SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka di Tengah Kebebasan
Pagi itu, suasana di gerbang Kuil Emas terasa berbeda. Tidak ada lagi jubah safron yang berkibar. Di depan sebuah mobil hitam yang kokoh, berdiri dua gadis dengan penampilan yang benar-benar baru, siap menghadapi dunia yang selama ini hanya mereka intip dari balik tembok kuil.
Arun telah memilihkan pakaian yang sangat kontras untuk mengalihkan perhatian siapa pun.
Nara: Ia tampak tangguh dengan celana jins robek, kaos hitam, dan jaket denim yang menutupi bahunya. Topi baseball yang ia kenakan ditarik sedikit rendah, menyembunyikan tatapan matanya yang tajam. Dengan sepatu sneakers, ia terlihat seperti remaja kota yang mandiri dan berani.
Tongkat pusakanya kini terselip rapi di tas punggung besarnya, tampak seperti peralatan pendaki gunung.
Ingfah: Ia terlihat sangat manis dan elegan. Mengenakan kemeja biru muda dan celana jins yang rapi, dengan tas kecil tersampir di bahunya.
Dengan warna rambut dan matanya yang unik, orang-orang akan mengira ia adalah anak blasteran yang baru saja pulang berlibur dari luar negeri.
Namun, suasana ceria karena pakaian baru itu seketika runtuh saat Arun mulai berbicara dengan nada serius.
"Aku sudah meminta orang-orangku mencari keluarga Tuan Patan yang tersisa," ujar Arun.
"Kabar baiknya, Mae Parang, keluarga Paman Prawat, dan si kecil Ning sudah dipindahkan ke Bangkok. Mereka aman, identitas mereka sudah diganti agar tidak terlacak."
Nara dan Ingfah sempat bernapas lega, namun kalimat Arun selanjutnya membuat jantung mereka seolah berhenti berdetak.
"Tapi... aku punya kabar buruk. Nenek Bua dan Nenek Prik telah tiada. Mereka meninggal karena usia yang sudah sangat tua. Mereka telah dimakamkan dengan layak di tanah kelahiran mereka, Desa Ban Khun Phum."
Ingfah langsung tertunduk, air mata mengalir membasahi pipinya yang putih. Kenangan tentang kehangatan pelukan Nenek Bua dan ketegasan Nenek Prik yang menyelamatkan hidup mereka dulu kini menjadi kenangan yang abadi.
Nara menggenggam bahu adiknya dengan erat. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahan diri untuk tidak menangis di depan Arun. Ia harus kuat untuk Ingfah.
"Mereka sudah beristirahat dengan tenang, Nong," bisik Nara dengan suara parau.
"Mereka sudah menjalankan tugas mereka menjaga kita sampai kita cukup besar untuk menjaga diri sendiri. Sekarang, tugas kita adalah memastikan pengorbanan mereka tidak sia-sia."
Arun menatap mereka dengan empati. "Kita akan mampir ke desa untuk memberi penghormatan terakhir secara singkat sebelum menuju Bangkok. Setelah itu, tidak ada lagi masa lalu. Hanya ada masa depan sebagai keluarga Cankimha."
****
Perjalanan Menuju Bangkok
Mobil mulai bergerak meninggalkan pegunungan Chiang Mai yang sejuk. Di dalam mobil, Nara menatap pemandangan yang berlalu dengan tekad baru. Mereka akan bertemu Mae Parang dan Ning di kota metropolitan yang kejam itu.
Mobil hitam milik Arun berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi di kawasan perumahan elit yang tenang di pinggiran Bangkok. Rumah itu besar, modern, dan dikelilingi tembok tinggi dengan sistem keamanan yang ketat. Inilah markas utama sekaligus tempat persembunyian keluarga baru mereka.
Pintu rumah terbuka lebar bahkan sebelum Arun mematikan mesin mobil. Dari dalam, berlari seorang wanita dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari yang Nara ingat, namun wajahnya tetap memancarkan kehangatan yang sama.
"Mae Parang..." bisik Ingfah.
Wanita itu—yang kini secara resmi bernama Ratri Cankimha—berhenti tepat di depan mereka. Air matanya tumpah seketika. Ia memeluk Ingfah dan Nara sekaligus, mencium kening mereka berkali-kali seolah ingin memastikan bahwa kedua gadis itu bukanlah mimpi.
"Kalian sudah besar... kalian sudah selamat," isak Ratri. "Nenek Bua pasti melihat kalian dari atas sana dengan bangga."
Wajah-Wajah Baru, Jiwa yang Sama
Di belakang Ratri, muncul sosok-sosok yang sangat Nara kenali namun dalam tampilan yang sangat berbeda:
Prawat (kini Prew): Pria yang dulu menjadi pelindung mereka di hutan kini tampak gagah dengan seragam perusahaan. Ia menjabat sebagai mandor konstruksi di perusahaan properti milik Arun.
Ia memberikan Wai yang sangat dalam kepada Nara.
"Nona Muda Nara, Anda tumbuh menjadi pejuang yang hebat," ucapnya dengan suara berat.
Bibi Wiern (kini Wen): Ia membantu Ratri mengelola rumah tangga besar tersebut, memastikan semua kebutuhan logistik dan keamanan internal terjaga.
Si Kecil Ning (kini Nina): Gadis kecil yang dulu sering diajak bermain oleh Ingfah kini sudah menjadi remaja yang modis. Ia langsung memeluk Ingfah.
"Pi Fah! Kamu cantik sekali! Seperti orang asing!"
Arun mengumpulkan mereka semua di ruang tengah yang luas. Suasananya hangat namun tetap waspada.
"Dengarkan semuanya," ujar Arun dengan nada otoriter namun lembut.
"Mulai detik ini, tidak ada lagi masa lalu. Jangan pernah menyebut nama asli kalian di luar rumah ini. Kalian semua adalah bagian dari keluarga besar Cankimha. Di mata publik, Ratri adalah bibi kalian, Prew adalah
paman kalian, dan Nina adalah sepupu kalian."
Arun menatap Nara dan Ingfah dengan serius. "Identitas ini adalah nyawa kalian. Para pemburu mustika masih berkeliaran di luar sana, mencari jejak 'Gadis dengan Rambut Emas'. Di rumah ini, kalian aman. Tapi di luar, kalian adalah warga sipil biasa."
Nara melihat sekeliling. Ia merasakan kenyamanan yang sudah lama hilang, namun ia juga tahu bahwa ini adalah awal dari tanggung jawab baru. Ia harus belajar cara hidup di kota besar: sekolah, teknologi, dan cara bertarung tanpa menunjukkan busur cahayanya secara terang-terangan.
"Malam ini kita rayakan kepulangan kalian," kata Ratri (Bibi Parang) sambil mengusap air matanya. "Aku sudah memasak makanan kesukaan kalian... meski rasanya mungkin tidak seenak masakan Nenek Bua."
****
Makan malam itu terasa hangat sekaligus menegangkan. Aroma masakan Bibi Parang (Bibi Ratri) memenuhi ruangan, namun instruksi dari Arun—atau sekarang harus dipanggil "Daddy"—mengingatkan mereka bahwa perjuangan baru saja dimulai.
Instruksi Sang "Daddy"
Arun meletakkan sendoknya dan menatap kedua gadis itu dengan serius.
"Mulai sekarang, di depan umum maupun di rumah ini, kalian adalah putriku. Panggil aku Daddy. Itu panggilan yang umum di kalangan keluarga modern dan kalangan atas. Ini akan memperkuat identitas kalian sebagai keluarga Cankimha."
Nara mengangguk, mencoba membiasakan diri dengan kata asing itu. "Baik... Daddy."
"Besok adalah hari pertama kalian sekolah," lanjut Arun.
"Nara, karena kamu harus selalu melindungi Ingfah, aku sudah mengatur agar kalian berada di tingkat yang sama di sekolah internasional, meskipun usia kalian berbeda. Dan satu hal penting: Nara, kamu tidak boleh membawa tongkat kayumu ke sekolah. Itu terlalu mencolok dan akan mengundang pertanyaan."
Nara tertegun. Berpisah dengan busur pusakanya adalah hal terberat baginya.
"Tapi Daddy, bagaimana jika..."
"Aku sudah menyiapkan pengamanan di sekitar sekolah. Tugasmu di sana adalah menjadi siswa biasa. Senjatamu adalah kecerdasanmu," potong Arun tegas.
Identitas "Farang" Ingfah
Arun beralih ke Ingfah. "Malam ini, kita akan belajar bahasa asing dasar. Penampilanmu, Ingfah... kamu terlihat seperti seorang Farang."
Ingfah mengerutkan kening, wajahnya tampak bingung.
"Farang? Apa itu Farang, Daddy? Apakah itu sejenis buah?" tanya Ingfah dengan kepolosan yang membuat seisi meja makan tersenyum tipis.
Arun terkekeh pelan. "Bukan, Sayang. Farang adalah sebutan orang lokal untuk orang asing atau orang Barat. Dengan rambut pirang dan mata birumu, semua orang akan mengira kamu punya darah Eropa atau Amerika. Jadi, kamu harus bisa sedikit bahasa Inggris agar penyamaranmu sempurna."
Setelah makan malam selesai, Arun mengajak mereka ke ruang keluarga dan mengeluarkan dua buah kotak elegan berisi ponsel pintar terbaru. Bagi Nara dan Ingfah yang selama 11 tahun hidup di hutan dan kuil tanpa listrik, benda tipis mengkilap itu tampak seperti sihir hitam.
"Ini adalah ponsel. Alat komunikasi dunia modern," kata Arun. Ia mulai menunjukkan cara menyalakan layar dengan sidik jari.
Nara menyentuh layarnya dengan ragu-ragu. "Benda ini... bisa bicara?" tanya Nara saat melihat layar itu menyala terang.
"Bukan hanya bicara, kalian bisa melihat wajah orang dari jarak jauh, mencari informasi apa pun, dan memanggil bantuan," jelas Arun sabar.
"Kalian harus belajar menggunakannya malam ini. Ini adalah 'pusaka' kalian di dunia kota."
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi keduanya.
Ingfah berkutat dengan buku panduan bahasa Inggris dasar, mencoba menirukan logat yang diajarkan Arun.
Nara mencoba memahami cara kerja peta digital dan aplikasi pesan singkat, meskipun jari-jarinya yang terbiasa memegang busur terasa kaku saat menyentuh layar sentuh.
Arun harus benar-benar sabar. Mengajari dua gadis yang memiliki kekuatan spiritual luar biasa namun buta teknologi adalah tantangan tersendiri. Namun, ia melihat tekad di mata Nara; gadis itu belajar seolah-olah ponsel itu adalah bagian dari taktik perang.