NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Anak Yatim dari Han

Kabut pagi mulai mengangkat perlahan, membiarkan sinar matahari menembus celah pepohonan yang rimbun di pinggiran desa kecil itu. Embun masih menempel di dedaunan, berkilau seperti butiran permata saat tertimpa cahaya. Suara ayam berkokok, disusul riuh tawa anak-anak desa yang berlarian tanpa beban.

Namun, bagi Tetua Qingyun, suasana damai itu hanyalah selubung tipis. Ia tahu, keheningan hanyalah jeda sebelum badai berikutnya tiba. Dengan sebilah pedang di tangan, ia berdiri di depan rumah Kepala Desa, menatap jalan tanah yang membentang ke selatan.

Di dalam rumah, Lin Feng masih tertidur pulas. Bayi mungil itu tampak begitu rapuh, wajahnya tenang seakan dunia luar tak bisa menyentuhnya. Qingyun menatapnya dengan sorot mata yang bercampur antara kasih sayang dan kegelisahan.

“Han…” gumamnya lirih.

Nama itu sudah lama terngiang di benaknya sejak semalam. Wilayah Han, sebuah tempat yang terkenal dengan penderitaan akibat perang berkepanjangan, sekaligus tempat lahirnya banyak anak yatim. Ironisnya, di balik semua kepedihan itu, Han menyimpan sesuatu yang dunia luar sering lupakan: kehangatan sederhana dari keluarga-keluarga yang masih berpegang pada nilai lama—kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan.

Qingyun percaya, jika ada tempat untuk memulai perjalanan Lin Feng, Han adalah jawabannya.

Beberapa hari kemudian, rombongan kecil meninggalkan desa. Qingyun berjalan di depan, langkahnya meski tertatih tetap tegas. Di punggungnya tergantung sebuah bungkusan kain lusuh berisi kebutuhan sederhana, sementara Lin Feng digendong dengan kain panjang di dada seorang perempuan desa yang bersedia ikut mengantar hingga perbatasan.

Penduduk desa berkumpul untuk melepas mereka. Tidak ada sorak sorai, hanya tatapan mata yang penuh kekhawatiran dan doa. Mereka semua tahu orang tua itu bukan orang biasa, dan bayi yang ia bawa bukan bayi sembarangan.

“Jaga dirimu, orang tua,” ujar Kepala Desa dengan suara berat. “Semoga jalanmu dilindungi langit.”

Qingyun menunduk singkat, lalu melangkah pergi tanpa banyak kata. Dalam hatinya, ia tahu ucapan itu bukan sekadar doa, melainkan harapan yang tulus dari mereka yang hidup sederhana namun berhati murni.

***

Perjalanan menuju Han tidaklah mudah. Jalanan berbatu yang berliku di antara pegunungan, hutan lebat yang dipenuhi suara binatang malam, hingga lembah-lembah yang sunyi bagai dunia tanpa penghuni.

Di salah satu malam, mereka berhenti di tepi sungai kecil. Api unggun menyala redup, menerangi wajah renta Qingyun yang tampak lelah. Perempuan desa yang menggendong Lin Feng sudah tertidur, sementara bayi itu merengek pelan.

Qingyun mendekat, duduk di sampingnya. Ia menepuk-nepuk halus punggung Lin Feng, mencoba menenangkan.

“Shhh… tidurlah, anak kecil. Dunia ini keras, tapi semoga mimpimu selalu lembut.”

Saat itu, kenangan kembali menyerbu—suara muridnya, ibu Lin Feng, yang dulu berkata dengan mata penuh keyakinan:

“Guru, suatu hari anakku akan menjadi lebih kuat dariku. Aku percaya ia akan membawa cahaya bagi dunia yang gelap ini.”

Qingyun menutup mata. “Aku akan menjaganya, muridku. Meski harus mengorbankan sisa hidupku.”

Hari demi hari, perjalanan berlanjut. Hingga akhirnya, setelah melewati padang luas yang dipenuhi rumput liar dan desa-desa kecil yang sepi, mereka tiba di perbatasan Han.

Wilayah Han menyambut mereka dengan pemandangan yang kontras: sawah-sawah yang terbentang luas, namun banyak dibiarkan kosong; rumah-rumah sederhana dengan dinding bambu yang tampak usang; anak-anak kurus berlarian tanpa alas kaki, sebagian besar dengan wajah kusam namun mata yang tetap berbinar.

Perempuan desa yang ikut mengantar berhenti di perbatasan. Ia menyerahkan kembali Lin Feng pada Tetua Qingyun.

“Maaf, sampai sini aku hanya bisa menemani. Desa kami butuh aku kembali.”

Qingyun mengangguk penuh hormat. “Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Terima kasih.”

Perempuan itu tersenyum samar, lalu berpaling tanpa menunggu ucapan lebih lanjut. Ia tahu, semakin lama ia menatap bayi itu, semakin berat langkah kakinya untuk pergi.

Tetua Qingyun kini berjalan seorang diri dengan Lin Feng dalam gendongan. Ia memasuki wilayah Han yang lebih dalam, melewati pasar kecil yang ramai meski tampak miskin. Orang-orang menjual hasil bumi seadanya: ubi, jagung kering, dan kain lusuh. Namun di antara kesederhanaan itu, ada tawa dan candaan, seakan penderitaan hanyalah teman lama yang sudah terbiasa menemani.

Qingyun berhenti di sebuah sumur tua. Ia menurunkan Lin Feng, menatap wajah polos bayi itu.

“Tempat ini… akan menjadi awalmu, Lin Feng. Kau akan tumbuh di tanah yang penuh luka, tapi juga penuh kasih.”

Suara riuh anak-anak membuatnya menoleh. Beberapa anak kecil sedang bermain, sebagian di antaranya jelas tanpa orang tua. Pakaian mereka compang-camping, tapi mata mereka penuh semangat.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun mendekat, menatap Lin Feng dengan penasaran.

“Orang tua, itu anakmu?” tanyanya polos.

Qingyun tersenyum samar. “Bukan. Tapi mulai sekarang… mungkin aku bisa menyebutnya begitu.”

Anak itu mengangguk, lalu berlari kembali ke kelompoknya.

***

Hari-hari berikutnya, Qingyun menetap di Han. Ia memilih sebuah rumah kosong di pinggir desa yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Atapnya bocor, dindingnya miring, tapi cukup untuk melindungi bayi dari hujan dan angin.

Setiap hari, ia keluar untuk mencari ramuan, menukar sedikit tenaga dengan makanan, atau sekadar mengamati kehidupan desa. Perlahan, ia mulai dikenal sebagai tetua bijak yang selalu membantu tanpa banyak bicara.

Namun, bagi Qingyun, semua itu hanyalah selubung. Tugas utamanya tetap satu: memastikan Lin Feng bertahan hidup.

Ia mulai mengenalkan bayi itu pada dunia dengan cara sederhana. Saat Lin Feng mulai bisa menggenggam, ia memberinya ranting kecil. “Pegang ini, rasakan beratnya. Suatu hari, kau akan memegang pedang. Tapi untuk sekarang, biarlah ranting menjadi teman pertamamu.”

Saat Lin Feng belajar merangkak, Qingyun menaruh batu-batu kecil di hadapannya. “Setiap langkah akan selalu ada halangan. Belajarlah untuk mengatasi, sekecil apa pun itu.”

Dan ketika bayi itu menangis di malam hari, Qingyun akan mendendangkan lagu lama sekte Qingyun—sebuah nyanyian kuno yang dulu dinyanyikan murid-murid sebelum berlatih. Suaranya serak, tapi penuh rasa.

***

Waktu berlalu cepat. Lin Feng mulai tumbuh, meski masih sangat kecil. Rambut hitamnya semakin lebat, matanya cerah seakan menyimpan sesuatu yang dalam. Penduduk desa mulai akrab dengannya, menyebutnya “anak kecil dari rumah tua”.

Namun, Tetua Qingyun tidak pernah lengah. Ia tahu musuh-musuh masih ada di luar sana, menunggu waktu yang tepat.

Suatu sore, saat matahari hampir tenggelam, ia duduk di depan rumah sambil menatap jalan desa. Tiba-tiba, firasatnya bergetar. Tiga sosok asing terlihat berjalan di kejauhan, pakaian mereka terlalu rapi untuk ukuran desa miskin.

Qingyun menggenggam tongkat kayu erat. “Sepertinya badai sudah mulai merayap lagi.”

Ia menoleh pada Lin Feng yang sedang tertidur di dalam rumah. Hatinya bergetar. “Kau masih terlalu kecil, anakku. Tapi dunia tidak peduli pada usia. Dunia hanya tahu kekuatan.”

Malam itu, Qingyun duduk bermeditasi. Angin malam berhembus, membawa suara jangkrik. Dalam keheningan, ia kembali mendengar suara muridnya, samar namun jelas.

“Guru… jangan biarkan darah sekte kita hilang. Tolong… jaga anakku.”

Air mata menetes lagi di pipi tuanya. Ia mengangkat wajah, menatap bintang yang bertaburan.

“Lin Feng… kau adalah anak yatim, seperti banyak anak di Han. Tapi berbeda dengan mereka, kau membawa warisan yang bisa mengubah dunia. Aku tidak tahu apakah kau akan cukup kuat suatu hari nanti. Tapi aku akan pastikan kau diberi kesempatan.”

Pagi berikutnya, desa ramai seperti biasa. Anak-anak berlarian, orang dewasa berangkat ke ladang. Namun di dalam rumah tua itu, Tetua Qingyun sudah mengambil keputusan. Ia akan tetap tinggal di Han untuk sementara, sambil melatih dasar-dasar pada Lin Feng sedari dini, meski dengan cara yang sederhana.

Di luar, ia mendengar suara anak-anak memanggil:

“Orang tua! Ayo ikut main dengan kami!”

Qingyun tersenyum tipis. “Bermainlah, anak-anak. Dunia kalian masih murni. Tapi suatu hari nanti, kalian akan tahu betapa kerasnya dunia ini.”

Ia kembali menatap Lin Feng, lalu berbisik pelan.

“Anak yatim dari Han… begitulah dunia akan mengenalmu. Tapi aku tahu, di balik nama itu, kau adalah pewaris terakhir Sekte Qingyun. Dan takdir, cepat atau lambat, akan memanggilmu.”

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!