Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Satu bulan, dua bulan berlalu hari lamaran untuk Reni tinggal satu minggu lagi. Hari ini mereka semua berkumpul di rumah orang tua Randi.
Kedua anak Dewi tidak pernah Dewi ajak ke kampung halamannya. Dewi tidak ingin mereka mendengar kata kata pedas dari orang orang yang suka membicarakan namanya. Jadi kedua anak Dewi tidak dekat dengan keluarga Dewi atau pun Randi. Mereka berdua lebih dekat dengan Amalia dan anaknya.
Hari ini dan beberapa lagi mereka berdua tinggal di rumah Amalia, yang tanpa mereka sadari itu adalah rumah ibu mereka sendiri.
Kembali ke kampung halaman Randi dan Dewi..
"Kita berkumpul di sini, untuk membicarakan tentang lamaran Reni dari keluarga Jack, Semua kita dapat bagian untuk di tanggung bersama sama " Kata Ayah mertua Dewi.
"Johan sama Rani gimana ? " Tanya ayah mertua Dewi.
"Saya sama kak Johan udah kasih uangnya ke ibu 2 juta lima ratus Yah.. Kak Johan lagi ada masalah di tempat kerjanya. Gajinya di tahan", Ayah Randi mengangguk
"Randi sama Dewi "? Tanya Ayah Randi lagi
Randi menatap Dewi, Randi memberi kode agar Dewi yang bicara.
"Oh iya, Dari saya uang satu juta lima ratus Yah "
"Apa...... ?"
Dewi bisa mendengar ada beberapa orang yang terkejut mendengar apa yang Dewi katakan. Dewi tetap tersenyum.
"Sayang, kamu nggak salah ngomong?" Tanya Randi berbisik
"Nggak....saya kasih uang satu juta lima ratus ,kakak tambah kan lagi satu juta juga, jadi samaan sama sumbangan kak Rani " Jawab Dewi acuh.
Di belakang ibu mertuanya ada 6 pasang mata yang menatap ke arah mereka, ketiganya adalah adik tiri Dewi yang belum menikah. Salah satu dari mereka bakal jadi madunya. Dewi sedikit penasaran, Dewi menatap mereka juga dan Dewi melihat mereka sedang menatap kepadanya.
"Rani ini gimana ? Bukannya kamu bilang semua udah di tanggulangi sama Dewi ?" Tanya ibu Dewi kesal.
Rani menatap Randi, karena Rani juga mengatakan itu pada Randi.
Randi sendiri kebingungan, dia sudah mengatakan itu pada istrinya. Walaupun Dewi tidak menjawab saat itu tapi Randi tau Dewi pasti selalu mengikuti apa katanya.
"Wi.. Kamu ini bagaimana? Saya kan udah kasih tau kamu ?"
"Kakak cuman kasih tau tanpa bertanya saya punya uang apa nggak atau minimal kakak kasih uang ke saya untuk beli semua keperluan lamaran Reni " Jawab Dewi dengan suara yang tenang
"Tapi kamu tau kan kalau Randi baru saja bekerja Wi " Sambung ibu mertuanya
"Ibu tau..Yang harus jadi tanggungan saya, makan minum semua yang hadir, barang yang harus di kasih ke pihak laki laki. itu juga saya yang tanggung. Apa kak Randi pikir saya ini nggak pernah kekurangan gitu ?" Sahut Dewi
Mereka semua diam " Kak Randi kerja udah dua bulan ,udah 2 kali gajian bukan? Selama bekerja Kak Randi nggak ngasih uang belanja, saya pikir aja gaji nya mau di pakai untuk lamaran Reni. Jadi Ayah ibu.. Gaji saya saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari, lagian saya punya 2 orang anak "
"Itu anak anak kakak, jadi itu tanggungan kak Dewi" Jawab Reni
Dewi tersenyum menatap Reni, dia mulai paham. "Mereka memang sengaja membebankan semua sama saya" Batin Dewi.
Randi Rani Reni semua menatap Dewi dengan tatapan kesal. Randi merasa sikap Dewi sedikit berubah.
"Kamu tau itu Ren, jadi acara lamaran kamu nanti juga tanggungan Ayah sama ibu karena kamu anak Ayah ibu bukan anak saya " Sahut Dewi kembali menatap Reni tajam
"Saya nggak akan membiarkan kalian memanfaatkan saya lagi " Batin Dewi
"Kak Dewi, apa kakak mau lamaran saya ini gagal ?" Tanya Reni
"Apa maksud kamu Ren ?"
"Kak Dewi nggak suka kan kalau acara lamaran ini berjalan dengan baik ?"
"Pasti mau Ren, kenapa ngomong kayak gitu ?"
"Kakak tau kita udah sepakat dengan bagian kita masing-masing, lantas kenapa kak Dewi cuman kasih uang segitu aja ?"
"Ayah ibu, semua yang di sini..Uang ini adalah uang saya. nggak ada sama sekali uang kak Randi. Padahal kita semua tau, kak Randi juga udah kerja bukan. Kenapa kak Randi kak nggak ikut tambahin?"
"Randi ingin menyimpan gajinya untuk hal lain "Rani yang menjawab
Dewi bisa melihat kedua adiknya Sarah dan Mariam tersenyum sinis pada Dewi.
"Hal apa yang kak Randi rencanakan?" Tanya Dewi pada Rani.
Rani terdiam, mata ibu mertua Dewi melotot pada Rani, Dewi tersenyum melihat ibu mertuanya.
"Maaf Ren... kalau soal acara lamaran kamu, bukan urusan saya. saya sudah membantu semampu saya. Itu aja. Saya nggak ada rencana tersembunyi jadi uangnya saya kasih dua juta lima ratus, saya tambahkan satu juta biar sama seperti kak Rani " Sambung Dewi tersenyum.
Semua selesai dengan kesepakatan mereka, Dewi tetap dengan uang yang dia berikan. Mereka tidak lagi membebankan Dewi dengan hal hal lain. Karena Dewi menolak.
Ketika akan keluar duduk di teras depan, ingin menelepon kedua anaknya. Maya adik tirinya datang menemui Dewi.
"Kak...."
"Ya dek.." Dewi menoleh menatap adiknya.
"Kalau kayak tadi kakak tu hebat, Mayang suka kakak seperti itu "
"Hahaha....apa apaan kamu dek, kan emang bener. Kakak sekarang ini lagi nggak punya uang. Jadi kakak bantu semampu kakak lah "
"Iya kak.. Mayang tau, kakak kayak gitu terus ya "
Dewi tersenyum "Ada ada aja kamu dek "
"Loh Dewi, kamu nggak bawa kedua anak kamu ?" Tanya salah satu kerabat dari ibu mertuanya.
"Nggak tante, mereka nggak suka ke kampung "
"Ah masa sih? Tante dengar katanya kamu yang nggak kasih ijin mereka ke sini"
Dewi diam, tidak ingin membalas kata kata dari tante Randi.
"Emangnya tante pengen banget ya ketemu anak anak kak Dewi?" Tanya Maya tiba tiba.
"Oh bukan begitu, tante cuman tanya aja "
"Kirain ada yang penting tante...oh ya tante, Gisel gimana masalah nya ? Udah selesai ya ?"
Terkejut dan pucat mimik wajah Tante Randi.
"Itu sampai heboh satu asrama loh tante.... Gisel kok nekat ya kayak gitu ?" Sambung Maya, Dewi penasaran sebenarnya.
Tante Randi langsung berbalik masuk ke dalam.
"Emang ada apa dek?"
"Anak cewek nya kedapatan lagi anu anu sama anak kepala asrama, yang tangkap mereka itu kepala asrama sendiri. Kepala asrama melihat Gisel kebelakang tapi lama sekali nggak balik. Ibu asrama berpikir nya dia jatuh atau apa, tapi pas ke belakang.. mereka mendengar suara orang seperti kesakitan gitu kak. Semakin ketakutan lah ibu asrama itu, cepat di panggilnya beberapa ibu ibu di sana dan satpam. Mereka mendobrak pintu toilet itu. Kaget.. yang dilihat Gisel sama anak kepala asrama lagi anu anu dan bugil ke bawah kak. heboh deh satu asrama. gitu kak ceritanya"
"Terus kamu dapat cerita itu dari siapa ?"
"Saya satu asrama sama Gisel kak"
"Oh ya ... "
"Iya kak.. "
"Maya...kakak boleh ngomong nggak?"
"Boleh kak"
"Kamu jaga diri ya dek, cukup kakak yang udah mengecewakan ayah. Jangan seperti kakak "
"Iya kak .. Maya udah janji sama ayah juga kok, kalau Maya nggak akan mengulangi kesalahan kakak"
"Karena seperti apapun kamu menjelaskan tentang diri kamu. Nggak akan ada yang mengerti kamu dan kamu tetap akan salah di mata orang orang yang merasa dirinya sempurna "
Maya tersenyum melihat kakak tirinya, dia tau kalau kakak tirinya ini memiliki hati yang baik Namum Dewi selalu membatasi diri karena beberapa keluarga yang selalu memojokkan Dewi karena masalalu nya.
"Baik kak, Maya ingat kata kata kakak"
"Iya kak, di kampung kita ini banyak sekali kaum deterjen kak..Maya maklum aja "
Dewi tertawa, ada sedikit kelegaan di hati melihat adik tirinya tidak marah atau tersinggung dengan kata kata Dewi.
Setelah semua keluarga pulang , Dewi segera masuk ke kamar mereka. Ketika memasuki kamarnya Dewi melihat Mariam seperti sedang bicara pada seseorang. Mariam seperti sedang merajuk tapi siapa?
"Mariam.. Kamu belum pulang? Sarah sama Maya udah pulang tu ".
"Oh iya kak dikit lagi mau pulang, perut saya tiba-tiba mules sekali. Nggak apa-apa Maya sama Sarah pulang. Saya bawa motor kok kak "
"Oh ya udah... oh.. Kamu lihat kak Randi nggak? Udah di cari cari tapi nggak ada"
"Ng... nggak lihat kak"
"Tapi kamu ngomong sama siapa sih Mariam ? Kayak orang yang gugup gitu kamu ?"
"Ini lagi ngomong sama anak tetangga di sebelah, ini udah mau pulang kok orang nya"
Terlihat Mariam menolak bahu orang itu,. kemudian Mariam berjalan ke arah Dewi.
"Kak...Mariam pulang dulu ya "
"Hati hati bawa motornya ya dek "
"Iya kak.."
Dewi juga mengikuti Mariam sampai depan,. dari arah samping rumah tiba tiba saja Randi muncul.
"Kakak dari mana?"
"Dari rumah belakang sayang"
"Oh iya.."
Dewi melihat Mariam sampai motornya menghilang.
Dewi memperhatikan ketiga adik tirinya tidak ada yang terlihat memiliki hubungan dengan Randi. Tapi Dewi tau, salah satu dari mereka adalah bakal madunya.
Dewi memperhatikan Randi yang sedang berbicara dengan seorang tetangga yang lewat depan rumah.
Randi memiliki wajah yang tampan, kulitnya putih, mata sipit. Karena ibu Randi dan Ayah Dewi adalah kakak adik kandung, jadi kulit Randi dan Dewi sama sama putih.
Dewi masuk ke dalam kamar, dia ingin tidur karena besok sore mereka sudah kembali ke kota.
"Kak Randi itu gimana sih, mana bujuk istrinya saja nggak bisa ?" Itu suara Reni
"Kakak juga bingung dek, Dewi kayaknya berubah. Kakak ingat waktu kakak minta Dewi kirim uang obat untuk ayah. Dewi mengaku nggak ada obat dan nggak bisa pinjam lagi di temannya "
"Masa sih kak?"
"Iya, sombong banget dek... Kita lihat aja kalau Randi udah menikah lagi dan punya anak. Kakak akan suruh Randi habiskan uang uang Dewi itu "
"Bener kak....dia harus tau diri lah kak. kak Dewi mandul dan saya yakin banget kak, kak Dewi tu takut di tinggal sama kak Randi. Dia pasti malu di bilang janda "
Dewi menahan debar debar dadanya, rasanya sakit sekali mendengar kata kata kedua iparnya.
.
.
.
.
Bersambung...
Hallo readers...udah up lagi ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya 🫰🏼🫰🏼
sudahlah miskin belagu pulak tuh