Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Suara sirine memecah keheningan ruang rapat seketika. Lampu merah berkedip di setiap sudut, dan pintu keluar otomatis tertutup rapat dengan bunyi dentuman besi yang berat. Rendra tidak menunggu lagi—ia langsung menarik lengan Dika dan Asep berlari menuju lorong servis yang sudah mereka pelajari sebelumnya dari denah.
“Kiri! Ambil tangga darurat di ujung lorong!” teriak Asep di tengah suara langkah kaki pasukan yang mendekat dari arah belakang.
Mereka berlari secepat mungkin, napas memburu di dada. Di belakang terdengar suara perintah keras, dan peluru berdesing menabrak dinding di samping mereka. Pintu tangga darurat terbuka dengan tendangan keras, dan mereka melompat turun beranak tangga demi anak tangga menuju lantai dasar.
“Mereka sudah menutup semua gerbang utama!” lapor Dika sambil melihat layar kecil di pergelangan tangannya. “Satu-satunya jalan keluar adalah lewat saluran pembuangan air di bagian belakang dermaga—tapi itu dijaga ketat!”
“Tidak ada pilihan lain!” sahut Rendra. “Kita harus sampai ke kapal sebelum mereka sempat memblokir pelabuhan sepenuhnya!”
Saat mereka sampai di lantai dasar, lorong depan sudah penuh pasukan. Mereka berbelok cepat ke arah gudang penyimpanan, bersembunyi di balik tumpukan peti besar sementara pasukan berlarian lewat tepat di depan mereka. Hati Rendra berdegup kencang—bukan karena takut pada senjata, tapi karena bukti rekaman di dalam perangkatnya adalah satu-satunya harapan untuk melindungi seluruh kedaulatan laut negeri ini. Jika itu hilang, semua pengorbanan ayahnya, Dewantara, dan ribuan orang lain akan sia-sia.
Setelah situasi agak tenang, mereka menyusup perlahan menuju pintu belakang gudang. Di sana terlihat dermaga yang ramai—kapal patroli sedang bersiap berlayar, dan helikopter keamanan baru saja mendarat di landasan dekat pantai. Namun di sisi paling ujung, tersembunyi di balik tumpukan pipa besar, mulut saluran pembuangan yang dicari Dika tampak gelap dan sunyi.
Mereka menyelinap cepat ke sana, masuk ke dalam lorong beton yang sempit dan berbau lumpur. Air setinggi lutut mengalir pelan, dan cahaya dari luar perlahan menghilang. Dika menyalakan senter kecil yang tertutup kain, memancarkan cahaya redup yang cukup untuk melihat jalan di depan.
“Jalannya menurun tajam ke arah laut,” bisiknya. “Kita harus berhati-hati di bagian ujung—tidak ada tangga, hanya tebing batu licin.”
Belum sempat mereka melangkah jauh, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Lampu sorot menyinari lorong itu, dan terdengar suara perintah berhenti. Mereka dikejar!
“Lari!” seru Rendra.
Mereka berlari sekuat tenaga di dalam air yang menghambat gerak. Di belakang terdengar suara tembakan, dan peluru memercikkan air di sekitar kaki mereka. Semakin ke depan, lorong semakin sempit dan gelap, sampai akhirnya mereka melihat cahaya samar di ujung—tanda sudah dekat dengan muara laut.
Saat mereka melompat keluar dari lubang di tebing, ombak besar langsung menyambut. Di bawah sana, perahu kecil yang disiapkan menunggu seperti janji. Namun saat mereka berenang mendekat, kapal cepat musuh muncul dari balik tanjung karang, lampu sorotnya menyinari seluruh permukaan air.
“Matikan mesin!” teriak Rendra pada pengemudi perahu. “Biarkan kita hanyut sebentar di balik karang!”
Mereka bersembunyi di balik bebatuan besar yang menonjol dari air, menahan napas saat kapal musuh lewat hanya beberapa puluh meter dari tempat mereka bersembunyi. Hanya saat suara mesinnya menjauh, mereka berani naik ke perahu dan menyalakan mesin pelan-pelan, menjauh dari pulau itu secepat mungkin.
Saat jarak mereka sudah cukup aman, Rendra baru sempat bernapas lega. Ia melihat ke arah pulau yang perlahan menghilang di balik kabut malam. Pria tua pemimpin “Pelindung Keseimbangan Dunia” itu—ia tidak marah seperti Agus atau Bimo. Ia hanya kecewa, seolah Rendra telah merusak rencana yang dianggapnya sempurna dan benar.
“Dia percaya sepenuhnya bahwa apa yang dilakukannya itu adil,” gumam Rendra pelan. “Dia melihat negara kami hanya sebagai sumber daya, bukan sebagai rumah bagi jutaan nyawa.”
“Itulah bahaya terbesarnya,” jawab Asep. “Kejahatan yang dibungkus dengan logika cerdas dan janji kemajuan jauh lebih sulit dilawan daripada kejahatan yang tampak berwajah seram.”
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dan melelahkan. Mereka tidak berani berlayar lewat jalur biasa, harus memutar jauh menghindari patroli laut yang kini waspada tinggi. Selama tiga hari di tengah laut, mereka tidak banyak beristirahat—selalu memantau sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikuti, dan memeriksa ulang bukti rekaman agar tidak rusak oleh air atau guncangan.
Saat akhirnya mendarat di pantai tersembunyi di Jawa Barat, mereka disambut oleh Ibu Ratna dan tim keamanan khusus. Wajah Ibu Ratna tampak lega melihat mereka kembali dengan selamat, namun matanya langsung tertuju pada perangkat di tangan Rendra.
“Kalian berhasil?” tanyanya singkat.
Rendra mengangguk, lalu menyerahkan perangkat itu. “Semua ada di sini. Rencana pembagian wilayah, nama-nama agen yang bekerja sama, dan cara mereka menyembunyikan eksploitasi di balik hukum internasional. Tapi ini baru permulaan. Mereka memiliki jaringan di puluhan negara lain, dan kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar pasukan bersenjata.”
Malam itu, bukti itu segera disebarkan ke lembaga hak asasi manusia dunia, media internasional independen, dan pejabat tinggi negara yang dipercaya. Reaksi datang seketika—berita itu mengguncang forum dunia, memicu investigasi di berbagai negara, dan memaksa pemimpin kelompok itu mundur ke dalam bayangan untuk sementara waktu.
Namun Rendra tahu, mereka belum menang sepenuhnya. Musuh yang kini mereka hadapi tidak akan jatuh hanya dengan satu kali pengungkapan. Mereka adalah bayangan yang bergerak lambat, menyusup lewat celah sistem, dan bersembunyi di balik kata-kata indah.
Di teras rumah aman tempat mereka beristirahat, Rendra menatap langit malam yang jernih. Di sampingnya berdiri Pak Haris.
“Kau tidak merasa puas?” tanya Pak Haris lembut.
“Aku merasa tugas kita baru saja berubah,” jawab Rendra tenang. “Dulu kita melawan orang yang salah di dalam negeri. Sekarang kita menjaga kedaulatan ini dari siapa saja yang ingin menganggapnya barang dagangan. Dan perjuangan ini tidak akan selesai dalam satu malam.”
Ia meremas surat ayahnya di saku. “Tapi aku tidak takut lagi. Aku tahu sekarang—bayangan hanya ada di mana cahaya belum sampai. Dan tugas kita adalah terus membawa cahaya itu ke mana saja, sampai tidak ada lagi sudut gelap yang bisa mereka pakai untuk bersembunyi.”
Di kejauhan, cahaya lampu kota mulai menyala satu per satu. Bukan sebagai tanda kemenangan akhir, melainkan sebagai janji bahwa perjuangan ini akan diteruskan—oleh Rendra, oleh teman-temannya, dan oleh setiap orang yang mencintai tanah airnya dengan tulus