Find me on Instagram ; peony_little
Kisah ini bermula pada waktu seorang wanita muda dengan paras cantik bernama Oceana Veddira menawarkan bantuan pada nya ketika ia kebingungan saat akan berangkat ke kantor.
Ersandro Damaresh Basadewa pria tampan yang usianya baru dua puluh sembilan tahun, CEO muda tamatan salah satu Universitas di Inggris yang sekaligus adalah anak dari pemilik perusahaan mulai terpikat oleh keunikan Dira sejak awal pertemuan mereka.
Hingga pada akhirnya Sandro memiliki perasaan spesial yang ia pendam pada wanita yang menjadi bawahannya itu. CEO muda itu masih meragu untuk mengutarakan apa yang ia rasakan. Pria itu cukup mencintai dan mengagumi Dira dalam diam.
Ersandro tetap bungkam, justru ia terlihat sangat cuek pada Dira sebagai upaya untuk menutupi rasa sukanya. Sampai pada suatu waktu Dira memiliki kekasih, membuat Ersandro sangat marah dan cemburu.
Lalu, apakah akhirnya CEO muda itu mengungkapkan perasaan nya pada Dira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG KERJA
Sesudah acara peresmian tersebut Pak Robert berpamitan untuk segera kembali ke Kantor Pusat, sementara Pak Hiskia sudah terlebih dahulu kembali ke kota lain untuk menjalankan bisnis raksasa lain yang ia miliki. Dira, Edgar dan Axel secara khusus menghantarkan kepergian Pak Robert hingga di depan lobby kantor.
“ Kalian baik – baik ya disini, saling menjaga satu dengan yang lain. Benar – benar bantu Pak Sandro membesarkan tempat ini. “ Pesan Pria berkacamata itu sebelum masuk kedalam mobilnya. Ketiga karyawan muda itu mengangguk dengan serempak mengiyakan apa yang Pak Robert pesankan.
Mobil telah meninggalkan pelataran kantor, ketiga orang itu berjalan dengan sedikit lunglai kedalam gedung dan bersama – sama menuju ruangan Pak Albert, General Manager mereka. Dira dipaksa mengetuk pintu oleh kedua rekannya itu, meski mereka orang lama di Segah Basadewa Group namun nyatanya mereka hanya orang asing yang berada dilingkungan baru tersebut.
Tok.. tok.. tok..
Dira mengetuk daun pintu kayu berwarna coklat kehitaman dengan sangat lembut, mereka bersama – sama menunggu jawaban dari yang empunya ruangan. Beberapa saat kemudian Pak Albert membuka kan pintu ruangannya dan mempersilahkan ketiga orang itu duduk di sofa hitam yang ada disana.
“ Selamat datang di tempat ini Bapak Edgar, Bapak Axel dan Ibu Dira. Kiranya kita bisa bersama – sama saling mendukung dengan bertukar ide juga pengetahuan terlebih mengenai sistem kerja Segah Basadewa Group. Pastinya akan ada banyak transfer pengetahuan dan mungkin butuh proses yang agak panjang, tapi saya berharap kita bisa saling bekerja sama. “ ucap laki – laki yang tubuhnya sedikit gempal berisi itu.
“ Baik Pak, kami akan berusaha sebaik mungkin. Semoga tim dari manajemen lama juga bisa membantu kami dan bekerja sama dengan baik. Karena ini masih tahap awal sehingga kita harus masih sama – sama belajar Pak. “ Edgar menimpali perkataan pria itu dengan bijak.
“ Benar Pak, oke kalau begitu untuk ruangan Pak Edgar ada dilantai dua sebelah lift ya Pak, sudah disiapkan
disana meja Bapak. Sementara ruangan Pak Axel ada dilantai satu bersebelahan dengan warehouse, untuk Ibu Dira ada di lantai tiga Bu. “ sambung Pak Albert.
“ Baik Pak, terima kasih. Kami akan menuju ruangan kami masing – masing jika demikian. “ pamit Edgar setelah menerima kunci pintu akses mewakili kedua rekannya.
***
“ Nanti makan malam sama – sama ya Dir. “ ucap Edgar saat Dira hampir keluar dari lift.
“ Okay, kalian pulang tunggu aku ya. “ Perempuan itu kemudian keluar dari dalam lift.
Dira menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari petunjuk dimana sebenarnya ruangannya berada. Kemudian matanya tertuju pada pintu kayu yang berada tepat didepan ruangan berdinding kaca. Ia melihat papan bertuliskan ‘ Finance & Accounting Departement ‘ pada daun pintu berwarna cokelat itu. Sebelum masuk ke dalam ruangan itu Dira menoleh kearah ruangan kaca, masih ada pintu kayu didalam ruangan berdinding kaca disana, juga dengan meja resepsionis dengan warna senada. Dira mengabaikan rasa penasarannya kemudian mengetuk pintu ruangannya dengan pelan.
“ Selamat sore semuanya, perkenanlkan saya Oceana Veddira biasa dipanggil Dira. Mohon bantuan dan kerjasama dari teman – teman semuanya. “ sapa Dira seusai memasuki ruangan yang berisikan tujuh orang karyawan itu.
“ Selamat bergabung Bu, mohon bimbingan Ibu juga. Ruangan Ibu ada didalam. “ terdengar suara perempuan berpakaian sederhana dengan rambut diekor kuda menunjuk ruangan bertuliskan ' Finance & Accounting Manager ' yang ada dibelakangnya.
“ Terima kasih, jadi ruangan saya ada di sini ya? “ Dira kembali menunjuk ruangan yang ada didepannya itu dan perempuan itu mengangguk. Dira segera masuk kedalam ruangan terpisah dengan sekat tertutup berkaca buram tersebut.
“ Elle! Apa dia yang menggantikan Pak Fajar? “ tanya Shella setengah berbisik pada perempuan yang terlihat sederhana dan ramah itu.
“ Iya Shel, Pak Albert memanggilku tadi pagi dan menjelaskan hal ini. “ jawab gadis yang ternyata bernama Ellena itu sambil berjalan menuju ruangan baru Dira.
Tok.. tok..tok
Ellena mengetuk pintu ruangan Dira pelan, lalu perempuan cantik itu terlihat membuka kan pintu dan mempersilahkan Ellena masuk.
“ Perkenalkan Bu, saya Elle. Jika Ibu membutuhkan sesuatu seperti data – data perusahaan akan kami siapkan. “ ucap Ellena dengan sopan.
“ Oh kebetulan sekali, saya membutuhkan data cash report, account statement, berkas invoice dan perpajakan sebelum perusahaan ini di take over. Apakah masih ada? Apakah bisa disiapkan besok pagi? Tidak harus semuanya, bisa satu persatu Elle. “ dengan lembut dan ramah Dira meminta data pada Ellena.
“ Baik Bu. “ perempuan yang mungkin sepantaran dengan Dira itu pun segera meninggalkan ruangan Dira.
Perasaan Dira berkecamuk sore itu, ia merasa tidak dibekali apapun oleh Pak Kevin sebelumnya. Rasanya seperti seekor ikan yang sudah terbiasa tinggal didalam aquarium tiba – tiba dilepaskan ke lautan luas yang ia tidak
tahu kedalamannya dan apa yang ada didalamnya. Gadis itu mengacak – acak rambutnya karena ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
Kring .. Kring.. Kring
Telepon berdering diluar ruangan Dira, tetapi tidak lama tersambung kedalam ruangannya. Dengan cepat Dira meraih gagang telepon dan menempelkan pada telinganya.
“ Selamat Sore, dengan Ocean Veddira. “ ucap Dira dengan sopan.
“ Dir ini saya Sandro, nanti sepulang kerja tolong temani saya ke mall ya. Ada beberapa barang yang ingin saya beli Dir. Bisa ? “ ternyata yang menelpon adalah Sandro.
“ Maafkan saya Pak, saya sudah ada janji dengan Axel dan Edgar. Apakah barang yang Bapak butuhkan urgent? “ tolak Dira halus.
“ Tidak terlalu urgent Dir, kita bisa pergi besok. “ lelaki tampan itupun segera menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Dira.
Dira kemudian keluar dari dalam ruangannya dan membaur dengan teman – temannya yang duduk terpisah pada kubikelnya masing – masing. Sebagian dari mereka tidak melakukan pekerjaan apapun karena pada kenyataannya mereka sedang masuk dalam masa transisi setelah perusahaan lama mereka diakusisi oleh Segah Basadewa Group.
“ Teman – teman, bagaimana kalau kita ngobrol sebentar mengenai job desc kita yang baru? Teman – teman semua sudah mengikuti training sistem yang kita gunakan saat ini bukan? Apakah ada kesulitan? Teman – teman accounting bagaimana? Apakah ada menu yang belum bisa dipahami? “ ucap Dira pada rekan – rekannya disana.
Beberapa orang terlihat mengajukan berbagai pertanyaan pada Dira, terkadang ada yang mencoba menunjukkan data yang ada pada komputernya. Dira juga terlihat begitu antusias membantu mereka mengenali program yang tergolong baru bagi karyawan – karyawan dari manajemen lama itu.
“ Oke, ternyata begini ya Bu. “ ucap seorang Pria yang baru saja mendapatkan solusi dari Dira.
“ Apa ada lagi? “ tanya Dira kemudian.
“ Sudah cukup jelas Bu. “ ucap beberapa orang bersamaan.
“ Bu, apa boleh kami mengajukan pertanyaan pribadi? “ tanya Shella yang tadinya mengira Dira adalah karyawan biasa saat pertemuan mereka tadi diaula.
“ Apa itu? “ sambung Dira tetap dengan senyuman mematikan.
“ Mengapa diusia Ibu yang sepertinya masih muda sudah dipercaya untuk mengemban tugas seperti ini? “ terdengar nada bicara Shella yang seolah tidak suka dengan keberadaan dan posisi Dira.
Dira menghela nafasnya panjang, bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan orang lain? Jika dirinya saja juga masih terus mencari jawaban dari pertanyaan yang sama. Dira tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan perusahaan hingga memilihnya untuk berada ditempat itu. Perempuan cantik itu masih merasa belum siap dengan tanggung jawab barunya yang terasa terlalu berat.
“ Sebenarnya tidak ada alasan khusus perusahaan memberikan tanggung jawab yang demikian kepada saya. Hanya pertimbangannya adalah saya dinilai lebih menguasai sistem dan ritme kerja Segah Basadewa Group saja. Meski demikian saya mengharapkan kita dapat bekerja sama untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan kita ini. “ jawab Dira dengan bijak.
“ Bu? Lalu apakah jika kita diluar pekerjaan bisa menjadi teman? “ kini terdengar suara Meira.
“ Oh tentu saja kenapa tidak? Saya suka berteman dengan siapapun. “ sambung Dira diiringi dengan senyuman cantiknya.
ooouuuuwww... mas San.. co cuiiiit💕💕💕💕
lepet buntel godhong..
kurang cepet dipek uwong ..
😔😔😔
jangan bingung terus" an....
cepetan nikah dah.....