NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bencana?

Rani duduk di pinggir kasur Rio, tangannya gemetar saat menyentuh dahi kakaknya. Rio masih tak sadarkan diri sejak ia memindahkannya ke kamar. Mata Rani memerah, seolah air matanya menunggu aba-aba untuk jatuh.

“Kenapa kamu, kak… apa aku harus telepon ambulans?” bisiknya.

Ia bertahan sampai lelah menjalar dari pundak ke mata, dan akhirnya tertidur di samping Rio. Malam terasa sangat panjang baginya—panjang dan penuh kecemasan yang menempel di dada.

Rio tetap diam, seakan terperangkap di tempat lain.

--Di tempat lain…

Kesadaran Rio melayang di ruang gelap tanpa ujung. Tidak ada lantai, tidak ada langit, hanya kekosongan yang menelan suara dan waktu. Ia menatap sekeliling, meski tidak tahu apa sebenarnya yang ia cari.

“Di mana aku…?”

Rasanya seperti pingsan, tapi juga seperti terlepas dari tubuh sendiri. Ketika memikirkan Rani, dadanya mencubit, semacam rasa takut yang tidak pernah ia akui pada siapa pun.

"Apa Rani baik-baik saja…?"

Ia mencoba berjalan, namun gelapnya tidak bergeser. Tidak ada dinding, tidak ada pintu, tidak ada celah seperti dunia menutup semua kemungkinan keluar. Pikiran Rio mulai bergerak ke arah berbahaya.

“Kalau aku melukai tubuhku sendiri… mungkin aku bisa bangun.”

Namun kata itu sendiri membuatnya menegang. Kenapa ia bisa sampai di sini? Kenapa King’s Sense bergetar sebelum ia ambruk? Rio mengingat rasa panik saat tidak menemukan Rani tadi. Mentalnya goyah… dan King’s Sense adalah satu-satunya jangkar yang menahannya.

Tapi bahkan jangkar pun tak selalu kuat.

Perlahan ia melihat tubuhnya memudar. tangan, kaki, lalu siluetnya sendiri. Ketakutan itu merayap naik lebih cepat dari napasnya. “aku menghilang...,Apakah aku benar-benar tidak bisa kembali…?”

Dan tepat saat pikirannya runtuh, cahaya pecah.

Rio terbangun di kamarnya. Napasnya terputus sesaat, seperti seseorang baru saja menariknya dari dasar laut. Di sampingnya, Rani tertidur, tubuh kecilnya terlihat sangat kelelahan.

Rio hanya bisa menatapnya dengan rasa bersalah yang ia simpan dalam diam.

Ia menggendong Rani, perlahan agar tidak membangunkannya, dan membawanya kembali ke kamar. Pintu ia tutup dengan lembut, seolah dunia akan pecah jika berbunyi terlalu keras. Setelah itu ia kembali ke tempat tidurnya sendiri dan mengganti pakaian.

Namun pikirannya tidak tenang.

Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mengurai kejadian tadi. Dunia gelap itu, rasa melayang itu ,apakah itu ruang bawah sadarnya? Atau King’s Sense membawa kesadarannya ke tempat lain?

Jawaban tidak datang, hanya rasa berat di dada.

“Sudahlah…” gumamnya. “Nanti kupikir lagi.”

Dan Rio akhirnya memaksa dirinya tidur.

Sudut Pandang Rani

Pagi datang dengan cahaya lembut, tapi rasa panik langsung menghantam Rani ketika ia ingat kejadian semalam. Ia terbangun di kamarnya sendiri, padahal ia tertidur di kamar Rio.

Artinya… kakaknya yang memindahkan.

Rani bangkit cepat, hampir jatuh karena tergesa. Ia membuka pintu kamar Rio dengan dorongan yang terlalu keras. “Brakk!”

Dan di sana, Rio masih terbaring.

“Ugh…” Rani menggigit bibirnya. “Apa aku harus benar-benar telepon ambulans…?”

Kembali ke Rio

Rio membuka mata ketika suara langkah Rani masuk ke kamar. Gadis itu langsung memeluknya erat, seperti seseorang yang telah menahan takut semalaman.

“Kakak… aku nggak mau kehilangan keluarga satu-satunya.”

Air mata Rani membasahi bahu Rio. Ia mengusap kepala adiknya, perlahan, seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan badai. “Aku nggak ke mana-mana,” bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.

Dan untuk pertama kalinya, Rani sedikit tenang.

“Sudah, ayo siap-siap sekolah.”

“Ya, kak…”

Senyum kembali ke wajah Rani. Sedangkan Rio… ia masih dihantui bayangan ruang gelap itu. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba memahaminya, jawabannya tetap kabur.

Jadi ia memilih fokus pada hari yang ada di depannya.

—lalu Rio bersiap untuk berangkat..

Di Ruangan Gelap… Sebuah gedung yang jika Di lihat dari luar hanyalah sebuah gedung biasa..

Sebuah pintu besi terbuka dan Rivaldo masuk ke ruangan yang dipenuhi asap rokok dan suara tawa pemabuk. Orang-orang dewasa duduk berjudi, tidak peduli dunia luar. Di tengah ruangan, seseorang bersandar di sofa, tubuh besar dan ototnya terbuka seperti ancaman yang dibiarkan tanpa selimut.

Siluet itu tidak bicara lembut. ia memberi perintah.

“David kalah lagi?” Suaranya memotong udara. “Mengecewakan. Buang saja dia. Hilang dari hadapanku.”

Nada itu tidak memberikan ruang bagi belas kasih.

Rivaldo langsung pucat. Keringatnya jatuh seolah air hujan yang tidak ada payungnya. “B-baik…”

Ia keluar dari ruangan dengan wajah kaku menahan amarah.

Begitu pintu menutup, seluruh emosinya meledak. “Bagaimana David bisa kalah dari pecundang itu!? Rio… dia menghalangiku lagi! Aku akan hancurkan tubuhnya sendiri!”

Dan lorong gelap itu bergema oleh frustrasinya.

Pagi Hari – Jalan Menuju Sekolah

Rio dan Riko berjalan berdampingan menuju sekolah. Rio tampak lebih lelah dari biasanya, langkahnya malas, punggungnya sedikit membungkuk seperti orang yang kurang tidur seminggu.

Riko meliriknya, tidak nyaman melihat temannya seperti itu.

“Sepertinya kau lemas banget hari ini,” katanya.

“Ya, memang.”

Meski fisiknya tidur, Rio merasa seperti tidak benar-benar istirahat. Waktu di dalam bawah sadar tidak bergerak, namun kelelahan tetap menempel seperti bayangan.

Riko hanya menghela napas.

Saat melewati gang kecil, suara gaduh memecah rutinitas pagi. Teriakan, bantingan, dentuman. suara yang terlalu familiar bagi masa lalu Rio. Riko menunjuk sumbernya, alisnya terangkat penasaran.

“Di sana berisik banget.”

“Tunggu…” Rio memicingkan mata.

Seorang siswa dikeroyok oleh beberapa orang lain. Adegan itu seperti potongan masa lalu yang dilempar kembali ke wajah Rio. Tidak perlu ada analisis King’s Sense untuk memahami hal itu.

“Bukankah ini… perundungan?”

Kali ini, Rio tidak berniat diam."ini adalah wilayah ku!." Tidak setelah semua yang ia alami.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!