Aku bukan pelakor! Aku hanya lah orang ketiga dalam hubungan kakaku dan calon suaminya.... lah bagaimana mana bisa?
Bagaimana jika suami mu dan suami kakak mu adalah orang yang sama?
Ini adalah kisah ku. Aku-Kania, Adam dan Najira, yang bukan lain adalah kakak tiri ku, terikat dalam satu hubungan yang bernama tali pernikahan.
Jika kalian tanya siapa istri pertamanya mas Adam. Aku, aku istri pertamanya. Tapi siapa wanita yang di cintanya, iya, Najira.
Aku tau betul kalau hati mu hanya milik Najira seorang. Tapi, aku juga istri mu. Tidak kah kau memikirkan perasaanku walau sedikit?
Jangan lupakan Chandra, Pria adi kuasa yang memegang tali merah di kehidupan Kania.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asih sunkar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Pernikahan 2
Pesta yang megah masih berlangsung.
Kania mengasingkan diri dari kemeriahan. Membawa dirinya ke sudut-sudut ruangan sekedar untuk menarik nafas dari hiruk-piuk gemerlap pesta. Tempat ini ramai, hanya ia yang sendiri.
Kania menapak entah kemana, berjalan terus menyelusuri taman, membiarkan angin malam menciumi kulitnya, menemani kesepiannya. Saat mendengar sesuatu, langkahnya terhenti, sebenarnya tidak ingin menguping pembicaraan orang lain, tapi pembicaraan itu seolah-olah memaksa kakinya untuk tidak pergi kemana mana. Kania mendekat.
Seorang perempuan menangis dipelukan seorang pria berjas putih, pria itu tampak menenangkannya, sesekali mengecup puncak kepalanya. Dua anak manusia itu sangat Kania kenal, Adam-suaminya, Najira-mantan suaminya, juga adalah kakaknya.
"Aku udah berusaha merelakanmu dengan Kania. Karena… dia sudah nggak suci lagi," suara Najira bergetar, tapi air matanya terjatuh begitu dramatis, seolah ia seorang pemeran utama di panggung sandiwara murahan itu. "Tapi ternyata aku nggak sanggup, Dam… Hatiku sakit. Seharusnya aku yang berdiri di pelaminan bareng kamu. Bukan Kania!". Kania yang mendengar itu ikut merasa sakit.
Kania yang belum tahu bahwa Najira adalah dalang dari penjeratan malam itu, mengutuk dirinya karena kemalangan yang di alami kakaknya. Kania merasa dirinya yang menjadi penyebab kekacauan ini. Kania—bodohnya—mengutuk dirinya sendiri, merasa menjadi beban bagi seseorang yang bahkan tak layak mendapat satu pun penyesalan darinya.
"Aku juga mau kamu Jira, bukan dia" Ini suara Adam. Kania tidak marah saat mendengar katakata itu, karena setahunya, ia yang menjadi pelakor di hubungan kakaknya dan Adam.
"Karena kamu yang suruh aku menikah dengan kania, karena kamu peduli dengan dia, kalau tidak begitu, aku juga tidak akan sanggup melakukan semua ini, sayang"
Adam menyeka air mata dari wajah cantik itu, "Sabar sayang, tidak akan lama, segera aku akan menceraikan perempuan itu" Mengecup pipi Najira lembut, "sebentar lagi kita akan kembali bersama" Membenamkan Najira kedalam pelukannya.
Dari balik dada bidang itu, Najira tersenyum kemenangan. Sekarang seolah ia merasa pemenang di awan awan.
Aku yang pantas menjadi pemenang, kania, bukan kamu! Apapun bisa ku lakukan, semua ada di genggamanku! Sangat tidak rela kalau kania menjadi menantu keluarga Rahardian, sejak ia tahu keluarga itu kaya raya.
Sedangkan Kania yang bersembunyi, mencerna keadaan ini. Seolah ada harapan baru untuknya. Harapan untuk memiliki kehidupan nya lagi, tanpa perlu repot repot, karena Najira dan Adam akan bersama lagi, jadi Kania tidak perlu bersusah payah mecari cara bercerai dengan Adam, Sekarang Kania hanya cukup diam dan tetap bernafas, menunggu dirinya di usir dengan sendiri dari keluarga Rahardian.
Aku harap momen itu cepat datang nya...usirlah aku segera wahai tuan muda kaya, buang aku seolah aku ini hanya bungkus permen!
...
Saat Adam dan Kania seperti ingin meninggalkan tempat, buru buru kania juga beranjak. Jangan sampai siapapun tau dia disini, tidak ingin mengundang perhatian.
Saat Kania berlari kecil, bahunya menabrak tubuh seseorang. Benturan itu membuat tubuhnya oleng, dan kalung kecil di lehernya terjatuh, memantul di atas batu pijakan.
“Oh! Maaf—aku—” Kania membungkuk cepat.
Namun tangan lain lebih cepat mengambil kalung itu.
Seorang pria berdiri di hadapannya.
Tinggi. Tegap. Wajahnya teduh dengan sorot mata lembut yang kontras dengan suasana pesta penuh kepalsuan itu. Rambutnya sedikit berantakan seolah ia baru saja keluar dari ruangan yang sumpek. Jas hitamnya tidak mencolok, tapi elegan. Aroma kayu manis dan hujan melekat di tubuhnya.
"Kalungmu," ujarnya pelan, suaranya dalam dan menenangkan.
Jemari Kania bersentuhan dengan jemarinya saat ia mengambil kalung itu. Hangat. Aneh. Lembut.
Sejenak dunia berhenti berputar.
Pria itu menatapnya, lama, seakan membaca rasa sakit yang Kania sembunyikan rapi.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya, nada suaranya lembut.
Kania berkedip beberapa kali, lalu mengangguk cepat.
“Maaf… aku tidak melihat jalan.” kikuknya
Pria itu tersenyum kecil. Senyum yang hangat. Senyum yang memberi rasa bahwa dunia ini tidak sepenuhnya kejam.
“Hati-hati. Dunia penuh orang yang tidak lihat jalan,” katanya, nada bercandanya tipis—cukup tipis untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam.
Kania terpaku.
Ia bahkan lupa untuk bernapas.
Sebelum ia bisa bertanya siapa dia, pria itu sudah melangkah mundur.
Tapi tepat sebelum ia pergi, ia menatap Kania sekali lagi.
“Jaga kalung itu baik-baik. Rasanya penting.”
Ia berbalik. Melangkah tenang. Menghilang di balik rimbun taman.
...
Malam semakin menua.
Mobil hitam yang dikendarai Adam melaju di jalanan sepi.
Kania duduk diam di kursi samping Adam, menatap keluar jendela.
Cahaya lampu kota berganti-ganti, menari di wajahnya yang pucat.
Tak ada suara, selain deru mesin dan hembusan angin.
Suasana di dalam mobil begitu berat — seperti dua orang asing yang kebetulan duduk di dunia yang sama.
Sejak siang tadi, Adam tak berbicara padanya.
Satu-satunya suara dari pria itu hanyalah saat ia mengucap janji pernikahan — dan itu pun terasa seperti sumpah paksa.
Kania masih ingat mata silet itu… mata yang tak akan pernah ia lupakan.
Sebuah hentakan keras membuyarkan lamunannya.
Pintu mobil dibanting — suara logam bergema menusuk malam.
Kania tersentak, lalu sadar — ia sendirian.
Adam sudah turun.
Mungkin membanting pintu karena marah, mungkin hanya untuk membangunkannya. Ia tak tahu. Ia bahkan lelah untuk menebak.
Dengan mata berat dan hati kosong, Kania turun sambil menenteng tas besar berisi pakaiannya.
Rumah di depannya menjulang megah.
Bangunan beton bernuansa hitam — elegan, dingin, dan tak berjiwa.
“Benarkah ini rumahnya? Tapi… bukankah dia hanya guru honor?” batinnya.
Namun lelahnya sudah tak tertahankan. Ia tak ingin berpikir panjang lagi.
Di ruang tengah, Adam tak ada. Mungkin sudah di kamar.
Kania berdiri bingung — tak tahu di mana harus tidur malam ini.
Ia menatap sekeliling, sampai matanya menangkap sebuah pintu terbuka di lantai satu, dekat tangga.
“Mungkin itu kamarku,” gumamnya pelan.
Ia melangkah masuk, menutup pintu, dan melempar tasnya sembarangan.
Lalu rebah di ranjang, menyerahkan tubuhnya pada rasa kantuk dan kelelahan.
Dalam keheningan malam, sebelum matanya benar-benar terpejam, pikirannya sempat berbisik:
"Entah rumah tangga macam apa ini… kuharap pernikahan ini berumur pendek."
Ia hanya tahu, hidupnya baru saja dimulai di rumah yang tidak terasa seperti rumah.
Selamat tidur, Kania.
Hari yang berat baru saja berakhir — tapi badai sesungguhnya baru akan dimulai.
Bersambung...
karena saat bersama jere atau bahkan baca surat dari jere, kania bisa tertawa bahagia... othornim kejam...😌