NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Sejarah Keluarga Lin dan Jalan Kultivasi

Setelah pendakian yang terasa tiada akhir, Lin Cheng akhirnya menginjakkan kaki pada tangga terakhir. Napasnya masih terengah, kakinya pegal, namun semua rasa lelah itu seketika sirna digantikan oleh pemandangan yang tak masuk akal.

INI

Di hadapannya membentang bidang hijau yang luas, bukan puncak berbatu yang ia kenal.

Padang rumput itu hijau membentang sejauh mata memandang, diselingi oleh beberapa bangunan pondok sederhana yang tersusun rapi, lengkap dengan kandang dan pohon buah yang tampak baru ditanam. Suasana di puncak ini sangat jauh berbeda dari gambaran yang ia hafal sebelumnya; yang seharusnya hanya bebatuan keras dan kasar, kini menjadi sebuah oase kehidupan.

"Ini..." Lin Cheng hanya bisa bergumam, tak percaya dengan pemandangan di depannya.

Dia mendongak, dan sekali lagi, keterkejutannya memuncak. Langit di atasnya cerah, biru tanpa awan, dengan gugusan awan putih yang bersih dan tipis berarak santai. Ini sangat kontras manakala ia melihat puncak bukit dari bawah tadi, yang sepenuhnya ditutupi awan tebal dan misterius.

Seolah ada dua dunia berbeda yang terpisah oleh lapisan kabut.

Bagaimana mungkin? Apakah ada ilusi yang menyelimuti bukit ini? Atau ia telah melangkah ke dunia lain? Firasat kuat mengatakan bahwa ia bukan lagi berada di bukit yang sama seperti yang ia kenal.

Pandangan Lin Cheng menyapu seluruh hamparan hijau yang membingungkan itu, hingga akhirnya terpaku pada sebuah siluet. Sosok pemuda yang rebahan di bawah pohon besar di samping sebuah telaga kecil. Tanpa alasan yang jelas, seolah ada daya tarik tak terlihat, Lin Cheng memasuki bidang hijau itu.

Langkah kakinya yang mantap berubah menjadi langkah cepat, mendekati pemuda yang tampak sedang terlelap di tengah padang rumput.

"Em... kamu?" Lin Cheng berujar pelan, sedikit ragu namun jelas ada nada penasaran yang kuat.

Xiao An yang tadinya terlelap pulas, membuka matanya perlahan. Cahaya matahari menerpa wajahnya. Ia melihat Lin Cheng berdiri di atasnya, sebuah sosok asing yang tiba-tiba muncul di dunianya yang baru. Terkesiap dalam hatinya, ia refleks bangkit duduk. Namun, keterkejutan itu dengan cepat berganti dengan perasaan lain.

Wajah Xiao An menyiratkan perasaan yang antusias. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Selama ini, ia mengira dirinya sendirian di puncak bukit yang misterius ini, hanya ditemani domba, sapi, dan pondok kayunya. Namun, kini ada seseorang. "Ada juga seseorang di sini. Aku tak sendiri," batinnya, sebuah kelegaan besar membanjiri hatinya.

Lin Cheng, dengan keranjang di punggungnya, langsung mengulurkan tangan.

"Halo. Namaku Lin Cheng. Aku... tinggal di sekitar sini. Kamu siapa?"

Xiao An tersenyum lebar, membalas uluran tangan itu dengan antusias.

"Aku Xiao An! Senang bertemu denganmu! Kupikir aku sendirian di sini."

Lin Cheng mengangguk, matanya menatap sekeliling pondok dan kandang domba dengan takjub. Rasa penasarannya tak bisa dibendung.

"Xiao An, sejak kapan kamu tinggal di sini? Aku sudah sering menjelajahi bukit ini, tapi tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya."

Xiao An terdiam sejenak, wajahnya sedikit berubah. Mengatakan bahwa dia baru ada di sini sejak kemarin rasanya... terlalu aneh. Bagaimana menjelaskan panel sistem, hadiah, dan domba-domba yang muncul begitu saja? Itu pasti akan terdengar seperti cerita orang gila, atau lebih buruk, seperti pengakuan kalau dia jatuh dari langit.

Dengan sedikit keraguan, dia memutuskan untuk mengaburkan kenyataan.

"Ah, aku... aku sudah di sini... beberapa minggu yang lalu," jawab Xiao An canggung, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Dia berusaha tersenyum meyakinkan, berharap Lin Cheng tidak terlalu curiga dengan jawaban yang terkesan mengambang itu. Mengklaim dirinya 'orang dari dunia lain' sepertinya bukanlah cara terbaik untuk memulai perkenalan.

Lin Cheng mengerutkan kening, sedikit tidak puas dengan jawaban Xiao An yang samar.

"Beberapa minggu yang lalu?" batinnya. Itu tidak masuk akal.

Dia sudah sering melewati bukit ini dan tidak pernah ada pondok atau tanda-tanda kehidupan. Tapi kemudian, dia menghela napas panjang.

"Ah, sudahlah," pikirnya. Ini adalah dunia kultivasi, tempat di mana hal-hal luar biasa adalah lumrah.

Dia sendiri pernah mendengar kisah para master yang bisa meratakan hutan, mengeringkan laut, membuat sungai, bahkan menghancurkan gunung dengan satu serangan. Dibandingkan dengan itu, munculnya sebuah pondok di puncak bukit yang sebelumnya kosong bukanlah hal yang mustahil. Akhirnya, Lin Cheng mulai kompromi dengan keanehan ini.

"Baiklah," kata Lin Cheng, menatap Xiao An dengan pandangan yang lebih terbuka.

"Jadi, kamu tinggal sendiri di sini? Atau kamu bersama gurumu?"

Xiao An bergidik. Pertanyaan ini! Bagaimana dia harus menjawabnya? Mengatakan dia tidak punya guru sama sekali akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Ah, ya, ikuti saja alur cerita yang sudah ia buat.

Dengan anggukan ringan, Xiao An mengiyakan pertanyaan Lin Cheng.

"Iya, benar. Guruku... dia meninggalkanku sendiri di sini," jawab Xiao An, mencoba terdengar meyakinkan.

"Katanya, agar aku bisa hidup mandiri dan tidak bergantung di masa depan. Ini bagian dari latihanku."

Lin Cheng membuang napas berat. Ia menaruh keranjang herbal di punggungnya dan mengambil duduk di samping Xiao An, menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar yang sama. Raut wajahnya berubah muram.

"Beruntung sekali kamu punya guru," kata Lin Cheng, suaranya terdengar sedikit getir.

"Aku... seharusnya tahun lalu aku sudah memasuki Akademi Kekaisaran." Desahnya, ada nada penyesalan yang jelas di sana.

Xiao An mengerutkan kening.

"Bukankah di tahun ini kamu masih bisa mendaftar?" tanyanya, polos.

Lin Cheng menggeleng.

"Tidak semudah dan semulus itu," jawabnya, suaranya pelan.

Kemudian, dia mulai bercerita. Dia tinggal di desa terdekat dengan bukit ini, sekitar tiga kilometer jauhnya. Nama desanya adalah Mushan. Namun, itu bukan desa yang ramai lagi. Desa itu sudah ditinggalkan oleh penduduknya, yang semula berjumlah sekitar 400 orang.

Kini, yang tersisa hanyalah dia dan kakeknya seorang, yang mengemban tanggung jawab berat untuk menjaga Kuil Mukui. Itu adalah tanggung jawab turun-temurun keluarga Lin, yang sudah dipegang selama beberapa generasi.

"Seharusnya aku ada di Akademi," Lin Cheng menambahkan, pandangannya menerawang ke arah awan.

"Tapi dengan desa yang kosong dan kakek yang semakin tua... tidak ada pilihan lain bagiku selain tetap di sana."

Xiao An menepuk pundak teman barunya itu dengan lembut, memberikan kata-kata empati.

"Aku turut prihatin mendengarnya, Lin Cheng."

Kemudian, sebuah ide yang terinspirasi dari bacaannya melintas di benaknya.

"Tapi, bukankah kamu bisa belajar kultivasi tanpa guru?" tanyanya, matanya berbinar.

"Mengingat kakekmu adalah penjaga kuil, mestinya ada warisan keluarga atau teknik kultivasi yang diturunkan, kan?"

Xiao An menerka dari novel-novel wuxia yang dia baca sebelumnya, di mana seringkali ada harta karun tersembunyi atau teknik rahasia di kuil-kuil kuno.

Lin Cheng menghela napas, pandangannya meredup.

"Keluarga Lin sudah bobrok, Xiao An," katanya pahit.

"Kami hanya tinggal di rumah yang rusak dan satu bangunan kuil yang nyaris roboh. Masalah harta keluarga kami sudah habis dan lenyap oleh kebutuhan biaya mendukung perang, tekanan dari keluarga besar lain, dan pencurian. Kami hanya memiliki teknik kultivasi di tahap pertama saja. Itu pun sudah sangat dasar, tidak cukup untuk bertahan di dunia kultivasi."

"Dunia kultivasi?!" Xiao An terperangah.

Matanya membulat sempurna, seolah baru saja mendengar rahasia alam semesta.

"Ini gila!" batinnya, tak percaya.

"Bukankah aku juga bisa berkultivasi nantinya?"

Jantungnya semakin berdebar-debar, bukan lagi karena sakit atau takut, melainkan karena antusiasme yang meluap-luap. Impiannya menjadi Raja Pedang atau Dewa Perang yang sempat ia kubur dalam-dalam, kini kembali menyala terang. Dia semakin antusias!

Lin Cheng juga tampak bersemangat. Mengingat di desa yang ditinggalkan itu hanya dia yang tumbuh besar bersama kakeknya, memiliki teman juga adalah hal yang sangat baik, bahkan terasa seperti anugerah. Dia melihat binar di mata Xiao An dan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

"Tentu saja!" kata Lin Cheng, suaranya penuh gairah.

"Kultivasi itu adalah jalan untuk melampaui batas manusia biasa, menyerap energi spiritual dari alam, dan menggunakannya untuk memperkuat tubuh, pikiran, bahkan jiwa. Ada berbagai jalur, tergantung pada bakat dan teknik yang dipelajari. Ada yang fokus pada pedang, ada yang pada mantra, ada juga yang pada penyembuhan atau bahkan penguasaan elemen alam."

Lin Cheng kemudian menjelaskan bahwa:

"Pada dasarnya, kultivasi dimulai dengan memurnikan tubuh dan mengumpulkan Qi, energi vital yang ada di setiap makhluk hidup dan alam semesta. Setelah Qi terkumpul dan mengalir lancar, barulah seseorang bisa melangkah ke tahap-tahap selanjutnya, seperti membentuk inti spiritual, atau bahkan mencapai pencerahan dan terbang di udara!"

Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar, membayangkan dirinya terbang bebas di langit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!