di kontrak tertulis saya harus menjadi partner yang mendukung, kan? Saya hanya menjalankan tugas."
"Hmmm. Kontrak." gumam Ryan pelan, seolah kata itu kini terasa sedikit mengganggu.
Mobil berbelok masuk area apartemen.
"Satu hal lagi, Aulia." Kata Ryan, saat mobil berhenti di basement.
"Ya?"
"Pria dengan kamera tadi. Dia bukan wartawan biasa. Dia orang suruhan Adnan untuk mencari celah kita," Eyan menatap Aulia serius. "Mulai besok, pengamananmu akan saya perketat. Saya tidak ingin Adnan mendekati ibumu lagi. Saya akan memindahkan Ibumu, kembali ke Rumah Sakit, ke ruang VVIP dengan penjagaan pribadi."
"Tapi itu... itu terlalu mahal, Ryan. Uang kontrak sudah cukup, tolak Aulia.
Ini bukan soal uang. Ini soal memenangkan perang," tegas Ryan. Ia membuka pintu mobil. "Dan saya tidak suka jika ada orang yang mengganggu milik saya.... maksud saya, partner saya."
Ryan keluar dari mobil dengan cepat, meninggalkan Aulia yang terpaku sejenak di kursi belakang. Kata-kata "Milik Saya" yang diralat iru, bergaung di telinga Aulia, sama membingungkannya dengan rasa hangat yang masih tertinggal di bibirnya.
Aulia pun turun dari mobil dan berjalan masuk menuju penthouse mewah milik Ryan.
Malam itu, di penthouse mewah yang sunyi, Aulia berbaring di ranjang besarnya. Ia menyentuh bibirnya sendiri.
Sandiwara ini baru saja menjadi lebih berbahaya. Bukan karena Adnan atau Bu Ratna, tapi karena Aulia mulai menyadari bahwa dinding es Ryan Aditama mungkin tidak setebal yang ia kira. Dan yang lebih menakutkan, Aulia mulai menikmati retakan pada dinding itu.
Di kamarnya yang mewah, Ryan juga sedang mengingat kejadian tadi. Ia memegang bibirnya. Rasa hangat bibir Aia masih terasa di bibirnya.
Bersambung......