NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Gedung Grand Ballroom Hotel Bintang Lima di pusat kota Jakarta hari itu disulap menjadi lautan kemewahan yang memesona. Dekorasi ribuan tangkai white avalanche roses yang diimpor langsung dari Belanda, berpadu sempurna dengan juntaian lampu crystal chandelier yang memantulkan cahaya keemasan. Alunan musik instrumental dari string quartet mengalun lembut, menciptakan atmosfer sakral nan romantis. Seluruh tamu undangan dari kalangan elite pebisnis, pejabat tinggi, hingga para pesohor negeri telah memenuhi setiap kursi yang disediakan.

Di ruang tunggu pengantin pria, detak jantung Rangga Pratama seirama dengan denting jam dinding yang berputar cepat. Pria berdarah bangsawan bisnis dengan postur tinggi tegap itu berdiri di depan cermin besar. Setelan tuksedo rancangan desainer Italia melekat sempurna di tubuh atletisnya, membuat garis rahangnya yang tegas semakin terlihat memesona.

Namun, bukan kemewahan jas atau statusnya sebagai CEO muda Pratama Group yang memenuhi pikirannya saat ini. Senyum lebar tak henti-hentinya mengembang di bibirnya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Wanita yang selama ini bertahta di singgasana hatinya, Resti gadis anggun dan lembut yang telah mengisi hari-harinya selama tiga tahun terakhir—akan resmi menjadi pendamping hidupnya.

"Hei, wajahmu sudah mau robek karena senyum terus, Rangga," gurau Chandra, sang ayah, yang baru saja masuk ke ruangan bersama Evelyn, ibunya.

Rangga berbalik, tawa kecil lolos dari bibirnya. "Ayah bisa saja. Siapa yang tidak bahagia? Hari ini aku menikahi wanita yang paling aku cintai di dunia ini, Resti."

Evelyn merapikan kerah jas putranya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Ibu sangat bangga padamu, sayang. Resti adalah gadis yang sempurna untukmu. Lembut, penyayang, dan sangat mencintaimu."

"Aku tahu, Bu," jawab Rangga penuh keyakinan. Bayangan senyum manis Resti, suara lembutnya, dan keanggunannya saat berjalan di sisinya selama ini berkelebat di kepala Rangga. Pria itu sudah menyiapkan masa depan yang indah. Bagi Rangga, pernikahan ini adalah puncak dari segala pencapaian hidupnya.

Di luar ruangan, pintu utama ballroom mulai terbuka perlahan. Musik pengantar pengantin bergeser menjadi melodi yang jauh lebih agung. Saatnya tiba. Rangga melangkah keluar dengan dada membusung bangga, bersiap menyambut sang kekasih hati di ujung altar.

Badai di Ruang Rias dan Paksaan yang Mengerikan

Namun, kebahagiaan itu seketika menguap tanpa sisa di ruangan rias bagian timur gedung.

Suara isak tangis tertahan dan kepanikan luar biasa memenuhi ruangan tersebut. Andre, ayah Resti, berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat pasi hingga keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Sementara Sarah, sang ibu, terduduk lemas di sofa sambil memegang sebuah amplop putih berukuran sedang. Itu adalah amplop dari anak sulungnya Resti.

"Bagaimana ini bisa terjadi, Andre?! Tamu sudah berkumpul di luar! Pendeta dan saksi sudah siap!" Jerit Sarah histeris, meremas gaun mahalnya sendiri.

Andre merosot ke kursi, menjambak rambutnya frustrasi. "Anak itu... Resti benar-benar anak durhaka! Beraninya dia melakukan ini di hari pernikahannya sendiri!"

Di sudut ruangan, berdiri seorang gadis dengan balutan kaos polos lusuh dan celana jeans belel—Rania, adik kandung Resti. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan, melainkan ekspresi jengkel yang teramat sangat. Rania baru saja datang dari toko rotinya setelah dijemput paksa oleh dua orang algojo suruhan ayahnya. Di tangan Rania saat ini terselip secarik surat yang ditinggalkan Resti. Dia mengambilnya tadi.

'Ayah, Ibu, maafkan Resti. Aku tidak bisa menikahi Rangga. Aku sangat mencintainya, tapi mimpiku jauh lebih besar. Hari ini aku sedang penerbangan menuju Paris. Aku ingin mengejar impianku menjadi Supermodel Internasional. Tolong maafkan aku.."

'Ayah, Ibu, maafkan Resti. Aku tidak bisa menikahi Rangga. Aku sangat mencintainya, tapi mimpiku jauh lebih besar. Hari ini aku sedang penerbangan menuju Paris. Aku ingin mengejar impianku menjadi Supermodel Internasional. Tolong maafkan aku...

...Resti'...

Rania mendengus kasar, melipat surat itu dengan gerakan sembrono. "Ck, luar biasa drama keluarga kita hari ini. Kak Resti memang gila. Bisa-bisanya dia meninggalkan miliarder sepadan Rangga Pratama demi ambisi setengah matang jadi model di Paris. Tinggi badan saja pas-pasan, mau jadi model haute couture?" maki Rania tajam.

"Rania! Jangan banyak komentar!" bentak Andre dengan mata melotot merah. Pria paruh baya itu berdiri, lalu mencengkeram kedua bahu Rania dengan kasar. "Kau dengar ayah? Pernikahan ini tidak boleh batal! Keluarga Pratama adalah mitra bisnis terbesar kita, dan rasa malu akibat pengantin kabur akan menghancurkan kita selamanya!"

Rania menepis tangan ayahnya dengan kasar, melipat tangan di dada. "Lalu apa urusannya denganku? Mau keluarga Pratama hancur lebur jadi abu, itu bukan urusanku. Aku sibuk, Ayah! Toko roti Sweet Crumb milikku sedang kebanjiran pesanan tart pernikahan untuk akhir pekan ini. Aku harus kembali mengadon adonan!"

"Kau harus menggantikan Resti!" sergah Sarah, bangkit dari sofanya dengan mata menatap Rania penuh ancaman kejam. "Kau harus pakai gaun pengantin itu dan jalan ke altar!"

"Hah? Ogah!" tolak Rania mentah-mentah, suaranya meninggi tak kalah garang. "Aku tidak gila mau menyerahkan hidupku untuk pria sinis seperti Rangga Pratama! Aku lebih baik mati kelaparan daripada jadi pengantin pengganti!"

Sarah menyeringai dingin. Wanita paruh baya itu tahu persis kelemahan terbesar putri bungsunya yang terkenal pelit, perhitungan, dan gila kerja itu.

"Oh, kau menolak?" Sarah melangkah mendekat, lalu mengeluarkan sebuah surat kepemilikan tanah dan bangunan dari dalam tasnya. "Ingat toko roti kesayanganmu itu, Rania? Ruko tempat tokomu berdiri itu sepenuhnya atas nama Ayah. Jika kau menolak mengenakan gaun ini sekarang juga, detik ini juga Ayah akan menyuruh orang menyiram bensin dan membakar toko roti sialan milikmu beserta seluruh oven mahal dan resep rahasiamu!"

Rania tertegun. Napasnya tercekat. Matanya melebar menatap lembaran kertas di tangan Sarah, lalu beralih menatap tajam ke arah ayahnya yang mengalihkan pandangan karena rasa bersalah. Toko roti itu bukan sekadar tempat usaha bagi Rania; itu adalah darah, keringat, air mata, dan satu-satunya sumber kekayaan independen yang ia bangun dari nol setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kakaknya yang manja.

'Sialan! Tua bangka licik!' batin Rania meraung marah.

Dalam sepersekian detik, kalkulator di kepala Rania berputar kencang. Jika toko rotinya terbakar, kerugiannya mencapai miliaran rupiah, belum lagi hilangnya mata pencaharian karyawannya yang sangat ia sayangi. Rela berkorban demi karyawan setianya adalah prinsip mutlak bagi Rania. Di sisi lain, menjadi istri seorang CEO kaya raya... hm, bukankah itu berarti ada banyak celah finansial yang bisa ia manfaatkan?

Rania menarik napas panjang, meredam gejolak amarah di dadanya, lalu memasang senyum paling sinis dan dingin yang ia miliki.

"Baiklah. Kalian menang," ucap Rania penuh penekanan, merebut gaun pengantin mewah bertabur kristal Swarovski dari tangan ibunya. "Tapi catat ini baik-baik di kepala kalian: Begitu toko rotiku dipindahtangankan secara sah atas namaku tanpa ada campur tangan kalian lagi, aku akan membuat hidup pria bernama Rangga Pratama itu jungkir balik di tanganku!"

Di Bawah Cadar Putih dan Janji Palsu di Altar. Beberapa menit kemudian, transformasi kilat itu selesai. Rania berdiri dengan balutan gaun pengantin putih menjuntai yang sangat megah. Namun, sesuai dengan rencana darurat agar pihak keluarga Pratama tidak curiga sebelum perjanjian damai diteken, wajah Rania ditutupi rapat menggunakan veil atau cadar pengantin berenda tebal berwarna putih gading. Kain itu cukup transparan bagi Rania untuk melihat luar, tapi cukup buram untuk menyembunyikan identitas aslinya dari pandangan para tamu.

Pintu samping ballroom terbuka. Andre mendampingi putrinya yang dianggap sebagai Resti berjalan pelan menuju altar utama.

Di ujung altar, Rangga berdiri dengan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Pria itu menatap sosok wanita di balik cadar putih yang berjalan mendekat. Ada sedikit rasa ganjil yang melintas di benaknya—cara berjalan wanita itu terasa lebih tegas, tidak gemulai seperti biasanya. Namun, Rangga menepisnya, menganggap itu hanyalah kepanikan wajar seorang mempelai wanita di hari pernikahan.

Saat tangan Resti diserahkan oleh Andre kepada Rangga, pria itu menggenggam jemari tersebut dengan hangat.

Dalam hati Rania, ia mendengus sinis.

'Pria bodoh ini sedang tersenyum lebar pada orang yang salah. Kalau saja dia tahu wanita di depannya ini bukanlah Resti, dia pasti sudah lari ketakutan.'

Acara pemberkatan berjalan khidmat. Suara pendeta mengesahkan ikatan suci di antara mereka, disusul tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan yang hadir.

Tibalah pada prosesi puncak acara: pengantin pria diizinkan membuka penutup wajah untuk memberikan ciuman pertama kepada istrinya.

Rangga mengangkat tangannya perlahan ke arah veil putih tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menatap wajah wanita yang sangat dicintainya. Namun, sebelum kain itu tersingkap seluruhnya, Rania dengan sigap menarik sedikit kain tersebut agar hanya bagian keningnya saja yang terbuka, sementara bagian hidung ke bawah tetap terlindung bayangan cadar.

Rangga mengernyitkan alisnya, merasa aneh. "Resti, kenapa cadarmu tidak dibuka semua? Aku ingin melihat wajahmu dengan jelas."

Dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan setengah berbisik—meski terdengar dibuat-buat di telinga Rania sendiri—ia menjawab, "Aku... aku masih terlalu gugup dan malu, Mas. Biarkan seperti ini dulu."

Rangga mendengus pelan, menganggap itu sikap pemalu khas wanita pujaannya. Ia tidak memaksa. Pria itu memajukan wajahnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan penuh kasih tepat di bibir dibalik cadar wanita di hadapannya itu.

Rania memejamkan mata sejenak, menahan geli sekaligus rasa kesal yang membuncah di dadanya. 'Ciuman pertamanya melayang ke orang yang salah,' batin Rania mengejek dirinya sendiri.

Namun, di balik senyum manis palsu yang ia pamerkan ke arah para juru kamera, otak cerdas Rania sudah mulai merancang strategi bisnis tingkat tinggi. Pernikahan ini mungkin adalah sebuah jebakan pemerasan bagi toko rotinya, tapi bagi Rania Pratama si ratu efisiensi anggaran pernikahan ini adalah peluang emas untuk mengeruk keuntungan finansial tanpa batas dari kerajaan bisnis keluarga Pratama.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!